Ahmad Mushonnif, Ahmad
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

FRAGMENTASI OTORITAS ANTAR ORGANISASI PEMERINTAH DAN ORGANISASI KEAGAMAAN DALAM PENENTUAN AWAL BULAN ISLAM Mushonnif, Ahmad
The Indonesian Journal of Islamic Family Law Vol 3 No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah dan Hukum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.885 KB)

Abstract

Abstrak: Fragmentasi otoritas keagamaan di kalangan umat Islam adalah fenomena nyata yang harus diakui membawa dampak positif dan juga negatif. Umat Islam cenderung terkotak-kotak dalam faksi-faksi dan terjebak dalam fanatisme kelompok yang terkadang berlebihan. Di satu sisi semangat Ijtihad mulai berkembang meskipun terkadang untuk bersaing dengan kelompok lain. Bagaimanapun persatuan umat Islam harus diutamakan agar tujuan utama ajaran Islam dalam membentuk masyarakat yang damai dan kondusif dapat terealisasi. Di tengah situasi otoritas agama yang terus terfagmentasi, semua pihak harus bersikap bijak. Karena fragmentasi otoritas keagamaan tersebut merupakan keniscayaan. Yang perlu dikembangkan dan ditingkat usaha untuk berdialog agar sikap tasamuh, toleransi satu sama lain semakin. Selain itu sikap eksklusif, dan fanatisme kelompok perlu diminimalisasi. kecenderungan untuk saling mendominasi dan menghegemoni di antara otoritas tersebut harus segera dihilangkan. Sinergi di antara berbagai otoritas harus ditumbuhkan, agar dapat menimbulkan suasana psikologis yang nyaman dan kondusif bagi umat dalam menjalankan ajaran agamanya dan kehidupan sosialnya.Kata Kunci: Fragmentasi, otoritas, organisasi, pemerintah, keagamaan. 
FRAGMENTASI OTORITAS ANTAR ORGANISASI PEMERINTAH DAN ORGANISASI KEAGAMAAN DALAM PENENTUAN AWAL BULAN ISLAM Mushonnif, Ahmad
Al-Hukama' : The Indonesian Journal of Islamic Family Law Vol. 3 No. 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Study Program of Islamic Family Law  (ahwal As-Syakhsiyyah)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Fragmentasi otoritas keagamaan di kalangan umat Islam adalah fenomena nyata yang harus diakui membawa dampak positif dan juga negatif. Umat Islam cenderung terkotak-kotak dalam faksi-faksi dan terjebak dalam fanatisme kelompok yang terkadang berlebihan. Di satu sisi semangat Ijtihad mulai berkembang meskipun terkadang untuk bersaing dengan kelompok lain. Bagaimanapun persatuan umat Islam harus diutamakan agar tujuan utama ajaran Islam dalam membentuk masyarakat yang damai dan kondusif dapat terealisasi. Di tengah situasi otoritas agama yang terus terfagmentasi, semua pihak harus bersikap bijak. Karena fragmentasi otoritas keagamaan tersebut merupakan keniscayaan. Yang perlu dikembangkan dan ditingkat usaha untuk berdialog agar sikap tasamuh, toleransi satu sama lain semakin. Selain itu sikap eksklusif, dan fanatisme kelompok perlu diminimalisasi. kecenderungan untuk saling mendominasi dan menghegemoni di antara otoritas tersebut harus segera dihilangkan. Sinergi di antara berbagai otoritas harus ditumbuhkan, agar dapat menimbulkan suasana psikologis yang nyaman dan kondusif bagi umat dalam menjalankan ajaran agamanya dan kehidupan sosialnya.Kata Kunci: Fragmentasi, otoritas, organisasi, pemerintah, keagamaan. 
MODEL PENAFSIRAN MAINSTREEM DAN NON-MAINSTREEM (TINJAUAN ATAS PENAFSIRAN AYAT DAN HADIS HISAB RU’YAH) Mushonnif, Ahmad
INOVATIF: Jurnal Penelitian Pendidikan, Agama dan Kebudayaan Vol. 6 No. 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Ali Muchasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Differences related to the establishment of the beginning of the month of Hijriyah, especially in Indonesia, are related to the model of interpretation of the Qur'anic texts and the traditions related to them. Based on typology, there are three interpretive models, namely the bi al-Ma'thu> r interpretation model that gives rise to the Rukyat madhhab, bi al-Ra'y Madhhab Hisab, both are mainstream and Isyari> which give rise to non-mainstream madhhab with methods such as the use of the inner eye , dreamy with a black cloth, using certain numbers and others. Each of these interpretive models colors the pattern of Muslim thought, especially in Indonesia