Articles

Found 7 Documents
Search

Pengaruh Dosis Pupuk N, P, dan K terhadap Kecernaan Secara In Vitro Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) cv. Taiwan yang di Inokulasi CMA Glomus manihotis pada Lahan Bekas Tambang Batubara Ifradi, Ifradi; Evitayani, Evitayani; Fariani, A; Warly, L; Suyitman, Suyitman; Yani, S; Emikasmira, Emikasmira
Jurnal Peternakan Indonesia (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Peternakan Indonesia
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jpi.14.1.279-285.2012

Abstract

This objective of the research was to investigated the digestibility of dry matter, organic matter and crude protein of elephant grass cv. Taiwan by in vitro technique. The method of research was using a Random Design Group with 5 treatments and 4 replications. The treatment A (100% N, P and K without CMA), treatment B (100% N, P, and K + 10gr of CMA), treatment C (75% N, P, and K + 10gr of CMA), treatment D (50% N, P, and K + 10gr of CMA) and treatment E (25% N, P, and K + 10gr of CMA), respectively. The results of the research showed that the effects of dry matter, organic matter and crude protein digestibility were not significantly (P<0.05) different between the treatments. The dry matter digestibility of elephant grass cv. Taiwan ranged from 53.47% to 57.72%, organic matter digestibility ranged from 57.66% to 63.75%, and crude protein digestibility ranged from 65.67% to 70.70%, respectively. It could be  concluded that the given of 25% of N, P, and K + 10 gram of CMA glomus manihotis was better the digestibility on dry matter, organic  matter and crude protein. Therefore, it means that the same value with fertilizer N, P, and K 100%  without CMA.
The Concentration of Zn, Fe, Mn, Cu and Se in Fiber Fractions of Legumes in Indonesia Evitayani, Evitayani; Warly, L
ANIMAL PRODUCTION Vol 12, No 2 (2010): May
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman, Faculty of Animal Science, Purwokerto-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study was carried out to evaluate concentration of micro minerals (Zn, Fe, Mn, Cu and Se) of forages and their distribution in fiber fraction (neutral detergent fiber/NDF and acid detergent fiber/ADF) in West Sumatra during dry and rainy seasons. Four species of common legume namely Leucaena leucocephala, Centrocema pubescens, Calopogonium mucunoides and Acacia mangium were collected at native pasture during rainy and dry seasons. The results showed that micro minerals concentration of forages and their distribution in fiber fraction varied among species and season. In general, concentration of micro minerals was slightly higher in rainy season compared to dry season either in legumes forages. Data on legume forages showed that 75% of legumes were deficient in Zn and Mn, 62.5 % deficient in Cu and 50 % deficient in Se. There was no species of legume deficient in Fe. Distribution of micro minerals in NDF and ADF were also significantly affected by species and season and depends on the kinds of element measured. Generally, micro minerals were associated in fiber fractions and it yield much higher during dry season compared to rainy season. Iron (Fe) and selenium (Se) in forages were the highest elements associated in NDF and ADF, while the lowest was found in Copper (Cu). (Animal Production 12(2): 105-110 (2010)Keywords: Seasons, forages, micro mineral distribution, fiber fraction
PENGARUH PEMBERIAN CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULA (CMA) DAN PUPUK N, P DAN K PADA LAHAN BEKAS TAMBANG BATUBARA TERHADAP KANDUNGAN MINERAL MAKRO RUMPUT GAJAH (PENNISETUM PURPUREUM) CV. TAIWAN Evitayani, Evitayani; Khalil, Khalil; Dirgantara, E.; Lidra, M.; Yolanda, Yolanda
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 5 No 1 (2015): Pastura Vol. 5 No. 1 Tahun 2015
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/Pastura.2015.v05.i01.p03

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan CMA dan pupuk N, P dan K terhadap kandungan mineral makro pada lahan kritis bekas tambang batubara. Perlakuan yang diberikan terdiri dari A = 100% pupuk N, P dan K tanpa CMA, B = 100% pupuk N, P dan K + CMA, C = 75% pupuk N, P dan K + CMA, D = 50% pupuk N, P dan K + CMA, dan E = 25% pupuk N, P dan K + CMA. Analisa data menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 5 perlakuan dan 4 ulangan. Parameter yang diamati adalah kandungan mineral makro (P, Ca, Mg dan S). Hasil analisis RAK dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh antar perlakuan berbeda tidak nyata (P&gt;0.05) terhadap kandungan mineral makro rumput Gajah CV. Taiwan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemakaian pupuk N, P dan K pada perlakuan E (25% pupuk N, P da K + CMA) yang mana kandungan mineral P = 0,30%, Ca = 1,23%, Mg = 1.55% dan S = 0.30% memberikan hasil yang relatif sama terhadap kandungan mineral makro rumput Gajah cv. Taiwan dengan pemberian 100% pupuk N, P dan K tanpa CMA.Keywords : CMA, pupuk N, P dan K, Mineral makro (P, Ca, Mg dan S)
IPTEK BAGI MASYARAKAT PADA KELOMPOK TANI TERNAK DI SUNGAI PERMAI, LAMBUNG BUKIK Evitayani, Evitayani; Marlida, Yetti; Yuniza, Ahadiyah; Hellyward, James; , Suyitman, , Suyitman; Harnentis, Harnentis
Jurnal Hilirisasi IPTEKS Vol 1 No 3a (2018): September 2018
Publisher : LPPM Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/hilirisasi.1.3.81-91.2018

Abstract

Propinsi Sumatera Barat memiliki pertanian relatif luas dengan bahan pakan seperti jerami padi, Rumput Gajah dan kelompok legume yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan ternak sapi potong. Luas keseluruhan Kota Padang adalah 694,96 km², dan lebih dari 60% dari luas tersebut, sekitar ± 434,63 km² merupakan daerah perbukitan yang ditutupi hutan lindung, sementara selebihnya merupakan daerah efektif perkotaan. Sedangkan keadaan topografi kota ini bervariasi, 49,48% luas wilayah daratan Kota Padang berada pada wilayah kemiringan lebih dari 40% dan 23,57% berada pada wilayah kemiringan landai. Wilayah timur ini terdiri dari beberapa kecamatan yaitu mulai utara ke selatan berturut- turut dari Kecamatan Koto tangah, Pauh, Kuranji, dan Lubuk kilangan. Daerah Pauh seperti desa Lambung Bukik yang termasuk ke dalam program forum Pertides (perguruan tinggi untuk desa) yang bekerjasama yang diawali MOU Rektor tahun 201 dengan Kemendes PDTT) untuk mempersiapkan dan melaksanakan program membantu desa membangun. Sebagian pendapatan mereka diperoleh dari beternak dan bercocok tanam. Secara umum, baik usaha pertanian maupun peternakan masih dilaksanakan secara tradisional, sehingga tidak mengherankan apabila hasil yang diperoleh pun relatif rendah. Ternak sapi hanya dikandangkan atau ditambatkan pada malam hari, sedangkan siang harinya dilepas untuk mencari makanan &nbsp;dipadang rumput atau dilahan tidur sekitar desa. Baru sedikit &nbsp;upaya untuk memelihara ternak secara intensif dengan mengandangkan dan memberikan makanan secara cukup dan teratur. Rendahnya produksi ternak selain disebabkan oleh kurangnya pengetahuan peternak dalam cara pemeliharaan ternak yang benar, juga karena kurangnya pakan baik hijauan maupun mahalnya harga konsentrat. Dengan meningkatnya populasi ternak tentu membutuhkan hijauan yang lebih banyak dan mencukupi sepanjang tahun. Namun, penyediaan hijauan tersebut mengalami hambatan yang cukup serius. Salah satunya, adanya musim kemarau yang menyebabkan menurunnya produksi hijauan. Oleh karena itu usaha pengembangan ternak sapi potong akan lebih menguntungkan apabila dapat mencari alternatif pengganti hijauan konvensional dengan penggunaan silo sebagai tempat fermentasi pakan. Pemanfaatan hasil ikutan pertanian (seperti jerami padi) dan tanaman pangan lainnya sebagai pakan ternak diharapkan dapat menjawab permasalahan di atas. Hal ini dimungkinkan karena pemeliharaan ternak sapi pada umumnya terintegrasi dengan usaha tani lainnya khususnya tanaman pangan (sawah) sehingga hasil ikutan pertanian akan tersedia sepanjang tahun. Oleh sebab itu, perlulah semacam sentuhan teknologi pakan dengan pemanfaatan agroindustri by product seperti jerami yang terbukti available setiap saat. Pelaksanaan pengaplikasian teknologi amoniasi jerami padi dilapangan dengan pemberian langsung amoniasi yang sudah dismpan dan diber kotoran ayam. Partisipasi dan motivasi kelompok petani peternak dalam mengikuti serangkaian kegiatan pengabdian sangat tinggi. Karena selama ini belum pernah dilakukan pembinaan yang berkaitan dengan aspek teknis serta manajemen dalam pemeliharaan sapi potong. Peternak sudah tahu bagaimana manajemen dalam penggemukan sapi potong seperti pemberian konsentrat seperti bungkil kelapa, bungkil kedele, tepung ikan, ampas tahu dan dedak serta pemberian mineral premix.
SIDO MAKMUR MENUJU DESA MAJU, SEJAHTERA DAN MANDIRI SIDO MAKMUR Evitayani, Evitayani; Syaiful, Ferry Lismanto
BULETIN ILMIAH NAGARI MEMBANGUN Vol 1 No 4: Desember 2018
Publisher : LPPM Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/bnm.1.4.156-163.0

Abstract

Kabupaten Kepulauan Mentawai adalah salah satu dari sekian banyak kabupaten di Indonesia yang bisa dikatakan masih tertinggal. Konsep daerah tertinggal kontras dengan konsep nagari madani. Universitas Andalas untuk tahun 2018 mengangkat tema KKN PPM untuk KKN Tematik NDC. Salah satunya di desa Sido Makmur, kecamatan Sipora Utara, kabupaten Kepulauan Mentawai. Sesuai dengan ketetapan pemerintah tentang otonomi daerah bahwa desa harus bisa mengolah dan mengatur sendiri pemerintahannya. Hal ini juga harus sejalan dengan pelaksaaannya bahwa harus dilaksanakan pemberdyaaan masyarakat yang ada di desa agar bisa mewujudkan program Desa Mandiri. Mahasiswa Universitas Andalas dalam pelaksanaan KKN (Kuliah Kerja Nyata) membantu mewujudkan pelaksanaan program tersebut dengan bentuk pengabdian kepada masyarakat berbekal ilmu pengetahuan yang diperoleh selama kuliah. Bekerja sama dengan berbagai lapisan elemen di masyarakat desa, seperti pemerintah desa, masyarakat, lembaga adat, kelompok pemuda, karang taruna, lemabaga pemberdayaan masyarakat (LPM), kelompok PKK dan lain sebagainya. Beberapa program kerja yang telah direncanakan berjalan baik dan lancar karena kerja sama yang terjalin. Diantaranya survei penduduk, pelatihan Microsoft Office kepada perangkat desa, penyuluhan kesehatan kepada masyarakat, sosialiasasi kepada siswa-siswi SMA tentang jurusan dan motivasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Substitusi Titonia (Tithonia diversifolia) dengan Baglog Pelepah Sawit yang Difermentasi dengan Pleurotus ostreatus terhadap Ketersediaan Mineral Makro pada Kambing Peranakan Etawa (PE) Rianita, R.; Metri, Y.; Evitayani, Evitayani; Warly, L.
Jurnal Peternakan Indonesia (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 21, No 3 (2019): Jurnal Peternakan Indonesia
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jpi.21.3.311-318.2019

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Titonia (Tithonia diversifolia) dan limbah baglog pelepah sawit dari budidaya jamur tiram putih (Pleoratus ostreatus) terhadap kecernaan bahan kering (KcBK) dan kecernaan bahan organik (KcBO), serta ketersediaan mineral makro pada kambing PE. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen Rancangan Acak Kelompok dengan 4 kali ulangan. Perbandingan antara hijauan dan konsentrat adalah 60 : 40. Perlakuan dalam penelitian ini adalah: A = 0 % Baglog + 40 % Konsentrat + 60 % Titonia, B = 20 % Baglog + 40 % Konsentrat + 40 % Titonia, C = 30 % Baglog + 40 % Konsentrat + 30 % Titonia, dan D = 40 % Baglog + 40 % Konsentrat + 20 % Titonia. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah; kecernaan bahan kering (BK) dan bahan organik (BO), ketersediaan hayati (bioavailability) mineral makro (Ca, P, Mg, S). Pada penelitian ini menunjukkan hasil bahwa pemberian titonia yang disubstitusikan dengan baglog pelepah sawit memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap KcBK(64,59%) dan KcBO (59,73%). Mineral makro Ca, P, Mg dan S memiliki Biovailabilitas sebesar (68,30%, 72,55%, 71,40%, 73,49%). Peningkatan level baglog pelepah sawit hingga 40% masih memberikan nilai kecernaan yang baik terhadap kecernaan BK dan BO, serta masih dapat menyediakan kebutuhan mineral makro diatas 60% dari total elemen yang dikonsumsi.
Reproductive Performance of Female Kacang Goats Supplemented by Mineral Under a Tethering Feeding System Khalil, Khalil; Bachtiar, A.; Evitayani, Evitayani
Tropical Animal Science Journal Vol 42, No 3 (2019): Tropical Animal Science Journal
Publisher : Faculty of Animal Science, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5398/tasj.2019.42.3.215

Abstract

Inadequate feed intake and nutrient supply are associated with the suboptimal reproductive performance of Kacang goats reared using a traditional tethering system in the Pariaman region of Indonesia. The objectives of this study were to (i) identify reproductive problems in tethered female Kacang goats, (ii) assess crude nutrient and mineral composition of feed consumed by tethered goats, and (iii) evaluate the beneficial effects of mineral supplementation on reproductive performance of tethered female Kacang goats. A field survey was carried out in Pariaman City and the Padang Pariaman Regency to collect data on reproductive performance as well as blood mineral and hematological profiles of tethered female Kacang goats. Forage and feed samples were collected and analyzed for dry matter (DM), crude protein (CP), and minerals (Ca, P, Mg, Fe, Cu, and Zn) contents. Feed was formulated with supplemented complete minerals in either block form or mixed with feed. A total of 15 young female Kacang goats received feed without supplement (P0, n=5), or mineral supplement with feed (P1, n=5), or in a manually prepared block lick (P2, n=5). Parameters measured included body weight, number of pregnant goats, blood mineral concentrations, hematological parameters, total protein concentrations, and progesterone concentrations. Results of the field survey showed that the age of maturity of female Kacang goats reared under a tethering system ranged between 5 and 9 months and the first kidding occurred between 12 and 23 months. The suboptimal reproductive performance of female Kacang goats raised using a tethering system was closely related to the inadequate feed intake and nutritional deficiency. Supplementation with minerals is an effective method to enhance nutritional status and health to increase pregnancy rate of tethered female Kacang goats.