Articles

Found 7 Documents
Search

MATURITY MATCHING STRUKTUR ASET DAN STRUKTUR KEUANGAN: STUDI PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR, DAGANG, DAN JASA DI BURSA EFEK INDONESIA Margani, Mahanani; Komara, Ratna; Firmansyah, Egi Arvian; Layyinaturrobaniyah, Layyinaturrobaniyah
Jurnal Inspirasi Bisnis dan Manajemen Vol 3, No 2 (2019): DESEMBER 2019
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Swadaya Gunung Jati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/jibm.v3i2.2566

Abstract

Abstract. This canonical study aims to determine the relationship between asset structure and financial structure in manufacturing, trading, and service companies, represented by food and beverages, retail trade, as well as restaurants, hotels and tourism firms listed on BEI. The analysis result shows that there is a powerfully positive relationship between asset structure and financial structure. It means interdependence occurs between sub-variables on asset structure and financial structure. The companies matched the maturity between funding sources and the age of the funded assets. Manufacturing and trading companies used equity to fund non-current assets; accounts payable to fund accounts receivable, cash and cash equivalents to secure non-current liabilities; and other current assets to guarantee other current liabilities. Meanwhile, service companies employed equity to fund the non-current assets, current liabilities to fund other current assets, and current liabilities and account payables to fund accounts receivable.  Keywords: asset structure; canonical correlation; financial structure; maturity matching. Abstrak. Penelitian ini menggunakan analisis kanonikal untuk mengetahui hubungan antara struktur aset dan struktur keuangan di perusahaan manufaktur, dagang, dan jasa yang diwakili oleh sub-sektor makanan dan minuman, perdagangan eceran, restoran, hotel, dan pariwisata yang terdaftar di BEI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang sangat kuat antara struktur aset dan struktur keuangan. Ini artinya ada interdependensi antar sub-variabel pada variabel struktur aset dan struktur keuangan. Perusahaan di tiga sub-sektor tersebut mencocokkan maturitas antara sumber pendanaan dengan usia aset yang didanai. Perusahaan manufaktur dan dagang menggunakan ekuitas untuk mendanai aset jangka panjang dan menggunakan utang usaha untuk mendanai piutang usaha. Kas dan setara kas dijadikan jaminan liabilitas jangka panjang, serta aset jangka pendek lainnya digunakan sebagai kolateral liabilitas jangka pendek lainnya. Perusahaan jasa menggunakan ekuitas untuk mendanai aset jangka panjang dan menggunakan liabilitas jangka pendek untuk mendanai aset jangka pendek lainnya. Piutang usaha didanai liabilitas jangka pendek dan utang usaha. Kata Kunci: kecocokan maturitas; korelasi kanonikal; struktur aset; struktur keuangan.
Perbedaan Perhitungan Unit Cost dengan Menggunakan metode Activity Based Costing (ABC) dan Metode Doubel Distribution (DD) Untuk Pasien TB Paru Kategori 2 di Instalasi Rawat Jalan Dan Rawat Inap Rumah Sakit Paru Hilfi, Lukman; Setiawati, Elsa Pudji; Djuhaeni, Henni; Paramita, Sekar Ayu; Komara, Ratna
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 1, No 2 (2015): Volume 1 Nomor 2 Desember 2015
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.113 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v1i2.12835

Abstract

Latar Belakang Indonesia menduduki rangking ke-5 dari 22 negara-negara yang mempunyai beban tinggi untuk TB dan memberikan kontribusi jumlah kasus TB di dunia sebesar 4,7%. Penatalaksanaan TB tidak mudah, membutuhkan waktu yang lama dan membutuhkan biaya yang besar. Saat ini berbagai rumah sakit menentukan tarif pelayanan berdasarkan metode DD. Perhitungan biaya satuan pada pelayanan kesehatan dapat juga dilakukan dengan menggunakan metode Activity Based Costing (ABC) yang didasarkan pada aktivitas. Tujuan mengetahui perhitungan unit cost dengan metode ABC dan metode DD di Instalasi Rawat Jalan dan Rawat Inap TB Paru Kategori 2 di Rumah Sakit Paru. Metode Penelitian deskriptif analitik menggunakan data sekunder dan metoda Pusposive Sample. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Paru Bandung selama bulan September sampai dengan Desember 2013 dengan menggunakan data rekam medis dalam kurun waktu 2 tahun yaitu pada bulan Januari 2011 sampai dengan Desember 2012. Hasil dan Diskusi perhitungan biaya satuan rata-rata dengan metode ABC untuk pasien rawat jalan TB kategori 2 sebesar Rp 611.321; untuk pasien rawat darurat TB kategori 2 sebesar Rp 713.852; untuk pasien rawat inap yang masuk melalui instalasi rawat jalan sebesar Rp 5.037.309 dan instalasi rawat darurat sebesar Rp 4.398.415. Biaya satuan rata-rata dengan metode DD untuk pasien rawat jalan TB kategori 2 sebesar Rp 421.621; untuk pasien rawat darurat TB kategori 2 sebesar Rp 734.170; untuk pasien rawat inap yang masuk melalui instalasi rawat jalan sebesar Rp 1.727.213 dan instalasi rawat darurat sebesar Rp 1.846.337. Banyak nya obat yang diberikan untuk pasien rawat jalan yaitu untuk 2 minggu sedangkan ALOS untuk pasien rawat inap yaitu 9,2 hari. Kesimpulan dan Saran perhitungan biaya satuan dengan menggunakan metode ABC lebih menguntungkan secara financial bagi Rumah Sakit dibandingkan dengan metode DD. Manajemen rumah sakit sebaiknya memiliki sistem pencatatan dan pelaporan yang rapih, terintegrasi antar unit pelayanan dan unit penunjang untuk dapat melakukan perhitungan biaya satuan dengan baik. Manajemen rumah sakit melakukan evaluasi berkala terhadap kepatuhan SOP dan penggunaan obat rasional. Kata Kunci : Activity Based Costing, Biaya Satuan, DD
Rural Bank Technical Efficiency in West Java Indonesia: Evaluation by Ownership and District Anwar, Mokhamad; Layyinaturrobaniyah, Layyinaturrobaniyah; Komara, Ratna; Nidar, Sulaeman Rahman
Jurnal Bisnis Manajemen Vol 19, No 2 (2018): September 2018
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1486.917 KB) | DOI: 10.24198/jbm.v19i2.188

Abstract

This study examines the efficiency of rural banks in West Java Indonesia in terms of technical efficiency. The analysis covers the 212 banks spread over some districts in west java province during the period 2012-2016. Those banks are under the supervision of the Financial Services Authority Regional Office of Bandung. The study employs Data Envelopment Analysis to obtain the technical efficiency of the banks over the study period. The study results suggest that there are some rural banks from certain districts enjoying most efficient; average efficiency of those banks over the study period is inclined to increase with the peak performance occurred in 2015. The other findings suggested that capital adequacy and bank size are of essential factors determining rural bank efficiency in West Java.
EFFICIENCY AND COMPETITIVENESS OF BANK PERKREDITAN RAKYAT (BPR) IN THE BALI PROVINCE OF INDONESIA ., Layyinaturrobaniyah; Anwar, Mokhamad; Komara, Ratna; Nidar, Sulaeman Rahman
Journal of Management and Business Vol 18, No 2 (2019): SEPTEMBER 2019
Publisher : Department of Management - Faculty of Business and Economics. Universitas Surabaya.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.556 KB) | DOI: 10.24123/jmb.v18i2.366

Abstract

This study aims to estimate and test technical efficiency and conduct analysis on the competitiveness of BPRs in the Province of Bali for the period 2012-2016. Estimation on efficiency with the Data Envelopment Analysis (DEA) method was carried out on 134 BPRs whose data is obtained from OJK Regional Office 8 Bali and Nusa Tenggara. Meanwhile, to analyze competitiveness, a questionnaire was distributed to BPR customers, upon which data from customers is analyzed by Focus Group Discussion (FGD) together with BPR and OJK management as regulators. The Results of this study showed that in average, the technical efficiency of BPRs in Bali decreased from year to year from, i.e., 0.6581 in 2012 to 0.5993 in 2016. Buleleng Regency is listed as an area that has the most efficient BPRs with an average efficiency value of 0.7575, then followed BPRs from Karangasem Regency in second place with efficiency scores of 0.7184, and BPRs from Gianyar Regency in third place with a score of 0.6854. Further, based on the results of the analysis of competitiveness and from the FGD, it can be concluded that one of the strengths of BPRs in Bali Province is the loyalty of its customers.
CAPITAL STRUCTURE AND BANK PERFORMANCE Widyastuti, Arie; Komara, Ratna; Layyinaturrobaniyah, Layyinaturrobaniyah
Jurnal Bisnis Manajemen Vol 20, No 2 (2019): September 2019
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.172 KB) | DOI: 10.24198/jbm.v20i2.300

Abstract

The decision of how firms finance their investments is among the prominent researchers in the area of corporate finance. The capital structure of banks, however, still relatively under-explored. Banking is one type of industry that employs a high level of leverage in creating companies? value since its operating profits come from lending and borrowing activities.  This research aims to analyse the effect of the mix of capital structure on financial performance of commercial banks in Indonesia. We use annual data for the period 2009 ? 2017 that are extracted from the audited financial statement. The data is then analysed to find relationship on the use of leverage to the firms? performance. Our study finds strong evidence that short term loan significantly has positive influence on profitability of banks through Return on Equity (ROE), which indicates that deposit is considered as the cheapest source of funding. However, banks should carefully maintain their liquidity risk to ensure the availability of funds to pay for withdrawals obligation. We also found that the use of long-term debt and the use of equity, in general, do not have a significant effect on firm value, which indicates that, in terms of long-term financing, profitability and firm value are insensitive to capital structure.
Perbedaan Perhitungan Unit Cost dengan Menggunakan metode Activity Based Costing (ABC) dan Metode Doubel Distribution (DD) Untuk Pasien TB Paru Kategori 2 di Instalasi Rawat Jalan Dan Rawat Inap Rumah Sakit Paru Hilfi, Lukman; Setiawati, Elsa Pudji; Djuhaeni, Henni; Paramita, Sekar Ayu; Komara, Ratna
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 1, No 2 (2015): Volume 1 Nomor 2 Desember 2015
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.113 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v1i2.12835

Abstract

Latar Belakang Indonesia menduduki rangking ke-5 dari 22 negara-negara yang mempunyai beban tinggi untuk TB dan memberikan kontribusi jumlah kasus TB di dunia sebesar 4,7%. Penatalaksanaan TB tidak mudah, membutuhkan waktu yang lama dan membutuhkan biaya yang besar. Saat ini berbagai rumah sakit menentukan tarif pelayanan berdasarkan metode DD. Perhitungan biaya satuan pada pelayanan kesehatan dapat juga dilakukan dengan menggunakan metode Activity Based Costing (ABC) yang didasarkan pada aktivitas. Tujuan mengetahui perhitungan unit cost dengan metode ABC dan metode DD di Instalasi Rawat Jalan dan Rawat Inap TB Paru Kategori 2 di Rumah Sakit Paru. Metode Penelitian deskriptif analitik menggunakan data sekunder dan metoda Pusposive Sample. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Paru Bandung selama bulan September sampai dengan Desember 2013 dengan menggunakan data rekam medis dalam kurun waktu 2 tahun yaitu pada bulan Januari 2011 sampai dengan Desember 2012. Hasil dan Diskusi perhitungan biaya satuan rata-rata dengan metode ABC untuk pasien rawat jalan TB kategori 2 sebesar Rp 611.321; untuk pasien rawat darurat TB kategori 2 sebesar Rp 713.852; untuk pasien rawat inap yang masuk melalui instalasi rawat jalan sebesar Rp 5.037.309 dan instalasi rawat darurat sebesar Rp 4.398.415. Biaya satuan rata-rata dengan metode DD untuk pasien rawat jalan TB kategori 2 sebesar Rp 421.621; untuk pasien rawat darurat TB kategori 2 sebesar Rp 734.170; untuk pasien rawat inap yang masuk melalui instalasi rawat jalan sebesar Rp 1.727.213 dan instalasi rawat darurat sebesar Rp 1.846.337. Banyak nya obat yang diberikan untuk pasien rawat jalan yaitu untuk 2 minggu sedangkan ALOS untuk pasien rawat inap yaitu 9,2 hari. Kesimpulan dan Saran perhitungan biaya satuan dengan menggunakan metode ABC lebih menguntungkan secara financial bagi Rumah Sakit dibandingkan dengan metode DD. Manajemen rumah sakit sebaiknya memiliki sistem pencatatan dan pelaporan yang rapih, terintegrasi antar unit pelayanan dan unit penunjang untuk dapat melakukan perhitungan biaya satuan dengan baik. Manajemen rumah sakit melakukan evaluasi berkala terhadap kepatuhan SOP dan penggunaan obat rasional. Kata Kunci : Activity Based Costing, Biaya Satuan, DD
MILLENNIALS: THEIR FINANCIAL LITERACY AND DECISION MAKING Widyastuti , Arie; Komara, Ratna; Layyinaturrobaniyah, Layyinaturrobaniyah
Dinasti International Journal of Education Management And Social Science Vol 1 No 3 (2020): Dinasti International Journal of Education Management and Social Science (Februar
Publisher : DINASTI PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31933/dijemss.v1i3.163

Abstract

Millennials are now the largest population groupings in Indonesia, therefore their decisions in financial matters have significant implications for themselves as well as the country?s economy. This paper is aimed to evaluate the level of financial literacy possessed by the Millennials and their attitudes towards making key financial decisions. Data were collected through questionnaire of 30 questions with 15 questions regarding financial literacy and 15 questions related to financial decision making, with the participants in the study consists of 446 individuals who were born from 1980s to 2000s. The result reveals that better financial literacy leads to better financial decision at 1% significance level. This study also indicates that, although demographic profiles such as gender, education, length of working experience, income, number of credit card ownership and mother education have positive correlation with the level of financial literacy, they do not have moderating effect to the financial literacy and financial decision making of the millennials