I Nyoman Darma Putra, I Nyoman Darma
Unknown Affiliation

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

PATRIARCHAL IDEOLOGY IN WORKS OF VISUAL ART OF BALINESE CONTEMPORARY WOMEN ARTISTS Hardiman, Hardiman; Putra, I Nyoman Darma; Atmadja, Nengah Bawa; Mudana, I Gede
E-Journal of Cultural Studies Volume 11, Number 3, August 2018
Publisher : Cultural Studies Doctorate Program, Postgraduate Program of Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/cs.2018.v11.i03.p01

Abstract

Human problems are faced faced by Indonesian contemporary visual artists. However, the most typical are the problems faced by contemporary women visual artists, including those faced by Balinese contemporary women visual artists. Other than social problems, their personal problems also arise as women visual artists amidst patriarchal cultural construction. Balinese contemporary women visual artists, like Indonesian contemporary visual artists, are facing social problems and their personal problems as women. But, Balinese contemporary women visual artists also face very strong patriarchal (purusa) cultural ideology. This study aimed at revealing and describing the form of the subject matter of woman?s body as an expression of opposition in the works of visual art of the Balinese contemporary women visual artists; revealing and describing ideologies that operate behind the sexual representation of the Balinese contemporary women visual artists  and revealing and describing the contestation of meaning in the ideological sexual representation of Balinese contemporary women visual artists. This study using interpretive qualitative method produced, first, works of Balinese contemporary women artists which have traditional visual elements comprising contour, repetition, rythm, dialect. The works of Balinese contemporary women visual artists also have modern visual elements comprising spatial awareness,distortion, stylization, material character, unity, and personal identity. In addition, the works of Balinese contemporary women artists also have post-modern visual elements of trans-aesthetics, dialogism, and disorder. Secondly, the ideologies that operate behind the works of Balinese contemporary visual artists can be classified into three ideologies based on the forms and contents of the works of art. The ideologies are patriarchal ideology that is related to the theme of superiority,phallus symbol, and weak group; feminism ideology that is related to the theme of subordination, equality, and subjectivity construction, and aesthetical ideology concerning with style, which is related to the classification of styles based on time, place, form, technique, and subjject matter. Third, meanings which can be developed from Balinese contemporary women visual artists are the meaning of domestic body and the meaning of open body in the sexual representation of Balinese contemporary women artists. The meaning of domestic body is found in the works of Cok Mas Asiti, Ni Nyoman Sani, and Sutrisni. Sani while the meaning of open body in the works of IGK Murniasih and Nia Kurniati Andika.  
EKSISTENSI PUISI INDONESIA DI BALI PADA ERA KOLONIAL Putra, I Nyoman Darma
Aksara Vol 29, No 2 (2017): Aksara, Edisi Desember 2017
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.632 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v29i2.192.171-182

Abstract

Kontribusi Bali pada masa-masa awal perkembangan sastra Indonesia dikenal sebatas karya-karya Panji Tisna. Hal ini tidak mengherankan karena tahun 1930-an Panji Tisna sudah menulis beberapa novel seperti Sukreni Gadis Bali (1936) yang diterbitkan Balai Pustaka dan menjadi karya klasik yang masih mengalami cetak ulang sampai sekarang. Sebetulnya, di luar karya Panji Tisna ada banyak puisi yang dipublikasikan penulis Bali di media massa seperti Surya Kanta, Bali Adnyana, dan Djatajoe, terbit di Singaraja pada era kolonial, 1920-an hingga awal 1940-an. Makalah ini mengidentifikasi puisi Indonesia penyair Bali yang terbit pada zaman kolonial dan menganalisis tema-temanya dikaitkan secara intertekstual dengan wacana sosial yang berkembang saat itu. Makalah ini menyimpulkan tiga hal. Pertama, puisi penyair Bali ikut memperkaya khasanah sastra Indonesia pada masa awal pertumbuhannya. Kedua, kehadiran puisi penyair Bali di media massa lokal ikut memperkenalkan sastra nasional di daerah Bali. Ketiga, puisi penyair Bali dijadikan media bagi penulisnya untuk mengartikulasikan kepedulian sosial, misalnya masalah pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan dan kekhawatiran masyarakat Bali yang tidak siap menghadapi dampak pariwisata.  
KONFLIK DAN KOMPROMI DALAM CERPEN-CERPEN BERLATAR KELUARGA DARI ASIA TENGGARA Putra, I Nyoman Darma
Aksara Vol 28, No 1 (2016): Aksara: Edisi Juni 2016
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.036 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v28i1.23.1-14

Abstract

Selain isu-isu makro tentang bangsa, masalah-masalah mikro dalam kehidupan keluarga jugabanyak diangkat menjadi latar sekaligus tema cerita oleh kalangan cerpenis negeri serumpunAsia Tenggara, yaitu Singapura, Malaysia, Brunei, dan Indonesia. Penelitian ini bertujuanuntuk menganalisis konflik dan kompromi antaranggota keluarga dalam karya cerpenisnegeri serumpun. Data diambil dari cerpen karya penulis negeri serumpun yang terkumpuldalam antologi Matahari di Nusantara (2010) yang diterbitkan oleh Majelis Sastera AsiaTenggara (Mastera). Pengumpulan data menggunakan metode pustaka dan teknik catat,sedangkan metode analisis data menggunakan metode analisis kritis interpretatif denganteori intertekstualitas. Hasil pembahasaan menunjukkan bahwa tema yang sama dalamantologi cerpen Matahari di Nusantara memberikan gambaran tentang pentingnya kedudukankeluarga sebagai institusi pendidikan anak, penanaman adat, dan tradisi pengembangan diri dimasyarakat. Konflik dan kompromi dalam keluarga yang disuguhkan dalam cerpen tersebutdibiarkan menggantung sehingga pembaca tertantang untuk menemukan maknanya.
OTORITAS TUBUH ANTARA SAKRAL DAN PROFAN DALAM PUISI KARYA PENYAIR BALI TAHUN 1970—2016 Hardiningtyas, Puji Retno; Putra, I Nyoman Darma; Kusuma, I Nyoman Weda; Triadnyani, I Gusti Ayu Agung Mas
Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.389 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v30i1.238.17-41

Abstract

Persoalan tubuh dan jiwa perempuan dijadikan subjek inferior dan eksploitasi atas tubuhnya sendiri menjadi ruang yang paradoksal muncul dalam karya-karya puisi Indonesia sejak tahun 1960--2016. Rumusan masalah penelitian ini adalah wacana otoritas tubuh, baik sakral maupun profan sebagai representasi citra ruang manusia; konsep ruang dan konstruksi tubuh dalam pertarungan kehidupan dalam puisi-puisi penyair di Bali. Metode pengumpulan data penelitian ini adalah studi pustaka dengan teknik baca catat. Analisis data menggunakan metode analitik deskriptif dengan teknik hermeneutika dan interpretatif. Teori penelitian ini adalah poskolonial Sara Upstone dengan mempraktikkan ruang tubuh dan konstruksi keberadaan eksistensi manusia itu sendiri. Hasil dan pembahasan penelitian ini membuktikan bahwa otoritas tubuh mengalami ironi dengan peristiwa yang dialami manusia, yaitu tubuh sebagai jasmaniah, tubuh sebagai simbol agama, dan tubuh sebagai kekuatan perempuan dalam menghadapi pertarungan kehidupan. Konstruksi yang terjadi dalam tubuh pada akhirnya menjadi diri yang dibongkar/dibalikkan oleh penyair yang secara ontologis dikuliti sendiri. Tubuh dihancurkan dalam kebudayaan, kefaanaan, sedangkan jiwa sebagai Tuhan yang diidealkan dalam keutuhan. Dengan demikian, konstruksi dan ruang tubuh antara profan dan sakral adalah ruang paradoksal antara jasmani dan rohani yang didekonstruksi oleh penyairnya menjadi sebuah ironi semata.
REVITALISASI TEMBANG TEKS SASTRA BALI TRADISIONAL DALAM RANAH RITUAL DAN DIGITAL Putra, I Nyoman Darma; Sari, Ida Ayu Laksmita
ATAVISME Vol 22, No 1 (2019): ATAVISME
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.754 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v22i1.541.32-46

Abstract

There has been a concern that textual singing tradition (kidung) may disappear along with the advancement of information and communication technology. This paper aims to examine the metamorphosis of kidung from the ritual realm to the digital domain which is the basis of today's electronic mass media. Data were collected with ethnographic method and interviews with enthusiasts and audiences of kidung as well as with managing of electronic mass media. Recording method was used to record the interactive kidung programme in Radio and TV. The data were examined by transformation media and globalization theory. The study began with a description of the metamorphosis of kidung from the ritual realm to digital, enthusiasts and audiences, as well as the future of the kidung cultural heritage in the digital era. The result shows that the transformation of kidung from the ritual to the digital domain is a revitalization process that makes this tradition increasingly lively, not vanishing as it has been feared. In addition, the tradition of the kidung which was originally dominated by the older generation, has also been able to attract younger generation who present it through digital-based social media such as Facebook and YouTube so that it can be enjoyed by Balinese diaspora.
Pengantar Editor: Relasi Etnisitas di Bali Putra, I Nyoman Darma
Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies) Vol 7 No 1 (2017): RELASI ETNISITAS DI BALI
Publisher : Pusat Kajian Bali Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JKB.2017.v07.i01.p00

Abstract

-
EKSISTENSI PUISI INDONESIA DI BALI PADA ERA KOLONIAL Putra, I Nyoman Darma
Aksara Vol 29, No 2 (2017): Aksara, Edisi Desember 2017
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v29i2.192.171-182

Abstract

Kontribusi Bali pada masa-masa awal perkembangan sastra Indonesia dikenal sebatas karya-karya Panji Tisna. Hal ini tidak mengherankan karena tahun 1930-an Panji Tisna sudah menulis beberapa novel seperti Sukreni Gadis Bali (1936) yang diterbitkan Balai Pustaka dan menjadi karya klasik yang masih mengalami cetak ulang sampai sekarang. Sebetulnya, di luar karya Panji Tisna ada banyak puisi yang dipublikasikan penulis Bali di media massa seperti Surya Kanta, Bali Adnyana, dan Djatajoe, terbit di Singaraja pada era kolonial, 1920-an hingga awal 1940-an. Makalah ini mengidentifikasi puisi Indonesia penyair Bali yang terbit pada zaman kolonial dan menganalisis tema-temanya dikaitkan secara intertekstual dengan wacana sosial yang berkembang saat itu. Makalah ini menyimpulkan tiga hal. Pertama, puisi penyair Bali ikut memperkaya khasanah sastra Indonesia pada masa awal pertumbuhannya. Kedua, kehadiran puisi penyair Bali di media massa lokal ikut memperkenalkan sastra nasional di daerah Bali. Ketiga, puisi penyair Bali dijadikan media bagi penulisnya untuk mengartikulasikan kepedulian sosial, misalnya masalah pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan dan kekhawatiran masyarakat Bali yang tidak siap menghadapi dampak pariwisata.  
KONFLIK DAN KOMPROMI DALAM CERPEN-CERPEN BERLATAR KELUARGA DARI ASIA TENGGARA Putra, I Nyoman Darma
Aksara Vol 28, No 1 (2016): Aksara: Edisi Juni 2016
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v28i1.23.1-14

Abstract

Selain isu-isu makro tentang bangsa, masalah-masalah mikro dalam kehidupan keluarga jugabanyak diangkat menjadi latar sekaligus tema cerita oleh kalangan cerpenis negeri serumpunAsia Tenggara, yaitu Singapura, Malaysia, Brunei, dan Indonesia. Penelitian ini bertujuanuntuk menganalisis konflik dan kompromi antaranggota keluarga dalam karya cerpenisnegeri serumpun. Data diambil dari cerpen karya penulis negeri serumpun yang terkumpuldalam antologi Matahari di Nusantara (2010) yang diterbitkan oleh Majelis Sastera AsiaTenggara (Mastera). Pengumpulan data menggunakan metode pustaka dan teknik catat,sedangkan metode analisis data menggunakan metode analisis kritis interpretatif denganteori intertekstualitas. Hasil pembahasaan menunjukkan bahwa tema yang sama dalamantologi cerpen Matahari di Nusantara memberikan gambaran tentang pentingnya kedudukankeluarga sebagai institusi pendidikan anak, penanaman adat, dan tradisi pengembangan diri dimasyarakat. Konflik dan kompromi dalam keluarga yang disuguhkan dalam cerpen tersebutdibiarkan menggantung sehingga pembaca tertantang untuk menemukan maknanya.