Articles

Found 8 Documents
Search

Identifikasi Morfologi Tumbuhan Kantong Semar (Nepenthes Sp.) Sebagai Bahan Ajar Tumbuhan Tingkat Tinggi Di Kawasan Wisata Gunung Galunggung Kabupaten Tasikmalaya Putra, Rinaldi Rizal; Fitriani, Rita
Florea : Jurnal Biologi dan Pembelajarannya Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : UNIVERSITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.767 KB) | DOI: 10.25273/florea.v5i2.3450

Abstract

Mount Galunggung is one of the tourism icons in Tasikmalaya Regency which has highly potential of biodiversity, especially in various of plants. In addition to showing the natural tourism, Mount Galunggung is also a media for learning high-level plants for developing science in the university. One of the potential diversity of plants in Mount Galunggung is kantong semar,  which is known with botanical name as Nepenthes sp. Nepenthes are known as tropical plants that can live and survive in extreme conditions with low nutrients. These plants are classified into carnivorous plants.  This research was aimed to identify various species of Nepenthes in Tasikmalaya Regency based on morphological characters. This research was conducted in February until July 2018, located in Mount Galunggung Tasikmalaya Regency using descriptive and exploratory methods.  Data collected were morphological identification of Nepenthes  and environment conditions. Morphological identification was carried out by visual observation of organs in Nepenthes such as root, stem, leaf, pitcher, flower, fruit and seed that are expected to give preliminary data that can provide information to determine the classification. The result of this research concluded that only one species of Nepenthes was found in Mount Galunggung and that was included to Nepenthes gymnamphora.
IDENTIFIKASI TUMBUHAN LUMUT DI KAWASAN WISATA GUNUNG GALUNGGUNG KABUPATEN TASIKMALAYA JAWA BARAT Putra, Rinaldi Rizal; Hernawati, Diana; Fitriani, Rita
Bioma : Berkala Ilmiah Biologi Vol. 21, No 2, Tahun 2019
Publisher : Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.367 KB) | DOI: 10.14710/bioma.21.2.114-120

Abstract

Galunggung mountain tourism spot is one of the natural tourism objects in Tasikmalaya regency possessing high biodiversity of living things, notably moss. The well-preserved environmental conditions in the area of Galunggung mountain enable the moss to grow luxuriantly and has miscellaneous varieties. This study aimed at identifying the moss living in around Galunggung mountain, Tasikmalaya. It was conducted on November 2017 through descriptive exploratory method with survey technique. The data were analysed descriptively by collecting specimens of the moss discovered in each observing station. The observing locations were situated in three different locations (stations) based on hierarchical height levels. Based on the identification, the moss proliferating in Galunggung mountain were classified into 20 species. The moss species dominantly identified in the entire observing stations were Bryum billardierii, Acroporium sp., Leucobryum sp., Marchantia polymorpha, and Calymperes sp.   
PENGARUH HORMON NAPTHALEN ACETIC ACID TERHADAP INISIASI AKAR TANAMAN KANGKUNG AIR (Ipomoea aquatica Forssk.) Putra, Rinaldi Rizal; Shofi, Muh.
Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: kangkung air merupakan tanaman aquatik yang sangat digemari masyarakat. Banyaknya permintaan akan sayuran kangkung menyebabkan kurangnya pasokan tanaman kangkung air. Alternatif untuk menambah produksi tanaman kangkung air dengan menggunakan Napthalen Acetic Acid (NAA). Sebab NAA dapat menginduksi akar tanaman kangkung air. Tujuan: Mengetahui pengaruh NAA terhadap pertumbuhan akar tanaman kangkung air. Metode: Rancangan penelitian yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Konsentrasi larutan NAA yang digunakan yaitu 0,1 ppm, 0,2 ppm, 0,4 ppm, 0,6 ppm, dan 1 ppm, dan kontrol yang tidak mengandung NAA. Parameter pengamatan berupa panjang akar dan jumlah akar yang kemudian dianalisis dengan menggunakan SPPS 17. Hasil: konsentrasi NAA dapat menginduksi pembentukan akar tanaman kangkung air. Konsentrasi NAA 0,1 ppm paling baik untuk menginduksi perakaran tanaman kangkung air. Simpulan dan saran: terdapat pengaruh konsentrasi NAA terhadap jumlah dan panjang akar tanaman kangkung air. Perlu penelitian lanjut mengenai hormon auksin jenis lain dan struktur anatomi tanaman kangkung air setelah diinduksi hormon auksin.
PENGARUH CAHAYA DAN TEMPERATUR TERHADAP PERTUMBUHAN TUNAS DAN PROFIL PROTEIN TANAMAN ANGGREK Phalaenopsis amabilis TRANSGENIK PEMBAWA GEN Ubipro::PaFT Putra, Rinaldi Rizal; Mercuriani, Ixora Sartika; Semiarti, Endang
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 2, No 2: September 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v2i2.2483

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mencari kondisi yang tepat dalam percepatan pembungaan tanaman Phalaenopsis amabilis transgenik yang telah disisipi gen penentu waktu pembungaan Ubipro::PaFT. Metode penelitian ini menggunakan tanaman transgenik pembawa gen Ubipro::PaFT umur 18 bulan setelah penanaman. Tanaman ditumbuhkan pada inkubator dengan pencahayaan menggunakan lampu LED putih dan kombinasi LED putih biru, dengan fotoperiodisitas 8 jam terang 16 jam gelap, suhu 25ºC pada fase terang dan 20ºC pada fase gelap selama 20 minggu. Setelah 20 minggu pertumbuhan tanaman, dilakukan analisis profil protein dengan metode SDS-PAGE untuk mengetahui protein yang diproduksi pada setiap fase pertumbuhan yang diamati.Hasil penelitian menunjukkan kombinasi cahaya LED putih dan biru meningkatkan pembentukan daun sebesar 60%, panjang daun 70,58%, tetapi belum diperoleh kemunculan infloresen. Analisis profil protein menunjukkan terbentuknya protein dengan ukuran 108,57; 71,30; 56,16; 40,85; 26,79; 13,27; dan 13,12 kilodalton pada tanaman transgenik, tetapi tidak terdeteksi protein dengan ukuran 19,65 kDa yang sesuai dengan berat molekul protein PaFT, sementara protein dengan ukuran sekitar 56,16 kDa sesuai dengan berat molekul protein POH1(Phalaenopsis Orchid Homeobox1). Hal ini menunjukkan bahwa gen vegetatif POH1 mampu menghambat aktivasi gen PaFT pada tanaman P. amabilis transgenik umur 20 minggu, sehingga tanaman masih dalam fase juvenil dan belum mampu diinduksi untuk berbunga.
PEMANFAATAN BATU ZEOLIT SEBAGAI MEDIA AKLIMATISASI UNTUK MENGOPTIMALKAN PERTUMBUHAN ANGGREK BULAN (Phalaenopsis) HIBRIDA Kurniasih, Wiwin; Nabiila, Alyaa; Nurul Karimah, Silviyani; Farhan Fauzan, Muhammad; Riyanto, Aji; Putra, Rinaldi Rizal
Bioma : Jurnal Ilmiah Biologi Vol 6, No 2 (2017): Bioma
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/bioma.v6i2.1713

Abstract

Tanaman anggrek bulan (Phalaenopsis) hibrida merupakan salah satu dari sekian banyak tanaman hias yang memiliki nilai ekonomi dari keindahan bunganya, dan permintaan pasar cenderung meningkat setiap tahunnya. Salah satu faktor yang memengaruhi akan ketersediaan anggrek bulan adalah pada saat fase aklimatisasi. Media tanam anggek pada fae aklimatisasi yang umum digunakan adalah akar pakis, namun permintaan akar pakis yang semakin banyak akan mengurangi ketersediaan pakis di alam. Salah satu alternatif yang dapat digunakan sebagai media aklimatisasi anggrek adalah batu zeolit alami yang memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yang unik yaitu sebagai penyerap, penukar ion, penyaring molekul, dan mampu mempertahankan kelembaban. Tujuan dari penelitian ini untuk memperoleh media batu zeolit yang tepat sebagai media aklimatisasi anggrek bulan (Phalaenopsis) hibrida. Metode penelitian ini menggunakan tanaman anggrek bulan (Phalaenopsis) hibrida umur 3 bulan. Media batu zeolit yang diperoleh dari pertambangan kemudian diaktivasi, baik secara kimia maupun fisika. Tanaman ditumbuhkan pada berbagai media perlakuan, antara lain: zeolit, kombinasi zeolit + akar pakis, kombinasi zeolit + arang kayu, kombinasi zeolit + batu bata, serta akar pakis. Pengamatan dilakukan selama 15 minggu dengan mengamati parameter pertumbuhan berupa jumah daun, jumlah akar, dan panjang daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan zeolit berpengaruh terhadap peningkatan jumlah akar tanaman anggrek yang di aklimatisasi, tetapi tidak berpengaruh terhadap jumlah daun dan ukuran panjang daun. Media kombinasi zeolit + akar pakis memberikan pengaruh lebih baik dalam peningkatan jumlah akar, walaupun tidak memberikan pengaruh pada peningkatan jumlah dan ukuran daun. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kombinasi media zeolit + akar pakis dapat meningkatkan jumlah akar tanaman anggrek Phalaenopsis hibrida pada tahap aklimatisasi.Kata kunci : Anggrek, Phalaenopsis, aklimatisasi, media tanam, batu zeolit
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 7E TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK PADA KONSEP PENCEMARAN LINGKUNGAN DI KELAS VII SMP NEGERI 2 KOTA TASIKMALAYA Praninda, Erlynda; Surahman, Endang; Putra, Rinaldi Rizal
Bioma : Jurnal Ilmiah Biologi Vol 7, No 2 (2018): Bioma
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/bioma.v7i2.2800

Abstract

ABSTRAKKegiatan belajar-mengajar di kelas merupakan salah satu unsur penting yang dilakukan oleh pendidik dalam melatih kemampuan peserta didik untuk dapat memahami dan memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, kegiatan belajar peserta didik harus senantiasa diarahkan tidak hanya dalam penguasaan konsep-konsep semata, namun juga pada peningkatan kemampuan berpikir peserta didik, khususnya kemampuan berpikir kritis. Hakikatnya, berpikir kritis merupakan kemampuan untuk mempertimbangkan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber, kemudian mengolahnya secara kreatif dan logis, menilai kebenarannya, menganalisis, dan menarik kesimpulan akhir, sehingga informasi tersebut dapat dipertahankan kebenarannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Learning Cycle 7E terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik pada konsep pencemaran lingkungan di kelas VII SMP Negeri 2 Kota Tasikmalaya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April Mei 2018 di SMP Negeri 2 Kota Tasikmalaya. Metode eksperimen yang digunakan adalah true experimental dengan populasi seluruh kelas VII SMP Negeri 2 Kota Tasikmalaya sebanyak 11 kelas dengan jumlah siswa 352 orang. Sampel diambil dengan menggunakan teknik cluster random sampling sebanyak 2 kelas, yaitu kelas VII-J sebagai kelas eksperimen dan kelas VII-I sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis berupa soal uraian dengan jumlah 17 butir soal. Teknik analisis data yang digunakan yaitu menggunakan uji ANOVA dengan taraf signifikansi (α) 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Learning Cycle 7E berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik dengan skor rata-rata 38,03, dibandingkan dengan kelas kontrol dengan skor rata-rata 34,80. Hal ini menunjukkan bhawa penggunaan Learning Cycle 7E mampu berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik. Kata Kunci : learning cycle 7E, kemampuan berpikir kritis, konsep pencemaran lingkungan.
Analisis E. Coli Pada Air Minum Dalam Kemasan Yang Beredar Di Kota Tasikmalaya Meylani, Vita; Putra, Rinaldi Rizal
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 5, No 2: September 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v5i2.9241

Abstract

Drinking water is the main need of humans as living things. Over time, humans are more practical so that for drinking needs they prefer to use bottled drinking water or refill drinking water. The high demand for bottled water raises the number of drinking water companies that issue bottled drinking water products. However, the quality of bottled water still needs to be assessed because it is not through pasteurization or other processing. So the microbiological content remains to be investigated. This study aimed to determine the bacteriological content in bottled drinking water. This study uses the Most Probable Number (MPN) method to test its bacterial content and gamma ray radiation to test its radiosensitivity. The sample in this study was bottled drinking water of various brands circulating in the City of Tasikmalaya. Based on the research results obtained from 13 samples there is 1 sample containing E. coli which is code B1 with a total bacterial content of 7 cells per 100 ml. So it can be concluded L samples are known to contain E. coli as much as 1.9 x 105 cells per ml.
EKSPLORASI TUMBUHAN SUKU ORCHIDACEAE DI KAWASAN GUNUNG GALUNGGUNG KABUPATEN TASIKMALAYA SEBAGAI BAHAN AJAR TUMBUHAN TINGKAT TINGGI Putra, Rinaldi Rizal; Fitriani, Rita
Bioedusiana: Jurnal Pendidikan Biologi Vol 4, No 2 (2019): Bioedusiana
Publisher : LP3MPM Universitas Siliwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34289/bioed.v4i2.1133

Abstract

Gunung Galunggung yang secara administratif masuk ke dalam wilayah Kabupaten Tasikmalaya menyimpan berbagai kekayaan alam, khususnya pada aspek flora. Salah satu kekayaan flora yang berada di Gunung Galunggung termasuk ke dalam suku Orchidaceae. Tumbuhan yang termasuk ke dalam suku Orchidaceae memiliki jumlah spesies terbanyak dibandingkan tumbuhan berbunga lainnya, sehingga banyak diminati oleh semua kalangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis tumbuhan suku Orchidaceae di kawasan Gunung Galunggung Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei s.d. September 2019 di kawasan hutan Gunung Galunggung Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik pengamatan/eksplorasi langsung. Eksplorasi dilakukan dengan cara membagi lokasi menjadi tiga stasiun pengamatan. Stasiun I berada pada ketinggian 600 s.d. 800 mdpl, Stasiun II berada pada ketinggian 800 s.d. 1000 mdpl, dan Stasiun III berada pada ketinggin 1000 s.d. 1200 mdpl. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara inventarisasi dan mengambil spesimen tumbuhan yang diduga Orchidaceae. Identifikasi dilakukan secara morfologis dengan mencocokan pada buku panduan lapangan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa anggrek yang ditemukan di Gunung Galunggung berjumlah sepuluh spesies yang terdiri dari anggrek epifit maupun anggrek terestrial. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk dapat mengeksplorasi lebih banyak anggrek yang terdapat di kawasan Gunung Galunggung Kabupaten Tasikmalaya.