Articles

Found 11 Documents
Search

THE EFFECT OF CANDESARTAN PRE-STROKE USE ON THE FUNCTIONAL OUTCOME OF POST ISCHEMIC STROKE PATIENTS IN BETHESDA HOSPITAL YOGYAKARTA Gulo, Lise Insani; Pinzon, Rizaldy Taslim; Pramudita, Esdras Ardi
Jurnal Farmasi Sains dan Komunitas (Journal of Pharmaceutical Sciences and Community) Vol 15, No 1 (2018)
Publisher : Sanata Dharma University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (752.882 KB) | DOI: 10.24071/jpsc.151660

Abstract

Stroke is a leading cause of death and disability, where the main risk factor is hypertension. Angiotensin Receptor Blocker (ARB) is the most common drug for stroke prevention in high-risk hypertensive patients. The purpose of this study was to see whether the candesartan pre-stroke use can improve the functional outcomes of post ischemic stroke patients. The data were obtained from 191 retrospective observational studies. Data were collected from Stroke Registry and medical record at Bethesda Hospital Yogyakarta in 2014-2016, then analyzed univariate, followed by bivariate analysis using chi-square test, independent t-test and fisher exact test for the variable which has actual count (F0), and logistic regression for multivariate analysis. One hundred and ninety one samples were systematically reviewed to evaluate the effect of candesartan pre-stroke use on functional outcomes of post ischemic stroke patients in Bethesda hospital Yogyakarta whose range of ages was mostly between 61 and 70 years (30.9%) and were mostly male patients (56.5%). Patients with good functional outcomes (<2) were 79.6% and poor functional outcomes (≥2) were 20.4%. The results of bivariate analysis showed that candesartan did not affect the improvement of clinical outcome (OR: 1.806, 95% CI: 0.591-5.519, p: 0.294), and also not better than other angiotensin receptor blocker (p=0.505, OR=1.472, 95% CI= 0.470-4.611). The multivariate analysis showed that sex (OR: 0.366, 95% CI: 0.156-0.858, p: 0.021), loss of consciousness (OR: 0.107, 95% CI: 0.021-0.549, p: 0.007), limb weakness (OR: 0.236, 95% CI: 0.067-0.834, p: 0.025), dyslipidemia comorbidity (OR: 2.750, 95% CI: 1.177-6.427, p: 0.019) and aphasia (OR: 0.342, 95% CI: 0.107-1.100, p: 0.072) affected the functional outcome. The candesartan pre-stroke use did not improve the functional outcome of post ischemic stroke patient.
HUBUNGAN KADAR KOLESTEROL HDL SAAT MASUK RUMAH SAKIT DENGAN LUARAN KLINIS PASIEN STROKE ISKEMIK DI RS BETHESDA YOGYAKARTA Florence, Florence; Pinzon, Rizaldy Taslim; Pramudita, Esdras Ardi
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol 1, No 1 (2015): Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana
Publisher : Medical Faculty of Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/bikdw.v1i1.1

Abstract

Pendahuluan: Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di dunia. Prinsip dasar terjadinya stroke adalah adanya aterosklero- trombosis. Kadar kolesterol HDL yang tinggi dapat menjadi faktor protektif terhadap stroke iskemik. Kadar kolesterol HDL yang tinggi dapat memperbaiki luaran klinis stroke iskemik. Penelitian terdahulu masih kontroversial dan memerlukan penelitian lebih lanjut. Metode: Penelitian ini merupakan studi prognostik dengan menggunakan metode penelitian kohort retrospektif. Sampel didapatkan dari data rekam medis pasien di poliklinik saraf Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta pada tahun 2013 sampai 2014. Data yang diperoleh kemudian dianalisis univariat, dilanjutkan dengan analisis bivariat dengan uji chi-square serta uji t-independen dan multivariat dengan uji regresi logistik. Hasil: Dari 102 data rekam medis pasien stroke iskemik dengan onset < 24 jam didapatkan 65 pasien laki-laki (63,7%) dan 37 pasien perempuan (36,3%) dengan usia terbanyak yang menderita stroke adalah usia 61-70 tahun yaitu sebanyak 36 orang (35,3%). Pasien yang memiliki kadar kolesterol HDL yang normal saat masuk rumah sakit adalah sebanyak 53 pasien (52%). Hasil analisis bivariat didapatkan variabel yang berhubungan signifikan dengan luaran klinis stroke iskemik adalah kolesterol total (RR: 0,273, 95%CI: 0,106-0,700, p: 0,005), afasia (RR: 0,256, 95%CI: 0,087-0,754,p: 0,010) dan kekuatan otot (RR: 0,344, 95%CI: 0,137-0,863, p: 0,020). Hubungan kadar kolesterol HDL dengan luaran klinis stroke iskemik yang diukur menggunakan skor mRS didapatkan hubungan yang tidak signifikan (RR: 0,61&, 95%CI: 0,253-1,485, p: 0,276). Hasil analisis multivariat dengan regresi logistik didapatkan hasil bahwa kolesterol total dan afasia merupakan faktor independen yang mempengaruhi luaran klinis stroke iskemik. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar kolesterol HDL saat masuk dengan luaran klinis stroke iskemik yang diukur dengan skor mRS. Kata Kunci: stroke iskemik, kadar kolesterol HD/, luaran klinis, modified Rankin Scale (mRS)
HUBUNGAN DIABETES MELITUS TERHADAP KEJADIAN SINDROMA TEROWONGAN KARPAL DI RS BETHESDA YOGYAKARTA Retno Edi, Dyah Wulaningsih; Pinzon, Rizaldy Taslim; Pramudita, Esdras Ardi
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol 1, No 1 (2015): Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana
Publisher : Medical Faculty of Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/bikdw.v1i1.7

Abstract

Latar Belakang: Sindroma Terowongan Karpal (STK) merupakan neuropati jebakan yang paling sering dijumpai. Terdapat berbagai faktor risiko yang berpotensi meningkatkan terjadinya STK, contohnya diabetes melitus. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa STK banyak terkait dengan diabetes melitus namun hasilnya masih kontroversial. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara diabetes melitus terhadap kejadian sindroma terowongan karpal di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Metode: Studi potong lintang menggunakan data rekam medis pasien saraf Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Data yang diperoleh kemudian diuji dengan analisis univariat yang kemudian dilanjutkan dengan analisis bivariat dan multivariat dengan uji regresi logistik Hasil: Data diperoleh dari 222 sampel (134 perempuan dan 88 laki-laki) dengan 95 pasien STK dan 127 pasien non STK. Riwayat diabetes melitus terdapat pada 17 (17,9%) pasien kelompok STK dan 31 (24,4%) pasien pada kelompok non STK. Didapatkan hasil bahwa diabetes melitus tidak memiliki hubungan terhadap kejadian STK (RO: 0,68, IK 95%=0,35 – 1,31, p=0,243), namun pekerjaan sebagai ibu rumah tangga merupakan faktor risiko independen dari STK (RO: 3,34, IK 95%=1,36 – 8,24, p=0,009). Kesimpulan: Pekerjaan sebagai ibu rumah tangga meningkatkan kejadian STK sebesar 3,3 kali lipat dibanding pekerjaan lain. Diabetes melitus tidak menunjukkan hubungan yang signifkan terhadap kejadian STK di RS Bethesda Yogyakarta. Kata Kunci: sindroma terowongan karpal, STK, faktor risiko, diabetes melitus
TRANSCRANIAL DOPPLER PADA SEREBRAL ARTERIOVENOUS MALFORMATION LAPORAN KASUS Pramudita, Esdras Ardi
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol 2, No 1 (2016): Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana
Publisher : Medical Faculty of Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1392.624 KB) | DOI: 10.21460/bikdw.v2i1.42

Abstract

Serebral Arteriovenous Malformation (AVM) merupakan suatu kelainan pada formasi pembuluh darah di otak. Keadaan dinding pembuluh darah yang terbentuk pada AVM tidak sebaik dengan pembuluh darah normal sehingga mudah pecah dan menimbulkan masalah intraserebral. TCD merupakan suatu pemeriksaan berbasis ultrasound yang bersifat non invasif, murah dan real time dalam memeriksa kondisi hemodinamik intraserebral dan TCD dapat digunakan untuk menentukan feeder artery pada serebral AVM. Melaporkan dua kasus Serebral AVM selama bulan Juli-September 2016 di RS Panti Rapih Yogyakarta dari kedua kasus didapatkan peningkatan Mean Flow Velocity (MFV) dan penurunan Pulsatility Index (PI)
Combination of five clinical data as prognostic factors of mortality after ischemic stroke Pinzon, Rizaldy Taslim; Babang, Fransiska Theresia Meivy; Pramudita, Esdras Ardi
Universa Medicina Vol 36, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Trisakti University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2017.v36.68-76

Abstract

Background The mortality rate after ischemic stoke is influenced by various factors. Prognosis after ischemic stroke can be predicted using a scoring system to help the doctor to evaluate patient’s condition, neurologic deficits, and possible prognosis as well as make appropriate management decisions. The objective of this study was to identify the factors which determine mortality rates in patients after ischemic stroke and to determine the prognosis of ischemic stroke patients using the predictive mortality score.MethodsThis was a nested case control study using data from the stroke registry and medical records of patients at the Neurology Clinic of Bethesda Hospital Yogyakarta between 2011-2015. Data was analysed using simple and multiple logistic regression analysis. The scoring was analyzed using receiver-operating characteristic (ROC) curve and the cut-off point using area under the curve (AUC).ResultsMultiple logistic regression analysis showed a significant association between mortality of ischemic stroke patients and age (OR: 4.539, 95% CI: 1.974-10.439, p&lt;0.001), random blood glucose (OR: 2.692, 95% CI: 1.580-4.588, p&lt;0.001), non-dyslipidemia (OR: 2.313, 95% CI: 1.395-3.833, p=0.001), complications (OR: 1.609, 95% CI: 1.019-2.540, p=0.041), risk of metabolic encephalopathy (OR: 2.499, 95% CI: 1.244-5.021, p=0.010) and use of ventilators (OR: 17.278, 95% CI: 2.015-148.195, p=0.009).ConclusionsAge, high random blood glucose level, complications, metabolic encephalopathy risk and the use of ventilators are associated with mortality after ischemic stroke. The predictive mortality score can be used to assess the prognosis of patients with ischemic stroke.
PENGEMBANGAN DAN VALIDASI SKOR PREDIKSI MORTALITAS PASIEN PERDARAHAN SUBARAKNOID Hana, Jesi Prilly; Pinzon, Rizaldy Taslim; Pramudita, Esdras Ardi
Callosum Neurology Vol 2 No 2 (2019): Online First
Publisher : PERDOSSI cabang Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.362 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v2i2.18

Abstract

Latar Belakang: Terdapat beberapa faktor resiko yang telah diidentifikasi memepengaruhi mortalitas pasien Perdarahan Subaraknoid. Salah satu cara untuk mengetahui prognosis pasien perdarahan subaraknoid ialah dengan menggunakan sistem skoring. Skor dapat membantu para klinisi untuk menilai kondisi pasien, prognosis, serta menentukan penatalaksanaan yang terbaik bagi pasien. Tujuan Penelitian: Mengukur faktor prediktor yang mempengaruhi mortalitas pada pasien perdarahan subaraknoid dan meramalkan prognosis pasien perdarahan subaraknoid menggunakan skor prediktor mortalitas. Metode: Pelaksanaan penelitian ini menggunakan metode kohort retrospektif. Data penelitian ini diperoleh dari data sekunder register stroke dan rekam medik pasien perdarahan subaraknoid di RS Bethesda Yogyakarta. Uji validitas menggunakan kurva receiver-operating characteristic (ROC) dan untuk cut off point &nbsp;menggunakan area under the curve &nbsp;(AUC). Hasil: Hasil analisis multivariate menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara mortalitas pasien perdarahan subaraknoid dengan kesadaran (RO: 19.722, 95% IK: 1.788- 217.521, p: 0.015), tekanan darah sistolik (RO: 157.4, 95%IK: 2.068- 11990.9, p: 0.022), gula darah sewaktu (RO:12.457, 95%IK:&nbsp;&nbsp; 2.305- 67.322, p: 0.03) dan komplikasi (RO: 30.539, 95%IK: 2.685- 347.377, p: 0.006). Masing-masing variabel memiliki skor untuk menentukan prognosis pasien perdarahan subaraknoid. Skor memiliki kemampuan yang baik dalam memperediksi mortalitas pasien perdarahan subaraknoid (AUC) ROC 0.946 (95% IK: 0.896- 0.995; p: &lt;0.001). Kesimpulan: Skor prediktor mortalitas valid digunakan untuk meramalkan mortalitas pada pasien perdarahan subaraknoid. Kata Kunci: perdarahan subaraknoid, skor prediktor, mortalitas
Pola Terapi pada Faktor Risiko Kardioserebrovaskuler Pasien Penyakit Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis Pinzon, Rizaldy Taslim; Padmanaba, Martinus Bagas Hogantara; Pramudita, Esdras Ardi; Sugianto, Sugianto
JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 6, No 1 (2019): JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (25.291 KB) | DOI: 10.20473/jfiki.v6i12019.32-36

Abstract

Pendahuluan: Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan penurunan fungsi ginjal secara progresif dan sudah berlangsung lama. Pola terapi pada PGK sangat bervariasi karena PGK memiliki banyak faktor risiko seperti penyakit kardioserebrovaskular sehingga perlu diberikan obat yang sesuai dengan penyakit yang mendasari. Tujuan: Mengidentifikasi profil pola terapi pada faktor risiko penyakit kardioserebrovaskular pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian cross sectional atau potong lintang dengan pendekatan deskriptif. Subjek yang diteliti adalah penderita penyakit Ginjal Kronis yang menjalani hemodialisis di RS Bethesda dan RS Panti Rapih Yogyakarta. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diambil dari data rekam medis. Analisis menggunakan data yang diambil dibuat dalam bentuk tabel. Hasil: Penelitian ini melibatkan 92 pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis terdiri dari 60 laki-laki (65,2%) dan 32 perempuan (34,8%) dengan rata-rata usia 50 tahun. Pasien dengan riwayat klinis yang berisiko menjadi penyakit kardioserebrovaskular dan belum mendapat pengobatan 39 orang (42,4%). Faktor risiko kardioserebrovaskular paling banyak adalah hiperhomosisteinemia 91 pasien (98,9%). Obat yang banyak digunakan untuk mengurangi terjadinya penyakit kardioserebrovaskular adalah asam folat dengan jumlah 81 pasien (89%), anti anemia 77 pasien (90,6%), dan anti hipertensi 74 pasien (90,2%). Kesimpulan: Pola terapi yang banyak digunakan adalah asam folat, anti anemia, dan anti hipertensi. Faktor risiko kardioserebrovaskular paling banyak adalah hiperhomosisteinemia.
HUBUNGAN MALNUTRISI DENGAN KEJADIAN STROKE Batlajery, Aditya; Pramudita, Esdras Ardi; Sugianto, Sugianto; Pinzon, Rizaldy Taslim
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia JKKI, Vol 10, No 1, (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/JKKI.Vol10.Iss1.art9

Abstract

Latar Belakang. Stroke merupakan salah satu masalah kesehatan yang serius karena ditandai dengan kejadian morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Secara patofisiologi dikatakan bahwa stroke berkaitan dengan gangguan aliran darah ke otak yang terjadi secara mendadak. Salah satu faktor risiko stroke yang dapat dikendalikan dan berkaitan dengan nutrisi adalah keadaan malnutrisi (undernutrition). Penelitian terdahulu masih kontroversial.Tujuan. Untuk mengetahui hubungan malnutrisi yang dinilai berdasarkan parameter Total Lymphocyte Count (TLC) dengan kejadian stroke.Metode Penelitian. Penelitian ini menggunakan metode penelitian cross-sectional. Sampel didapatkan dari data rekam medis pasien poliklinik saraf Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Besar sampel pada penelitian ini sebanyak 210 rekam medis yang terdiri dari 105 pasien stroke dan 105 pasien non stroke. Data dari rekam medis yang diperoleh dianalisis secara komputerisasi dan diuji dengan analisis univariat yang kemudian dilanjutkan dengan analisis bivariat dengan uji chi-square.Hasil. Pada penelitian ini gambaran jenis kelamin menunjukkan sebagian besar adalah pasien laki-laki sebesar 119 (56,7%), sedangkan pasien perempuan sebesar 91 (43,3%). Rentang usia paling banyak pada penelitian ini ada di usia 60-69 tahun dan di atas 70 tahun, masing-masing sebanyak 64 (30,5%). Faktor risiko yang sering terjadi adalah hipertensi dengan jumlah 131 pasien (62,4%). Pada analisis statistik didapatkan bahwa hipertensi menunjukkan hubungan signifikan (RP: 4,85, 95%CI: 2,62-8,97, p: 0,000) dan merupakan variabel terkuat yang berhubungan dengan kejadian stroke. Malnutrisi secara statistik tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian stroke (RP: 0,80, 95%CI: 0,32-2,00, p: 0,644). Kesimpulan. Malnutrisi secara umum tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap stroke. Hipertensi merupakan faktor risiko independen terjadinya stroke.Kata kunci:  stroke, malnutrisi, undernutrition, total lymphocyte count 
Ischemic stroke in coronavirus disease 19 (COVID-19) positive patient: a case report Sanyasi, Rosa De Lima Renita; Pramudita, Esdras Ardi
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 52, No 3 (2020): Special Issue: COVID-19
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A new coronavirus disease called COVID-19 was declared by World Health Organization (WHO). The COVID-19 may complicated into many other conditions, including neurologic. One among this neurologic complication is stroke. This paper aimed to report a case of ischemic stroke in COVID-19 positive patient in Yogyakarta, Indonesia. A male patient, 42 years old, came to emergency department with weakness in his right arm for two days as his main complain. He also had face drop on the right side, cough, and shortness of breath. He had a history of hyperthyroid and type II diabetes mellitus. The brain CT Scan showed a lacunar infarct in the left lentiform nucleus. Patient had an nasopharynx and oropharynx swab to be checked for the presence of COVID-19 and the result was positive.The pathophysiology of stroke in COVID-19 include the hyperactivation of inflammatory factors that causes a fatal inflammatory storm. It also cause a damage of coagulation system which causing the D-dimer and platelet abnormalities, hypercoagulability from critical illness and cardioembolism from virus-related cardiac injury. Moreover, COVID-19 may cause a direct role in viral infection in central nervous system. In conclusion, ischemic stroke can be present along with COVID-19. 
MANFAAT PEMBERIAN VITAMIN B KOMBINASI UNTUK MENURUNKAN KADAR HOMOSISTEIN PADA GAGAL GINJAL KRONIK Sanyasi, Rosa De Lima Renita; Pinzon, Rizaldy Taslim; Pramudita, Esdras Ardi
Callosum Neurology Vol 3 No 2 (2020): Callosum Neurology
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.023 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v3i2.98

Abstract

Pendahuluan: Pasien gagal ginjal kronik (GGK) sering mengalami hiperhomosisteinemia. Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan hubungan yang bermakna antara hiperhomosisteinemia dengan peningkatan kejadian stroke. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proporsi hiperhomosisteinemia, kemanjuran, serta keamanan pemberian vitamin B kombinasi intravena dalam menurunkan kadar homosistein pada pasien GGK. Metode:&nbsp;Penelitian ini adalah penelitian intervensional yang dilakukan pada pasien dengan GGK yang menjalani hemodialisis rutin 2 kali/minggu dan telah rutin memperoleh vitamin B kombinasi intravena (100mg vitamin B1, 100mg vitamin B6, dan 5000mcg vitamin B12). Setelah penghentian pemberian vitamin B kombinasi selama 1 minggu, pemeriksaan kadar homosistein dilakukan 3 kali: kunjungan awal, 2 minggu, dan 4 minggu setelah kunjungan awal. Vitamin B kombinasi kembali digunakan saat kunjungan awal. Hiperhomosisteinemia didefinisikan sebagai kadar homosistein &gt;15,39µmol/L. Hasil: Terdapat 122 subjek yang terlibat dalam penelitian ini. Subjek didominasi oleh pria dengan usia rata-rata 51,7 tahun. Asam folat merupakan salah satu obat yang sering dikonsumsi oleh para subjek. Prevalensi hiperhomosisteinemia adalah sebesar 89,3% dari total subjek. Meskipun sebagian besar subjek mengonsumsi asam folat (86,1%), angka kejadian hiperhomosisteinemia masih tinggi. Penurunan kadar homosistein tampak setelah penggunaan vitamin B kombinasi intravena selama 4 minggu (rata-rata 23.43±8.39µmol/L pada kunjungan pertama menjadi 12.24±4.41µmol/L pada kunjungan ketiga, p:0.0008).&nbsp;Terdapat 2 kejadian tidak diharapkan (KTD) selama penelitian ini. Pada investigasi lebih lanjut tidak ada korelasi antara KTD tersebut dengan penggunaan vitamin B kombinasi intravena. Kesimpulan:&nbsp;Hiperhomosisteinemia adalah kondisi yang sering dijumpai pada pasien dengan GGK yang menjalani hemodialisis rutin. Pemberian vitamin B kombinasi intravena terbukti aman dan efektif dalam menurunkan kadar homosistein. Kata Kunci: Gagal Ginjal Kronik, Hiperhomosisteinemia, Penyakit Kardiovaskular, Stroke