Articles

Stunting dan perkembangan anak usia 12-60 bulan di Kalasan Probosiwi, Hardiana; Huriyati, Emy; Ismail, Djauhar
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 11 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.26550

Abstract

Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kejadian stunting dengan perkembangan pada anak usia 12-60 bulan.Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan desain penelitian cross sectional. Penelitian ini akan dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kalasan Kabupaten Sleman Yogyakarta dengan subjek anak usia 12 sampai 60 bulan sebanyak 106 orang. Analisis data dengan univariabel, bivariabel dengan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan p<0.05 dan CI 95% dan multivariabel dengan menggunakan uji statistik regresi logistik.Hasil: Analisis bivariabel antara status stunting dengan perkembangan anak menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna (p<0,05) dan nilai OR 3,9 (95% CI; 1,67-8,90). Hasil analisis multivariabel antara status stunting yang mempertimbangkan panjang badan lahir dan asupan energi berpengaruh sebesar 8% dengan perkembangan anak usia 12-60 bulan.Implikasi praktis: Pnelitian ini menyarankan pada petugas kesehata untuk mengingatkan ibu untuk memperhatikan asupan makan anaknya.Keaslian: Penelitian ini menyimpulkan bahwa asupan energi paling berhubungan dengan perkembangan anak ketika bersama-sama dipertimbangkan
Obesitas, body image, dan perasaan stres pada mahasiswa di Daerah Istimewa Yogyakarta Wardani, Dyah Ayu Kusuma; Huriyati, Emy; Mustikaningtyas, Mustikaningtyas; Hastuti, Janatin
Jurnal Gizi Klinik Indonesia Vol 11, No 4 (2015): April
Publisher : Minat S2 Gizi dan Kesehatan, Prodi S2 IKM, Fakultas Kedokteran UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (671.896 KB) | DOI: 10.22146/ijcn.22649

Abstract

Background: Obesity can lead to various health problems including psychosocial problems. Obesity also relates to body image which may affect psychosocial health.Objective: To examine the relationship between obesity, body image, and perceived stress among college students in Yogyakarta Province.Method: This study is a cross-sectional design in 150 college students (75 boys and 75 girls) at Universitas Gadjah Mada and Universitas Technology Yogyakarta. Perceived stress was measured using 10 items of the Perceived Stress Scale (PSS-10), body image was evaluated using 16 items of the Body Shape Questionnaire (BSQ-16) and obesity was estimated using the percentage of body fat calculated from anthropometric measurements. Chi-square test, Spearman correlation analysis, and odds ratio were used to test the hypotheses.Results: There was significant correlation between obesity and body image in male (r= 0.32, p<0,01) and female students (r= 0.23, p<0,05). Obese male students were 7 times likely to have negative body image than non-obese male students. While no significant relationship was found between obesity and perceived stress,  non-obese students had almost two times likely to perceive stress. Similarly, body image was not significantly related to perceived stress in male and female students, however, it was likely that students with negative body image had about 1,5 times to feel stress than those with positive body image.Conclusion: Obesity was significantly associated with body image among male and female college students in Yogyakarta Province. However, no significant relationship was found between obesity and perceived stress as well as between body image and perceived stress among the students. 
Magnesium intake and insulin resistance in obese adolescent girls Muhammad, Harry Freitag Luglio; Huriyati, Emy; Susilowati, Rina; Julia, Madarina
Paediatrica Indonesiana Vol 49 No 4 (2009): July 2009
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.325 KB) | DOI: 10.14238/pi49.4.2009.200-4

Abstract

Background The worldwide increase in the prevalence ofcardiovascular diseases in adulthood is related to obesity inchildren and adolescents. Insulin resistance and hyperinsulinemia observed in obese individuals are the precursors of cardiovascular diseases and type 2 diabetes mellitus. Magnesium, through its action on insulin receptors, is proposed to be an important factor in preventing insulin resistance.Objective The aim of this study was to assess the associationbetween magnesium intake and insulin resistance in obeseadolescent girls.Methods This was a cross-sectional study on obese adolescentgirls in Yogyakarta, Indonesia. Insulin resistance was defined as a HOMA-IR index of3.16 or more. HOMA-IR was calculated usingfasting insulin and plasma glucose levels. Magnesium intake andenergy adjusted magnesium intake were measured using a 24-hour food recall method on 6 non-consecutive days.Results Of 7 8 obese adolescent girls included in our study, 56% of them were found to be insulin resistant. Magnesium intake was only 61 o/o of the recommended daily requirement for adolescent girls. There were no significant associations between magnesium intake and either HOMA-IR or hyperinsulinemia.Conclusion Our study does not find an association betweeninsulin resistance and magnesium intake in obese adolescent girls.
DISKUSI DENGAN LEAFLET VERSUS CERAMAH DENGAN LEMBAR BALIK DALAM MENINGKATKAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN KEYAKINAN WUS MENGENAI GAKI DI PERDESAAN ENDEMIK GAKI Martiyana, Cati; Huriyati, Emy; Padmawati, Retna Siwi
Media Gizi Mikro Indonesia Vol 9 No 2 (2018): Media Gizi Mikro Indonesia Juni 2018
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mgmi.v9i2.586

Abstract

Latar Belakang. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) masih terjadi di berbagai negara. Ibu hamil, bayi, dan balita adalah kelompok rentan GAKI. Kebutuhan iodium pada ibu hamil meningkat menjadi 250 µg/hari dari 150 µg/hari untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Asupan iodium harian tersebut harus terpenuhi agar tidak menimbulkan dampak buruk terhadap ibu atau janin diantaranya abortus, lahir mati, gangguan tumbuh kembang anak, dan dampak terburuk adalah lahir kretin. Wanita Usia Subur (WUS) merupakan sasaran potensial pendidikan kesehatan mengenai GAKI karena akan melahirkan generasi baru. Tujuan. Untuk mengetahui pengaruh perbedaan metode pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan, sikap dan keyakinan WUS mengenai GAKI, efektivitas media intervensi yang digunakan, faktor pendukung, dan penghambat pelaksanaan pendidikan kesehatan. Metode. Jenis penelitian kuantitatif quasi experimental pretest and post test control group design dengan dukungan data kualitatif. Penelitian dilakukan di Desa Wulung Gunung dan Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang pada bulan Maret sampai dengan Juni 2018. Kelompok eksperimen diintervensi dengan diskusi menggunakan leaflet sementara kelompok kontrol dengan ceramah menggunakan lembar balik. Sampel dipilih secara simple random sampling. Sebanyak 101 WUS yang sesuai dengan kriteria inklusi terbagi menjadi dua kelompok, kelompok eskperimen (n=54 orang) dan kelompok kontrol (n=47 orang). Data kuantitatif dianalisis dengan t test berpasangan, uji Wilcoxon, t test tidak berpasangan dan Mann Whitney, sementara data kualitatif dianalisis secara tematik. Hasil. Terdapat perbedaan rerata skor pengetahuan, sikap dan keyakinan yang tidak bermakna setelah intervensi antara kelompok diskusi dengan leaflet dan ceramah dengan lembar balik. Faktor pendukung adalah metode dan media intervensi yang dianggap menarik oleh peserta, sementara faktor penghambat adalah tidak semua peserta aktif dalam proses intervensi dan kondisi lingkungan sekitar yang dapat mengganggu konsentrasi peserta. Kesimpulan. Metode diskusi dengan leaflet dan ceramah dengan lembar balik setara dalam meningkatkan pengetahuan, sikap dan keyakinan individu, dan keduanya dapat menjadi alternatif pendidikan kesehatan mengenai GAKI di wilayah perdesaan endemik GAKI.
Studi kohort prevalensi obesitas siswa siswi sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) Kota Yogyakarta Huriyati, Emy
Jurnal Gizi Klinik Indonesia Vol 3, No 1 (2006): Juli
Publisher : Minat S2 Gizi dan Kesehatan, Prodi S2 IKM, Fakultas Kedokteran UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2145.168 KB) | DOI: 10.22146/ijcn.17418

Abstract

Background: The prevalence of obesity is continuously in-creasing both in developed and developing countries. This increasing prevalence of obesity may be associated with the increasing exposure to obesogenic environment.Objective: To know the trend of obesity prevalence among Rural Junior High School in YogyakartaMethod: This cohort study was conducted in Yogyakarta at 2003 from August to October and at 2005 from June to September.Result: The prevalence of obesity in 2003 showed 7.3% and 10.3% in 2005. Thus, it increased 3% during 2 years. But prevalence of obesity was not increased among 1440 students who followed body mass index percentile based on center for chronic disease (CDC) 2000.Conclusion: During 2 years, the change of obesity status had not significantly shown because obesity occurred in a long period. While the increasing obesity prevalence occurred.
HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI, ANEMIA, STATUS INFEKSI, DAN ASUPAN ZAT GIZI DENGAN FUNGSI KOGNITIF PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI DAERAH ENDEMIK GAKI Sudargo, Toto; Huriyati, Emy; Safitri, Lastiana; Irwanti, Winda; Nugraheni, Sri Ahadi
GIZI INDONESIA Vol 35, No 2 (2012): September 2012
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anak-anak yang tinggal di daerah  GAKI  mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kelaparan dan rendahnya skor IQ.  Tujuan penelitian ini menjelaskan  hubungan status gizi, anemia, status infeksi, dan  asupan  zat  gizi  (energi,  protein,  karbohidrat,  lemak,  iodium,  vitamin  C,  vitamin  A,  Fe,  Zn,  dan Selenium), dengan fungsi kognitif    anak sekolah dasar (SD) yang tinggal di daerah GAKI, dan  mengetahui kandungan iodium pada tanah dan air di wilayah tersebut. Jenis studi observasional dengan desain crosssectional.  Subjek  penelitian  anak  SD  berusia  9-12  tahun  kelas  3,  4,  dan  5  dari  3  SD  di  daerah  endemik GAKI  Kecamatan  Kismantoro,  Kabupaten  Wonogiri,  Jawa  Tengah.  Status  GAKI  diukur  menggunakan metode  palpasi  dan  Urinary  Iodine  Excretion  (UIE),  status  gizi  dengan  indikator  TB/U,  status  anemia menggunakan Hemocue, status infeksi dengan wawancara pada orangtua, asupan zat gizi menggunakan multiple  food  recall  24  jam  (3  hari),  kandungan  iodium  dalam  tanah  dan  air  menggunakan  Inductive Coupled  Plasma-Mass  Spectrometry  (ICP-MS)  dan  fungsi  kognitif  menggunakan  Weschler  Intelligence Score for Children-Revised  (WISC-R).  Hasil menunjukkan  20 subjek (28,9%) mengalami  GAKI, 27 subjek (39,1%)  stunting,  17  subjek  (24,6%)  anemia,  11  subjek  (15,9%)  infeksi  (ISPA  dan  diare)  dan  57  subjek (82,6%)  mengalami  gangguan  fungsi  kognitif.  Analisis  bivariat  menunjukkan  tidak  terdapat  hubungan signifikan antara status  GAKI  dan infeksi dengan fungsi kognitif (p>0,05). Terdapat hubungan signifikan antara status gizi dan anemia dengan fungsi kognitif (p<0,05).  Analisis multivariat asupan zat gizi energi, protein,  karbohidrat,  lemak,  iodium,  vitamin  C,  vitamin  A,  besi,  dan  selenium  memberikan  kontribusi sebesar  20,9%  dari  skor  IQ  total  anak  sekolah.  Hb,  UIE,  dan  asupan  zat  gizi  memberikan  kontribusi sebesar 24,1% dari skor IQ total anak sekolah. Hasil laboratorium menunjukkan  rerata  kandungan  iodiumtanah (2,49 ppm), dan dalam air (2,7ppb) berada di bawah standar. Jadi status gizi dan anemia, asupan zat gizi  berhubungan  dengan  fungsi  kognitif  anak  sekolah.  GAKI  dan  status  infeksi  tidak  berhubungan dengan fungsi kognitif. Secara bersama Hb, UIE dan asupan zat gizi berhubungan dengan fungsi kognitif. Rerata kandungan iodium pada tanah dan air di wilayah penelitian berada di bawah standar.Kata kunci: GAKI, status gizi, anemia, infeksi, fungsi kognitif
Ekstrak air daun Ceplikan (Ruellia tuberosa L) berpengaruh terhadap kadar SGOT, SGPT dan gambaran histologis hepar tikus DM Ardiani, Fitri; Lestariana, Wiryatun; Huriyati, Emy
Jurnal Gizi Klinik Indonesia Vol 8, No 2 (2011): Oktober
Publisher : Minat S2 Gizi dan Kesehatan, Prodi S2 IKM, Fakultas Kedokteran UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.218 KB) | DOI: 10.22146/ijcn.17775

Abstract

Background: Diabetes Mellitus (DM) is a chronic metabolic disorder as indicated by hiperglycemia caused by insulin defciency produced by pancreatic islet ß cell which triggers metabolic disorder of carbohydrate, protein and fat, and tends to cause complications. One of the complications is liver damage caused by DM which is probably due to lipid peroxydation, subsequent to free radical production. The common biochemistry signs of liver damage are increasing activities of some enzym such as transaminase pyruvat glutamate serum in the blood. Ruellia tuberosa L is a traditional plant and used by people as diabetic traditional drug. Flavonoid, saponin, zink as antioxidant can decreased of blood glucose in diabetic.Objective: The study aimed to identify the effect of Ruellia tuberosa L extract on glutamate oxaloacetate and glutamate pyruvat transaminases as well as liver histology of diabetic white mice (Rattus norvegicus).Method: The study was pure experimental that used a pre-post test control group design. The study used 30 male Rattus norvegicus. They were divided into 5 groups, each group consisting of 6 rats. Group I rats served as the normal control. Groups II to V consisted of rats with DM induced with alloxan 170 mg/kgBB subcutaneously. The experiment made was as followed. Group I served as control, group II was DM+aquades, group III was DM+Ruellia tuberosa L extract 1.6 mg/ kgBB/day, group IV was DM+Ruellia tuberosa L extract 3.2 mg/kgBB/day, and group V was DM+Ruellia tuberosa L extract 6.4 mg/kgBB/day. Glutamate oxaloacetate and glutamate pyruvat transaminases was measured before beginning and end of the treatment. The blood was taken from sinus orbitalis. At day 30 (end of the study) the rats were sacrifced for their liver. Data of transaminase oxaloacetate glutamate serum and transaminase pyruvat glutamate serum level were analyzed using one way ANOVA. The result of liver histology was analyzed descriptively.Results: The effect of Ruellia tuberosa L extract within 30 days of study could minimize level of transaminase oxaloacetate glutamate serum and transaminase pyruvat glutamate serum of DM rats. Maximal decreasing in extract 3,2 mg. Histologically there was no damage of the liver.Conclusion: Ruellia tuberose L extract could minimize level of transaminase oxaloacetat glutamate serum and transaminase pyruvat glutamate serum of DM and liver histology is normal.
PREVALENSI DAN FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TERJADINYA BEBAN GIZI GANDA PADA KELUARGA DI INDONESIA Astuti, Nur Fitri Widya; Huriyati, Emy; Susetyowati, Susetyowati
Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 16, No 1: MARET 2020
Publisher : Faculty Of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/mkmi.v16i1.9064

Abstract

Perkembangan urbanisasi dan ekonomi pada negara berkembang menyebabkan terjadinya nutrition transition. Hal ini mengakibatkan munculnya fenomena beban gizi ganda pada keluarga dimana terdapat anggota rumah tangga yang memiliki status gizi kurang dan lebih tinggal dalam satu keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan faktor-faktor yang berhubungan dengan fenomena beban gizi ganda pada keluarga di Indonesia. Penelitian cross-sectional ini menggunakan data Indonesian Family Life Survey (IFLS) tahun 2014 dengan jumlah sampel sebesar 6468 keluarga. Indikator beban gizi ganda keluarga ditunjukkan dengan adanya status gizi lebih dan kurang tinggal dalam satu keluarga yang diwakili oleh ibu dan anak. Analisis statistik dengan metode chi-square digunakan untuk menguji variabel yang memiliki hubungan dengan terjadinya beban gizi ganda keluarga. Hasil menunjukkan prevalensi beban gizi ganda keluarga di Indonesia adalah 8,27% dan persentase tertinggi terdapat pada regional Kalimantan dan Indonesia Timur. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian beban gizi ganda secara signififikan (p<0,05) pada keluarga di Indonesia adalah usia ibu (p = 0,001), pendidikan ibu (p = 0,022), jumlah anak (p = 0,001) dan jumlah anggota rumah tangga (p = 0,001). Penelitian lanjutan dengan metode longitudinal diperlukan untuk mengetahui prediktor beban gizi ganda pada keluarga di Indonesia sehingga dapat dirumuskan intervensi yang tepat untuk pencegahan masalah tersebut.
Intensitas penggunaan gadget dan obesitas anak prasekolah di Kota Yogyakarta Tanjung, Fajar Sri; Huriyati, Emy; Ismail, Djauhar
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 33, No 12 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.664 KB) | DOI: 10.22146/bkm.26869

Abstract

Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui hubungan intensitas penggunaan gadget terhadap obesitas anak usia prasekolah di Yogyakarta. Metode: Penelitian cross sectional dilakukan melibatkan semua anak prasekolah yang terdaftar di Playgroup/ Taman Kanak-Kanak di Yogyakarta dengan kriteria tidak mengikuti full day school. Hasil: Anak prasekolah yang intensitas penggunaan tinggi memiliki peluang 1,3 kali lebih banyak mengalami obesitas dibandingkan anak prasekolah yang intensitas penggunaan gadget rendah (p: 0,028, RP = 1,25). Anak prasekolah dengan intensitas penggunaan gadget tinggi dan pendidikan ayah tinggi, perilaku sedentari tinggi, sosial ekonomi cukup, serta pola makan tidak baik berpeluang 2,1 kali lebih besar mengalami obesitas dibandingkan dengan anak prasekolah intensitas penggunaan gadget rendah dan pendidikan ayah rendah, perilaku sedentari rendah, sosial ekonomi rendah, serta pola makan baik. Kesimpulan: Kejadian obesitas anak prasekolah lebih banyak terjadi pada anak yang intensitas penggunaan gadget tinggi dibandingkan yang intensitas penggunaan gadget rendah
Pola makan dan obesitas sebagai faktor risiko diabetes mellitus tipe 2 di Rumah Sakit Sanglah Denpasar Wiardani, Ni Komang; Hadi, Hamam; Huriyati, Emy
Jurnal Gizi Klinik Indonesia Vol 4, No 1 (2007): Juli
Publisher : Minat S2 Gizi dan Kesehatan, Prodi S2 IKM, Fakultas Kedokteran UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4738.557 KB) | DOI: 10.22146/ijcn.17456

Abstract

Background: Diabetes Mellitus (DM) is a chronic disease with its increasing prevalence worldwide, including in Indonesia and in Bali province especially among adult group. The increasing prevalence of DM is followed by the increasing prevalence of obesity affected by changes in lifestyle and unhealthy dietary patterns.Objective: The study was conducted to investigate relations between dietary patterns and obesity with type 2 DM in Sanglah Hospital, Denpasar.Method: The study was observational analytic with matched case control study. Subject of the study was divided into two groups, i.e. case and control with comparison case and control 1:2 which matched to age and sex. The cases were type 2 DM patients who had recently diagnosed on first visited in Sanglah Hospital. Control 1 was outpatients of non-type 2 DM in Sanglah Hospital and control 2 were taken from the case-neighboring household. Total subject were 147, taken by consecutive method. Collected data were subject identity, dietary patterns, physical activity, weight, height, waist circumference and fasting blood sugar. Dietary patterns were collected using Food Frequency Questionnaire (FFQ), physical activity was collected using modified International Physical Activity Questionnaire (IPAQ), and fasting blood sugar were estimated using biosensor of glucose. Multiple logistic regression models were used to identify risk factors associated with type 2 DM.Result: This study showed that there were 5 variables significantly related with type 2 DM, i.e. interaction of overall obesity with the dietary fiber intake (OR:10.7; 95% CI: 3.5-33.7), family history (OR:5.5, 95% CI: 2.2-13.3), source of high fat animal protein (OR:4.9, 95% CI:1.5-16.1), source of low fat animal protein (OR:0.1, 95% CI: 0-0.5), hypertension (OR:3.7, 95% CI:1.4-9.9)Conclusion: The interaction between overall obesity with dietary fiber intake, family history, source of high fat animal protein, source of low fat animal protein and hypertension were the risk factors of type 2 DM occurrence in Sanglah Hospital, Denpasar.