Dyah Sunggingwati, Dyah
Unknown Affiliation

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

AN ANALYSIS OF ILLOCUTIONARY ACT AND PERLOCUTIONARY ACT OF JUDY HOPPS UTTERANCES IN ZOOTOPIA MOVIE (2016) Nadeak, Magdalena Febriwati; Sunggingwati, Dyah; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 4 (2017): Edisi Oktober 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i4.713

Abstract

ABSTRACT In this research, the researcher focused on finding the types of illocutionary act, the context of illocutionary act and whether Judy Hopps’ utterances affected the hearers performing the perlocutionary act in Zootopia movie. The researcher used two theories by George Yule and Dell Hymes in order to answer the three research questions; what types of illocutioay acts performed by Judy Hopps’ utterances, what the contexts of ilocutionay acts found in Judy Hopps’ utterances and how successful the illocutionary acts of Judy Hopps’ utterances affected the hearers performing the perlocutionary acts in Zootopia movie. Illocutionary act is performing an act by saying something. There were five types of illocutionary act, such as: representatives, directives, commissives, expressives and declarations. Zootopia movie is a story about a little rabbit; named Judy Hopps as the main character in Zootopia movie. She is an idealistic, cheery, and optimistic and then she wants to be a police officer in Zootopia city. Using descriptive qualitative method, the data of this research were gathered from the utterances containing the types and the context of illocutionary act also whether Judy Hopps’ utterances affected the hearers performing the perlocutionary act in the conversation of Zootopia movie. The results showed that there were thirteen utterances in the form of representative which can be categorized into statements of fact, assert, conclusion, inform, affirm, and report. Thirteen directive utterances in the form of commands, orders, insist, ask, entreat, request. Commissives appeared in the form of commit, promising, refuse, wishing and threatening. Expressives which appear in the form of complimenting, deploring, greeting, mocking, thanking, praising, apologizing, and leave-taking. The last type of illocutionary act was declaration which appeared in the form of approving. Keywords: Zootopia movie, types of illocutionary act, the context of illocutionary act, the perlocutionary act  ABSTRAK Dalam penelitian ini, peneliti fokus mengetahui jenis-jenis tindak ilokusi, konteks tindak ilokusi dan apakah ungkapan-ungkapan Judy Hopps mempengaruhi pendengar menampilkan efek dari tindak ilokusi tersebut di film Zootopia. Peneliti menggunakan dua teori dari George Yule dan Dell Hynes untuk menjawab tiga rumusan-rumusan masalah, yaitu: apa saja jenis-jenis tindak ilokusi yang ditampilkan dari ungkapan-ungkapan Judy Hopps; apa saja konteks-konteks yang di temukan pada ungkapan-ungkapan Judy Hopps dan bagaimana sukses atau tidak suksesnya tindak ilokusi pada ungkapan-ungkapan Judy Hopps yang mempengaruhi pendengar dalam menampilkan efek dari tindak ilokusi tersebut dari ungkapan Judy Hopps. Tindak ilokusi adalah melakukan suatu tindakan dengan mengatakan sesuatu. Ada lima jenis-jenis tindak ilokusi, yaitu: representative, direktif, komisif, ekspresif, dan deklaratif. Film Zootopia adalah kisah tentang seekor kelinci, dia adalah Judy Hopps sebagai pemeran utama dalam film Zootopia. Dia adalah seekor kelinci yang idealistik, riang, optimis, dan kemudian dia ingin menjadi seorang polisi di kota Zootopia. Menggunakan metode deskriptif kualitatif, data penelitian ini dikumpulkan dari ungkapan-ungkapan yang berisi jenis tindak ilokusi, konteks tindak ilokusi dan ungkapan-ungkapan Judy Hopps yang mempengaruhi pendengar menampilkan efek dari tindak ilokusi tersebut dari ucapan Judy Hoops. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga belas ungkapan dalam bentuk representative yang dapat dikategorikan kedalam menyatakan suatu fakta, menuntut, kesimpulan, memberitahukan, menegaskan, dan melaporkan. Tiga belas ungkapan direktif dalam bentuk memerintah, pemesanan, meminta dengan tegas, bertanya, memohon dengan sangat dan meminta. Komisif muncul dalam bentuk melakukan, member, harapan, menolak, berharap, dan mengancam. Ekpresif muncul dalam bentuk memuji, menyesalkan, salam, menghina, meminta maaf, dan berpisah. Jenis terakhir dari tindakan ilokusi adalah deklaratif yang muncul dalam bentuk mengakui.  Kata kunci: film Zootopia, jenis-jenis tindak ilokusi, konteks, efek
FOREIGN LANGUAGE ANXIETY AND ENGLISH ACHIVEMENT OF EIGHTH GRADE STUDENTS OF MTS SULAIMAN YASIN SAMARINDA IN THE 2011/2012 ACADEMIC YEAR Ariani, Setya; Sunggingwati, Dyah; Iswari, Weningtyas Parama
Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics (CaLLs) Vol 2, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v2i2.694

Abstract

Anxiety is considered having negative effects for most students in learning foreign language, especially English. It has attracted researchers’ attention to do the investigation on foreign language anxiety as a factor which inhibits students to learn the target language successfully. Concerning with this issue, this correlational research was emphasized on investigating the relationship between foreign language anxiety and students’ English achievement. Fifty-five eighth grade students of MTS Sulaiman Yasin Samarinda were asked to fill out 33 items of Foreign Language Classroom Anxiety Scale (FLCAS). The Pearson Product Moment Correlation showed that anxiety had significant negative correlation with students’ English achievement (r = -.258, p<.01). Key words: anxiety, achievement, Pearson Product Moment
THE DIFFERENCES BETWEEN MEN AND WOMEN’S LANGUAGE IN THE DEVIL WEARS PRADA MOVIE Juwita, Tri Puspa; Sunggingwati, Dyah; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 2, No 1 (2018): Edisi Januari 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v2i1.870

Abstract

ABSTRACT This research with the title investigated the differences between men and women’s language feature and the consistency of the using of that language features by each gender. This research used the theory from Coates (2004) about men’s language features and Lakoff, quoted by Holmes (2003) about women’s language. The researcher got the data from every dialogue by main and supporting characters. The research design in this research used qualitative method from Mack et al (2005). The data source of this research got from the dialogue of men and women’s characters and the researcher also used books and journals which are related to this research to analyze the data. The technique of data analysis is descriptive method. The researcher draws two conclusions: firstly, this research found that men and women’s character in The Devil Wears Prada movie did not use all of the language features from Coates and Lakoff. Secondly, the researcher found that in some situation, the men and women’s character did not consistent use their own language features. Keywords: features consistency, men’s language, women’s language, The Devil Wears Prada movie  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meneliti tentang perbedaan antara bahasa pria dan bahasa wanita dan konsistensi pengunaan tersebut pada masing-masing jenis kelamin. Penelitian ini menggunakan teori dari Coates (2004) tentang bahasa pria dan teori dari Lakoff yang dikutip oleh Holmes (2003) tentang bahasa wanita. Peneliti mendapatkan data dari seluruh percakapan yang dilakukan oleh pemeran utama dan pemeran pendukung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dari Mack et al (2005). Sumber data diperoleh dari percakapan karakter pria dan wanita dan juga didukung oleh buku dan jurnal yang berkaitan dengan penelitian ini. Cara untuk menganalisis data adalah dengan menggunakan metode deskripsi. Peneliti mendapatkan dua kesimpulan: pertama, ditemukan bahwa karakter pria dan wanita di film The Devil Wears Prada tidak menggunkan seluruh kriteria dari Coates dan Lakoff. Kedua, peneliti menemukan bahwa di beberapa situasi, karakter pria dan wanita tidak konsisten menggunakan karaker bahasa masing-masing gender. Kata kunci: konsistensi karakter, bahasa pria, bahasa wanita, film The Devil Wears Prada 
JESSE’S PSYCHOSOCIAL DEVELOPMENT IN THE NOVEL MY SISTER KEEPER BY JODI PICOULT (2004) Kosiaroh, Lilik; Sunggingwati, Dyah; Asanti, Chris
Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya) Vol 1, No 2 (2017): Edisi April 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ilmubudaya.v1i2.684

Abstract

ABSTRACT This research identified about the stages of Jesse’s psychosocial development and the kind of factors that changed Jesse as a dynamic character. The method used descriptive qualitative, where the researcher described the stages of psychosocial development views of Jesse character and then tried to find out about the familial conflict that occurred on him. First was early childhood, Jesse was two years old and his personality still good. Second was play age. In this stage, Jesse changed his personality, because of the different treatment by his parents that he was yelled by his parents. Third was school age, Jesse was five until eleven years old. He did some rebellion to get attention from his parents, for example; revoked his teeth by using a fork and tried to suicide. Fourth was adolescent, it was the climax of Jesse’s character, between the age of twelve to eighteen years old; Jesse performed some bad behaviors or risky behaviors. He did smoking, consuming drugs, stealing, and having obsession with fire. He did all of them, because he depressed with many conflict in his family. In the last stage was middle adulthood, Jesse was taken care again by his parents. Keywords:  character, psychosocial, psychosocial development, familial conflict  ABSTRAK Penelitian ini mengidentifikasi tahap dari perkembangan psikososial Jesse dan jenis dari faktor yang mengubah jesse menjadi karakter dinamik. Penelitian ini menggunakan metode deskripsi kualitatif, dimana peneliti mendeskripsikan tahap dari perkembangan psikologi Jesse dan mencoba mencari masalah yang mengganggunya. Pertama adalah tahap anak usia dini, Jesse berumur 2 tahun dan psikologinya tetap baik. Kedua adalah tahap bermain. Pada tahap ini Jesse mengubah personalitinya, karena perubahan perlakuan yang diberikan orangtuanya yang membentaknya. Ketiga adalah tahap sekolah, Jesse berumur 5 sampai 11 tahun. Jesse melakukan banyak pemberontakan untuk mendapat perhatian dari orangtuanya, contohnya; ia mencabut giginya menggunakan garpu. Keempat adalah tahap remaja, ini adalah puncak dari permasalahan Jesse diumur 12 -18 tahun. Jesse menunjukkan beberapa kesalahan dan kerusakan dirinya. Dia merokok, mengonsumsi narkoba, mencuri dan terobsesi dengan api. Ia melakukan itu semua, karena ia depresi dengan semua masalah dalam keluarganya. Pada tahap terakhir Jesse kembali diberi perhatian oleh orangtuanya.  Kata Kunci : karakter, psikososial, perkembangan psikososial, masalah keluarga 
AN ANALYSIS OF RACHEL BERRY’S CHARACTER IN GLEE SEASON 2 USING MASLOW’S THE HIERARCHY OF NEEDS THEORY Nurhajar, Ayu Sukma; Sunggingwati, Dyah; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 2, No 3 (2018): Edisi Juli 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v2i3.1149

Abstract

ABSTRACT Literary work today is not limited by written form such as novel and short story. Film can be considered as literary work as well due to its narrative device. Glee is an American series which takes social issues in each episode. This study is intended to analyse Rachel Berry?s character based on how she satisfies the hierarchy of needs and to show the characteristics of self-actualized person that she exhibits. The data of this study are taken from the dialogues and narrations from the series. This study uses Maslow?s the hierarchy of needs theory. The data are analysed using qualitative descriptive method. The results of this study show that Rachel Berry is a self-actualizer. Rachel Berry has satisfied the four lower level of needs (physiological needs, safety and security needs, love and belongingness needs, and esteem needs) before she reaches the pinnacle of the hierarchy of needs. Rachel Berry shows some characteristics of self-actualizer, which include an acceptance of her strengths and weaknesses, depends on herself for her satisfaction, has moments of peak experiences, has sympathy and empathy as well as is willing to help others, tends to select friends with similar quality as her own and has creativeness. Keywords: Glee, character, the Hierarchy of Needs Theory, self-actualization, self-actualized person  ABSTRAK Karya sastra hari ini tidak terbatas pada karya tertulis seperti novel atau cerita pendek. Film termasuk dalam karya sastra mengacu pada narasi yang digunakan. Glee adalah serial Amerika yang mengangkat isu-isu sosial pada setiap episodenya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa karakter Rachel Berry tentang bagaimana dia memenuhi segala kebutuhan dalam hierarki dan menunjukkan karakteristik dari seorang pengaktualisasi diri. Data-data diambil dari dialog dan narasi dalam serial Glee dan kemudian dianalisa menggunakan metode kualitatif deskriptif. Penelitian ini menggunakan teori hierarki kebutuhan Maslow. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rachel Berry adalah seorang pengaktualisasi diri. Rachel telah memenuhi empat kebutuhan tingkat bawah dalam hierarki ( kebutuhan fisiologi, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang, kebutuhan akan penghargaan) sebelum dia mencapai kebutuhan puncak dalam hierarki. Rachel Berry menunjukkan beberapa karakteristik seorang pengaktualisasi diri, yaitu menerima kelebihan dan kekurangan dirinya, bergantung pada dirinya sendiri, memiliki saat-saat peak-experiences, memiliki simpati dan empati serta kemauan untuk menolong orang lain, cenderung memilih teman yang memiliki kualitas yang sama dengan dirinya, dan memiliki kreativitas. Kata kunci: Glee, karakter, teori hierarki kebutuhan Maslow, aktualisasi-diri
MOTIVATION OF THE MAIN CHARACTER IN SUE MONK KIDD’S SECRET LIFE OF BEES Saidah, Nur; Sunggingwati, Dyah; Asanti, Chris
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i2.1628

Abstract

This research to used know form motivation and special figure character in novel Secret Life of Bees by Sue Monk Kidd?s. Research type is qualitative. This study was conducted to analyze the motivation of the main protagonist in the novel Secret Life of Bees work of Sue Monk Kidd and try to connect with the sociological approach. To obtain more data about the character in the novel, library research was also conducted by the writer. The writer collected some journals, articles, and some significant notes that could be used 5as references to investigate this research. And the characters were arranged systematically, in addition to the novel itself, additional data from literature supporters, the data of journals, articles, and data from the internet. Result of research indicates that in analyzing novel Secret Life of Bees by Sue Monk Kidd?s, that character of the special figure in novel that is Lily Owen covering character: they are love, fear of failure, hope for reward, and religious feeling. And motivation in the main character?s life. The four of them make her successful to achieve her goal. Lily is successful to get away from her cruel father and goes to Tiburon with Rosaleen to know about her mother?s death in order to learn about herself. Having analyzed some motivation of the main character in the novel Secret Life of Bees, it shows that the motivations make some results for the main character. Furthermore, the writer analyzes the result of her motivation that will be accepted by the main character. Penelitian ini digunakan untuk mengetahui bentuk motivasi dan karakter tokoh khusus dalam novel Secret Life of Bees karya Sue Monk Kidd. Jenis penelitian adalah kualitatif. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis motivasi protagonis utama dalam novel Secret Life of Bees karya Sue Monk Kidd dan mencoba untuk terhubung dengan pendekatan sosiologis. Untuk mendapatkan lebih banyak data tentang karakter dalam novel, penelitian perpustakaan juga dilakukan oleh penulis. Penulis mengumpulkan beberapa jurnal, artikel, dan beberapa catatan penting yang dapat digunakan sebagai referensi untuk menyelidiki penelitian ini. Dan karakter disusun secara sistematis, selain novel itu sendiri, data tambahan dari literatur pendukung, data jurnal, artikel, dan data dari internet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menganalisis novel Secret Life of Bees karya Sue Monk Kidd, karakter tokoh utama dalam novel itu adalah karakter Lily Owencovering: mereka adalah cinta, ketakutan akan kegagalan, harapan akan hadiah, dan perasaan religius. Dan motivasi dalam kehidupan karakter utama. Keempatnya membuatnya sukses untuk mencapai tujuannya. Lily berhasil melarikan diri dari ayahnya yang kejam dan pergi ke Tiburon bersama Rosaleen untuk mengetahui tentang kematian ibunya untuk mengetahui tentang dirinya sendiri. Setelah menganalisis beberapa motivasi karakter utama dalam novel Secret Life of Bees, itu menunjukkan bahwa motivasi membuat beberapa hasil untuk karakter utama. Selanjutnya, penulis menganalisis hasil motivasinya yang akan diterima oleh tokoh utama.
JING-MEI WOO’S HYBRID IDENTITY IN AMY TAN’S THE JOY LUCK CLUB NOVEL Novitasari, Andhini; Sunggingwati, Dyah; Lubis, Indah Sari
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 2, No 4 (2018): Oktober 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v2i4.1469

Abstract

ABSTRACT Migration is considered as a massive impact of colonization. It causes a huge number of people from a certain country (a colonized ones) move to another country due to colonization. Starting from this, usually a new society consists of mixed culture, norms, values adjusted to the altering citizens (migrants and non-migrants) that has been created. Yet, an issue of one?s identity appear for those who come from the two cultures as it appeared in Amy Tan?s The Joy Luck Club. Jing-Mei Woo, a Chinese-born American had issue of defining her identity due to the hybridity circumstance she achieved as the daughter of immigrant parents. This research aimed to examine the portrayal of Jing-Mei Woo?s hybridity identity and the way she developed her hybrid identity. This research was a qualitative research for the data were in the form of words from The Joy Luck Club novel. Barry?s theory about hybrid identity was used to answer the research questions towards Jing-Mei Woo character. The result showed that Jing-Mei Woo experienced hybridity as she was unable to define herself whether it was her past-self (Chinese) or present-self (American), felt out of place not knowing exactly her identity form of the two cultures, and having the hybrid identity between Chinese and American cultures. While during the process, Jing-Mei Woo developed her hybrid identity by getting through the four stages: she ignored her origin?s identity as a Chinese woman, denying her Chinese identity by telling her mother most of times that she was not a Chinese and that was the reason she could not understand a bit about her mother?s culture, maintaining the American?s way of thinking as she thought that was her identity despite the fact that she was also a Chinese, and finally realising that in order to define herself, she accepted her Chinese blood and admitted her hybrid identity as a Chinese-American woman. Keywords: migration, hybrid identity  ABSTRAK Migrasi merupakan dampak luar biasa dari kolonisasi. Peristiwa ini (migrasi) menyebabkan perpindahan sekelompok orang dengan jumlah yang banyak dari suatu negara (yang dikuasai atau dikolonisasi) ke negara lain. Biasanya sebagai akibat dari migrasi ini terbentuklah suatu masyarakat baru yang sistem-sistemnya mengandung percampuran budaya, norma-norma, serta nilai-nilai yang telah menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi pada masyarakatnya yang terdiri dari para migran dan non-migran. Akan tetapi, ada satu masalah yang muncul berkenaan dengan masyarakat baru yang terbentuk ini: permasalahan mengenai identitas diri seseorang yang berasal dari dua budaya berbeda seperti yang ada pada novel Amy Tan, The Joy Luck Club. Jing-Mei Woo, seorang anak perempuan dari orang tua imigran Cina dan memiliki darah Cina tetapi menetap di Amerika, memiliki permasalahan dalam menentukan identitas dirinya yang sebenarnya karena ia hidup di lingkungan hibriditas. Studi ini merupakan studi kualitatif karena menganalisa data yang berupa kata-kata dari novel The Joy Luck Club. Teori dari Barry mengenai identitas hibrida digunakan untuk menjawab pokok-pokok permasalahan pada karakter Jing-Mei Woo. Hasil studi ini memperlihatkan bahwa Jing-Mei Woo mengalami hibriditas karena ia tidak mampu menentukan identitas dirinya, apakah identitas itu adalah dirinya yang dimasa lalu sebagai seorang Cina ataukah dirinya yang sekarang sebagai seorang Amerika, merasa tidak memiliki tempat yang cocok dengan dirinya, dan memiliki identitas hibrida antara budaya Cina dan Amerika. Selama proses Jing-Mei Woo mengembangkan identitas hibridanya, ia melewati empat tahapan yaitu: Jing-Mei Woo mengabaikan identitas aslinya sebagai wanita Cina, menolak identitasnya sebagai seorang Cina dengan selalu mengatakan pada ibunya bahwa ia bukanlah seorang Cina maka wajar jika ia tidak bisa mengerti sedikit pun soal budaya ibunya, menganggap bahwa identitas sebenarnya yaitu dengan mengikuti pola pikir seorang Amerika terlepas dari fakta bahwa ia juga memiliki darah seorang Cina dalam tubuhnya, dan akhirnya Jing-Mei Woo menerima darah Cina dalam tubuhnya dan mengakui identitas hibridanya sebagai seorang keturunan Cina-Amerika, yang membuatnya mampu menentukan identitas dirinya yang sebenarnya.  Kata Kunci: migrasi, identitas hibrida
ANALYZING SELF-ACTUALIZATION OF JONAS CHARACTER IN THE GIVER NOVEL Rahayuningsih, Herdiana; Sunggingwati, Dyah; Valiantien, Nita Maya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 3 (2019): Juli 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/ilmubudaya.v3i3.2208

Abstract

This study concerns with Self-Actualization in The Giver novel. Aiming to find the character and personality of Jonas through the Self-Actualization described in the novel. The source of data is taken from The Giver novel by Lois Lowry. This study used Self-Actualization theory by Abraham Maslow. The researchers was employed that Jonas has bravery, sensitive feelings, and intelligence. The results of this research showed that self-actualization found in Jonas are: 1) objective perception, (2) general acceptance of nature, others and oneself, (3) spontaneity, simplicity, and naturalness behaving, (4) needs for privacy and independence, (5) autonomous functioning, (6) freshness of appreciation, (7) mystical or ?peak? experiences, (8) concern in social interest, (9) interpersonal relations, (10) recognize discrimination between means and ends, good and evil, (11) present creativeness. When Jonas gets the memories from The Giver, then he shows his self-actualization. The memories open up his mind to think, and to realize that the real world is much beautiful with the difference between one and another. Thus, Jonas is a dynamic character. From Jonas self-actualization, he tries to recognize his own self, develop his ability, his personal uniqueness, and to actualize his potentials as a human being that capable of becoming what he wants to achieve.