p-Index From 2015 - 2020
1.503
P-Index
This Author published in this journals
All Journal AL-Daulah
Abdullah, Dudung
Jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan

Published : 11 Documents
Articles

Found 11 Documents
Search

Perspektif Al-Qur’an Tentang Posisi Manusia Dalam Memakmurkan Alam Raya Abdullah, Dudung
AL-Daulah Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ad.v5i1.1431

Abstract

Islam     meletakkan     prinsip     persamaan     (egalitarianism)     yangmerupakan  salah  satu  unsur  penting  dalam  doktrin  sosial  politik Islam. kendatipun persamaan yang dimiliki oleh manusia tidaklah secara absolut dalam arti mereka mempunyai persamaan dari segala aspek, sebab secara natural manusia memang memiliki perbedaan berupa perbedaan gender, kemampuan, karakter, agama dan keyakinan  dan  lain  sebagainya.  Namun  sebagai  manusia  mereka tetap sama dan sederajat. Satu-satunya yang menjadi pembeda adalah kualitas takwanya. Oleh karena itu setiap manusia siapa pun dia dan apapun agama dan keyakinannya harus tetap dihargai dan dihormati   hak-hak   asasinya,   sekaligus   menerima   suatu   prinsip bahwa setiap warga negara tak terkecuali warga negara non-muslim memiliki hak politik yang sama dengan umat Islam untuk memilih dan dipilih menjadi presiden dalam sebuah komunitas muslim. 
KONSEP MANUSIA DALAM AL-QUR’AN (Telaah Kritis tentang Makna dan Eksistensi) Abdullah, Dudung
AL-Daulah Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ad.v6i2.4886

Abstract

Manusia adalah makhluk terbaik ciptaan Tuhan. Manusia dalam redaksi ayat Al Quran mempunyai beberapa term, seperti al nas, al ins, al insan, dan Bani Adam. Dari term-term tersebut sebagian maknanya bisa terungkap yang memberi informasi tentang asal penciptaan manusia dan perilakunya. Eksistensi Manusia secara umum berperan sebagai hamba Allah (Abd.Allah) dan sebagai pengayom atau pemakmur di permukaan bumi (khalifah Allah).
Musyawarah dalam Al-Quran (Suatu Kajian Tafsir Tematik) Abdullah, Dudung
AL-Daulah Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ad.v3i2.1509

Abstract

Musyawarah merupakan kegiatan perundingan dengan cara bertukar   pendapat   dari   berbagai   pihak   mengenai   suatu masalah  untuk  kemudian  dipertimbangkan  dan  diputuskan serta diambil yang terbaik demi kemaslahatan bersama. Dalam Islam,  musyawarah  adalah  suatu  amalan  yang  mulia  dan penting sehingga peserta musyawarah senantiasa mem- perhatikan etika dan sikap bermusyawarah sambil bertawakkal kepada  Tuhan  Yang  Maha  Mengetahui dan  Maha  Bijaksana. Lapangan atau obyek musyawarah adalah segala problema kehidupan manusia. Namun demikian, tidak semua persoalan dalam Islam bisa diselesaikan dengan cara bermusyawarah. Musyawarah hanya dilaksanakan dalam masalah yang tidak disebutkan secara tegas pada nash Al-Quran dan Sunnah Rasul. Banyak  manfaat  yang  bisa  dipetik  dari  musyawarah,  namun yang paling penting adalah menghormati dan mentaati keputusan yang diambil atas dasar musyawarah, dengan harapan  bisa  meraih  kesuksesan  dengan  kemaslahatan bersama mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat sampai kehidupan bangsa dan negara.
Penetrasi Meraih Kesuksesan Dengan Metode Titah Al-qur’an Abdullah, Dudung
AL-Daulah Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ad.v4i2.1484

Abstract

Al-Qur’an berulang kali memberikan motivasi kepada seluruh manusia terutama kepada orang-orang mukmin untuk meraih kesuksesan (al-falah). Cara meraih kesuksesan tersebut, Al-Quran menegaskan dengan titahnya berupa usaha dan langkah-langkah yang harus ditempuh oleh manusia yang ingin sukses di dunia dan di akhirat. Usaha dan langkah tersebut secara umum berupa perintah untuk beriman, beribadah, dan berbuat kebajikan. Semua itu dijalani dengan penuh kesungguhan dan kesabaran.
PERMUSYAWARATAN DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN (Kajian Tafsir Tematik) Abdullah, Dudung
AL-Daulah Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ad.v5i2.4851

Abstract

Abstrak Permusyawaratan adalah suatu kegiatan perundingan dengan cara pertukaran pendapat dari berbagai pihak tentang suatu masalah untuk kemudian dipertimbangkan dan diputuskan serta diambil yang terbaik guna kemaslahatan bersama. Al-Quran memandang musyawarah sebagai amalan yang mulia dan penting sehingga peserta musyawarah harus memperhatikan etika dan sikap ketika bermusyawarah. Musyawarah hendaknya bertawakkal kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.
Pesona Tafsir MawḌu‘Ī Penetrasi dalam Membahas dan Menjawab Realita Abdullah, Dudung
AL-Daulah Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ad.v3i1.1522

Abstract

Tafsir Mawḍu‘ī atau Tafsir Tematik adalah pembahasan ayat Al- Qur’an yang berangkat dari suatu tema. Tema tersebut bisa diambil dari Al-Qur’an sebagai topik inti kajian atau bisa juga dari realita kehidupan yang akan dibedah oleh mata pisau dalil dan argumen Al-Qur’an. Di sinilah penetrasi atau terobosan metode tafsir yang satu ini dalam menghadapi multi persoalan
Pemikiran Syekh Muhammad Abduh Dalam Tafsir Al-Manar Abdullah, Dudung
AL-Daulah Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ad.v1i1.1410

Abstract

Muhammad Abduh adalah seorang pembaharu dalam pemikiran Tafsir di Timur Tengah, khususnya di Mesir. Geliat kebangkitan tafsir modern yang dirintisnya, merubah dan mewarnai gaya dan corak tafsir periode sebelumnya. Jalan pikiran Muhammad Abduh dalam Tafsir al-Manar terdapat dua landasan pokok yaitu peranan akal dan peranan kondisi sosial.
Perspektif Al-Qur’an Tentang Posisi Manusia Dalam Memakmurkan Alam Raya Abdullah, Dudung
AL-Daulah Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ad.v5i1.1451

Abstract

Gods authority and control the universe of natural riches to humans and all other creatures with affection. Man was created as a servant of God and inheritors of God. As inheritors of God, he has the authority, potency, and the freedom to prosper nature of the universe that have been subjugated Allah. With the ability of mind, intelligence and vision science, humans are able to organize and preserve lives peacefully with other creatures. Humans as bearers of the message of God to inhabit the universe must be within the law and the rule of God and never against sunatullah which he set forth.
Konsep Kebajikan (Al-Birr) dalam Al-Qur’an: Suatu Analisis QS. Al-Baqarah/2: 177 Abdullah, Dudung
AL-Daulah Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ad.v4i1.1500

Abstract

Al-Birr adalah salah satu term yang terdapat dalam Al-Qur’an. Al-Birr artinya kebajikan atau berbuat baik. Berbuat baik diusahakan sebanyak mungkin dan sebaik mungkin. Manusia berbuat baik dengan cara meneladani Allah swt. “Yang Maha Berbuat Baik” (Al-Barru). Manusia berbuat baik dalam tiga bidang pokok, yakni bidang akidah, bidang ibadah dan bidang akhlak.
KOMUNITAS YANG GAGAL MERAIH KESUKSESAN (Tafsir Analisis tentang Term al-Sāhirūn, al-ẓālimūn dan al-Kāfirūn) Abdullah, Dudung
AL-Daulah Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/ad.v7i1.5327

Abstract

Al-Qur’an dalam berbagai ayatnya yang memaparkan komunitas yang bisa meraih kesuksesan atau keberuntungan (al-falah), namun disisi lain terdapat pula komunitas yang gagal meraih kesuksesan. Hal ini nampak dengan redaksi jelas “La yuflihu” tidak (mungkin) sukses atau beruntung. Komunitas tersebut antara lain, tukang sihir (al-Sāhirūn), orang zalim (al-ẓālimūn), dan orang kafir (al-Kāfirūn).