Sari, Citra Windani Mambang
Universitas Pendidikan Indonesia

Published : 15 Documents
Articles

Found 15 Documents
Search

Critical Thingking and Decision Making Skills Based Learning Methods at The Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran Sari, Citra Windani Mambang; Fitri, Siti Yuyun Rahayu; Widianti, Efri
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 3, No 2 (2017): Vol 3, No.2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v3i2.9415

Abstract

ABSTRAK Metode pembelajaran yang diberikan sangat berpengaruh dalam kemampuan berpikir kritis dan keterampilan mahasiswa perawat dalam mengambil keputusan. Kemampuan berfikir kritis dan keterampilan mengambil keputusan ini merupakan dua hal yang dapat dijadikan dasar untuk melihat kompetensi lulusan perawat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi kemampuan berpikir kritis dan keterampilan mengambil keputusan pada mahasiswa Fakultas Keperawatan. Metode penelitian adalah deskriptif kuantitatif dengan jumlah sampel 151 mahasiswa. Analisis data menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian adalah Lebih dari setengah responden (66,2 %) memiliki kemampuan berpikir kritis diatas rata-rata kelompok (M=186,19, SD=33,92). Lebih dari setengah responden memiliki keterampilan mengambil keputusan di atas rata-rata kelompok (M=94.92, SD=9.52). Sebagian kecil responden dengan IPK 3.01-3.25 memiliki kemampuan berpikir kritis dan keterampilan mengambil keputusan diatas rata-rata kelompok. Sebagian kecil responden latar belakang jurusan IPA memiliki kemampuan berpikir kritis dan keterampilan mengambil keputusan diatas rata-rata kelompok. Kemampuan berpikir kritis dan keterampilan mengambil keputusan sebaiknya dimasukkan ke dalam kurikulum akademik sehingga terwujud perawat profesional.  ABSTRACT Methods of learning in nursing students affect the ability of critical thinking skills and student nurses in making decisions. The ability of critical thinking and decision making skills are the two things that can be used as a basis to see competence of nurse graduates. The aim of this study is to identify the critical thinking skills and decision making skills in student Faculty of Nursing, Universitas Padjadjaran. The research method is quantitative descriptive with a sample of 151 students. Data analysis using frequency distribution. Results of the study were more than half of the respondents (66.2%) have the ability to think critically above the group average (M = 186.19, SD = 33.92). More than half of respondents have a decision-making skills in the above average group (M = 94.92, SD = 9.52). A small portion of respondents with a GPA of 3.01 to 3.25 to have critical thinking skills and decision making skills above the group average. A small portion of respondent background science majors have the critical thinking skills and decision making skills above the group average. The ability of critical thinking and decision making skills should be incorporated into the academic curriculum as soft skills to realize a professional nurse. 
LOST TO FOLLOW-UP : REASONS AND TRUE OUTCOME FOR PATIENTS ON ARV TREATMENT IN TERATAI CLINIC BANDUNG INDONESIA Haroen, Hartiah; Puspitasari, Tita Sri; Borne, B Van Den; Sari, Citra Windani Mambang
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 3, No 1 (2017): Vol 3, No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v3i1.7476

Abstract

Klinik RSHS Teratai HIV telah merawat pasien dari September 2004 sampai Desember 2009, sebanyak 2.060 ODHA dan 1290 menerima ARV (63%). Selama periode ini, sebesar 11% (141 orang) kehilangan kontak lebih tinggi dari keseluruhan persentase di Indonesia yaitu 10,7% (Depkes, 2009). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki hasil yang benar dan faktor hilang tindak lanjut ARV di klinik RSHS Teratai ARV. Penelitian ini menggunakan metode wawancara mendalam dengan 25 pasien HIV / AIDS bawah pengobatan ARV di klinik Teratai RSHS dan mangkir sejak tahun 2009 yang tinggal di daerah Bandung. Informan dipilih secara acak dan dihubungi untuk kunjungan rumah untuk diwawancarai oleh pewawancara yang berpengalaman. Peneliti melakukan wawancara mendalam di rumah pasien sekitar 60 menit. Data direkam oleh pita digital direkam, ditranskrip dan dicetak oleh dua peneliti bidang independen menggunakan analisis tematik.Hasil penelitian ini menunjukkan tujuh tema yang pengetahuan yang tidak benar, optimisme yang tidak realistis, masalah aadministratif, perasaan efek samping negatif, masalah interpersonal, masalah kecanduan, dan kurangnya perawatan diri. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan tindakan pencegahan melalui rincian kontak pasien, meminta pasien persetujuan untuk dihubungi, telepon, kunjungan rumah setelah 3 minggu kehilangan kontak, dan menyarankan pasien untuk mendaftar ke klinik ART lebih dekat dengan rumah mereka , dan mengembangkan sistem reminder untuk mengingatkan pasien untuk mengambil ARV tepat waktu. ABSTRACTTeratai clinic HIV RSHS has treated patients from September 2004 to December 2009, as much as 2060 PLWHA and 1290 receive ARV (63%). Over this period, 11% (141) were lost to follow-up that is higher than overall lost to follow up percentage in Indonesia which is 10.7% (MOH annually report December 2009). The aim of this study was to investigate the true outcomes and factors of lost follow up to ARV. This study used indepth interview method to 25 HIV/AIDS patients under ARV treatment in the Teratai clinic RSHS and lost to follow up since 2009 who lived in Bandung area. Informants were randomly selected and contacted for a home visit to be interviewed by experienced interviewer. The interviewers obtained verbal informed consent and conducted an in depth interview in the patients home. Interview took about 60 minutes. Data were recorded by digital tape recorded, transcribed and scored by two field researchers independently using thematic analysis. The result of this study shows seven themes which are incorrect knowledge, unrealistic optimism, administrative problems, feeling of negative side effect, interpersonal problem, addiction problem, and lack of self-care. Therefore, it is important to develop preventive measure through up-dating patients’ contact details, ask patients consent to be contacted, up date phone contact, home visit after 3 weeks lost of contact, advice patients to register to ART clinic closer to their homes, and develop a reminding system to remind patients to take ARV on time. 
Pengaruh Program Edukasi Perawatan Kaki Berbasis Keluarga terhadap Perilaku Perawatan Kaki pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Sari, Citra Windani Mambang; Haroen, Hartiah; Nursiswati, Nursiswati
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol 4, No 3 (2016): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.628 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v4i3.293

Abstract

Perilaku perawatan kaki merupakan komponen yang penting dalam pencegahan kaki diabetik. Namun, banyakpasien Diabetes Melitus (DM) yang tidak menjalankannya akibat rendahnya pengetahuan dan self-efficacy pasienmaupun keluarga. Di sisi lain, dukungan dan keterlibatan keluarga merupakan aspek penting dalam terlaksananyaperilaku perawatan kaki pasien DM. Pengembangan program peningkatan perawatan kaki DM berbasis keluargapenting dilakukan guna mengatasi kelemahan program sejenis yang berbasis individu. Tujuan penelitian iniadalah untuk mengidentifikasi pengaruh program edukasi perawatan kaki berbasis keluarga terhadap perilakuperawatan kaki pasien DM. Penelitian quasi experiment dengan pre-test and post-test with control group designini melibatkan 72 responden DM Tipe 2 dan keluarganya yang diseleksi secara purposive dari populasi respondenDiabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas Pasirkaliki Kota Bandung. Sampel dibagi menjadi kelompokintervensi dan kontrol dengan masing-masing 36 responden. Responden pada kelompok intervensi mendapatkanprogram edukasi perawatan kaki berbasis keluarga, konseling serta tindak lanjut 1 kali melalui telepon dan tigakali melalui kunjungan langsung ke rumah. Perilaku perawatan kaki dikumpulkan menggunakan kuesioner.Data dianalisis menggunakan paired dan independent t-test. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaankarakteristik antar kelompok. Perilaku perawatan kaki post test (M=84.69, SD=4.49) pada kelompok intervensiberbeda secara bermakna (p = 0.000) lebih tinggi dibanding pre test (M=49.50, SD=9.40), sedangkan padakelompok kontrol ada penurunan skor setelah pengukuran (sebelum M=51,33, SD=8,58; sesudah M=49,50,SD=9,40; p=0,219). Program edukasi perawatan kaki berbasis keluarga efektif meningkatkan perilaku perawatankaki pasien DM. Dengan demikian, perawat dapat mengintegrasikan program edukasi perawatan kaki berbasiskeluarga ke program perkesmas sebagai upaya pencegahan kaki diabetik pada pasien Diabetes Melitus.
Gambaran Persepsi Mahasiswa Terhadap Perilaku Pencegahan Diabetes Mellitus di Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran Lestari, Ranti Asri; Sari, Citra Windani Mambang; Kurniawan, Titis
JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 4, No 1 (2018): Vol 4, No. 1 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jpki.v4i1.12345

Abstract

ABSTRAK  Perilaku pencegahan Diabetes Mellitus ditentukan oleh keyakinan dan persepsi seseorang mengenai ancaman kesehatan yang dirasakan. Gaya hidup tidak sehat yang dilakukan oleh mahasiswa cenderung dapat meningkatkan resiko terjadinya Diabetes Mellitus, sehingga perlu dilakukan upaya pencegahan Diabetes Mellitus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi mahasiswa terhadap perilaku Pencegahan Diabetes Mellitus. Penelitian deskriptif kuantitatif ini melibatkan 242 sampel yang ditentukan menggunakan stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan instrumen Health Belief Model (HBM), yang terdiri dari 5 domain yaitu, persepsi kerentanan dan keseriusan, persepsi manfaat, persepsi hambatan, isyarat melakukan tindakan, dan self-efficacy. Data dianalisis dengan analisis deskriptif (frekuensi dan persentase). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh responden (100%) memiliki persepsi positif terhadap perilaku pencegahan Diabetes Mellitus. Adapun persepsi berdasarkan 5 domain didapatkan seluruh responden (100%) memiliki persepsi positif terhadap manfaat pencegahan Diabetes Mellitus, hampir seluruh responden memiliki persepsi positif terhadap kerentanan dan keseriusan (92,6%), isyarat melakukan pencegahan (98,3%), self-efficacy dalam melakukan pencegahan Diabetes Mellitus (92,6%), dan lebih dari setengah responden memiliki persepsi positif terhadap hambatan melakukan pencegahan Diabetes Mellitus (59,5%). Walaupun demikian, terdapat kurang dari setengah responden (40,5%) yang memiliki persepsi negatif terhadap hambatan, yang berarti bahwa responden tersebut merasakan adanya hambatan dalam melakukan pencegahan Diabetes Mellitus. Dapat disimpulkan bahwa seluruh responden mempersepsikan perlunya melakukan pencegahan Diabetes Mellitus. Namun, adanya hambatan dalam melakukan pencegahan Diabetes Mellitus, perlu diadakannya promosi kesehatan yang memotivasi mahasiswa untuk mengatasi hambatan yang dirasakan dalam melakukan penegahan Diabetes Mellitus.ABSTRACTUnhealthy lifestyle undertaken by students tended to increase the risk of Diabetes Mellitus, so there should be the effort to prevent Diabetes Mellitus. Prevention behaviors are determined by belief and perception about perceived of threats. This study aimed to identify students perception towards prevention behavior of Diabetes Mellitus. This descriptive quantitative study involved 242 students were taken with stratified random sampling. Data collected by Health Belief Model (HBM) instrument that consisted of 5 domains; perceived susceptibility and severity, perceived benefits, perceived barriers, cues to action, and self-efficacy. Data analyzed with descriptive analysis (frequency and percentage). Result showed that all of respondent (100%) had positive perception towards prevention behavior of Diabetes Mellitus. The results of the perception based on 5 domains showed that all of respondent (100%) had positive perceived benefit, most of responden (92,6%) had positive perceived susceptibility and severity, cues to action (98,3%), self-efficacy (92,6%) and more than half of respondents (59,5%) had positive perceived barriers. However, less than half of respondent (40,5%) had negatively perceived barriers which indicated that respondent felt the barrier of Diabetes Mellitus prevention. To conclude, all of respondent perceived necessary to do Diabetes Mellitus prevention. Whereas, there was a barrier in Diabetes Mellitus prevention so, there should be health promotion to motivate students to overcome their perceived of the barrier to perform Diabetes Mellitus prevention
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengetahuan Deteksi Dini Dan Pencegahan Anemia Dalam Upaya Menurunkan Aki Pada Kader Posyandu Solehati, Tetti; Sari, Citra Windani Mambang; Lukman, Mamat; Kosasih, Cecep Eli
Jurnal Keperawatan Komprehensif Vol 4, No 1 (2018): Jurnal Keperawatan Komprehensif
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: salah satu faktor penyebab masih tingginya angka mortalitas pada ibu antara lain anemia  ibu hamil. Peran kader masyarakat yang tergabung dalam posyandu sangat diperlukan untuk ibu hamil dalam bentuk pendidikan kesehatan kepada ibu hamil untuk mengetahui pengaruh edukasi deteksi dini anemia terhadap pengetahuan  kader posyandu. Tujuan Penelitian: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan deteksi dini dan penceghan anemia pada kader posyandu. Metode: desain penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan pretest dan post test without control. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling sebanyak 21 kader kesehatan posyandu di Cipamokolan Kelurahan Mekarjaya Kecamatan Rancasari Bandung. Analisis data meliputi univariat dan bivariat dengan menggunakan uji t test. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata tingkat pengetahuan sebelum intervensi dalam kategori kurang  (19%), cukup (76,2%), baik (4,8%) meningkat setelah intervensi menjadi cukup (14,3%) dan baik (85,7%). Pada analisis lanjut ditemukan rata-rata tingkat pengetahuan sebelum intervensi dari 60 menjadi 90 (p= 0.001). Kesimpulan: pendidikan kesehatan berpengaruh dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kader kesehatan.   tingkat pengetahuan kader kesehatan.  ABSTRACTBackground: one of the contributing factors of high maternal mortality rate is pregnant mother's anemia. The role of community cadres incorporated in Posyandu is very necessary for pregnant women in the form of health education to pregnant women. Research Objectives: this study aimed to determine the effect of health education on knowledge of early detection of anemia and prevention of anemia of Posyandu cadres. Methods: the quasi experiment with pre test and post test without control design was used in this study. Sampling was collected by total sampling method as many as 21 health cadres of posyandu in Cipamokolan Kelurahan Mekarjaya, Rancasari District of Bandung. Data analysis included univariate and bivariate by using t-test. The results showed that the average level of knowledge before the intervention was in the category of less (19%), enough (76.2%), good (4.8%), it increased after intervention to enough (14.3%) and good (85.7 %). In the advanced analysis found that the average level of knowledge before the intervention was 60 to 90 (p = 0.001). Conclusion: health education is influential in increasing the level of health cadre knowledge
GAMBARAN PELAKSANAAN PERAN KADER TUBERKULOSIS PADA PROGRAM DOTS DI KECAMATAN BANDUNG KULON Yani, Desy Indra; Hidayat, Risca Ayu; Sari, Citra Windani Mambang
Jurnal Keperawatan Komprehensif Vol 4, No 2 (2018): Jurnal Keperawatan Komprehensif
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Strategi DOTS direkomendasikan oleh WHO sejak tahun 1995 untuk penanggulangan penyakit TB. Keberhasilan pelaksanaan DOTS di masyarakat perlu melibatkan peran petugas kesehatan, keluarga, dan kader komunitas yang telah mengikuti pelatihan. Keberadaan kader TB di tengah masyarakat ini diharapkan dapat membantu penanggulangan penyakit TB. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran pelaksanaan peran kader tuberkulosis pada program DOTS di Kecamatan Bandung Kulon. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Terdiri atas satu variabel dengan lima domain. Sampel dalam penelitian adalah 66 kader tuberkulosis yang telah mengikuti pelatihan. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner melalui teknik wawancara. Kuesioner yang digunakan sudah dilakukan uji validitas isi dilakukan pada tiga peneliti TB dan komunitas. Uji reliabilitas dengan Kuder Richardson formula 21 dengan nilai 0,88. Nilai uji reliabilitas instrumen 0,8. Analisis data menggunakan distribusi frekuensi yang dilakukan secara komputerisasi. Hasil penelitian sebagian besar pelaksanaan peran kader tuberkulosis dalam program DOTS dalam kategori baik sebanyak 42 responden (63,6%) dan 24 responden (36,6%) dalam kategori tidak baik. Domain sebagai pemberi penyuluhan (63,6%) dan penjaringan suspek TB (68,2%) dalam kategori baik. Akan tetapi, domain peran sebagai koordinator PMO (63,4%) dan pembimbing dan pemotivasi PMO (63,6%) dalam kategori tidak baik serta domain peran sebagai PMO (50%) dalam kategori sama baik. Berdasarkan hasil Penelitian diharapkan petugas kesehatan yang menjalani program DOTS dapat mengevaluasi dan memperbaiki aspek yang kurang dalam pelaksanaan peran kader TB.
Edukasi Berbasis Masyarakat untuk Deteksi Dini Diabetes Melitus Tipe 2 Sari, Citra Windani Mambang; Yamin, Ahmad
Media Karya Kesehatan Vol 1, No 1 (2018): Media Karya Kesehatan
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.892 KB) | DOI: 10.24198/mkk.v1i1.17127

Abstract

Permasalahan kesehatan di Kota Bandung sangat kompleks. Salah satunya adalah Diabetes mellitus tipe 2 (DMT2) merupakan salah satu penyakit kronis yang angka kejadian dan komplikasi yang diakibatkannya terus meningkat dari waktu ke waktu. Kondisi tenaga kesehatan yang terbatas membutuhkan keterlibatan kader kesehatan sebagai pemberdayaan masyarakat agar masyarakat faham tentang Diabetes Melitus. Selain itu, masyarakat tidak pernah melakukan deteksi dini dan skrining gula darah. Kegiatan pengabdian ini dilakukan bertujuan untuk mengimplementasikan program edukasi berbasis masyarakat yang memfasilitasi masyarakat dalam menambah ilmu tentang deteksi dini dan perawatan diri Diabetes Melitus di  Kota Bandung.Metodologi kegiatan pengabdian ini terdiri dari tiga tahapan, yaitu: 1) tahapan persiapan meliputi pengumpulan data di masyarakat yang beresiko dan pasien DM melalui focused group discussion dan analisa SWOT untuk merancang program implementasi; 2) tahapan implementasi meliputi pelaksanaan program implementasi yang dapat berupa skrining gula darah, pelatihan kader kesehatan, promosi kesehatan, konseling kelompok pada masyarakat yang beresiko, konseling pada masayarakat yang beresiko dan peer-group; 3) tahapan evaluasi meliputi evaluasi proses dan evaluasi hasil baik terhadap pasien DM, dan masyarakat dan model program edukasi DM berbasis masyarakat.Hasil analisis adalah tidak ada perbedaan signifikan pada pengetahuan kader sebelum dan sesudah pelatihan (p=0.066) sedangkan ada perbedaan signifikan pada self-efficacy pada kader sebelum dan sesudah pelatihan (p=0.000). Sebagian besar masyarakat Kelurahan yang periksa gula darah mempunyai resiko sedikit meningkat terkena penyakit Diabetes Melitus
Pemberdayaan Remaja Sebagai Upaya Pencegahan Penyalahgunaan NAPZA dan Pencegahan HIV/AIDS Sari, Citra Windani Mambang; Lukman, Mamat; Yani, Desy Indra
Media Karya Kesehatan Vol 1, No 2 (2018): Media Karya Kesehatan
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.763 KB) | DOI: 10.24198/mkk.v1i2.17130

Abstract

Tingginya angka kejadian penyalahgunaan NAPZA dan angka HIV/ AIDS pada remaja masih menjadi perhatian dunia untuk terus berupaya mengatasinya. Remaja Babakan Surabaya sebagian besar mempunyai pengetahuan baik tentang NAPZA dan HIV/AIDS tetapi masih ada yang mempunyai pengetahuan kurang baik tentag NAPZA dan HIV/AIDS. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat  adalah untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan tentang NAPZA dan HIV/ AIDS di Kebon Kangkung dan Babakan Surabaya Kota Bandung. Metode penelitian dengan menggunakan quasi eksperimen dengan 17 remaja dari wilayah kerja Puskesmas Babakan Surabaya. Kuesioner pengetahuan dibuat berdasarkan Kementerian kesehatan. Analisis menggunakan Wilcoxon. Hasil pengabdian ini adalah rata-rata pengetahuan sebelum dilakukan pendidikan kesehatan pada remaja (Median=15, IR=6) dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan adalah (Median=19, IR=6). Hasil PKM adalah adanya perbedaan signifikan terhadap pengetahuan remaja tentang NAPZA dan HIV/AIDS di Kelurahan Kebon Kangkung dan Babakan Surabaya Kota Bandung setelah diberikan pendidikan kesehatan (p=0.007). Saran dari pengabdian ini diharapkan puskesmas dapat melanjutkan dengan memfasilitasi remaja membentuk kegiatan-kegiatan pencegahan NAPZA dan HIV AIDS di kelurahan Babakan Surabaya.
KEYAKINAN KESEHATAN DAN PERMASALAHAN PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI KOTA BANDUNG Sari, Citra Windani Mambang; Yamin, Ahmad
Jurnal Keperawatan Komprehensif Vol 5, No 1 (2019): Jurnal Keperawatan Komprehensif
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes mellitus adalah salah satu peningkatan jumlah penyakit kronis di dunia. Provinsi Jawa Barat juga memiliki prevalensi peningkatan 1,4% di tahun 2007 menjadi 2% pada tahun 2013 dan memiliki jumlah penderita paling banyak yang merasakan gejala diabetes melitus, namun belum pernah diteliti yaitu sekitar 225 ribu orang (Riskesdas, 2013). Pasien Diabetes Mellitus berisiko mengalami komplikasi makrovaskular dan mikrovaskuler yang dapat menurunkan kualitas hidup. Upaya pencegahan dari komplikasi dapat dilihat dari kebutuhan perawatan yang diharapkan pasien Diabetes Mellitus dengan mengidentifikasi keyakinan kesehatan dan permasalahan dari sisi pasien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi keyakinan kesehatan dan permasalahan pasien Diabetes Mellitus di kota Bandung. Responden penelitian adalah 121 pasien Diabetes Melitus di kota Bandung yang diambil dengan cara purposive dari 10 Prolanis tertinggi di kota Bandung. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan menggunakan 4 kuesioner yaitu karakteristik kesehatan, pengetahuan tentang Diabetes Mellitus, keyakinan kesehatan, permasalahan kesehatan pada pasien Diabetes Melitus. Kuesioner yang digunakan berdasarkan penelitian dan dianalisis dengan statistic deskriptif. Hasil penelitian adalah pengetahuan (M = 14,65, SD = 13,35), keyakinan kesehatan tentang Diabetes Mellitus (M = 71,79, SD = 10, 14), permasalahan pada Diabetes (M = 43,54, SD = 13, 35). Temuan dari penilaian kebutuhan ini mengarah pada perencanaan dan penyampaian program komprehensif dan terintegrasi bagi pasien dengan Diabetes.
GAMBARAN STATUS DEMENSIA DAN DEPRESI PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GUNTUR KELURAHAN SUKAMENTRI GARUT Sopyanti, Yupira Dera; Sari, Citra Windani Mambang; Sumarni, Nina
Jurnal Keperawatan Komprehensif Vol 5, No 1 (2019): Jurnal Keperawatan Komprehensif
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia tahun 2014 mencapai 18,8 juta jiwa dan pada pada tahun 2025 akan mencapai 36 juta jiwa. Seiring meningkatnya usia, perubahan fungsi kognitif pada lansia juga mengalami peningkatan. Gangguan fungsi kognitif pada lansia dapat menyebabkan perubahan kepribadian, emosi, dan mengganggu aktivitas sehari – hari, apabila berlangsung secara progresif maka dapat terjadi demensia dan perubahan psikososial seperti depresi. Dengan diketahuinya status demensia dan depresi pada lansia di masyarakat dapat digunakan sebagai data dasar dalam mengembangkan program yang berhubungan dengan kesehatan lansia di masyarakat. Penelititian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran status demensia dan depresi pada lansia di masyarakat. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuatitatif. Data dikumpulkan dengan kuisioner Modified Mini Mental State Test (3MS) dan Geriatric Scale Depression (GDS) pada responden 112 lansia yang diambil dengan menggunakan teknik random sampling di wilayah kerja Puskesmas Guntur Kelurahan Sukamentri Garut. Analisis menggunakan statistik deskritif dengan distribusi frekuensi. Hasil penelitian ini didapatkan dengan kategori demensia ringan, yaitu sebanyak 55 responden (49,1%), dengan kategori demensia sedang sebanyak 45 responden (37,5%), sedangkan kategori demensia berat sedang sebanyak 15 responden (13,4%). Hasil penelitian status depresi dalam kategori normal sebanyak 32 responden (28,6%), kategori depresi ringan sebanyak 45 responden (40.2%), kategori depresi sedang sebanyak 23 responden (20,5 %) dan kategori depresi berat sebanyak 12 responden (10,7%). Petugas kesehatan diharapkan dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai dasar dalam mengembangkan program kegiatan kesehatan lansia seperti posbindu pada lansia dengan memberikan penyuluhan berupa informasi dan edukasi terkait demensia dan depresi, membina lansia dalam menjaga fungsi kognitif dan psikososialnya (olahraga, membaca buku, kegiatan keterampilan).