Articles

Found 10 Documents
Search

KLITIK KLAUSA PASIF BAHASA MANGGARAI DIALEK BARAT BUHA ARITONANG Aritonang, Buha
Buletin Al-Turas Vol 24, No 1 (2018): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (725.575 KB) | DOI: 10.15408/bat.v24i1.7191

Abstract

Clitics is one of the language systems retained in the Western dialect of Manggarai. The clitics in that language is a bound form that phonologically has no stress and its form can not be regarded as a bound morpheme. To analyze it is used clitics theory. The purpose of this study is to describe the type of clitics, the proclitics form, and its manifestation in the passive clause of Western dialect of Manggarai language. The research method used is descriptive-qualitative method. The results of this study indicate that (1) the type of clitics in the Manggarai language of the Western dialect is classified into a prestigious prestigious proclitics, pronominal genetic encryption, and the pronominal enclosure of the subject; (2) the proximal pronounced pronominal form de= alomorfed with d= and belongs to the prestigious pronominal possessive. The form of de proclitics follows the / h / consonant, whereas d= follows the vowel form; proximal pronominal to the proper noun in the form of di=; the name of pronoun is de =, and the name of office (social status) is de =; and (3) the pronominal and genetic encryption of pronominal subjects can be manifested in the construction of the Western Manggarai dialect's passive clause.---Klitik merupakan salah satu sistem bahasa yang terdapat dalam bahasa Manggarai dialek Barat. Klitik dalam bahasa itu merupakan bentuk terikat yang secara fonologis tidak memiliki tekanan sendiri dan bentuknya tidak dapat dianggap sebagai  morfem terikat. Untuk menganalisinya digunakan teori morfologi. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan jenis klitik, bentuk proklitik, dan perwujudannya dalam klausa pasif bahasa Manggarai dialek Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) jenis klitik dalam bahasa Manggarai dialek Barat diklasifikasikan menjadi proklitik pronominal posesif, enklitik pronominal genetif, dan enklitik pronominal subjek; (2) bentuk proklitik pronominal posesif de= beralomorf dengan d= dan tergolong sebagai proklitik pronominal posesif. Bentuk proklitik de= mengikuti bentuk berawalan konsonan /h/, sedangkan d= mengikuti bentuk vokal; proklitik pronominal posesif untuk nama diri insan berupa di=; nama diri bukan insan berupa de=, dan nama jabatan (status sosial) berupa de=; dan (3) enklitik pronominal genetif dan enklitik pronominal subjek dapat diwujudkan dalam kontruksi klausa pasif bahasa Manggarai dialek Barat. DOI :  10.15408/bat.v24i1.7191
HUBUNGAN SUBORDINASI DAN SEMANTIS DALAM KALIMAT MAJEMUK BERTINGKAT BAHASA DAYAK LUNDAYEH Aritonang, Buha
Aksara Vol 29, No 1 (2017): Aksara, Edisi Juni 2017
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.455 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v29i1.102.75-87

Abstract

Penelitian ini membicarakan kalimat. Salah satu kalimat dimaksud adalah kalimat majemuk bertingkat yang berkaitan dengan hubungan subordinasi dan semantis. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriftif dengan sampel penelitian bahasa Dayak Lundayeh dialek Tanjung Lapang. Pengumpulan data menggunakan teknik pemancingan dengan pemanfaatan instrumen penelitian. Pengolahan data sintaksis diawali dengan pengklasifikasian data-data sintaksis dan dilanjutkan dengan analisis setiap kelompok data dengan kriteria fungsi, kategori, dan peran terhadap satuan-satuan sintaksis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran umum kehidupan masyarakat Dayak Lundayeh; peringkat, keutamaan, dan wilayah pengunaan bahasa Lundayeh; cara menghubungkan klausa; dan hubungan subordinasi yang dapat menentukan jenis hubungan semantis antarklausa dalam kalimat majemuk bertingkat bahasa Dayak Lundayeh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) sejarah kehidupan masyarakat Dayak Lundayeh hampir sama dengan masyarakat pribumi yang berdomisili di Pulau Kalimantan yang tergolong sebagai masyarakat yang sangat menghormati tradisi dan budaya nenek moyang; (2) bahasa Lundayeh masuk peringkat ke-15 sebagai bahasa daerah dominan, tergolong sebagai salah satu bahasa daerah utama, dan digunakan di lima kecamatan; (3) cara menghubungkan klausa dalam kalimat majemuk bertingkat dapat dilakukan dengan hubungan subordinasi; dan (4) hubungan antarklausa dalam kalimat majemuk bertingkat/subordinatif ditentukan oleh jenis subordinator yang digunakan dan makna leksikal dari kata atau frasa dalam klausa masing-masing sehingga dikenal sebagai kalimat majemuk bertingkat dengan hubungan semantis waktu bersamaan dengan hubungan subordinator kereb ‘ketika’, syarat/pengadaian dengan subordinator kudeng ‘kalau’; konsesif dengan subordinator agan ‘meskipun’, dan tujuan dengan subordinator fele ‘supaya’. 
KRITERIA VITALITAS BAHASA TALONDO Aritonang, Buha
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 5, No 1 (2016): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.08 KB) | DOI: 10.26499/rnh.v5i1.34

Abstract

This research was conducted in the village of Talondo Kondo, District Bonehau, Mamuju, West Sulawesi province with the aim to determine the  vitality of the Talondo languages criteria.The methods of the research was done by doing the field research and the literature study.A fieldwork was conducted to obtain primary data while the library research obtaining secondary data. The sources of data in this study were 81 respondents from Talondo language native speakers. The datas are obtained from observations and questionnaires.To determine the vitality of Talondo language criteria the research used Likert scale models to test and compare the mean index of vitality. The calculation result of subindex groups with respondent characteristics (based on gender, age group, education level, and occupation) showed that the vitality of a Talondo language was setbacks. Because the average value addition and division of the total index of the four variables with the variables gender, age group, education level, and type of work is 0.58. The range value of its included in the index line 3—4 based on visualization in a spider diagram. ABSTRAKPenelitian ini dilaksanakan di Desa Talondo Kondo, Kecamatan Bonehau, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat dengan tujuan untuk menentukan kriteria vitalitas bahasa Talondo. Metode pengumpulan data dilakukan dengan penelitian lapangan dan pustidaka. Penelitian lapangan dilakukan untuk memperoleh data primer, sedangkan penelitian pustidaka untuk memperoleh data sekunder. Sumber data dalam penelitian ini adalah 81 responden penutur bahasa Talondo. Data diperoleh dari hasil pengamatan dan kuesioner. Untuk menentukan kriteria vitalitas bahasa Talondo digunakan model skala Likert dan indeks dengan uji compare mean. Hasil perhitungan kelompok subindeks dengan karakteristik responden (jenis kelamin, kelompok usia, jenjang pendidikan, dan jenis pekerjaan) menunjukkan bahwa vitalitas bahasa Talondo masuk kriteria mengalami kemunduran. Hal itu disebabkan karena nilai penjumlahan dan pembagian rerata indeks total keempat variabel dengan variabel jenis kelamin, kelompok usia, jenjang pendidikan, dan jenis pekerjaan adalah 0,58. Nilai 0,58 termasuk pada garis indeks 3—4 berdasarkan visualisasinya pada diagram laba-laba.
Bentuk Numeralia 1--10 dalam Bahasa-Bahasa Daerah di Kabupaten Kepulauan Yafen Aritonang, Buha
Gramatika: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 5 No 1 (2017): Gramatika, Volume V, Nomor 1, Januari--Juni 2017
Publisher : Kantor Bahasa Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31813/gramatika/5.1.2017.88.12--26

Abstract

Numeralia itu tidak semudah berhitung satu, dua, tiga, dan seterusnya dan bentuknya pun dalam setiap bahasa berbeda-beda. Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mendeskripsikan bentuk numeralia 1—10 dalam bahasa-bahasa daerah di Kabupaten kepulauan Yafen Penelitian dilakukan di 12 kampung yang berdeda bahasa. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa (i) bentuk numeralia 1—10 dibedakan menjadi (a) numeralia dasar seperti numeralia 1—5 dan 10 dalam bahasa Ambai, Saweru, Yawa Onate, Serui Laut, Warari Onate, Busami, Marau, Munggui, Ansus-Papuma, Poom, Wabo, dan Wooi Dumani; 6—7 dalam bahasa Ambai; dan 6—9 dalam bahasa Marau, Munggui, Ansus-Papuma, Poom, Wabo, dan Wooi Dumani dan (b) numeralia gabungan seperti numeralia 8 dan 9 dalam bahasa Ambai dan 6—9 dalam bahasa Saweru, Yawa Onate, Serui Laut, dan Warari Onate; (ii) Sebagian numeralia turunan bahasa-bahasa daerah di Kabupaten kepulauan Yafen dihubungkan penghubung (linker) rei/iji ‘tambah’ seperti numeralia enam dalam bahasa Saweru dan Yawa; (iii) penghubung ko ‘tambah’ sangat penting untuk mewujudkan bentuk numeralia gabungan untuk pembentukan numeralia gabungan angka 6—9; (iv) numeralia gabungan tanpa penghubung untuk menyatakan angka 6—9 dalam Warari Onate; dan (v) numeralia gabungan dapat berbentuk pengurangan seperti bentuk numeralia gabungan untuk menyatakan angka 10 dalam bahasa Ambai.
Properti Subjek Bahasa Tetum Dialek Foho di Desa Nanaet Dubessi, Kabupaten Belu, Provinsi NTT Aritonang, Buha
Gramatika: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 6 No 2 (2018): Gramatika, Volume VI, Nomor 2, Juli--Desember 2018
Publisher : Kantor Bahasa Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.269 KB) | DOI: 10.31813/gramatika/6.2.2018.146.100--110

Abstract

Perilaku gramatikal bahasa yang beragam dan tipologi bahasa yang berbeda dari satu bahasa dengan bahasa lain menyebabkan pengertian dan penetapan tentang subjek memunculkan fenomena yang terus dapat diperdebatkan. Sehubungan dengan itu, subjek sebagai salah satu relasi gramatikal dalam bahasa masih memerlukan perhatian para linguis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan properti subjek bahasa Tetum dialek Foho di Desa Nanaet Dubessi, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Properti subjek bahasa itu dideskripsikan dengan pengetesan argumen yang ditengarai sebagai subjek. Metode penelitian menggunakan metode agih (metode distribusional). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Tetum dialek Foho memiliki properti subjek (1) muncul struktur kanonis pada posisi praverbal, (2) dapat disisipkan adverbia dan penegasi di antara subjek sebagai argumen praverbal dengan predikat, (3) dapat direlatifkan subjek (perelatifan subjek), (4) dapat disisipkan penjangka kambang di antara subjek dan predikat, (5) dapat direfleksifkan subjek (perefleksian), (6) dapat dinaikkan objek langsung dan objek tak langsung (argumen yang bukan subjek) menjadi subjek melalui mekanisme penaikan (raising), dan (7) dapat memfokuskan subjek dengan kehadiran pemarkah fokus ne ‘yang’.
Struktur Klausa Bahasa Dayak Tagol Aritonang, Buha
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 15, No 2 (2017): METALINGUA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (924.396 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v15i2.116

Abstract

The problem of this research is the structure of the clause Dayak Tagol the languange which spoken by people in Tau Lumbis Village, Subdistrict Lumbis Ogong, Nunukan Regency, North Kalimantan Province. This research aim to describe a general overview of the life Dayak Tagol people and the structure of the clause the languange of Dayak Tagol.  This research used a qualitative research method. The results of this research shows that the structure of the clause Dayak Tagol can be classified into (1) the structure of the clause predicated of non-verb and (2) the structure of the clause predicated of verb. The structure of the clause predicated of non-verbal can be intangible (1) clause predicate nominal, (2) clause adjectival, (3) numeralia, and (4) clause the phrase prepositional. Based on the research data, the structure of the clause verbal consists of (1) clause intransitive, (2) clause ekatransitif (the clause argued the core two), and (3) clause be dwitransitive (the clause argued the core three)
PROFIL PENGUASAN BAHASA KOMBAI Aritonang, Buha
SAWERIGADING Vol 17, No 2 (2011): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2011
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1539.573 KB) | DOI: 10.26499/sawer.v17i2.369

Abstract

Kombai language is spoken by Kombai ethnic in Kombai village, Kouh, Boven Digoul, West Papua. This research isan associative research and the objective of this research is to determine the relationship between independent anddependent variables. In this case, it contents of the relationship between Kombai respondents characteristic and masteryof Kombai language. Independent variables consist offour parts, gender variables (X1), age groups (X2), educationallevels (X3), and occupation (X4). Dependent variable is mastery of Kombai language. This research uses descriptiveand Crosstabs analysis that determine the relationship and closeness of independent and dependent variables. Theresult of four hypotheses, it can be concluded that there is not a relationship between X1, X2, X4 and Y. Meanwhile,there is a relationship between X3 and Y. The closeness of the variables [(X1 and Y), (X2 and Y), (X3 and Y),and (X4 and Y)] are weak and grades of variables are not more than 1. AbstrakBahasa Kombai dituturkan oleh suku Kombai di Kampung Kombai, Kouh, Boven Digoul, PapuaBarat. Penelitian ini adalah penelitian asosiatif dan tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubunganantara variabel independen dan dependen. Dalam hal ini, penelitian ini menitikberatkan hubunganantara karakteristik responden Kombai dan penguasaan bahasa Kombai. Variabel independen terdiriatas empat bagian, yaitu jenis kelamin (X1), kelompok usia (X2), tingkat pendidikan (X3), danpekerjaan (X4). Sementara itu, varibel dependen adalah penguasaan bahasa Kombai (Y). Penelitianini menggunakan analisis deskriptif dan Crosstabs untuk mengetahui hubungan dan keeratan variabelindependen dan dependen. Hasil empat hipotesis menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antaravariabel X1, X2, X4 dan Y. Sementara itu, ada hubungan antara X3 dan Y. Keeratan variabeltersebut [(X1 and Y), (X2 and Y), (X3 and Y), and (X4 and Y)] lemah dan nilai variabelnya di bawahangka 1.
PROFIL PENGUASAN BAHASA KOMBAI Aritonang, Buha
SAWERIGADING Vol 18, No 2 (2012): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2012
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1533.501 KB) | DOI: 10.26499/sawer.v18i2.342

Abstract

Kombai language is spoken by Kombai ethnic in Kombai village, Kouh, Boven Digoul, West Papua. This research is an associative research and the objective of this research is to determine the relationship between independent and dependent variables. In this case, it contents of the relationship between Kombai respondents characteristic and mastery of Kombai language. Independent variables consist offour parts, gender variables (X1), age groups (X2), educational levels (X3), and occupation (X4). Dependent variable is mastery of Kombai language. This research uses descriptive and Crosstabs analysis that determine the relationship and closeness of independent and dependent variables. The result of four hypotheses, it can be concluded that there is not a relationship between X1, X2, X4 and Y. Meanwhile, there is a relationship between X3 and Y. The closeness of the variables [(X1 and Y), (X2 and Y), (X3 and Y), and (X4 and Y)] are weak and grades of variables are not more than 1. Abstrak Bahasa Kombai dituturkan oleh suku Kombai di Kampung Kombai, Kouh, Boven Digoul, Papua Barat. Penelitian ini adalah penelitian asosiatif dan tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dan dependen. Dalam hal ini, penelitian ini menitikberatkan hubungan antara karakteristik responden Kombai dan penguasaan bahasa Kombai. Variabel independen terdiri atas empat bagian, yaitu jenis kelamin (X1), kelompok usia (X2), tingkat pendidikan (X3), dan pekerjaan (X4). Sementara itu, varibel dependen adalah penguasaan bahasa Kombai (Y). Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan Crosstabs untuk mengetahui hubungan dan keeratan variabel independen dan dependen. Hasil empat hipotesis menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara variabel X1, X2, X4 dan Y. Sementara itu, ada hubungan antara X3 dan Y. Keeratan variabel tersebut [(X1 and Y), (X2 and Y), (X3 and Y), and (X4 and Y)] lemah dan nilai variabelnya di bawah angka 1.
VITALITAS BAHASA SEGET: KAJIAN KE ARAH PEMETAAN VITALITAS BAHASA DAERAH Aritonang, Buha
SAWERIGADING Vol 19, No 1 (2013): SAWERIGADING, Edisi April 2013
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1418.009 KB) | DOI: 10.26499/sawer.v19i1.413

Abstract

The aim of the study is to identify the condition of Seget language's vitality based on the relationship between subindexes that are mobility, bilingualism, language usage, language attitude and the characteristics of respondent.Probability sampling method is used to determine 72 samples Seget speakers and primary data is collectedby closed questionnaire. The result of statistical test Krussal-Walls and median test showed that the conditionof Seget language's viltality are (i) stable, steady, but decrease potentially because of seven indexes' averagevalues 0.61—0.80, (ii) safe, due to five indexes' average values 0.81—1, and (iii) stable, steady, but decreasepotentially in total index because of total indexes'average values 0.61—0.80. The condition of Seget language'svitality based on the relationship between sub indexes and the characteristics of respondent are (i) stable,steady, but decrease potentially and (ii) safe. Based on Chi-Square test and Krussal-Walls, the condition of Segetlanguage's vitality have different categories between gender and groups of sex, meanwhile type of works havesame categories AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kriteria vitalitas bahasa Seget berdasarkan hubungan subindeksmobilitas, kedwibahasaan, ranah pemakaian bahasa, dan sikap bahasa dengan karakteristik responden. Penentuansampel menggunakan metode random sampling dengan sampel 72 penutur bahasa Seget dan data primerdikumpulkan dengan kuesioner secara tertutup. Hasil uji statistik Kruskal-Walls dan median test menunjukkankriteria vitalitas bahasa Seget tergolong (i) stabil, mantap, tetapi berpotensi mengalami kemunduran karenarentang nilai rata-rata tujuh subindeks 0,61—80, (ii) aman karena rentang nilai rata-rata lima subindeks 0,81—1,dan (iii) stabil, mantap, tetapi berpotensi mengalami kemunduran secara total indeks karena rentang nilai rata-ratatotal indeks 0,61—0,80. Kriteria vitalitas bahasa Seget berdasarkan hubungan subindeks dengan karakteristikresponden tergolong (i) stabil, mantap, tetapi berpotensi mengalami kemunduran dan (ii) aman. Dengan ujiChi-Square dan Kruskal-Walls, kriteria vitalitas bahasa Seget antarkategori jenis kelamin dan kelompok usiaberbeda, sedangkan antarkategori jenis pekerjaan sama.
HUBUNGAN SUBORDINASI DAN SEMANTIS DALAM KALIMAT MAJEMUK BERTINGKAT BAHASA DAYAK LUNDAYEH Aritonang, Buha
Aksara Vol 29, No 1 (2017): Aksara, Edisi Juni 2017
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.455 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v29i1.102.75-87

Abstract

Penelitian ini membicarakan kalimat. Salah satu kalimat dimaksud adalah kalimat majemuk bertingkat yang berkaitan dengan hubungan subordinasi dan semantis. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriftif dengan sampel penelitian bahasa Dayak Lundayeh dialek Tanjung Lapang. Pengumpulan data menggunakan teknik pemancingan dengan pemanfaatan instrumen penelitian. Pengolahan data sintaksis diawali dengan pengklasifikasian data-data sintaksis dan dilanjutkan dengan analisis setiap kelompok data dengan kriteria fungsi, kategori, dan peran terhadap satuan-satuan sintaksis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran umum kehidupan masyarakat Dayak Lundayeh; peringkat, keutamaan, dan wilayah pengunaan bahasa Lundayeh; cara menghubungkan klausa; dan hubungan subordinasi yang dapat menentukan jenis hubungan semantis antarklausa dalam kalimat majemuk bertingkat bahasa Dayak Lundayeh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) sejarah kehidupan masyarakat Dayak Lundayeh hampir sama dengan masyarakat pribumi yang berdomisili di Pulau Kalimantan yang tergolong sebagai masyarakat yang sangat menghormati tradisi dan budaya nenek moyang; (2) bahasa Lundayeh masuk peringkat ke-15 sebagai bahasa daerah dominan, tergolong sebagai salah satu bahasa daerah utama, dan digunakan di lima kecamatan; (3) cara menghubungkan klausa dalam kalimat majemuk bertingkat dapat dilakukan dengan hubungan subordinasi; dan (4) hubungan antarklausa dalam kalimat majemuk bertingkat/subordinatif ditentukan oleh jenis subordinator yang digunakan dan makna leksikal dari kata atau frasa dalam klausa masing-masing sehingga dikenal sebagai kalimat majemuk bertingkat dengan hubungan semantis waktu bersamaan dengan hubungan subordinator kereb ?ketika?, syarat/pengadaian dengan subordinator kudeng ?kalau?; konsesif dengan subordinator agan ?meskipun?, dan tujuan dengan subordinator fele ?supaya?.