Tanti Ajoe Kesoema, Tanti Ajoe
Universitas Diponegoro

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

PENGARUH DEEP BREATHING AKUT TERHADAP SATURASI OKSIGEN DAN FREKUENSI PERNAPASAN ANAK OBESITAS USIA 7-12 TAHUN Herdiyanti, Syela Nirmada; Kesoema, Tanti Ajoe; Ningrum, Farah Hendara
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang : Obesitas mengakibatkan gangguan mekanisme ventilasi-perfusi dan gangguan pertukaran gasyang berakibat pada penurunan saturasi oksigen yang diikuti peningkatan frekuensi pernapasan. Deep breathing  tidak invasif, mudah dilakukan, dan mampu meningkatkan compliance paru sehingga dapat memperbaiki pertukaran gas, sehingga mampu memperbaiki saturasi oksigen dan frekuensi pernapasan penderita obesitas.Tujuan penelitian   : Mengetahui pengaruh deep breathing akut terhadap saturasi oksigen dan frekuensi pernapasan anak obesitas.Metode penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian pra-eksperimental dengan rancangan  one group pre test and post test. Subjek penelitian adalah sepuluh orang anak obesitas usia 7-12 tahun yang terdaftar sebagai siswa di Sekolah Dasar Negeri Tembalang yang dipilih dengan teknik  purposive sampling. Subjek penelitian diberikan intervensi deep breathing selama 15 menit. Saturasi oksigen dan frekuensi pernapasan subjek penelitian diukur sebelum dan setelah melakukan deep breathing.Hasil penelitian : Uji hipotesis untuk perbedaan saturasi oksigen dan frekuensi pernapasan diuji dengan uji Friedman. Hasil uji hipotesis pada saturasi oksigen  sebelum  dan  setelah melakukan deep breathing didapatkan nilai significancy sebesar p=0,019 (p<0,05), artinya terdapat perbedaan pada hasil pengukuran saturasi oksigen. Hasil uji hipotesis pada frekuensi pernapasan  sebelum  dan  setelah melakukan deep breathing didapatkan nilai significancy sebesar p=0,209 (p>0,05), artinya tidak terdapat perbedaan pada hasil pengukuran frekuensi pernapasan.Simpulan dan saran  : Deep breathing akut berpengaruh terhadap saturasi oksigen namun tidak berpengaruh terhadap frekuensi pernapasan. Deep breathing dapat dijadikan latihan untuk mempertahankan fungsi sistem pernapasan tetap baik pada anak obesitas.
Comparison Between Taichi Chuan and Jacobson’s Progressive Muscular Relaxation in Decreasing Cortisol Concentration on Pre-Hypertension Patients Kesoema, Tanti Ajoe; Chasani, Shofa; Chasani, Shofa; Handoyo, Rudy; Handoyo, Rudy
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 12, No 1 (2016): JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (KEMAS) JULY 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v12i1.3988

Abstract

Nowadays, the prevalence of hypertension and its concomitant risk of cardiovascular and kidney disease development is increasing as the disability evidence in the society also rises. One of the potential risk factors of prehypertension is anxiety and it has already well-known that cortisol is a marker of anxiety. There are some nonpharmacologic methods to relieve anxiety: exercise and relaxation. Taichi Chuan is a low intensity aerobic exercise that also gives a relaxation effect.This study is organised to find out the effect of Taichi Chuan (TCC) and Jacobson’s Progressive Muscular Relaxation (JPMR) on cortisol level in pre hypertension patients. This is a pre and post-test design study with a total of 26 pre hypertension patients included. They were randomly divided into 2 groups. Group I performed Taichi Chuan exercise, while group II performed JPMR for 18 times. The intervention frequency was 3x/week for 6 weeks with 30 minutes duration for each session. In the study, which was held in April-June 2015, there was a decrease but no significant difference of cortisol concentration in both group.The comparison between groups also did not show statistical difference. However there were significant difference noted on the blood pressure before and after intervention in both groups.
GAMBARAN KUALITAS HIDUP PADA PASIEN RHEUMATOID ARTHRITIS DI INSTALASI MERPATI PENYAKIT DALAM RSUP DR. KARIADI SEMARANG Robbizaqtana, Ilham; Kesoema, Tanti Ajoe; Putri, Rahmi Isma Asmara
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 8, No 3 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Rheumatoid arthritis (RA) adalah penyakit kronis, yang dapat menyebabkan nyeri, kekakuan, pembengkakan, dan keterbatasan gerak dan juga fungsi dari banyak sendi. Gambaran kualitas hidup pasien RA dapat diukur dengan World Health Organisation Quality Of life (WHOQOL-BREF) dengan menilai status kesehatan secara komprehensif yaitu yang paling utama dengan cara menguji sifat psikometrik. WHOQOL-BREF ini dikenal instrument yang cukup baik, dan bisa digunakan untuk mengukur kualitas hidup. Tujuan: Mengetahui gambaran kualitas hidup pada pasien RA di Instalasi Penyakit Dalam RSUP dr. Kariadi Semarang. Metode: Penelitian ini dilakukan di Instalasi Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Pusat dr. Kariadi Semarang dimulai pada bulan Agustus-November 2018. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif. Sebanyak 20 sampel telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dari penelitian ini, sampel tersebut telah menyetujui untuk dilakukan pengukuran kualitas hidup menggunakan WHOQOL-BREF. Hasil: Subjek kualitas hidup kurang baik sejumlah 1 orang (4,8%) dan Subjek dengan kualitas hidup baik sebanyak 19 (95,0%). Domain 1 memiliki rata rata 26,10 dengan standart deviasi sebesar 2,22, Domain 2 memiliki rata rata 22,65 dengan standart deviasi 1,53, Domain 3 memiliki rata rata 11,25 dengan standart deviasi sebesar 1,33, dan Domain 4 memiliki, rata rata 29,10 dengan standart deviasi 2,22. Kesimpulan: Mayoritas pasien Rheumatoid Artritis di Instalasi Penyakit Dalam RSUP dr. Kariadi Semarang memiliki kualitas hidup yang baik dan memiliki masalah lingkungan (environment) yang buruk.Kata kunci: Rheumatoid Artritis, Kualitas Hidup, WHOQOL-BREF
NILAI DIAGNOSTIK OSTEOPOROSIS SELF-ASSESMENT TOOL FOR ASIANS TERHADAP DUAL ENERGY X-RAY ABSORBTIOMETRY DALAM PENAPISAN OSTEOPOROSIS STUDI PADA WANITA POST MENOPAUSE Kurniawan, Daniel Yoga; Kesoema, Tanti Ajoe; Hendrianingtyas, Meita
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Osteoporosis merupakan salah satu penyakit tidak menular terbanyak di dunia. Prevalensi osteoporosis pada wanita di atas usia 50 tahun lebih tinggi dibandingkan dengan pria. Osteoporosis meningkatkan resiko terjadinya fraktur. Gold standard dalam penegakkan diagnosis osteoporosis adalah pemeriksaan Bone Mineral Density (BMD) dengan alat Dual Energy X-ray Absorptiometry (DXA). Jumlah perangkat DXA di Indonesia masih terbatas, dan untuk periksa butuh biaya yang mahal, maka dibutuhkan alat penapisan osteoporosis yang mudah digunakan. Salah satu alat penapisan yang praktis adalah Osteoporosis Self-assessment Tools for Asians (OSTA).Tujuan: Mengetahui nilai diagnostik OSTA terhadap DXA untuk penapisan osteoporosis pada wanita post menopause di Rumah Sakit Panti Wilasa Dr.Cipto Semarang.Metode: Penelitian ini merupakan uji diagnostik. Dilakukan pemeriksaan OSTA dan hasilnya dibandingkan dengan hasil pemeriksaan DXA pada 97 catatan medik (CM) wanita pasca menopause. Hasil yang diperoleh di uji dengan tabel 2x2 untuk memperoleh hasil sensitivitas, spesifisitas, positive predictive value (PPV), dan negative predictive value (NPV).Hasil: Hasil pemeriksaan OSTA yang dibandingkan dengan DXA memperoleh hasil sensitivitas 92,5%, spesifisitas 42,1%, PPV 52,9%, dan NPV 88,9%.Simpulan: OSTA merupakan alat penapisan yang efektif untuk osteoporosis pada wanita post menopause di RS Panti Wilasa Dr. Cipto Semarang.
HUBUNGAN TEKANAN DARAH KETIKA MASUK IGD DENGAN KELUARAN MOTORIK PASIEN STROKE ISKEMIK Herdianti, Endah; Muhartomo, Hexanto; Kesoema, Tanti Ajoe
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 7, No 2 (2018): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Stroke adalah sindroma klinis dari gangguan fungsi otak, baik fokal maupun global, yang berkembang secara cepat dan berlangsung lebih dari 24 jam atau berakhir dengan kematian tanpa penyebab lain selain gangguan vaskuler. Pada pasien stroke akut terjadi gangguan tekanan darah. Sekitar sepertiga pasien stroke menunjukkan disabilitas persisten yang didominasi oleh kelemahan fungsi motorik. Penelitian sebelumnya belum ada yang membahas tentang hubungan tekanan darah ketika masuk IGD dengan keluaran motorik pasien stroke iskemik yang dinilai dengan MAS.Tujuan: Untuk membuktikan hubungan tekanan darah ketika masuk IGD dengan keluaran motorik pasien stroke iskemik.Metode: Penelitian menggunakan desain belah lintang. Subjek penelitian merupakan 29 pasien stroke iskemik dengan rerata usia 60,28 ± 10,22 tahun yang dirawat di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr Kariadi Semarang dan RSUD RAA Soewondo Pati. Subjek penelitian terdiri dari 19 pria dan 10 wanita. Karakteristik subjek penelitian yang diperoleh adalah usia, tekanan darah, kadar kolesterol, kadar trigliserida, kadar HDL, kadar LDL, kadar GDS, dan skor MAS. Pengukuran skor MAS dilakukan langsung kepada subjek, sedangkan nilai tekanan darah ketika masuk IGD didapatkan dari rekam medis. Kemudian data diolah menggunakan uji Spearman dan Kruskal-Wallis.Hasil: Tidak terdapat hubungan bermakna antara tekanan darah ketika masuk IGD dengan keluaran motorik pasien stroke iskemik yang dinilai dengan MAS (p = 0,052, r = 0,365). Tidak terdapat perbedaan bermakna antara skor MAS pasien normotensi dengan pasien pre hipertensi, hipertensi stadium 1 dan hipertensi stadium 2 (p>0,05)Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara tekanan darah ketika masuk IGD dengan keluaran motorik pasien stroke iskemik.
PERBANDINGAN HASIL APLIKASI TENS DAN LATIHAN VOLUNTER TERHADAP KEMAMPUAN DAN DURASI KONTRAKSI MAKSIMAL OTOT DASAR PANGGUL PADA WANITA LANSIA Kesoema, Tanti Ajoe; Handoyo, Rudy
Media Medika Muda Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Kelemahan otot-otot panggul, khususnya pada wanita lanjut usia dapat menyebabkan timbulnya bermacam-macam gangguan atau keluhan. Salah satu cara penanganannya adalah dengan memperkuat otot-otot tersebut. Penguatan otot dapat dihasilkan melalui latihan dengan kontraksi volunter metode Kegel atau kontraksi pasif dengan stimulasi listrik. Stimulasi listrik dapat diberikan pada individu yang tidak mampu melakuan kontraksi volunter oleh berbagai sebab. TENS (Transkutaneus Electrical Nerve Stimulation) merupakan salah satu modalitas elektrostimulasi yang dapat digunakan untuk membangkitkan kontraksi otot melalui stimulasi saraf. Sehingga kontraksi otot secara pasif dapat membantu meningkatkan kekuatan otot dasar panggul bagi para wanita lanjut usia. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil aplikasi TENS dan latihan volunter terhadap kemampuan dan durasi kontraksi maksimal otot dasar panggul.Metode: Penelitian ini adalah Pre and post test design yang terdiri dari 34 wanita lansia berusia 60–65 tahun. Subyek dibagi menjadi 2 kelompok secara random. Kelompok pertama adalah kelompok yang melakukan latihan volunteer dan kelompok kedua adalah kelompok yang mendapatkan intervensi TENS. Hasil: Sesudah perlakuan, baik pada kelompok latihan volunter maupun kelompok TENS terdapat peningkatan kemampuan kontraksi maksimal otot dasar panggul secara bermakna (p<0,05). Kemampuan kontraksi otot dasar panggul pada kelompok latihan volunter secara bermakna lebih besar daripada kelompok TENS (p<0,05). Durasi kontraksi maksimal pada kelompok latihan memperlihatkan peningkatan yang bermakna (p=0,000) sedangkan pada kelompok TENS tidak (p=0,188). Dibanding kelompok TENS, latihan volunter menghasilkan durasi kontraksi maksimal yang lebih besar secara bermakna (3,78 vs. 1,63).Simpulan: Dibandingkan dengan aplikasi TENS, latihan volunter otot dasar panggul memberi manfaat yang lebih besar dalam meningkatkan kemampuan dan durasi kontraksi maksimal otot dasar panggul. Kata kunci: lansia, otot dasar panggul, TENS, Kegel.
PENGARUH LATIHAN FLEKSI DAN EKSTENSI LUMBAL TERHADAP FLEKSIBILITAS LUMBAL PADA DEWASA MUDA Kurniawan, Eirin Yovita; Kesoema, Tanti Ajoe; Hendrianingtyas, Meita
DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO ) Vol 8, No 1 (2019): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : DIPONEGORO MEDICAL JOURNAL ( JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Kebiasaan duduk yang salah dan terlalu lama saat perkuliahan pada mahasiswa menyebabkan kekakuan punggung bawah yang mengakibatkan nyeri, untuk mencegahnya diperlukan program back exercises. Metoda back exercise yang sering digunakan adalah Williams? flexion dan McKenzie exercises. Belum diketahui mana yang lebih efektif untuk meningkatkan fleksibilitas lumbal. Fleksibilitas lumbal dapat diukur dengan Modified modified schober test. Metode: Penelitian eksperimen pada 30 sampel yang dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama dengan intervensi Williams? dan kelompok kedua dengan McKenzie. Pengukuran fleksibilitas secara manual sebelum dan sesudah intervensi menggunakan MMST. Analisis data dengan SPSS. Hasil: Rerata MMST fleksi antara sebelum dan sesudah perlakuan Williams? dan McKenzie mengalami peningkatan. Rerata MMST ekstensi antara sebelum dan sesudah perlakuan Williams? mengalami penurunan, sedangkan pada perlakuan McKenzie mengalami peningkatan. Terdapat perbedaan bermakna pada uji analisis MMST pada kedua perlakuan( Williams? p=0,000; McKenzie p=0,000). Nilai rerata selisih MMST fleksi dan ekstensi pada perlakuan Williams? dan McKenzie adalah 1,74 ± 1,18 dan -0,02 ± 1,31 serta 1,65 ± 0,78 dan 0,91 ± 1,46. Tidak terdapat perbedaan bermakna pada uji analisis selisih MMST fleksi dan ekstensi pada kedua perlakuan (p=0,823;dan p=0,051) Simpulan: Williams? flexion exercises, dan McKenzie exercises dapat meningkatkan fleksibilitas lumbal tetapi tidak terdapat perbedaan yang signifikan dari kedua perlakuan tersebut.Kata Kunci : Latihan back exercise, Williams? flexion, McKenzie extension, MMST
Comparison Between Taichi Chuan and Jacobsons Progressive Muscular Relaxation in Decreasing Cortisol Concentration on Pre-Hypertension Patients Kesoema, Tanti Ajoe; Chasani, Shofa; Chasani, Shofa; Handoyo, Rudy; Handoyo, Rudy
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 12, No 1 (2016)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v12i1.3988

Abstract

Nowadays, the prevalence of hypertension and its concomitant risk of cardiovascular and kidney disease development is increasing as the disability evidence in the society also rises. One of the potential risk factors of prehypertension is anxiety and it has already well-known that cortisol is a marker of anxiety. There are some nonpharmacologic methods to relieve anxiety: exercise and relaxation. Taichi Chuan is a low intensity aerobic exercise that also gives a relaxation effect.This study is organised to find out the effect of Taichi Chuan (TCC) and Jacobsons Progressive Muscular Relaxation (JPMR) on cortisol level in pre hypertension patients. This is a pre and post-test design study with a total of 26 pre hypertension patients included. They were randomly divided into 2 groups. Group I performed Taichi Chuan exercise, while group II performed JPMR for 18 times. The intervention frequency was 3x/week for 6 weeks with 30 minutes duration for each session. In the study, which was held in April-June 2015, there was a decrease but no significant difference of cortisol concentration in both group.The comparison between groups also did not show statistical difference. However there were significant difference noted on the blood pressure before and after intervention in both groups.