Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal RISET Geologi dan Pertambangan

MINERALOGI DAN GEOKIMIA BATUGAMPING MERAH PONJONG, GUNUNGKIDUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA – INDONESIA Atmoko, Didik Dwi; Titisari, Anastasia Dewi; Idrus, Arifudin
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 26, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1739.133 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2016.v26.269

Abstract

Batugamping berwarna merah yang tersebar secara setempat-setempat dan berasosiasi dengan batugamping berwarna putih hingga abu-abu yang dijumpai di Daerah Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, termasuk dalam Formasi Wonosari-Punung. Batugamping tersebut perlu diteliti karakteristik mineralogi dan geokimianya, yang sangat diperlukan dalam memahami genesa batugamping di daerah tersebut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah data khususnya batugamping di daerah penelitian maupun Formasi Wonosari-Punung di daerah Pegunungan Selatan. Pengamatan petrografi dan XRD pada batugamping merah menunjukkan hadirnya mineral kalsit, kuarsa, siderit, hematit, dan titanit. Analisis geokimia oksida mayor batugamping merah memperlihatkan tren pengkayaan senyawa SiO2, TiO2, Fe2O3 dan MnO yang diinterpretasikan berhubungan dengan kehadiran mineral-mineral titanit (CaTiSiO5), siderit (FeCO3), hematit (Fe2O3), dan diduga rodokrosit (MnCO3). Mineral-mineral tersebut mempunyai karakteristik warna coklat kekuningan, merah muda sampai merah sehingga dimungkinkan dapat memberikan warna merah pada batugamping. Ada tiga proses yang diinterpretasi berperan dalam genesa batugamping merah Ponjong yaitu pengaruh material terigenus yang mengandung oksida SiO2, Al2O3, Fe2O3, dan TiO2 saat pengendapan batugamping, proses diagenesis oleh air meterorik yang mengkayakan senyawa Fe2O3 dan proses bekerjanya larutan hidrotermal.Red limestone, which is sporadically distributed and associated with white to grey limestone is located in Ponjong area, Gunungkidul District, Daerah Istimewa Yogyakarta. This limestone belongs to the member of Wonosari-Punung Formation. It is necessary to study the mineralogy and geochemistry chracteristics, which are important in understanding the genesis of the limestone. The result of this study might add the geological data for limestone in this study area and Wonosari-Punung Formation as well. The petrographical observation and X-ray diffraction results of red limestone indicated the presence of calcite, quartz, siderite, hematite and titanite. Major element analysis of the red limestone showed enrichment of SiO2, TiO2, Fe2O3 and MnO, which have considered to have relation to the presence of titanite (CaTiSiO5), siderite (FeCO3), hematite (Fe2O3), and rhodochrosite (MnCO3) in the red limestone. The minerals are typically yellowish brown, pink to red in colour, and are therefore interpreted to be responsible in giving red colour of the limestone. There are three processes that are considered in the genesis of the Ponjong red limestone, which are: impact of terrigenous material when deposition of the limestone, diagenesis process of meteoric water that enriched Fe2O3, and processof hidrotermal fluid activity. 
Karakteristik Marmer Daerah Mata Wawatu dan Sanggula, Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara Titisari, Anastasia Dewi; Azzaman, Muhammad Arba
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 29, No 1 (2019)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2217.282 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2019.v29.776

Abstract

Sulawesi Tenggara memiliki potensi marmer terbesar di Indonesia. Salah satu daerah potensi marmer di Sulawesi Tenggara adalah Mata Wawatu dan Sanggula, Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe Selatan. Namun belum ada penelitian rinci mengenai karakteristik marmer yang ada di daerah ini. Karakteristik marmer di daerah penelitian yaitu berwarna abu – abu dengan struktur non foliasi dan tekstur lensa atau augen texture. Secara petrografi, mineral penyusun marmer didominasi dengan ukuran kristal ≤ 0.1 – 1 mm, yaitu mineral kalsit, dolomit, kuarsa, hematit, dan mineral opak. Marmer daerah penelitian memberikan kenampakan tekstur yang bervariasi, yaitu tekstur subidioblastik dan xenoblastik (berdasarkan bentuk individu Kristal), tekstur kristaloblastik (berdasarkan ketahanan terhadap metamorfismenya), tekstur nematoblastik dan granuloblastik (berdasarkan bentuk mineralnya), dan saccaroidal texture dan mortar texture (berdasarkan tekstur khususnya). Sifat keteknikan marmer memberikan nilai yang bervariasi, di mana nilai kuat tekan sebesar 235.718 kg/cm2 – 389.338 kg/cm2, nilai ketahanan aus sebesar 0,0414 mm/menit – 0,0498 mm/menit, dan nilai serapan air sebesar 0,275 % - 0,763 %.  CaO merupakan senyawa yang paling melimpah pada marmer dengan kelimpahan 50,44 % - 55,90 %. Berdasarkan sifat keteknikannya, marmer di daerah penelitian dapat direkomendasikan sebagai batu hias / batu tempel. Berdasarkan spesifikasi senyawa oksida utamanya, marmer bagian timur laut daerah penelitian direkomendasikan untuk industri kertas, pewarna tekstil, penyaringan gula, dan produksi semen sedangkan marmer bagian barat daya daerah penelitian kurang dapat dimanfaatkan. Southeast Sulawesi has the greatest marble potential in Indonesia. One of the marble potential areas in the Southeast Sulawesi is Mata Wawatu and Sanggula, North Moramo District of the South Konawe Regency. However, there is no detailed research on marble characteristics in this area. The marble characteristics in the study area are grey with non-foliation structures and lens texture or augen texture. Petrographically, constituent minerals of the marble are dominated by crystal size ≤ 0.1 - 1 mm which are calcite, dolomite, quartz, hematite, and opaque minerals. The research area's marble provides varied texture features, namely subidobobastic and xenoblastic textures (based on individual form crystals), crystalloblastic textures (based on resistance to metamorphism), nematoblastic and granuloblastic textures (based on their mineral form), and saccharoidal texture and mortar texture (based on texture in particular). The properties of marble engineering give varying values, where the compressive strength value is 235.718 kg / cm2 – 389.338 kg / cm2, the wear resistance value is 0.0414 mm / min - 0.0498 mm / min, and the water absorption value is 0.275% - 0.763%. CaO is the most abundant compound on marble with an abundance of 50.44 - 55.90 wt. %. Based on its engineering properties, marble in the research area can be recommended as an ornamental stone. Based on the specification of the main oxide compound, the northeastern marble of the research area are recommended for the paper industry, textile dyes, sugar screening, and cement production whereas the southwestern marble of the research area is less utilizable.