Articles

Found 10 Documents
Search

DELIK PENODAAN AGAMA ISLAM DI INDONESIA Nurdin, Nazar
International Journal Ihya' 'Ulum al-Din Vol 19, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ihya.18.1.1745

Abstract

Criminal Law and Article 27-28 of the Law on Information and Electronic Transactions constitute a legal instrument to ensnare a perpetrator of religious blasphemy. This article is a legal research with a normative-empirical approach. The findings indicate that: first, judges' consideration in the case of defamation of Islam contained in the decision Number: 80 / Pid.B / 2015 / PN Bna, Number: 10 / Pid.Sus / 2013 / PN.Pt and Number: 06 / Pid.B / 2011 / PN.TMG is more looking at the impact of criminal acts committed. However, in its implementation the three decisions are not entirely based on the applicable law rules, including the decision based on the provisions in Law No. 1 of 1965 on Prevention and or Defamation of Religion, but adopted an unwritten source of law from the Fatwa of Indonesian Council of Ulama. Another implementation is in the case of religious blasphemy at the community level tended to be followed by very severe punishment to the perpetrators. Secondly, religious blasphemy is not mentioned in detail in Islamic legal literature. If the perpetrators of desecration of a Muslim, Islamic law tend to refer to the perpetrators as kafir. Whereas if the perpetrator is a non-Muslim, one cannot be included in the category of apostasy (riddah). Categorization as a kafir does not necessarily make the Muslims punished jarimah had (hudud). Therefore, punishment takzir can be an alternative punishment that can be applied to the perpetrators of religious blasphemy, both Muslims and non-Muslims---Tindak pidana penodaan agama yang termanifestasikan dalam pasal 156a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan pasal 27-28 UU Informasi dan Transaksi Elektronik merupakan satu instrumen hukum untuk menjerat seorang pelaku penistaan agama. Artikel ini merupakan penelitian hukum dengan pendekatan normatif-empiris. Hasil temuan menunjukkan bahwa: pertama, pertimbangan majelis hakim dalam perkara penodaan agama Islam yang termuat dalam putusan Nomor: 80/Pid.B/2015/PN Bna, Nomor: 10/Pid.Sus/2013/PN.Pt dan Nomor: 06/Pid.B/2011/PN.TMG lebih melihat kepada dampak yang ditimbulkan dari perbuatan pidana yang dilakukan. Namun dalam implementasinya tiga putusan tidak seluruhnya berlandaskan aturan hukum yang berlaku, termasuk mendasarkan putusan pada ketentuan dalam UU PNPS  Nomor 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan dan atau Penodaan Agama, tetapi mengadopsi sumber hukum tidak tertulis dari Fatwa Majelis Ulama Indonesia. Implementasi lainnya ialah dalam kasus penodaan agama yang ramai di tingkat masyarakat cenderung diikuti hukuman amat berat kepada para pelaku. Kedua,penodaan agama tidak disebutkan secara rinci dalam literatur hukum Islam. Jika pelaku penodaan seorang Muslim, hukum Islam cenderung menyebut pelaku sebagai kafir. Sementara jika pelaku seorang non-Muslim, seorang tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori murtad (riddah). Kategorisasi sebagai kafir tidak lantas menjadikan Muslim dihukum jarimah had (hudud). Oleh karena itu, pidana takzir bisa menjadi hukuman alternatif yang bisa diterapkan kepada para pelaku penodaan agama, baik Muslim maupun non-Muslim
Elemental Analysis on Marine Sediments Related to Depositional Environment of Bangka Strait Sampurno, Pungky; Zuraida, Rina; Nurdin, Nazar; Gustiantini, Luli; Aryanto, Noor Cahyo Dwi
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 32, No 2 (2017)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1933.608 KB)

Abstract

Study of elemental composition in sediment has been proven useful in interpreting the depositional environmental changes. Multi Sensor Core Logger (MSCL) is a non-destructive analysis that measures several parameters in sediment core including magnetic susceptibility and elemental composition. Magnetic susceptibility and elemental analysis were measured in four selected marine sediment cores from western part of Bangka Strait (MBB-67. MBB-119, MBB-120 and MBB-173) by using magnetic susceptibility and X-ray Fluorescence (XRF) sensors attached to the MSCL. The data was collected within 2 cm interval. Scatter plots of Y/Zr and Zr/Ti show singular trend demonstrated by sediments from MBB-173 and two groups that composed of MBB-67 (Group 1) and MBB-119 + MBB-120 (Group 2). MBB-67 that is located adjacent to Klabat Granite shows upward changes in mineralogy, slight increase of grain size and negligible change in Y concentration. Cores MBB-119 and MBB-120 are inferred to be deposited during regression that resulted in the accummulation of Y-bearing zircon in MBB-119 before the mineral could reach MBB-120. Core MBB-173 is interpreted to be the product of plagioclase weathering that is submerged by rising sea level. This core contains a horizon of rich Y-bearing zircon at 60 cm.Keywords: Multi Sensor Core Logger, X-Ray Fluorescence, magnetic susceptibility, depositional environment, Bangka Island Studi tentang komposisi unsur kimia dalam sedimen telah terbukti bermanfaat dalam interpretasi perubahan lingkungan pengendapan. Multi Sensor Core Logger (MSCL) adalah sebuah analisis yang non-destructive, untuk mengukur beberapa parameter dalam bor sedimen termasuk suseptibilitas magnetik dan kandungan unsur. Suseptibilitas magnetik dan kandungan unsur diukur dari 4 bor sedimen laut yang terpilih di bagian barat Selat Bangka (MBB-67. MBB-119, MBB-120 and MBB-173) dengan menggunakan sensor suseptibilitas magnetik (MS) dan X-ray Fluorescence (XRF) yang terpasang pada MSCL. Pengukuran dilaksanakan dengan interval 2 cm. Plot Y/Zr dan Zr/Ti menunjukkan satu trend yang diperlihatkan oleh sedimen bor MBB-173 dan dua grup yang terdiri atas MBB-67 (Grup 1) dan MBB-119 + MBB-120 (Grup 2). Bor MBB-173 ditafsirkan sebagai hasil pelapukan plagioklas yang kemudian terendam air laut. Bor ini memperlihatkan horizon yang kaya akan zirkon pembawa yttrium pada kedalaman 60 cm.Kata kunci : Multi Sensor Core Logger, X-Ray Fluorescence, suseptibilitas magnetik, lingkungan pengendapan, Pulau Bangka
ANALYSES OF FORAMINIFERS MICROFAUNA AS ENVIRONMENTAL BIOINDICATORS IN KOTOK BESAR, KOTOK KECIL AND KARANG BONGKOK ISLANDS, KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA PROVINCE Nurdin, Nazar; Gustiantini, Luli
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 29, No 1 (2014)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2515.269 KB) | DOI: 10.32693/bomg.29.1.2014.62

Abstract

Kepulauan Seribu is a well-known destination of marine tourism in Indonesia. Inevitably, the place has been affected by human activities. Hence it is important to preserve and conserve the area so as it is still suitable for reef community to grow and develop. One of the methods to evaluate the feasibility for reef environment is calculated by FoRAM Index (FI) values. Benthic foraminifera as a tool for environmental bioindicators were collected from 15 marine surface sediment samples in the vicinity areas of Kotok Besar, Kotok Kecil and Karang Bongkok islands in Kepulauan Seribu to assess the FI values. Approximately 20 genera of benthic foraminifera were found in the study area. The genera are dominated by Amphistegina and Calcarina along with Operculina, Quinqueloculina, Peneroplis, and Discorbis. The finding signifies reef flat environment as the dominant morphology, although the presence of fore slope is also observed particularly at the western part of Kotok Besar island. The assemblages of Operculina and Quinqueloculina suggest that the abundance of benthic foraminifera is influenced not only by the morphology of seafloor, but also by tidal current and terrestrial influence. The FI formula using foraminifers found in the study area results values above 4, thus the area can be reviewed as a decent environment for reef growth and development. Keywords: benthic foraminifera; bioindicator; FoRAM Index; coral community; seafloor morphology Kepulauan Seribu terkenal sebagai tujuan wisata laut di Indonesia, sehingga dapat dipastikan tempat ini dipengaruhi oleh aktifitas manusia. Oleh sebab itu sangat penting untuk menjaga dan melindungi kelestarian lingkungannya sehingga tetap cocok bagi komunitas karang untuk hidup dan berkembang. Salah satu metode untuk mengevaluasi kelayakan lingkungan terumbu adalah dengan menghitung nilai FoRAM Index (FI). Untuk analisis ini, foraminifera bentik dikoleksi dari 15 sampel sedimen permukaan laut dari daerah sekitar Pulau Kotok Besar, Kotok Kecil dan Pulau Karang Bongkok di Kepulauan Seribu. Hasil penelitian menunjukkan sekitar 20 genera foraminifera bentik yang ditemukan di daerah penelitian. Foraminifera didominasi oleh Amphistegina dan Calcarina, sedangkan jenis lain yang juga cukup berlimpah adalah Operculina, Quinqueloculina, Peneroplis, dan Discorbis. Hal ini menunjukkan lokasi penelitian memiliki jenis morfologi rataan karang sebagai morfologi dominan, walaupun kehadiran lereng karang (fore slope) juga teramati terutama pada bagian barat pulau Kotok Besar. Distribusi kelimpahan Operculina dan Quinqueloculina menunjukkan bahwa kelimpahan foraminifera bentik selain dipengaruhi oleh morfologi dasar laut juga dipengaruhi oleh pasang surut dan pengaruh terestrial. Hasil perhitungan FI berdasarkan foraminifera di wilayah penelitian menunjukkan nilai FI > 4 sehingga daerah ini dapat ditinjau sebagai lingkungan yang layak untuk pertumbuhan karang dan perkembangannya. Kata kunci: foraminifera bentik; bioindikator; FoRAM Index; komunitas koral; morfologi dasar laut
Penentuan Siklus Glasial – Interglasial Terakhir Pada Sedimen Dasar Laut Kawasan Lepas Pantai Pelabuhan Ratu Zuraida, Rina; Troa, Rainer A.; Hendrizan, Marfasran; Triarso, Eko; Gustiantini, Luli; Nurdin, Nazar; Hantoro, Wahyu S.; Liu, Shengfa
Jurnal Segara Vol 11, No 2 (2015): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1074.416 KB) | DOI: 10.15578/segara.v11i2.7355

Abstract

Kawasan Lepas Pantai Pelabuhan Ratu yang terletak di wilayah Jawa Barat bagian selatan dipengaruhi oleh dinamika laut Selat Sunda dan Samudera Hindia bagian timur. Kondisi ini terekam dalam sedimen dasar laut dan tersimpan sebagai informasi berbagai proses yang terjadi di perairan tersebut pada rentang waktu geologi tertentu. Penelitian ini menggunakan contoh inti sedimen dasar laut SO184-10043 (7°18,57 LS dan 105° 3,45’ BT, kedalaman 2166 m, panjang 360 cm) yang diambil pada saat cruise PABESIA dengan menggunakan kapal riset Sonne di Selat Sunda. pada tahun 2005. Metode penelitian yang digunakan adalah pentarikhan umur (dating) radiokarbon (14C) dan analisis isotop oksigen (d18O) pada foraminifera plankton Globigerinoides ruber. Hasil pentarikhan umur isotop 14C terhadap 16 cuplikan contoh menunjukkan bahwa contoh inti SO184-10043 merekam Siklus Glasial Terakhir hingga 35.000 tahun yang lalu. Hasil pengukuran d18O memberikan nilai Deglasiasi yang lebih besar dari daerah sekelilingnya yang diduga akibat terbukanya Laut Jawa yang memungkinkan mengalirnya air dari Laut Cina Selatan dengan salinitas dan suhu yang lebih rendah menuju Samudera Hindia melalui daerah penelitian. Rekonstruksi suhu permukaan laut dari data isotop d18O memberikan nilai suhu Deglasiasi yang jauh lebih tinggi yang diduga akibat faktor lokal yang mempengaruhi nilai salinitas di daerah penelitian.
DISTRIBUSI FORAMINIFERA BENTIK DI PERAIRAN ACEH Nurdin, Nazar; Silalahi, Imelda R.
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.845 KB) | DOI: 10.32693/jgk.12.1.2014.243

Abstract

Perairan Aceh termasuk Pulau Weh, Pulau Breuh dan Pulau Penasi merupakan area terluar di sisi barat Kepulauan Indonesia yang menghadap ke Samudera Hindia. Wilayah ini sangat menarik bagi para peneliti terutama setelah kejadian tsunami pada tahun 2004. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui distribusi foraminifera sebagai organisme yang sensitif terhadap perubahan lingkungan. Sebanyak 32 contoh sedimen diambil pada kedalaman 7- 170 meter dan terpilih 11 contoh untuk studi foraminifera. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 45 spesies foraminifera bentik yang sangat berlimpah, terdiri atas 28 spesies anggota Subordo Rotaliina, Miliolina (7 spesies) dan Textulariina (10 spesies). Amphistegina papilosa dijumpai dalam jumlah sangat berlimpah dan tersebar merata yang memberi indikasi kondisi lingkungan terumbu karang baik. Ammonia tepida sangat dominan (47%) di sebelah utara Pulau Weh (S30) dibandingkan dengan spesies lain. Di bagian Timur Pulau Penasi, ditemukan cangkang foraminifera dalam kondisi rusak dalam jumlah berlimpah yang dapat dikaitkan dengan arus kuat di lokasi ini. Kata kunci : foraminifera bentik, distribusi, perairan Aceh The Aceh waters including Weh, Breuh and Penasi islands are the outer parts of northwestern Indonesia that facing the Indian Ocean. This area is interested for many scientists especially after tsunami in 2004. The purpose of this study is to establish the distribution of benthic foraminifera as a sensitive indicator of environmental changes. Thirty two (32) surface sediment samples were collected at the water depth of 7-170 m and eleven samples were selected for foraminiferal study. The results show 45 species of benthic foraminifera very abundantly and consists of 28 species belong to Suborder Rotaliina, Miliolina (7 species) and Textularia (10 species). Amphistegina papilosa is found abundantly and widely distribution that provide an indication of good reef environments. Ammonia tepida is very dominant(47%) in the northern part of Weh island compared with other species. Abnormal shells of foraminifera were found abundantly in the eastern part of Penasi Island that related to strong current in this area. Keywords: benthic foraminifera, distribution, Aceh waters
Late Holocene Heavy Metals Record of Jakarta Bay Sediments Zuraida, Rina; Rahardiawan, Riza; Permanawati, Yani; Adhirana, Indra; Ibrahim, Andrian; Nurdin, Nazar; Permana, Haryadi
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 33, No 2 (2018)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1209.764 KB) | DOI: 10.32693/bomg.33.2.2018.569

Abstract

This paper reports copper, zinc, lead, cadmium, and chromium records of Jakarta Bay sediment since 600 AD and reonstruct environmental changes since that time. Jakarta Bay This study uses samples from a 150 cm long gravity core (TJ-17, 106.902488°E, 5.99381°S) that was acquired from the eastern part of Jakarta Bay in 2010 onboard RV Geomarin I by the Marine Geological Institute. Heavy metal content in Jakarta Bay sediments is used to track environmental changes onland from this site. Heavy metal concentration was analyzed using atomic absorption spectrometry on bulk samples that were taken in 5 cm interval. The results yield background level of Cu at 16 ppm, Zn at 75 ppm, Pb at 20 ppm, Cd at 0.01 – 0.15 ppm, and at Cr 80 ppm. Vertical record of heavy metals show two stages of environmental changes in the region: from 600 AD to 1600 AD and 1800 AD onward. These changes are interpeted as related to land use changes caused by human activity in the West Java region.
KARAKTER MASA AIR DI LAUT SULAWESI BERDASARKAN ANALISIS FORAMINIFERA KUANTITATIF Hendrizan, Marfasran; C. A., Widiyanti; Prabowo, R. E.; Munasri, Munasri; Nurdin, Nazar
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 17, No 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1359.127 KB) | DOI: 10.32693/jgk.17.1.2019.562

Abstract

Kumpulan foraminifera dari sedimen Sumur STA 3 (0.8897°N, 119.0865°E, kedalaman laut 1294 m) di Laut Sulawesi diteliti untuk memahami ciri lingkungan purba pada lokasi sumur. Situasi modern menunjukkan Laut Sulawesi menjadi jalur Arus Lintas Indonesia (Arlindo) yang mentransport masa air dari Samudra Pasifik hingga Samudra Hindia. Studi ini difokuskan pada indeks ekologi untuk membuat struktur komunitas foraminifera dan mengeavaluasi dinamika komunitas foraminifera yang terekam di inti Sumur STA 3. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah observasi naturalistik meliputi preparasi sampel, kumpulan foraminifera (penjentikan dan identifikasi), dan analisis data. Analisis data kumpulan foraminifera menggunakan Paleontological Statistics (PAST) dari kelimpahan, keanekaragaman spesies Shannon-Winner (H?), indeks dominan (D), dan indeks kemerataan Pileou (J?). Analisis kluster dilakukan untuk menentukan kelompok sampel dikelompokkan berdasarkan kesamaan kumpulan foraminifera. Identifikasi foraminifera pada inti sedimen STA 3 terdiri dari 44 spesies foraminifera plankton dan 100 spesies foraminifera bentik. Indeks ekologi dari kumpulan foraminifera memperlihatkan keanekaragaman spesies berkisar antara 2.57 hingga 3.07, kisaran nilai dominan antara 0.07 hingga 0.13, dan indeks kemerataan berkisar antara 0.72 hingga 0.8. Analisis kluster memperoleh 3 kelompok lingkungan berdasarkan komposisi spesies mengindikasikan perubahan lingkungan yang tidak signifikan di sepanjang inti sedimen. Kumpulan foraminifera pada inti sedimen STA 3 mencerminkan karakteristik masa air hangat, kondisi oksigen rendah, dan asupan organik tinggi.Kata Kunci: Foraminifera, Struktur komunitas, analisis statistik, massa air, Laut Sulawesi. Foraminifera assemblages of marine sediment core STA 3 (0.8897°N, 119.0865°E, depth of 294 m) in Sulawesi Sea was investigated to understand paleoenvironment feature in this core site. Modern situation shows that Sulawesi Sea provides a pathway for Indonesian Throughflow (ITF) which transports watermasses from Pacific to Indian Ocean. This study focused on the ecological indices to establish community structure of foraminifera and to evaluate community dynamic as recorded in core STA 3. Method used in this study was naturalistic observation consisting of sample preparation, foraminiferal assemblage (picking and identification), and data analysis. Data analysis of foraminifera assemblages was applied using Paleontological Statistics (PAST) of relative abundance, species diversity of Shannon-Wiener (H?), dominance indices (D), and Pileou evennes indices (J?). Cluster analysis was performed to determine how samples group based on the similarity of foraminiferal assemblages. Foraminifera identification in core STA 3 contains 44 species of planktonic foraminifera and 100 species of benthic foraminifera. Ecological indices of foraminiferal assemblages show species diversity of foraminiferal assemblages with a range value between 2.57 and 3.07, range of dominance values from 0.07 to 0.13, and evennes values fluctuate from 0.72 to 0.8. Cluster analysis reveals 3 clusters environment based on species composition which indicate no significant environmental changes in the entire core record. Foraminiferal asemblages in core STA 3 reflect watermass characteristics with warm water column, low bottom-water oxygenation, and high organic influx conditions. Keywords: Foraminifera, community structure, statistical analysis, watermass, Sulawesi Sea.
FORAMINIFERA BENTONIK SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS PERAIRAN TERUMBU KARANG DI PULAU TEGAL, TELUK LAMPUNG, LAMPUNG Rahmi, Sevina; Hadisusanto, Suwarno; Nurdin, Nazar; Yosi, Mira; Gustiantini, Luli
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 17, No 2 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.259 KB) | DOI: 10.32693/jgk.17.2.2019.599

Abstract

Foraminifera telah banyak digunakan sebagai indikator kualitas perairan sekitar terumbu karang di Indonesia berdasarkan perbandingan kelompok foraminifera bentonik tertentu. Studi tersebut diterapkan di sekitar Pulau Tegal, Teluk Lampung yang merupakan salah satu destinasi wisata yang secara tidak langsung memberikan pengaruh terhadap ekosistem terumbu karang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas foraminifera bentonik kaitannya dengan kondisi perairan terumbu karang Pulau Tegal, Teluk Lampung. Penelitian ini dilakukan pada 16 stasiun penelitian di Pulau Tegal yang mewakili semua sisi pulau dengan variasi kedalaman dari 0 meter hingga 28 meter. Hasil dari penelitian ini ditemukan 6.918 spesimen foraminifera bentonik dengan keanekaragaman yang tergolong rendah. Genera Amphistegina dan Elphidium ditemukan sangat melimpah pada hampir seluruh stasiun. Nilai Indeks FORAM (FI) diatas 4 ditemukan pada 11 stasiun penelitian yang mengindikasikan bahwa sebagian besar perairan Pulau Tegal berada dalam kondisi yang sangat baik dan kondusif untuk pertumbuhan serta pemulihan terumbu karang. Hasil ini sejalan dengan melimpahnya kehadiran kelompok foraminifera yang berasosiasi dengan terumbu karang pada perairan Pulau Tegal.Kata Kunci: Bioindikator, Pulau Tegal, Indeks FORAM, Terumbu Karang, Komunitas.Foraminifera has been widely used as an indicator of the quality of the waters around coral reefs in Indonesia based on the comparison of certain groups of benthonic foraminifera. The study was implemented around Tegal Island, Lampung Bay, which is one of the tourist destinations that influence the coral reef ecosystem. This study aims to determine the structure of bentonic foraminifera communities related to the condition of the coral reef waters of Tegal Island, Lampung Bay. This research was conducted at 16 research stations in Tegal Island representing all sides of the island with variations in depth from 0 m to 28 m water depth. The results of this study found 6.918 specimens of bentonic foraminifera with relatively low diversity. The genera Amphistegina and Elphidium were found to be very abundant in almost all stations. The FORAM Index (FI) above 4 was found in 11 research stations which indicated that most of the waters of Tegal Island were in very good conditions and conducive to the growth and recovery of coral reefs. This result is in line with the abundance of the presence of foraminifera groups associated with coral reefs in the waters of Tegal Island. Keywords: Bioindicator, Tegal Island, FORAM Index, Coral Reef, Community
PRESUMPTION OF INNOCENCE AGAINST CRIMINAL OFFENDERS IN THE POLICE: A CRITICAL STUDY Wulandari, Oktavia; Imron, Ali; Ernawati, Briliyan; Nurdin, Nazar
Walisongo Law Review (Walrev) Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.411 KB) | DOI: 10.21580/walrev.2020.2.1.5506

Abstract

The purpose of this paper is to conduct a critical study of the application of the presumption of innocence to the perpetrators of criminal acts (suspects) investigated by the police. Implementation of the principle is important to study because the suspect must not be considered guilty before the criminal act is proven. A review of this case was carried out at the Kendal Police Department in mid-2019-2020. Writing texts are written with a normative-empirical approach. The non-doctrinal approach was chosen because it can clearly examine the application of the principle of presumption of innocence in more depth. Therefore, the author considers it necessary to carefully examine the application of these principles in the process of law enforcement at the police level. The results showed that the application of the principle of presumption of innocence in the Kendal Police Department was not optimal, because some of its applications were colored by threats and acts of violence. The suboptimal application of this principle is influenced by various factors, including the lack of legal knowledge of suspects and threats and acts of violence that are not reported. As we know the presumption of innocence is a fundamental principle in the criminal justice system, where a person must be positioned innocent before his guilt is proven in an honest and open trial.
KETERKAITAN PERUBAHAN IKLIM PADA GLASIAL AKHIR - HOLOSEN TERHADAP TINGKAT KEANEKARAGAMAN FORAMINIFERA DI LAUT HALMAHERA Pratiwi, Fitria Ratna; Hadisusanto, Suwarno; Gustiantini, Luli; Nurdin, Nazar; Yosi, Mira
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 18, No 1 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1017.085 KB) | DOI: 10.32693/jgk.18.1.2020.635

Abstract

Laut Halmahera terletak pada Western Pacific Warm Pool (WPWP), yaitu pusat konveksi panas di Samudera Pasifik Barat tropis. Laut ini merupakan salah satu jalur masuk Arlindo yang menghubungkan massa air Samudera Pasifik dengan Samudera Hindia. Sehingga area ini penting untuk rekonstruksi paleoklimat. Peristiwa perubahan glasial akhir-interglasial (Holosen) merupakan peristiwa di masa lalu yang sangat mempengaruhi kondisi Laut Halmahera. Salah satu proksi yang dapat digunakan untuk mencatat perubahan iklim di masa lalu adalah sisa-sisa makhluk hidup, termasuk foraminifera. Perubahan yang terjadi pada foraminifera dapat diamati dari tingkat  keanekaragaman, kemelimpahan, dominansi, dan keseragaman. Penelitian dilakukan dengan menggunakan sampel sedimen bor MD10-3339, yang diambil di Laut Halmahera (00o26,67?LS dan 128o50,33?BT) pada kedalaman 1.919 m, dalam survei MONOCIR 2 tahun 2010. Sampel yang digunakan pada rentang 20 cm hingga 1.930 cm dengan interval 60 cm pada tiap sampel, yang dianggap mewakili waktu terjadinya glasial-interglasial. 30 sampel kemudian diamati dan dilakukan analisis secara kuantitatif. Teridentifikasi 52 spesies yang terdiri dari 32 spesies foraminifera bentonik dan 21 spesies foraminifera planktonik. Nilai indeks keanekaragaman, nilai indeks keseragaman, dan indeks dominansi menunjukkan nilai yang fluktuatif sejak glasial-interglasial, dengan nilai rata-rata 1,66; 0,35; dan 0,3. Walaupun tidak menunjukkan pola glasial-interglasial, namun pada sekitar umur 12.519 BP, nilai indeks keanekaragaman dan nilai keseragaman menunjukkan nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan nilai yang lain yaitu 1,102 dan 0,26. Sebaliknya, indeks dominansi mencapai nilai tertinggi yaitu 0,55.  Selain itu, persentase P. obliqueloculata pada umur ini menjadi sangat dominan yaitu 73,05%. Hal tersebut kemungkinan berkaitan dengan peristiwa Younger Dryas.Kata Kunci : Foraminifera, Younger Dryas, Laut Halmahera.Halmahera Sea lies in the centre of Western Pacific Warm Pool (WPWP), the warmest area in Tropical Pacific Ocean that play a role as center of heat convection. It is also one of the Indonesian throughflow pathways connecting water mass from Pacific Ocean to The Indian Ocean, therefore this area is considered important for climatic reconstruction. Glacial-interglacial cycle is one of the major events in the past that strongly influence the Halmahera Sea. Potential proxies for paleoclimatic reconstruction are including living organisms remain, such as foraminifera. Respond of foraminifera can be observed from their diversity, abundance, dominance, and their evenness. This study was conducted by analizing sediment core MD10-3339, collected from the Halmahera Sea (00o26.67? S, 128o50.33? E) in 1,919 m water depth, during the cruise MONOCIR 2 in 2010. Samples were analized from 20 cm to 1,930 cm at 60 cm intervals. A total of 30 samples were observed and analyzed. 52 species of foraminifera are found, composed of 32 species of benthonic foraminifera and 21 species of planktonic foraminifera. The analyses of diversity index, evenness, and dominance indicate fluctuated values between glacial-interglacial, with averages values are 1.66, 0.35, and 0.3 respectively. Although the values do not indicate glacial-interglacial trend, however, in 12,519 BP diversity index and evenness index showed the lowest number compared to the other ages (1.102 and 0.26, respectively),in contrast the highest dominance index (0.55). Furthermore, at this time, the percentage of Pulleniatina obliquiloculataincrease (73.05%) and become dominant. This occurrence might be related to the Younger Dryas event.Keywords: Foraminifera, Younger Dryas, Halmahera Sea.