This Author published in this journals
All Journal Mozaik Humaniora
Nurcahyani, Eka
Faculty of Humanities - Universitas Airlangga

Published : 1 Documents
Articles

Found 1 Documents
Search

Potret Ketertindasan Rakyat dalam Novel Nyanyian Kemarau Karya Hary Kori’un Nurcahyani, Eka
Mozaik Humaniora Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Humanities - Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.585 KB) | DOI: 10.20473/mh.v14i2.7813

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap ketertindasan rakyat di pedalaman Riau dan perlawananyang mereka lakukan dalam novel Nyanyian Kemarau karya Hary B. Kori’un. Penelitian ini adalahpenelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra. Penelitian ini mengungkapketertindasan rakyat melalui analisis tokoh dan penokohan, alur, latar tempat dan waktu, dan tema.Unsur-unsur karya sastra tersebut akan dikaitkan dengan pendekatan sosiologi sastra menurut SapardiDjoko Damono. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa novel yang dibagi menjadi tiga bagian yangmasing-masing menceritakan satu fase kehidupan tokoh utamanya yang bernama Rusdi AhmadSubadra ini mengangkat sejumlah peristiwa yang benar-benar terjadi di dalam kehidupan nyata,seperti peristiwa kerusuhan Mei 1998, pembangunan PLTA Koto Panjang tahun 1993, dan pembalakanliar di pedalaman Riau. Melalui novel ini, jiwa jurnalistik Kori’un untuk secara jujur mengungkapkanmasalah-masalah sosial dan lingkungan di masyarakatnya terejawantahkan meskipun dibalut dengankisah-kisah fiksi. Melalui tokoh Rusdi, ia sebagai pengarang sekaligus wartawan memosisikan dirisebagai pengarang yang secara sadar mengemban misi untuk menyampaikan kebenaran. Kori’unsebagai pengarang sekaligus wartawan menggunakan tokoh Rusdi yang juga wartawan sebagaiagen atau corong untuk mengkritik pemerintah dan aparat korup. Masalah-masalah sosial danlingkungan yang ia suguhkan di dalam novel ini bertujuan untuk membuka mata dan menumbuhkankesadaran pembaca bahwa sebagian besar rakyat di negeri ini belum merasakan apa yang disebuthidup sejahtera seperti yang selalu digembar-gemborkan oleh pemerintah.