Sety, La Ode Muhammad
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

DETERMINAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH PESISIR PUSKESMAS LALOWARU KABUPATEN KONAWE SELATAN TAHUN 2017 Yadin, Jufri; Junaid, Junaid; Sety, La Ode Muhammad
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Vol 2, No 7 (2017): JIMKESMAS Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.687 KB)

Abstract

Penyakit Diare sampai saat ini masih menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian terbesar di dunia. Menurutdata United Nation Children’s Fund (UNICEF) dan World Health Organization (WHO) tahun 2013 diare merupakanpenyebab kematian nomor 2 pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penyediaan airbersih, ketersediaan jamban keluarga, pengolahan sampah, sarana pembuangan air limbah, dan perilaku mencucitangan dengan kejadian diare di wilayah pesisir Puskesmas Lalowaru Kabupaten Konawe Selatan Tahun 2017. Jenispenelitian yang digunakan adalah penelitian analitik observasional dengan rancangan Cross Sectional Study.Populasi dalam penelitian ini berjumlah 386 balita dengan besar sampel sebanyak 61 balita. Analisis datamenggunakan analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji statistik chi-square. Hasil penelitian ini menunjukkanbahwa tidak ada hubungan penyedian air bersih dengan kejadian diare pada balita (ρValue= 1,00), ada hubunganketersediaan jamban keluarga dengan kejadian diare pada balita (ρValue= 0,028), ada hubungan pengolahan sampahdengan kejadian diare pada balita (ρValue= 0,005), ada hubungan sarana pembuangan air limbah dengan kejadiandiare pada balita (ρValue= 0,015), tidak ada hubungan perilaku mencuci tangan dengan kejadian diare pada balita(ρValue= 0,860). Kesimpulan dari penelitian tidak ada huhungan penyediaan air bersih dan perilaku mencuci tangandengan kejadian diare pada balita, serta ada hubungan ketersediaan jamban keluarga, pengolahan sampah, s aranapembungan air limbah dengan kejadian diare pada.Kata Kunci : air bersih, jamban keluarga, SPAL, mencuci tangan, diare balita
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KABANGKA KECAMATAN KABANGKA KABUPATEN MUNA TAHUN 2018 Jalil, Riska; Yasnani, Yasnani; Sety, La Ode Muhammad
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Vol 3, No 4 (2018): JIMKESMAS Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.793 KB)

Abstract

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksi yang menyerang salah satu bagian atau lebih darisaluran napas, mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan andeksanya,seperti sinus, rongga telinga tengah, dan pleura.ISPA merupakan infeksi saluran pernapasan yang berlangsungselama 14 hari.Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor Yang berhubungan denganKejadian ISPA Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Kabangka Kecamatan Kabangka Kabupaten Muna Tahun2018.Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectionalstudy.Jumlah sampel sebanyak 68 responden dari 237 total populasi.Variabel penelitian yaitu pemberian ASIEkslusif, lingkungan fisik rumah, kebiasaan merokok dan pengetahuan ibu.Analisis data mencakup analisis univariatdan analisis bivariat.Analisis bivariat menggunakan uji chi square. Hasil peneliti an menunjukkan bahwa terdapathubungan antara pemberian ASI Ekslusif dengan kejadian ISPA Pvalue = 0,002, lingkungan fisik rumah dengan Pvalue= 0,354, kebiasaan merokok dengan Pvalue = 0,014, dan pengetahuan ibu dengan Pvalue = 0,029. Terdapathubungan antara pemberian ASI Ekslusif dengan kejadian ISPA, tidak terdapat hubungan antara lingkungan fisikrumah dengan kejadian ISPA, terdapat hubungan antara paparan asap rokok dengan kejadian ISPA, dan terdapathubungan antara pengetahuan ibu dengan kejadian ISPA pada balita.Kata kunci: ISPA, Pemberian ASI Ekslusif, lingkungan fisik rumah, paparan asap rokok dan pengetahuan ibu.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KABANGKA KECAMATAN KABANGKA KABUPATEN MUNA TAHUN 2018 Jalil, Riska; Yasnani, Yasnani; Sety, La Ode Muhammad
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Vol 3, No 4 (2018): JIMKESMAS Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.793 KB)

Abstract

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksi yang menyerang salah satu bagian atau lebih darisaluran napas, mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan andeksanya,seperti sinus, rongga telinga tengah, dan pleura.ISPA merupakan infeksi saluran pernapasan yang berlangsungselama 14 hari.Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor Yang berhubungan denganKejadian ISPA Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Kabangka Kecamatan Kabangka Kabupaten Muna Tahun2018.Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectionalstudy.Jumlah sampel sebanyak 68 responden dari 237 total populasi.Variabel penelitian yaitu pemberian ASIEkslusif, lingkungan fisik rumah, kebiasaan merokok dan pengetahuan ibu.Analisis data mencakup analisis univariatdan analisis bivariat.Analisis bivariat menggunakan uji chi square. Hasil peneliti an menunjukkan bahwa terdapathubungan antara pemberian ASI Ekslusif dengan kejadian ISPA Pvalue = 0,002, lingkungan fisik rumah dengan Pvalue= 0,354, kebiasaan merokok dengan Pvalue = 0,014, dan pengetahuan ibu dengan Pvalue = 0,029. Terdapathubungan antara pemberian ASI Ekslusif dengan kejadian ISPA, tidak terdapat hubungan antara lingkungan fisikrumah dengan kejadian ISPA, terdapat hubungan antara paparan asap rokok dengan kejadian ISPA, dan terdapathubungan antara pengetahuan ibu dengan kejadian ISPA pada balita.Kata kunci: ISPA, Pemberian ASI Ekslusif, lingkungan fisik rumah, paparan asap rokok dan pengetahuan ibu.
FAKTOR RISIKO ANTARA AKTIVITAS FISIK, OBESITAS DAN STRES DENGAN KEJADIAN PENYAKIT HIPERTENSI PADA UMUR 45-55 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SOROPIA KABUPATEN KONAWE TAHUN 2018 Afiah, Warditah; Yusran, Sartiah; Sety, La Ode Muhammad
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.565 KB)

Abstract

Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskuler yang bila tidak ditangani dengan baikdapat meningkatkan angka kejadian morbiditas dan mortalitas. Tekanan darah tinggi merupakan salah satupenyakit degeneratif. Umumnya tekanan darah bertambah secara perlahan dengan ber tambahnya umur.Beberapa faktor yang dapat mengakibatkan hipertensi yakni usia, jenis kelamin, genetik (keturunan), obesitas,merokok, aktivitas fisik, konsumsi alkohol berlebih, konsumsi garam berlebih. Tujuan penelitian ini adalah untukmenganalisis seberapa besar faktor risiko antara aktivitas fisik, obesitas dan stres terhadap kejadian penyakithipertensi pada umur 45-55 tahun di wilayah kerja Puskesmas Soropia Kabupaten Konawe tahun 2018. Jenispenelitian yang digunakan adalah analitik observasional menggunakan rancangan case control study. Populasidalam penelitian ini adalah seluruh pasien hipertensi yang berkunjung di Puskesmas Soropia dari bulan Januarisampai dengan September tahun 2017, sampel dalam penelitian ini berjumlah 68 sampel yakni 34 kasus dan 34kontrol, pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian pada tingkat kepercayaan95% menunjukkan faktor risiko tinggi kejadian hipertensi yakni status aktivitas fisik diperoleh nilai OR = 9,028dengan Lower limit yakni 3,007 dan Upper limit yakni 27,101, dan status stres nilai OR= 4,400 dengan Lower limityakni 1,588 dan Upper limit yakni 12,193. Sedangkan yang bukan merupakan faktor risiko kejadian hipertensiyakni status obesitas diperoleh nilai OR = 0,370 dengan Lower limit yakni 0,126 dan Upper limit yakni 1,086. Bagimasyarakat diharapkan agar selalu menjaga kesehatan dengan melakukan perilaku hidup bersih dan sehat, sertalebih mengontrol tekanan darah dengan melakukan pemeriksaan di Puskesmas.Kata Kunci : Hipertensi, Obesitas, Stres
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ASAM URAT PADA USIA 20-44 TAHUN DI RSUD BAHTERAMAS PROVINSI SULAWESI TENGGARA TAHUN 2017 Jaliana, Jaliana; Suhadi, Suhadi; Sety, La Ode Muhammad
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.589 KB)

Abstract

Penyakit asam urat atau penyakit gout merupakan penyakit yang muncul akibat zat purin yang berlebih dalamtubuh. zat purin ini sebenarnya dapat di olah tubuh menjadi asam urat. Menurut WHO (2015) Di dunia prevalensipenyakit asam urat mengalami kenaikan jumlah penderita hingga dua kali lipat antara tahun 1990- 2010. Pada orangdewasa di Amerika Serikat penyakit gout mengalami peningkatan dan mempengaruhi 8. 3 juta (4%) orang Amerika.Penyakit asam urat diperkirakan terjadi pada 840 orang dari setiap 100.000orang. Prevalensi penyakit asam urat diIndonesia terjadi pada usia di bawah 34tahun sebesar 32 % dan di atas 34 tahun sebesar 68 % (WHO, 2015). Tujuandalam penelitian ini adalah Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian asam urat padausia 20- 44 tahun diRSUD BahteramasProvinsi Sulawesi Tenggara Pada Tahun 2017.Jenis penelitian ini adalahdengan menggunakan rancangan penelitian Analitik Observasional menggunakan desain case control study. Jumlahsubjek penelitian ini yaitu 122 responden yakni 61 kasus dan 61 control. Dari hasilanalisis menggunakan uji chisquare bahwa pola konsumsi sumber purin, stres, riwayat keluarga berhubungan secara signifikat dengan kejadianasam urat pada usia 20- 44 tahun diRSUD BahteramasProvinsi Sulawesi Tenggara Pada Tahun 2017, dan hasil analisismenggunakan uji chi square diperoleh bahwa aktivitas fisik tidak berhubungan secara signifikat dengan kejadianasam urat pada usia 20-44 tahun diRSUD Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara Pada Tahun 2017.Menghindarikonsumsi makanan yang mengandung purin tinggi, hindari stres dan membatasi aktivitas fisik denganintensitas lama yang dapat memperburuk asam uratnya.Kata kunci: purin, aktivitas fisik, stres, riwayat keluarga, asam urat.
ANALISIS FAKTOR RISIKO REMATIK USIA 45-54 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUUWATU KOTA KENDARI TAHUN 2017 Meliny, Meliny; Suhadi, Suhadi; Sety, La Ode Muhammad
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.188 KB)

Abstract

Penyakit rematik merupakan penyakit yang sering diderita kelompok usia 45-54 tahun seiring denganbertambahnya umur, yang disebabkan oleh adanya pengapuran sendi, sehingga orang dengan jenis penyakit ini,akan mengalami nyeri sendi dan keterbatasan gerak. Selain itu, Penyakit ini menyebabkan inflamasi, kekakuan,pembengkakan, dan rasa sakit pada sendi, otot, tendon, ligamen, dan tulang. rematik dapat menyebabkankecacatan (mordibilitas), ketidakmampuan (disabilitas), penurunan kualitas hidup, dan dapat meningkatkan bebanekonomi penderita maupun keluarga. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui apakah gaya hidup, IMT,pengetahuan, dan pola makan merupakan faktor risiko rematik usia 45-54 tahun di wilayah kerja PuskesmasPuuwatu Kota Kendari Tahun 2017. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan desain cross sectionalstudy. Sampel penelitian adalah pasien rawat jalan di Puskesmas Puuwatu selama 3 (tiga) bulan terakhir yaituSeptember, Oktober dan November Tahun 2017, yang dipilih menggunakan metode total sampel yang berjumlah91 orang. Analisis data secara bertahap, yaitu analisis univariat dan bivariat. Uji statistik bivariat menggunakan chisquarepada tingkat kemaknaan 95% (α < 0,05). Hasil penelitian analisis bivariat menunjukkan gaya hidupmerupakan faktor risiko rematik, IMT merupakan faktor risiko rematik, Pengetahuan merupakan faktor risikorematik, Pola makan merupakan faktor risiko rematik. Kepada pengelola program di Puskesmas Puuwatu agarrutin melakukan penyuluhan tentang gaya hidup, IMT, pengetahuan dan pola makan yang merupakan faktor risik orematik pada setiap kegiatan pelayanan kesehatan pada pasien kelompok usia 45-54 tahun.KataKunci: Rematik, gaya hidup, IMT, pengetahuan, pola makan