Articles

Found 5 Documents
Search

PERAN MUTASI GEN ACY II TERHADAP PRODUKSI ANTIBIOTIK SEFALOSPORIN Mustika, Indria Puti; Wibisana, Ahmad
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol 4, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jbbi.v4i2.2272

Abstract

The Roles of AcyII Gene Mutations for Production of Antibiotics Derived From CephalosporinSemisynthetic antibiotics cephalosporins are widely used to treat infectious diseases, especially those caused by gram-negative bacteria. Various types of semisynthetic antibiotics could be synthesized using 7-aminocephalosporanic acid (7-ACA) as the main raw material. 7-ACA is obtained by conversion of cephalosporin C, either chemically or enzymatically. Converting cephalosporin C to 7-ACA enzymatically in one step involves the cephalosporin acylase enzyme. Currently, all of cefalosporin acylase enzymes produced by wild-type microbes have only high activity on glutaryl-7-ACA as the main substrate. Genetic engineering of the encoding gene of cefalosporin acylase is required to obtain recombinant enzyme having high activity on cephalosporin C. In this paper, the engineering attempts made on acyII gene from Pseudomonas SE83 using directed mutagenesis, error prone PCR, and structural modeling are described. Keywords: AcyII gene, cephalosporin, cephalosporin C acylase, enzyme activity, mutation ABSTRAKAntibiotik sefalosporin semisintetik banyak digunakan untuk mengatasi penyakit infeksi, khususnya yang ditimbulkan oleh bakteri gram negatif. Berbagai jenis antibiotik semisintetk dapat disintesis menggunakan senyawa asam 7-aminosefalosporanat (7-ACA) sebagai bahan baku utamanya. Senyawa 7-ACA diperoleh melalui konversi sefalosporin C, baik yang dilakukan secara kimiawi maupun enzimatis. Konversi sefalosporin C menjadi 7-ACA secara enzimatis dalam satu langkah melibatkan enzim sefalosporin asilase. Hingga saat ini, seluruh enzim sefalosporin asilase yang dihasilkan oleh mikroba wild type hanya mempunyai aktifitas yang tinggi terhadap glutaryl-7-ACA. Rekayasa genetik terhadap gen pengkode enzim sefalosporin asilase diperlukan untuk memperoleh enzim rekombinan yang mempunyai aktifitas tinggi terhadap substrat sefalosporin C. Dalam ulasan ini diuraikan upaya-upaya rekayasa yang telah dilakukan terhadap gen acyII dari Pseudomonas SE83 menggunakan teknik mutasi terarah, error prone PCR, dan pemodelan struktur.Kata kunci: Aktivitas enzim, gen acyII, mutasi, sefalosporin, sefalosporin C asilase Received: 14September 2017    Accepted: 19 December 2017     Published: 30 December 2017    Received: 14September 2017                Accepted: 19 December 2017           Published: 30 December 2017   
TINJAUAN, D-ASAM AMINO OKSIDASE DARI MIKROBA: PRODUKSI DAN APLIKASI Wibisana, Ahmad; Mustika, Indria Puti
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol 2, No 2 (2015): December 2015
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jbbi.v2i2.514

Abstract

D-amino acid oxidase (DAAO) is a flavin adenine dinucleotide-containing enzyme that catalyzes the oxidative deamination of amino acid D-isomers with high stereospecificity, which results in α-keto acids, ammonia and hydrogen peroxide. Having high stereospecificity, DAAO is used in a variety of applications such as drug, biocatalyst, biosensor and preparation of transgenic plants. DAAO is widespread in nature, found in microorganisms to mammals. Microbial DAAO is considered more important than mammalian DAAO for biotechnology application. DAAO production in submerged fermentation is influenced by several factors, such as carbon source, nitrogen source, inducer, dissolve oxygen, temperature and pH. The influence of those factors on DAAO production by microbial origin, DAAO production by microbial recombinant, and its application in biotechnology are discussed in this review.Keywords: Enzyme, DAAO, D-amino acid, production, application ABSTRAKEnzim D-asam amino oksidase (DAAO) merupakan enzim yang mengandung Flavin Adenine Dinucleotide yang bekerja mengkatalisis reaksi oksidasi deaminasi D-asam amino dengan stereospesifisitas yang tinggi menghasilkan α-asam keto, amonia dan hidrogen peroksida. Karena mempunyai karakteristik sreteospesifisitas yang tinggi, enzim DAAO banyak digunakan untuk berbagai aplikasi seperti obat, biokatalis, biosensor dan penyiapan tanaman transgenik. Enzim ini dapat dihasilkan oleh organisme mulai dari bakteri hingga mamalia, namun untuk aplikasi dibidang bioteknologi, enzim DAAO yang berasal dari mikroorganisme dipandang lebih penting dari pada yang berasal dari mamalia. Produksi enzim dari DAAO dari mikroorganisme dalam kultur cair dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti sumber karbon, nitrogen, senyawa penginduksi, oksigen terlarut, temperatur dan pH medium. Pengaruh dari faktor-faktor tersebut terhadap produksi enzim DAAO, produksi enzim DAAO menggunakan mikroba rekombinan serta aplikasinya dalam bidang bioteknologi dibahas dalam tinjauan.Kata Kunci: Enzim, DAAO, D-asam amino, produksi, aplikasi
PEMURNIAN ENZIM SEFALOSPORIN-C ASILASE DAN OPTIMASI PROSES KROMATOGRAFI PENUKAR ION Nasution, Uli Julia; Wijaya, Silvia Melinda; Wibisana, Ahmad; Safarrida, Anna; Rachmawati, Indra; Puspitasari, Dian Japany; Naim, Sidrotun; Mahsunah, Anis Herliyanti; Wulyoadi, Sasmito; Suyanto, Suyanto
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol 5, No 2 (2018): December 2018
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jbbi.v5i2.2902

Abstract

Purification of Cephalosporin-C Acylase and Its Optimization of Ion-Exchange ChromatographyABSTRACTCephalosporin-C acylase (CCA) has an important role in the one-step conversion of cephalosporin-C into 7-ACA. Purification process aims to increase specific activity of CCA enzyme. Purification began with cell lysis, ammonium sulphate precipitation, dialysis, ion exchange chromatography (IEC) and size exclusion chromatography. IEC optimization of elution step was also done to compare gradient and isocratic elusion. Purification was capable to increase the enzyme purity upto 33.66 fold, with specific activity of 3.00 U/mg and the yield reached 41.41%. Optimization of elusion during IEC showed that isocratic protein elusion was more efficient (taking shorter time, 3 column volume (CV) only) than that of gradient batch (up to 9 CV). SDS-PAGE analysis demonstrated that the recombinant CCA enzyme existed in two types, active enzyme containing α-subunit (25 kDa) and β-subunit (58 kDa), and inactive enzyme (83 kDa) as precursor. Furthermore, 30% ammonium sulphate saturated precipitation was able to precipitate this inactive CCA.Keywords: 7-ACA,CCA, cephalosporin C, protein purification, specific activity ABSTRAKSefalosporin-C asilase (CCA) merupakan enzim yang berperan penting dalam konversi satu tahap sefalosporin-C menjadi 7-ACA. Proses purifikasi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan aktivitas spesifik enzim CCA. Proses purifikasi dimulai dari memecah sel, diikuti dengan tahap presipitasi menggunakan amonium sulfat, dialisis, kromatografi penukar ion (IEC) dan kromatografi eksklusi. Optimasi proses IEC pada tahap elusi juga dilakukan untuk membandingkan elusi enzim CCA secara gradien dan isokratik. Proses purifikasi pada penelitian ini mampu meningkatkan kemurnian enzim hingga 33,66 kali, dengan aktivitas spesifik sebesar 3,00 U/mg dan perolehan enzim sebesar 41,41%. Hasil optimasi IEC pada proses elusi secara isokratik lebih efisien dari segi waktu (hanya membutuhkan 3 kolom volume (CV) dibandingkan dengan secara gradien (sampai 9 CV). Hasil SDS-PAGE menunjukkan bahwa CCA rekombinan merupakan enzim dengan 2 macam bentuk yaitu enzim aktif, yang terdiri dari subunit α (25 kDa) dan β (58 kDa), dan enzim tidak aktif berupa prekursor (83 kDa). Proses presipitasi menggunakan amonium sulfat 30% tersaturasi dapat mengendapkan prekursor CCA.Kata Kunci: 7-ACA, aktivitas spesifik, CCA, purifikasi protein, sefalosporin C
ISOLASI DAN SKRINING MIKROBA PENGHASIL BIOSURFAKTAN DARI AIR LAUT YANG TERCEMAR MINYAK Wibisana, Ahmad
Jurnal Ilmiah Teknik Kimia Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Ilmiah Teknik Kimia
Publisher : Program Studi Teknik Kimia, Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.806 KB) | DOI: 10.32493/jitk.v2i2.1680

Abstract

ABSTRAK Mikroorganisme penghasil biosurfaktan telah diisolasi dari air laut yang tercemar minyak yang diambil dari beberapa lokasi dermaga di Indonesia. Lima dari 155 isolat yang diisolasi mampu menghasilkan biosurfaktan yang tinggi melalui proses fermentasi menggunakan medium produksi Marine Broth (Difco). Isolat ML4-10 yang diisolasi dari kawasan dermaga kilang minyak Pertamina di Cilacap menunjukkan kemampuan menghasilkan biosurfaktan tertinggi. Pada uji biosurfaktan yang dihasilkan oleh isolat ML4-10 menunjukkan bahwa aktifitas emulsifikasi dan oil displacement, berturut-turut adalah 54,1 ± 0,8 dan 10,5 ± 0,3. Biosurfaktan dari ML4-10 juga menunjukkan nilai positif pada uji oil drop test. Pada uji aktifitas emulsifikasi dan oil displacement menggunakan berbagai sumber minyak, biosurfaktan dari ML4-10 juga menunjukkan aktifitas yang tinggi, hal ini menunjukkan biosurfaktan mempunyai potensi aplikasi yang luas. Kata kunci: biosurfaktan, pencemaran minyak, air laut, mikroorganisme, isolat
MODIFIKASI PATI TALAS KIMPUL (XANTHOSOMA SAGITTIFOLIUM) UNTUK BAHAN PENGENTAL MAKANAN Iswadi, Didik; Wibisana, Ahmad; Jufrinaldi, Jufrinaldi
Jurnal Ilmiah Teknik Kimia Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Ilmiah Teknik Kimia
Publisher : Program Studi Teknik Kimia, Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.052 KB) | DOI: 10.32493/jitk.v3i2.3542

Abstract

Pati  alami memiliki  kelemahan untuk dapat diaplikasikan  di industri. Maka dari itu dibutuhkan modifikasi dalam upaya mempertinggi pemakaian dari  pati  tersebut,  langkah yang dilakukan dengan  membuat modifikasi untuk  struktur  pati. Penelitian yang dilakukan ini mempunyai tujuan  dalam  mendapatkan pati termodifikasi  dengan kata lain pati  ikat  silang  fosfat.  Pati dengan ikat silang fosfat dibuat dengan mereaksikan pati talas kimpul dengan monosodium fosfat. Untuk memperoleh kondisi proses yang optimal maka pada penelitian ini dilakukan optimasi terhadap variabel-variabel yang berpengaruh terhadap karakteristik pati termodifikasi yang dihasilkan. Rancangan percobaan menggunakan metode one factor at a time dengan variabel yang digunakan meliputi:  konsentrasi monosodium fosfat 0,5; 1,0; 1,5; 2,0 dan 2,5% ; lama reaksi (20, 30, 40, 50 dan 60 menit). Karakterisasi sifat fisikokimia dari pati monosodium fosfat yang terbaik yaitu pada konsentrasi 20% dan lama reaksi pada pati monosodium fosfat yang terbaik yaitu 60 menit yang mempunyai nilai kadar pati 32,17%, kadar air 9,42%, kejernihan pasta 2,39%, nilai solubility 4,03%  dan nilai swelling power sebesar 2,45%, kejernihan pasta 13,23% dan freeze-thaw stability 0,70%.