Lalu Erwan Husnan, Lalu Erwan
Unknown Affiliation

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

NOUN PHRASES (NPs)-MOVEMENT IN SASAK Husnan, Lalu Erwan
Aksara Vol 26, No 2 (2014): Aksara, Edisi Desember 2014
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1433.204 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v26i2.154.121-132

Abstract

Sasak is spoken language used by Sasak speakers in Lombok, West Nusa Tenggara. This language is included into Bali-Sasak-Samawa subgroup. Most of the linguists and researchers constructed this language using SVO, but they do not explore the possible movement of the Noun Phrases (NPs) as the basis of constructing its structure. So, it is a need to have the possibility of the NPs movement whether the predicates in Sasak require one or two argument. Data used in this writing are taken through documentary method. They are analyzed using case theory proposed by Chomsky. The analysis shows that both raising verbs and raising adjective involve phrases case. They do not allow structural case movement. In addition, both induce raising. However, they are different in selecting source of NP movement; raising verbs finite or non finite clause, and raising adjective finite clause. Passivization also induces NP-movement in Sasak.Moreover, passive verbs in Sasak can be followed by preposition of locative or not depend on the notion of the verbs used. It has the same analogy with unaccusativity verbs. They lack of internal argument and cannot assign accusative case.
FUNCTIONAL CATEGORIES OF CODE SWITCHING BY BAJO STUDENTS IN ENGLISH FOREIGN LANGUAGE CLASSROOM Husnan, Lalu Erwan
Aksara Vol 28, No 2 (2016): Aksara, Edisi Desember 2016
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.444 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v28i2.135.253-268

Abstract

AbstractThis research discusses functional categories of codeswitching in English Foreign Language (EFL) classroom by Bajo students at MTs NW Nurul Ihsan Tanjung Luar village. Bajo students use Bajo, Sasak, and Indonesian (multilingual) in their daily communication. They bring their languages into their English classroom when they meet other students who come from other ethnic backgrounds and are only able to speak Sasak and Indonesian. This study is aimed at finding out the functional categories of codeswitching in Bajo’s EFL classroom. Data are collected using observation, interview, and recording method. Method used to analyze the data is descriptive-qualitative by labeling, transcription, classification, and simple descriptive statistic. Result of this research shows that the highest functional categories of codeswitching in the form of pupils’ comment as much as 44% with 129 instances, categorized into less dominant. Grammar explanation is 20% with 58 instances, categorized into not dominant. The other categories are categorized into not dominant. Most of the functional categories of codeswitching use Indonesian as much as 50,68% with 148 instances, categorized into dominant, while English is about 34,59% with 101 instances, categorized into less dominant. The other two languages, Bajo is about 8,22% and Sasak is about 6,51%, are not dominant. 
POLA PEMBENTUKAN KALIMAT DENGAN NEGASI DALAM BAHASA SASAK Husnan, Lalu Erwan
Gramatika: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 7 No 2 (2019): Gramatika, Volume VII, Nomor 2, Juli--Desember 2019
Publisher : Kantor Bahasa Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.621 KB) | DOI: 10.31813/gramatika/7.2.2019.210.80-88

Abstract

Negasi merupakan bentuk penyangkalan atau peniadaan. Peniadaan menggunakan kata sangkalan yang merujuk pada sesuatu yang telah terjadi atau yang belum terjadi. Tulisan ini bertujuan mengungkapkan pola pembentukan kalimat dengan negasi yang terdapat dalam referensi tertulis bahasa Sasak. Dengan demikian, pendekatan deskriptif kualitatif dianggap paling sesuai untuk tulisan ini. Data diperoleh menggunakan metode simak yang diterapkan pada buku muatan lokal bahasa Sasak kelas 7, 8, dan 9. Data yang dikumpulkan berupa kalimat dengan unsur negasi. Semua pelajaran (1?16) pada setiap jenjang diambil. Data tersebut dianalisis menggunakan metode padan intralingual dengan teknik hubung banding menyamakan (HBS) dan hubung banding membedakan (HBB). Metode tersebut bertujuan mengelompokkan kalimat berdasarkan posisi pemarkah negasinya. Tahapan tersebut dilanjutkan dengan mengerucutkan pengelompokan tersebut menjadi kalimat bernegasi tunggal atau ganda dengan satu verba atau lebih. Simpulan berdasarkan kajian tersebut adalah negasi dalam bahasa Sasak memperkuat sistem topikalisasi yang menjadi ciri bahasa Sasak yang mengedepankan topik pembicaraan.
Alus Enduk dalam Sistem Tutur Masyarakat Sasak Husnan, Lalu Erwan
MABASAN Vol 5, No 2 (2011): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.279 KB) | DOI: 10.26499/mab.v5i2.214

Abstract

Stratifikasi bahasa Sasak tidak hanya terdiri atas tingkatan kasar, biase, alus biase, dan alus utame tapi juga alus enduk. Tingkatan terakhir terbilang baru karena penamaan baru diberikan pada tahun 2007 dan belum jelas posisinya dalam tingkata tutur Bahasa Sasak. Untuk itu, tiga desa (Bayan, Gerung, dan Tiwugalih) diambil sebagai sampel mewakili masing-masing variasi dialektal bahasa Alus bahasa Sasak. Tingkatan ini tidak memiliki kosakata sendiri seperti yang lain. Kosakata yang digunakan lebih banyak mengambil dari tingkagtan kasar dan biase dibandingkan dengan dua tingkatan yang lain. Posisi tingkatan ini berada setelah alus utame.
KONTAK BAHASA ANTARA MASYARAKAT TUTUR BAHASA BAJO DAN MBOJO DI KABUPATEN BIMA DAN DOMPU Husnan, Lalu Erwan
MABASAN Vol 2, No 1 (2008): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.956 KB) | DOI: 10.26499/mab.v2i1.123

Abstract

Kontak bahasa antara masyarakat tutur bahasa Bajo dan masyarakat tutur bahasa Mbojo di Kabupaten Bima dan Dompu dilakukan karena alasan yang berbeda-beda. Kontak bahasa mengakibatkan terjadinya adopsi ciri-ciri kebahasaan, adaptasi linguistik, mitra kontak dalam bentuk serapan bahasa. Serapan bahasa terjadi pada tataran fonologi, leksikon, dan morfologi. Wujud adaptasi dalam bentuk serapan dilakukan dengan cara mengikuti sistem bahasa mitra kontak. Penutur bahasa Bajo melakukan serapan sebagai wujud adaptasi sosial mereka, berbeda dengan penutur bahasa Mbojo yang melakukan serapan sebagai wujud solidaritas mereka.
EJAAN BAHASA SASAK Husnan, Lalu Erwan
MABASAN Vol 6, No 2 (2012): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.709 KB) | DOI: 10.26499/mab.v6i2.227

Abstract

Bahasa Sasak merupakan salah satu bahasa dengan penutur paling banyak di Nusa Tenggara Barat (NTB). Bahasa Sasak digunakan oleh etnis Sasak sebagai bahasa sehari-hari. Bahasa ini masuk dalam kelompok bahasa Bali-Sasak-Sumbawa. Kajian standardisasi bahasa Sasak termasuk ejaannya menggunakan pertimbangan linguistik dan sosiolinguistik. Hasilnya, dialek aəmemiliki peluang untuk dijadikan ejaan standar. Selain menggunakan pertimbangan linguistik dan sosiolinguistik, dialek ini juga memiliki penutur paling banyak dibandingkan dengan dialek yang lain. Pemilihan ini didasarkan pada beberapa prinsip, yaitu prinsip kehematan,kejelasan, semangat persatuan, dan integritas sosial. Di lain pihak, unsur-unsur dari dialek lainnya diambil untuk kepentingan standardisasi dan pembelajaran.
MORFOLOGI BAHASA SAMAWA-MATEMEGA Husnan, Lalu Erwan
MABASAN Vol 8, No 1 (2014): Mabasan
Publisher : Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.34 KB) | DOI: 10.26499/mab.v8i1.272

Abstract

A language is medium for a community to communicate with their own community or others as their neighbors. Three (3) subvillages called Matemega which are located on the high area of Alas district, Sumbawa Besar are included into remote areas. The speakers use Samawa. Linguistically, they have little contact with other communities who use Samawa. Method used is descriptive. Date collected through interview helped by note-taken and recording. Instrument used covered simple and compound sentences containing morphological aspect. Data analyzed using padan method. It is concluded that morphological variants of Samawa-Matemega are not as complex as morphology of Samawa used at Sumbawa Besar or Jereweh dialect.
NOUN PHRASES (NPS)-MOVEMENT IN SASAK Husnan, Lalu Erwan
Aksara Vol 26, No 2 (2014): Aksara, Edisi Desember 2014
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v26i2.154.121-132

Abstract

Sasak is spoken language used by Sasak speakers in Lombok, West Nusa Tenggara. This language is included into Bali-Sasak-Samawa subgroup. Most of the linguists and researchers constructed this language using SVO, but they do not explore the possible movement of the Noun Phrases (NPs) as the basis of constructing its structure. So, it is a need to have the possibility of the NPs movement whether the predicates in Sasak require one or two argument. Data used in this writing are taken through documentary method. They are analyzed using case theory proposed by Chomsky. The analysis shows that both raising verbs and raising adjective involve phrases case. They do not allow structural case movement. In addition, both induce raising. However, they are different in selecting source of NP movement; raising verbs finite or non finite clause, and raising adjective finite clause. Passivization also induces NP-movement in Sasak.Moreover, passive verbs in Sasak can be followed by preposition of locative or not depend on the notion of the verbs used. It has the same analogy with unaccusativity verbs. They lack of internal argument and cannot assign accusative case.