Hardoyo, Su Rito
Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

Partisipasi Masyarakat Anggota Koperasi Hutan Jaya Lestari dalam Pembangunan Hutan Rakyat di Kabupaten Konawe Selatan Sukisman, Sukisman; Hardoyo, Su Rito; Setiawan, Bhakti
Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 2 (2011): September 2011
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.79 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13399

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini dilakukan di Hutan Jaya Lestari koperasi di Kabupaten Konawe Selatan di lihat sukses untuk memotivasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam develoment masyarakat hutan. Ini berhasil ditunjukkan dengan tingginya minat masyarakat untuk mengasosiasikan dengan KHJL. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi bentuk bangunan masyarakat yang dilakukan oleh Koperasi Hutan Jaya Lestari kepada masyarakat, untuk memahami tingkat partisipasi masyarakat dalam pengembangan hutan rakyat, dan untuk mengetahui pengaruh pendidikan, pendapatan, motivasi, kepemimpinan, dan bimbingan, menuju Tingkat partisipasi masyarakat dalam pengembangan hutan rakyat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kombinasi kuantitatif dan kualitatif. Data dikumpulkan dengan survei menggunakan kuesioner, wawancara intensif, observating, dan membuat dokumentasi. Keputusan sampel dilakukan dengan teknik proporsional random sampling, dengan 113 jumlah rumah tangga sampel. Analisis data dilakukan dengan teknik penilaian, dan untuk mengetahui pengaruh antara variabel dengan menggunakan Pearson Product Moment uji korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pembangunan masyarakat yang dilakukan oleh Koperasi Hutan Jaya Lestari yang menganugerahkan bantuan benih sebagai stimulus, konseling, pelatihan, pemantauan lokasi hutan kemasyarakatan, dan membantu para petani untuk berhubungan dengan benih penyedia dan instansi pemerintah. Tingkat partisipasi masyarakat dalam pengembangan hutan rakyat pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pemeliharaan diklasifikasikan menengah. Pendidikan dan pendapatan tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat partisipasi masyarakat dalam pengembangan hutan rakyat, sedangkan motivasi, kepemimpinan, dan konstruksi menunjukkan pengaruh yang signifikan. Yang paling berpengaruh faktor untuk tingkat partisipasi masyarakat adalah motivasi. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menyarankan bahwa pemerintah daerah Konawe Selatan melakukan pembangunan masyarakat dan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berpartisipasi untuk pembangunan hutan. ABSTRACT This research was conducted at Hutan Jaya Lestari cooperative in South Konawe regency viewed succesful to motivate the society to participated in develoment of forest community. This succeed is shown with the high interest of the society to associate with KHJL. The research aims to evaluate the forms of  community building done by Hutan Jaya Lestari Cooperative to society, to understand the society’s participation level in development of community forest, and to know the effect of education, income, motivation, leadership, and guidance, toward the society’s participation level in development of community forest.The method used in this study is the combination of quantitative and qualitative. The data were collected with survey using a questionnaire, interviewing intensively , observating, and making documentation. The samples decision was done by proportional random sampling technique, with 113 number of sample households. The analysis of data was conducted with scoring techniques, and to know the influence between variables by using Pearson Product Moment correlation test. The result of research shows that the community building program done by Hutan Jaya Lestari Cooperative are bestowing of seed aid as a stimulus, counseling, training, monitoring the location of community forest, and helping the farmers to relate to seed providers and government institution. The level of society’s participation in development of community forest at the stage of planning, implementation, and maintenance classified medium. Education and income do not influence significantly to the level of society’s participation in development of community forest, whereas the motivation, leadership, and construction  indicate significant influence. The most influence factor to the level of society’s participation is motivation. Based on the result of the research, the authors suggested that the regional government of South Konawe conduct community building and provide opportunities to communities for participate to forest development.
Dampak Konservasi Lahan terhadap Lingkungan Lahan Pertanian dan Strategi Adaptasi Petani di Kecamatan Mejayan , Madiun Raharjo Pepekai, Agus Eko; Muta’ali, Lutfhi; Hardoyo, Su Rito; Sudrajat, Sudrajat; Harini, Rika
Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 2 (2014): September 2014
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4139.202 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13070

Abstract

ABSTRAK Penetapan Kecamatan Mejayan sebagai ibu kota Kabupaten Madiun mendorong perkembangan wilayah Kecamatan Mejayan semakin cepat. Hal ini ditunjukan oleh meningkatnya kebutuhan lahan terbangun, sehingga mendorong terjadinya konversi lahan pertanian yang intensif. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan yang hendak dicapai adalah :1) mengkaji dampak konversi lahan pertanian terhadap kondisi lingkungan lahan pertanian serta kondisi sosial ekonomi petani; 2) mengkaji bentuk strategi adaptasi yang dilakukan petani dalam menghadapi konversi lahan pertanian; 3) mengkaji pengaruh konversi lahan terhadap strategi adaptasi petani. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pengambilan sampel secara proporsional dari masing masing-masing status petani. Jumlah sampel sebanyak 96 responden terdiri dari 46 responden petani pemilik lahan, 31 responden petani penggarap, 19 responden buruh tani. Data yang digunakan terdiri dari data primer berupa kuisioner dan wawancara mendalam serta data sekunder dari instansi terkait. Metode analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif, dengan uji statistik chi kuadrat dan koefisien kontigensi. Hasil penelitian menunjukan konversi lahan pertanian di Kecamatan Mejayan berdampak negatif terhadap lingkungan lahan sawah, antara lain semakin berkurangnya lahan usahatani, kerusakan saluran irigasi, serta menurunnya kesuburan tanah akibat sampah rumahtangga. Terdapat perbedaan bentuk strategi adaptasi dari masing-masing rumahtangga petani diantaranya 56,5 % pemilik lahan menerapkan strategi akumulasi, 87,1 % petani pengarap menerapkan strategi konsolidasi dan 84,2% dari buruh tani menerapkan strategi survival. Faktor kondisi sosial ekonomi dengan nilai koefisien kontigensi 0,557 dan kepemilikan aset dengan nilai koefisien kontigensi 0,462 berpengaruh secara nyata terhadap bentuk strategi adaptasi petani, di antara kedua faktor tersebut status kondisi sosial ekonomi lebih kuat pengaruhnya terhadap bentuk strategi adaptasi petani. ABSTRACT The determination district of Mejayan to be capital city of Madiun regency encourages the fast development of district Mejayan. It is evidenced by the increasing needs of undeveloped land, so that encourage the intensive conversion of agricultural land. According to the situations, there are two goals to be reached: 1) to assess the impact of the conversion agricultural land to the environmental condition of agricultural land as well as socio-economic conditions of farmers; 2) to analyze what strategies adaptation of the farmers in facing the conversion of agricultural land; 3) to analyze the effect of conversion land to the farmer adaptation strategies. This study has a survey method by taking a proportional sampling of each farmer status individually. The total samples of 96 respondents are 46 respondent peasant land owners, tenant farmers 31 respondents, and 19 respondents laborer. The data use consists of primary data, in a questionnaires and in-depth interviews, then secondary data from relevant agencies. Methods of data analysis use a quantitative descriptive analysis, the chi squared test and contingency coefficient. The results show conversion of agricultural land in the district of Mejayan has a negative effect to the wetland environment, such as the less land farming, irrigation canals damage, and declining soil fertility due to household waste. There are different adaptation strategy of each farm household; 56.5% land owner applying accumulation strategies, 87.1% of tenant farmers implementing consolidation strategies and 84.2% of farm workers applying survival strategies. The condition of socio-economic with contingency coefficient value 0.557 and the ownership assets with a contingency coefficient value 0,462 influence really to the farmer adaptation strategies, in both factors status socio economic condition give a stronger influence to the form of farmer adaptation strategies.
DESA ADAT TENGANAN PEGRINGSINGAN DALAM PENGELOLAAN HUTAN DI DESA TENGANAN, KECAMATAN MANGGIS, KARANGASEM, BALI Putri, Karidewi Made; Hardoyo, Su Rito; Santosa, Langgeng Wahyu
Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.676 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13402

Abstract

ABSTRAK Bagi masyarakat adat di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, keberadaan sebuah kearifan lokal yang berupa aturan adat atau “awig-awig” memiliki peranan yang begitu besar dalam melakukan pengelolaan hutan setempat. Hal ini terbukti dengan masih terjaganya kelestarian hutan hingga saat ini. Masalah yang muncul adalah bahwa eksistensi “awig-awig” yang telah diwariskan sejak abad ke-11 tidak hanya ditentukan oleh adanya pengakuan dari masyarakat adatnya sendiri namun juga oleh faktor-faktor internal dan eksternal yang melingkupi “awig-awig” dalam melaksanakan fungsinya.Tujuan penelitian adalah mengkaji sejauhmana efektivitas pelaksanaan kearifan lokal serta faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat efektivitas pelaksanaannya dalam pengelolaan hutan di wilayah penelitian. Lebih lanjut penelitian bertujuan menemukan konsep persepsi masyarakat terhadap efektivitas kearifan lokal. Konsep tersebut menjadi dasar dalam menyusun strategi pengelolaan hutan berbasis kearifan lokal.Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan metode pengumpulan data sebagian besar dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi, disamping interpretasi data sekunder sebagai pelengkap. Penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data secara induktif dengan metode kategorisasi. Pemeriksaan derajat kepercayaan data menggunakan teknik triangulasi sumber.Penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas pelaksanaan kearifan lokal dalam prakteknya secara umum masih berjalan cukup efektif meskipun substansi tiap-tiap pasal memiliki kelemahan masing-masing. Ketaatan masyarakat adat mematuhi aturan masih cukup tinggi dan pelanggaran yang terjadi tidak berpengaruh signifikan terhadap kondisi hutan. Persepsi masyarakat menghasilkan hubungan interelasi antar tiap konsep yang terdiri dari fleksibilitas “awig-awig”, mekanisme pelaksanaan “awig-awig”, partisipasi masyarakat, dan keberlangsungan fungsi hutan. Faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi tingkat efektivitas pelaksanaan kearifan lokal menghasilkan empat kriteria efektivitas yaitu substansi “awig-awig”, pola pengelolaan hutan, pelaku yang terlibat, dan mekanisme pelaksanaan “awig-awig”. Penyusunan strategi pengelolaan hutan yang berbasis pada kearifan lokal ditujukan untuk membenahi sistem pengelolaan tradisional sehingga dapat membantu masyarakat adat dalam melakukan pengelolaan hutan secara lebih efektif. ABSTRACT For the customary community at the customary village of Tenganan Pegringsingan, the existence of local wisdom in form of customary law or “awig-awig” is playing an important role in local forest management. It’s been proved by a well-maintained forest condition which has successfully preserved until these days. Problems are arise when the existence of “awig-awig” which was inherited since 11th century is not only determine by an acknowledgement from the customary community itself but also by some internal and external factors surround “awig-awig” in doing its functions.The aims of this research are to study how far the effectiveness of local wisdom has been carried out as well as several factors which had an effect on the level of effectiveness of local wisdom implementation in forest management over a site. Further, the aim is to discover some concepts of community perception toward the effectiveness of local wisdom. Those concepts become a basis to develop a local wisdom-based forest management strategy.This research was used a qualitative method with data collection mostly through in-depth interview and observation, in addition to secondary data interpretation as a complement.  Samples were selected using a purposive sampling technique. Data were analyzed inductively using a categorization method. Review of data credibility or data trustworthiness using a triangulation-source technique.The result of this research shows that the effectiveness of local wisdom implementation in general is still going fairly effective although the substance of each clause has its own weaknesses. The devotion of customary community to the customary law is still fairly high and the violation of the law has not signified affected the forest condition. The community perception is resulting four concepts of perception which interrelate one another. Those concepts are “awig-awig” flexibility, “awig-awig” implementation mechanism, community participation, and the sustainability of forest functions. All internal and external factors that had an effect on the level of effectiveness of local wisdom implementation were resulting four effectiveness criteria which are “awig-awig” substance, forest management method, people involved, and “awig-awig” implementation mechanism. The development of forest management strategies based on the existing local wisdom are addressed to improve the traditional management system in order to assist the customary community to carry out all tasks related to forest management effectively.
Kajian Peran Lembaga dan Kearifan Masyarakat dalam Pengelolaan Ekosistem Hutan Mangrove secara Terpadu di Delta Mahakam Dianawati, Lenny; Suratman, Suratman; Hardoyo, Su Rito
Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5365.474 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13068

Abstract

ABSTRAK Pada saat ini hutan mangrove di wilayah Delta Mahakam yang mengalami rusak berat seluas 24.035 hektar atau 49,44% dari luasan mangrove di Delta Mahakam, rusak ringan seluas 41.608 hektar atau 27,78% dari luas mangrove di Delta Mahakam, dan yang masih dalam kondisi baik hanya seluas 34.089 hektar atau 22,7% dari luasan mangrove di Delta Mahakam. Sebagian besar kerusakan diakibatkan oleh pembukaan hutan mangrove untuk usaha pertambakan oleh masyarakat yang berasal dari luar wilayah Kalimantan Timur. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 mengamanatkan bahwa Dinas Kehutanan memiliki kewenangan untuk menjaga kelestarian hutan mangrove di perairan termasuk kawasan perairan di Delta Mahakam. Di sisi lain, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan mengatur bahwa wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia untuk penangkapan ikan atau pembudiyaan ikan meliputi sungai, danau, waduk, rawa dan genangan air lainnya yang dapat diusahakan serta lahan pembudidayaan ikan yang potensial di wilayah Republik Indonesia. Dari permasalahan tumpang tindih kewenangan dan peraturan perundangan tersebut, masing-masing sektoral memiliki aturan hukum sendiri-sendiri, sehingga setiap sektor juga memiliki kewenangan sendiri-sendiri. Pengelolaan hutan mangrove tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah saja akan tetapi diperlukan peran serta masyarakat di Kawasan Delta Mahakam untuk mencapai kelestarian hutan mangrove yang terpadu. Peneliti menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menyajikan masalah yang ada sekarang berdasarkan data yang di lapangan mengenai pengelolaan hutan mangrove di wilayah Delta Mahakam. Penelitian ini dilaksanakan di Delta Mahakam, Provinsi Kalimantan Timur. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman wawancara, pedoman observasi, dokumentasi, kamera, dan alat perekam. Cara analisis data meliputi tahapan reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, didapatkan kesimpulan bahwa: (1) Pengelolaan hutan mangrove di Delta Mahakam sendiri melibatkan peran dari masyarakat, swasta, dan pemerintah. Pihak pemerintah yang terkait adalah Badan Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Timur, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur, dan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Kalimantan Timur. Pihak masyarakat dibedakan menjadi masyarakat asli dan pendatang. Masyarakat asli yang bermukim di sekitar hutan mangrove Delta Mahakam melakukan kegiatan perawatan, penanaman, dan pembersihan lingkungan hutan bakau. Sementara masyarakat pendatang yang merupakan pengusaha tambak memberikan sejumlah dana untuk dikelola pemerintah guna memperbaiki kondisi hutan mangrove Delta Mahakam yang rusak akibat kegiatan usaha tambak. (2) Integrasi antara pemerintah dengan masyarakat asli maupun masyarakat pendatang sebagi pengusaha tambak diperlukan guna menjamin terselenggaranya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan ekosistem mangrove sebagai sumberdaya di wilayah pesisir, system penyangga kehidupan, dan kekayaan alam yang bernilai tinggi. ABSTRACT At this time the mangrove forest in Delta Mahakam region heavily damaged area of 24 035 hectares (49.44%) of the mangrove area in the Delta Mahakam, covering an area of 41 608 hectares lightly damaged (27.78%), and is still in a state of an area of 34 089 hectares only good (22.7%).Such damage ismostlycaused bythe opening of mangrove forests for aquaculture enterprises bypeople from outside the region of East Kalimantan. Law No.41 of 1999 mandates that the Forest Service has the authority to preserve the mangrove forests in the waters include waters n the Delta Mahakam. On the other hand, the Law Number31of 2004 on Fisheries requires that fishery management area ofthe Republic of Indonesia for fishing or aquaculture, include rivers, lakes, reservoirs, marshes and other stagnant water that can be cultivated and land fish farming potential in the territory of the Republic of Indonesia of the problems of overlapping authority and these regulations, each sector has its ownlaws, so that each sector also has its own authority. Mangrove forestis not entirely the responsibility of the government alone but required the participation ofthe community in the Delta  Mahakam Region to achieve sustainability of integrated mangrove forests. Researchers used a qualitative descriptive approach to present the existing problems based on field data on the management of mangrove forests in the area of the Delta Mahakam. Based on the research and discussion that has been done, it was concluded that: (1) The management of mangrove forest in Delta Mahakam itself involves the role of public, private, and government. Relevant authorities are the Environment Agency East Kalimantan, East Kalimantan Provincial Forestry Office, and the Department of Fisheries and Marine Resources in East Kalimantan province. Parties divided into indigenous communities and migrants. The indigenous people living around the Delta Mahakam mangroves perform maintenance activities, planting, mangrove forests and environmental cleanup. While the immigrant communities who are entrepreneurs add provide some funds for the government managed to improve the condition of the Mahakam Delta mangrove forests damaged by farming activities.(2) Integration between the government and indigenous communities and migrant communities as a farm employer is required to ensure the implementation of the protection, preservation, and utilization of mangrove ecosystems as resources in coastal areas, life support systems, and high-value natural resources. 
Perubahan Penggunaan Lahan dan Faktor yang Mempengaruhinya di Kecamatan Gunungpati Kota Semarang Kusrini, Kusrini; Suharyadi, Suharyadi; Hardoyo, Su Rito
Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.298 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13358

Abstract

ABSTRAK Berbagai fenomena perubahan penggunaan lahan telah terjadi dari waktu ke waktu. Perubahan penggunaan lahan yang terjadi sejalan dengan semakin meningkatnya pertambahan jumlah penduduk yang secara langsung berdampak pada kebutuhan terhadap lahan yang  semakin meningkat. Kecamatan Gunungpati adalah wilayah bagian Kota Semarang yang berada di pinggir selatan dari Kota Semarang yang cenderung bersifat agraris. Sejak di pindahkannya kampus Universitas Negeri Semarang (UNNES) dari Kecamatan Gajahmungkur ke Kecamatan Gunungpati Tahun 1990, Kecamatan Gunungpati mulai mengalami perubahan penggunaan lahan, dari penggunaan lahan pertanian berubah menjadi penggunaan lahan non pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk  perubahan mengkaji luas dan bentuk penggunaan lahan tahun 2008 dan mengetahui faktor yang mempengaruhinya.Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis peta digital dan analisis statistik. Analisis peta digital dengan menggunakan sistem informasi geografis yang dilakukan dengan cara tumpang susun peta penggunaan lahan hasil interpretasi citra tahun 1994 dan tahun 2008 untuk memperoleh perubahan lahan. Untuk memperoleh faktor yang mempengaruhi perubahan lahan dengan cara analisis statistik korelasi antara variabel bebas perubahan lahan Kecamatan Gunungpati tahun 2008 dengan variabel pengaruh yaitu jarak tiap kelurahan dengan pusat aksesibilitas, Pertambahan penduduk, penduduk pendatang, Proporsi penduduk yang bekerja di sektor non pertanian. Unit analisis yang digunakan adalah kelurahan.Perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Gunungpati dari tahun 1994 hingga tahun 2008 terjadi bervariasi, ada yang mengalami peningkatan dan ada yang menunjukkan  pengurangan luas penggunaan lahan. Untuk luas lahan yang bertambah yaitu lahan permukiman sebesar 1311,28 ha (21,84%),dan luas lahan jasa/komersil 60.43 ha (1,00%). Luas penggunaan lahan yang berkurang diantaranya penggunaan lahan kebun campur sebesar 2766,71 ha (46,09%), luas penggunaan lahan sawah sebesar 1121,44 ha (18,68%), luas lahan  tegalan sebesar 743,22 ha (12,38%). Hasil analisis statistik korelasi menunjukkan hanya penduduk pendatang dan jarak aksesibilitas yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Gunungpati secara signifikan, hal ini terjadi karena hampir semua penduduk pendatang bertujuan untuk membangun rumah yang lebih murah dan luas serta pada umumnya bekerja di sektor non pertanian, sehingga bagi pendatang  kebutuhan akan lahan permukiman makin luas yang berakibat pada perubahan penggunaan lahan.ABSTRACT Some phenomenons of land use changes have been happening over time.  Land use changes have occurred in the areas,  were increasy of population, have influenced need path of land.  The Gunungpati Subdistrict is one of regions in the Semarang Municipality situated at the southern part of Semarang Municipality that tends to be agrarian areas.  Since moved location of campus State University of Semarang (UNNES) from the Gajahmungkur Subdistrict to Gunungpati Subdistrict of in 1990, the Gunungpati Subdistrict  has started to change its  land use, that was from agricultural land use changed to be non agriculture land use.  This study was conducted to discuss the distribution and the form of land  use change and to know its influencing factors.In this research uses approach of digital map analysis and statistical analysis. Digital Map analysis wasdone by using geographical information system sefeware which conducted by joining with others to overlay map of land use result of year image interpretation 1994 and year 2008 to obtain  land use change. Analysis factor influencing land use change  wasdone by statistical analysis of correlation between independent variable of land use change Subdistrict of Gunungpati in year 2008 with influence variable these ase distance of center distance of each village with accessibility, population growth, migrants, and The proportion of residents who work in non-agricultural sector. The unit of analysis used is subdistrict.Land use change  in Gunungpati Subdistrict has occurred from  1994 to 2008 of variaous, which happened to in increased  and decreased of in land use. to increase of land use that is setlement was occurred  1311,28 ha (21,84%) and 60.43 ha ( 1,00%) for service/commercial land use. whereas the decreased of wide was occurred 2,776.71 ha (21.84%) in mixing plantation, 1,121.44 ha (18,68%) in farming out, 743.22 ha (12.38%) in dry fielding.  The result of  statistical analysis of correlation showed that it were only the variables of  and center distance of each village with accessibility that influenced significantly to the  land use change in the Gunungpati subdistrict, because it was nearly all of migrants wanted to build the cheaper and house there. and also in non agricultural occupation, so that requirement of setlement land use will more and more wide causing  of land use change.