Susilo Kusdiwanggo, Susilo
Unknown Affiliation

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

Pengaruh Huma-Sawah dan Leuit terhadap Tumbuh-Kembang Permukiman Adat Kasepuhan Ciptagelar Pratiwi, Rahayu Putri; Kusdiwanggo, Susilo
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasepuhan Ciptagelar merupakan permukiman adat di mana masyarakat memiliki sistem kepercayaan terhadap padi dan telah melahirkan budaya padi. Budaya padi yang masih melekat dalam jati diri masyarakat Kasepuhan Ciptagelar yaitu budaya padi huma dan padi sawah. Hal ini menunjukkan bahwa huma-sawah memiliki keterikatan satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Budaya padi huma datang lebih awal ke dalam lingkungan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar sehingga menjadikan kehadiran padi huma lebih di utamakan namun tidak melepas kehadiran padi sawah seperti pada upacara ngadiekeun. Upacara ngadieukeun merupakan puncak ritual rangkai budaya padi di mana memiliki prasyarat dan syarat harus hadirnya dua pasang entitas budaya padi yaitu padi huma dan padi sawah. Hadirnya sepasang padi huma dan padi sawah secara bersama-sama dalam upacara ngadiukeun berada di dalam leuit sehingga leuit menjadi wadah aktivitas budaya. Fakta dilapangan menunjukkan bahwa leuit terus mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan leuit diakibat oleh surplus hasil produksi padi sawah. Kehadiran leuit jika dilihat dari sudut pandang leuit sebagai wadah aktivitas budaya dalam upacara ngadiukeun menunjukkan bahwa leuit memiliki keterikatan yang kuat dengan padi huma di mana kehadiran padi huma sebagai prasyarat dalam ngadiukeun namun dalam pertumbuhan leuit tidak bergantung dengan kehadiran padi huma. Hal ini terbalik dengan hubungan leuit terhadap padi sawah di mana padi sawah hanya sebagai syarat ngadiukeun didalam leuit tetapi pertumbuhan leuit sangat bergantung dengan padi sawah. Pertumbuhan leuit dalam lingkungan permukiman ini dapat menyebabkan adanya suatu perkembangan sehingga memperlihatkan tumbuhkembang permukiman. Dengan demikian, penelitihan ini berujuan untuk : (1) mengetahui gambaran secara umum tentang kondisi hubungan huma-sawah dan leuit terhadap proses tumbuh-kembang permukiman Adat kasepuhan Ciptagelar; (2) menyediakan sebuah detail gambaran yang akurat berkaitan dengan pengaruh huma-sawah dan leuit terhadap proses tumbuh-kembang permukiman Adat Kasepuhan Ciptagelar. Metode yang digunakan yaitu kualtatif-deduktif dengan paradigma rasionalistik. Hasil penelitihan ini menunjukkan bahwa proses tumbuhkembang permukiman di lihat dari pertumbuhan leuit yaitu bergerak ke arah indung di mana jika dilihat dari hubungan dan pengaruhnya memunculkan konsep diam – gerak – diam yang dihasilkan dari represntasi hubungan dan pengaruh huma-sawah dan leuit. Konsep tersebut memiliki arti memiliki arti yaitu yang diam adalah bergerak yang sebenarnya adalah diam.Kata kunci: budaya padi, tumbuh-kembang permukiman, permukiman adat, Kasepuhan Ciptagelar.
Sakuren dan Paparakoan : Konsep Ruang Perempuan pada Masyarakat Budaya Padi Kasepuhan Ciptagelar Rahman, Teva Delani; Kusdiwanggo, Susilo
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasepuhan Ciptagelar merupakan salah satu permukiman adat Sunda di Indonesia yang sampai sekarang masih mempertahankan nilai kepercayaan dan religi dari budaya padi (rice culture). Sebagai masyarakat berbudaya padi yang kuat, segala bentuk aktivitas utama masyarakat Ciptagelar berpusat pada padi dan disertai dengan ritual. Aktivitas ritual terhadap padi diperjalankan dari lingkungan agrikultur (huma-sawah) hingga ke area domestik. Dalam aktivitas rutin dan ritual sepanjang satu siklus budaya padi pada ruang domestik di Kasepuhan Ciptagelar, eksistensi perempuan sangat dominan. Dengan demikian terbangun preposisi bahwa semua ruang yang terkait dengannya akan terbangun menjadi ruang perempuan saat aktivitas tersebut berlangsung. Aspek apa saja yang mendasari dan bagaimana proses terbentuknya ruang perempuan pada masyarakat budaya padi Kasepuhan Ciptagelar? Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-induktif dengan pendekatan eksploratif-deskriptif dan menggunakan paradigma partisipatoris. Hasil yang ditemukan adalah bahwa Sakuren dan Paparakoan menjadi konsep yang membentuk ruang perempuan pada masyarakat budaya padi Kasepuhan Ciptagelar. Ruang perempuan terbentuk ketika perempuan mengambil padi di leuit, menumbuk di saung lisung, menyimpan dan mengambil beras di pangdaringan, dan menanak nasi di goah.Kata kunci: jender, konsep ruang, rice culture, ruang perempuan
Sawen: Proteksi Teritori Lembur pada Permukiman Adat Kampung Gede Ciptagelar pratiwi, diana wahyu; Kusdiwanggo, Susilo
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kampung Gede Ciptegelar merupakan pusat pemerintahan kasepuhan komunitas Pancer-Pangawinan terkini yang selanjutnya disebut sebagai Kasepuhan Ciptagelar. Komunitas Pancer-Pangawinan sendiri telah hadir lebih dari 350 tahun lalu dan berdiaspora di wilayah Pegunungan Kendeng Banten dan Jawa Barat dalam teritori (a) leuweng; terdiri dari tutupan, titipan, dan garapan dan (b) perkampungan; terdiri dari kampung gede, lembur dan tari kolot yang berada dalam wewengkon adat. Secara berkala mereka memeriksa, memelihara, dan mempertahankan teritori tersebut. Dalam satu permukiman terdapat dua elemen lingkungan yang saling melengkapi, yaitu lingkungan agrikultur (garapan) dan lembur. Di sisi lain, Kasepuhan Ciptagelar merupakan masyarakat yang masih mempertahankan budaya padi hingga sekarang. Mereka menghormati dan menjadikan padi sebagai entitas suci yang harus dijaga yang berpengaruh pada kehidupan masyarakat Komunitas Ciptagelar. Budaya padi juga mempengaruhi cara mereka menata permukimannya. Bagaimana warga memproteksi: memeriksa, memelihara, dan mempertahankan wilayah permukimannya dalam konteks budaya padi? Terdapat satu ritual prah-prahan yang diselenggarakan masyarakat secara berkala dalam menjaga permukimannya. Banyak elemen-elemen vegetatif yang digunakan dan dijadikan sebagai media sawen (protektor). Penelitian ini memiliki dua tujuan, yaitu eksploratif dan deskriptif. Pertama, mengidentifikasi teritori permukiman dari aspek lingkungan lembur pada Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar berdasarkan penempatan sawen lembur. Kedua, memahami cara masyarakat memproteksi lingkungan lembur berdasarkan ritual prah-prahan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif- deduktif dalam paradigma rasionalistik. Penelitian ini menggunakan strategi observasi lapangan. Responden ditentukan berdasarkan proses maksimalisasi informasi atas siapa yang memiliki pengetahuan terhadap subyek penelitian sehingga merupakan seseorang yang unik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) berdasakan penempatan sawen lembur, wilayah atau teritori spasial lingkungan lembur yang perlu diproteksi adalah akses/jalan menuju permukiman; (2) berdasarkan ritual prah-prahan, aktivitas memproteksi merupakan kegiatan menurunkan berkah Yang Maha Kuasa untuk keselamatan permukiman atau lembur. Kata kunci: budaya padi, prah-prahan, proteksi, sawen lembur, teritori.
Sakuren: Konsep Spasial Sebagai Prasyarat Keselamatan Masyarakat Keselamatan Masyarakat Budaya Padi di Kasepuhan Ciptagelar Kusdiwanggo, Susilo; Sumardjo, Jakob
PANGGUNG Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i3.194

Abstract

ABSTRACTIn the rice culture of KasepuhanCiptagelar society, life will emerge after sakuren brought together (pangawinan). Life is not static, but dynamic and cyclical. Sakuren should be sought through the ngalasuwung, that is a process of ritual activity. Ngalasuwung performed through pattern of space motion katuhu or kenca. Goal of ngalasuwung is to achieve a suwung. The process of ngalasuwung does not cease after the reality of sakuren found. Reality of sakuren remains to be mated (pangawinan) in suwung space. Aim of pangawinan is obtain pancer. Through an ethnographic approach, sakuren cultural theme as a result of a domain analysis, studied simultaneously with taxonomic analysis and elaborated with thick description. Comprehensive studies show that sakuren is an existential meaning which should be pursued and a prerequisite for obtaining safety and sustainability.Keywords: KasepuhanCiptagelar, pangawinan, pancer, sakurenABSTRAKDalam budaya padi masyarakat Kasepuhan Ciptagelar, kehidupan akan muncul setelah sakuren dipertemukan. Kehidupan tidak bersifat statis, melainkan dinamis dan siklis. Sakuren adalah konsep sepasang. Sakuren harus dicari melalui proses ngalasuwung, yaitu sebuah proses aktivitas ritual. Ngalasuwung dilakukan dengan dengan pola gerak ruang katuhu atau kenca. Tujuan ngalasuwung adalah mencapai ruang suwung. Proses ngalasuwung tidak berhenti setelah realitas sakuren ditemukan. Realitas sakuren masih harus dikawinkan dalam ruang suwung. Tujuan pangawinan adalah memperoleh pancer (keselamatan). Melalui pendekatan etnografi, tema kultural sakuren sebagai hasil dari analisis domain, dikaji secara simultan dengan analisis taksonomi dan dielaborasi dengan thick description. Kajian komprehensif menunjukkan bahwa sakuren merupakan makna eksistensial yang harus diupayakan dan menjadi prasyarat untuk memperoleh keselamatan dan keberlanjutan hidup masyarakat budaya padi Ciptagelar.Kata Kunci :Kasepuhan Ciptagelar, pangawinan, pancer, sakuren 
DWELLINGS CULTURE ON RIPARIAN COMMUNITY IN MUSI RIVER, PALEMBANG Wicaksono, Bambang; Kusdiwanggo, Susilo; Siswanto, Ari; FA, Widya Fransiska
Prosiding Seminar Kota Layak Huni / Livable Space 2016: Applying Local Knowledge for Livable Space
Publisher : Prosiding Seminar Kota Layak Huni / Livable Space

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Riparian areas are located along the edge of the river and directly affected by the tidal waters of the river. The existence of riparian has an important function as an inland transition area heading to waters that it has affected the location and placement of the settlement. There are three modes of settlement that have for centuries lived by the community at Musi River in Palembang. First, the Rakit (raft) settlement over the Musi River, the second settlement is stage houses in which poles anchored on the banks of the Musi River with a pyramid roof which called Rumah Limas and Limas Warehouse, and the third settlements on the mainland. Raft houses are increasingly few in number and disappearing from the banks of Musi River. However, houses on stilts and houses propped on the bottom turn into a shelter in the dry condition and change the function to a settled pattern of land. The settlements archetype can be found through the study of literature, field research, and local wisdom related to riparian communities. The read elements of architecture can be found roots local wisdom in addressing riparian architecture that can enrich the architecture of the archipelago. The findings show that the living cultures of riparian communities convey a new kind of culture or as a sub-culture. Keywords: culture resides, riparian communities. 
Sakuren: Konsep Spasial Sebagai Prasyarat Keselamatan Masyarakat Keselamatan Masyarakat Budaya Padi di Kasepuhan Ciptagelar Kusdiwanggo, Susilo; Sumardjo, Jakob
PANGGUNG Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i3.194

Abstract

ABSTRACTIn the rice culture of KasepuhanCiptagelar society, life will emerge after sakuren brought together (pangawinan). Life is not static, but dynamic and cyclical. Sakuren should be sought through the ngalasuwung, that is a process of ritual activity. Ngalasuwung performed through pattern of space motion katuhu or kenca. Goal of ngalasuwung is to achieve a suwung. The process of ngalasuwung does not cease after the reality of sakuren found. Reality of sakuren remains to be mated (pangawinan) in suwung space. Aim of pangawinan is obtain pancer. Through an ethnographic approach, sakuren cultural theme as a result of a domain analysis, studied simultaneously with taxonomic analysis and elaborated with thick description. Comprehensive studies show that sakuren is an existential meaning which should be pursued and a prerequisite for obtaining safety and sustainability.Keywords: KasepuhanCiptagelar, pangawinan, pancer, sakurenABSTRAKDalam budaya padi masyarakat Kasepuhan Ciptagelar, kehidupan akan muncul setelah sakuren dipertemukan. Kehidupan tidak bersifat statis, melainkan dinamis dan siklis. Sakuren adalah konsep sepasang. Sakuren harus dicari melalui proses ngalasuwung, yaitu sebuah proses aktivitas ritual. Ngalasuwung dilakukan dengan dengan pola gerak ruang katuhu atau kenca. Tujuan ngalasuwung adalah mencapai ruang suwung. Proses ngalasuwung tidak berhenti setelah realitas sakuren ditemukan. Realitas sakuren masih harus dikawinkan dalam ruang suwung. Tujuan pangawinan adalah memperoleh pancer (keselamatan). Melalui pendekatan etnografi, tema kultural sakuren sebagai hasil dari analisis domain, dikaji secara simultan dengan analisis taksonomi dan dielaborasi dengan thick description. Kajian komprehensif menunjukkan bahwa sakuren merupakan makna eksistensial yang harus diupayakan dan menjadi prasyarat untuk memperoleh keselamatan dan keberlanjutan hidup masyarakat budaya padi Ciptagelar.Kata Kunci :Kasepuhan Ciptagelar, pangawinan, pancer, sakuren 
Karakter Ruang Bermain Berdasarkan Persepsi Visual Anak Usia Sekolah Dasar Di Kota Malang Febianty, Febianty; Kusdiwanggo, Susilo
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 4 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemenuhan kebutuhan ruang bermain di perkotaan belum terpenuhi secara maksimal. Keterbatasan lahan dan desain yang belum sesuai dengan perkembangan anak menjadi faktor pendukung minimnya ruang bermain anak saat ini. Arsitektur yang terbentuk dari persepsi manusia, membuat pertimbangan persepsi sebagai sumber informasi dalam proses perancangan. Dalam proses perancangan persepsi yang digunakan adalah persepsi arsitek sebagai perancangan, memungkinkan timbulnya perbedaan ruang bermain dilihat dari persepsi sudut pandang anak sebagai pengguna ruang. Perolehan informasi, dalam persepsi, menghadirkan sebuah unsur visual yang pertama mendominasi dalam pikiran anak khususnya pada usia sekolah dasar. Sehingga indera penglihatan anak menjadi sumber informasi terbanyak dalam menghadirkan sebuah persepsi visual. Dalam perkembangan anak, persepsi visual yang muncul bergantung pada cara pandang dan pengetahuannya. Semakin banyak pengalaman dan pengetahuan anak akan sesuatu, maka perkembangan persepsi visualnya pun akan semakin meningkat. Sehingga persepsi visual anak yang dihasilkan bergantung pada perkembangan anak tersebut secara keseluruhan. Pada usia sekolah dasar anak tidak lagi mewakili objek dalam hubungan dengan dirinya sendiri namun juga mulai mewakili objek dalam hubungan interaksi antar satu dengan lainnya. Sehingga persepsi visualnya mengenai ruang bermain dapat dijadikan informasi dasar perancangan yang memberikan karakter ruang tertentu. Hal tersebut dibutuhkan dalam melihat pengetahuan dan cara anak dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar sesuai dengan karakter perkembangannya.
KARAKTERISTIK RUANG DOMESTIK RUMAH DINAS PABRIK GULA PENINGGALAN KOLONIAL DI KEDIRI (Studi kasus: PG Meritjan, PG Ngadiredjo, dan PG Pesantren Baru) Fadyla, Putranti; Kusdiwanggo, Susilo
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 4 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Keberagaman gaya arsitektur di Indonesia dipengaruhi oleh banyak budaya dari kehadiran beberapa negara kolonial di Indonesia. Salah satu yang membawa pengaruh pada munculnya industri gula dan rumah-rumah dinas yang turut dibangun. Saat ini penghuni rumah dinas adalah karyawan dari pebrik gula tersebut. Rumah dinas yang pernah dihuni oleh warga Belanda ini memiliki keunikan dalam sususan ruang domestiknya. Ruang domestik adalah ruang yang digunakan oleh penghuni untuk beraktivitas sehari-hari, sehingga memungkinkan untuk keadaan di dalamnya berubah ketika penghuninya juga berganti. Persamaan bentuk susunan ruang domestik pada rumah dinas pabrik gula yaitu berupa rumah dengan sebuah bangunan utama yang besar dan sebuah massa bangunan berisi ruang-ruang kecil terpisah dari bangunan utama membuat rumah dinas ini memiliki ciri khas yang memiliki makna di dalamnya. Seperti kekuasaan, sosial, politik, dan status menjadi alasan dari keberadaan ruang yang dikhususkan untuk para pekerja pada masa itu. Namun, hingga saat ini keberadaan ruang-ruang kecil itu masih ada dan pula masih digunakan.   Kata kunci: tipologi, domestik, rumah kolonial
Konsep Pola Permukiman Spasial di Kasepuhan Ciptagelar Kusdiwanggo, Susilo
Jurnal Permukiman Vol 11, No 1 (2016)
Publisher : Pusat Litbang Permukiman, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2016.11.29-42

Abstract

Leluhur Ciptagelar yang dikenal sebagai komunitas Pancer Pangawinan adalah masyarakat adat berdasarkan pada budaya padi, yaitu masyarakat yang masih memiliki keyakinan, kepercayaan, dan religi pada padi. Mentalitas asli leluhur Ciptagelar adalah berbudaya padi huma dengan paparakoan sebagai atribut, karakternya, dan jejak spasial masyarakat peladang. Ngalalakon adalah satu bentuk sistem kepercayaan budaya padi yang wajib dijalankan. Ngalalakon merupakan aktivitas memindahkan permukiman ke titik nadir. Budaya bermukim dipengaruhi oleh ritual ngalalakon ini. Bagaimanakah konsep pola spasial permukiman dari leluhur Ciptagelar yang berbasis budaya padi dan selalu berpindah ? Tulisan ini bertujuan menggali konsep dasar yang melandasi pola spasial permukiman pada masyarakat budaya padi di Kasepuhan Ciptagelar. Melalui metode etnografi, unit-unit informasi dianalisis secara thick description dan domain analysis hingga membangkitkan konsep spasial sebagai salah satu tema kulturalnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparakoan huma menjadi rujukan dasar atas konsep pola spasial permukiman di Kasepuhan Ciptagelar. Pola spasial permukiman Kasepuhan Ciptagelar tidak semata berorientasi pada pembangunan fisik saja, melainkan juga sebagai usaha membangun keyakinan untuk peningkatan dan penyempurnaan diri. Peran dan kehadiran Leuit Jimat menjelaskan bahwa permukiman Ciptagelar merupakan refleksi dan bentuk penyempurnaan atau akumulasi terkini dari pencapaian puncak-puncak kebudayaan padi dari generasi Ciptagelar sebelumnya.
Peran Kunjungan Ziarah terhadap Place Attachment di Makam Bung Karno abdillah, Jundi Muhamad sidiq; Kusdiwanggo, Susilo
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ziarah di Makam Bung Karno termasuk dalam kegiatan wisata religi di Kota Blitar yang melibatkan pengunjung dari wisatawan nusantara maupun mancanegara. Pengunjung Makam Bung Karno berdatangan dengan motivasinya yang beragam. Antusiasme pengunjung yang datang menunjukan bahwa adanya relasi pengunjung-tempat. relasi tersebut terjadi hingga membentuk place attachment. Permasalahan yang muncul adalah bagaimana peran kegiatan ziarah terhadap place attachment di Makam Bung Karno. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan penalaran induktif melalui observasi, wawancara dan fotografi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, peran kunjungan ziarah terhadap place attachment di Makam Bung Karno adalah sebagai pembentuk. Place attachment yang dibentuk adalah melalui (1). Aspek perilaku, dan (2). Aspek waktu. Aspek perilaku berupa kebutuhan dan keinginan ziarah yang dilakukan bersama-sama, sedangkan aspek waktu berupa komitmen keberlanjutan kunjungan diwaktu yang akan datang. Sebagai sebuah tempat, fasilitas ziarah yang dilakukan pengunjung di Makam Bung Karno mampu mendorong terbentuknya ikatan tempat.Kata kunci: keberlanjutan, Keterikatan tempat, Wisata, Ziarah,