Lestari, Keri
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

Monitoring Terapi Warfarin pada Pasien Pelayanan Jantung pada Rumah Sakit di Bandung Putri, Norisca A.; Lestari, Keri; Diantini, Ajeng; Rusdiana, Taofik
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.259 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui monitoring terapi warfarin untuk menjamin ketepatan dosis,keamanan terapi, dan mengetahui apakah dosis terapi warfarin yang digunakan telah memenuhi kriteria  penggunaan obat warfarin yang rasional. Derajat antikogulasi setiap pasien diukur dengan parameter waktu protrombin yang dinyatakan dengan International Normalized Ratio (INR). Metode Penelitian meliputi monitoring terapi warfarin terhadap 80 pasien di pelayanan jantung melalui PT-INR, pendataanklinis pasien meliputi, usia, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, jenis penyakit, dosis yang digunakan dan obat lain yang dikonsumsi secara bersamaan. Hasil monitoring menunjukkan rata-rata INR pasien yaitu 1,38± 0,42 hasil ANAVA (α = 0,05) menunjukkan tidak ada pengaruh dosis terhadap INR(p=0,13) tetapi ada pengaruh pada umur (p =0,014), hasil uji beda (α = 0,05) menunjukkan tidak ada perbedaan terhadap rata-rata INR berdasarkan jenis kelamin (p =0,051), umur (p =0,397), dan variasi dosis (p = 0,057). Hasil tersebut menunjukkan bahwa dosis warfarin belum mencapai target terapi INR (2–3).Kata kunci: Warfarin, penyakit trombotik, PT-INR Warfarin Therapy Monitoring of Cardiac Care Patients in Hospital in BandungAbstractThe aims of this study were to identify the rational warfarin monitoring therapy to guarantee the rightdose, therapy security, and whether the dose of warfarin therapy has completed the rational criteria ornot. Degree of antikoagulasi for each patient is measured with protombin time as International Normalized Ratio (INR). The methods consist of warfarin monitoring therapy towards 80 patients at the heart service through the PT-INR constant, medical data, such as age, gender, weight, height, type of the disease, dose usage and another medicine which is used together, and statistical test of the average of INR. The monitoring result shows that patient’s INR average is 1,38 ±0,42, the result of ANAVA (α=0,05)shows that there’s no impact of dose towards INR (p=0,13) but there’s an INR average impact basedon gender (p=0,051), age (p=0,397) and dose variation (p=0,057). The results shown that warfarin dose which used is not bleeding risk.Key words: Warfarin, trombotic disease, PT-INR
Pengaruh Pelayanan Informasi Obat terhadap Keberhasilan Terapi Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Insani, Widya N.; Lestari, Keri; Abdulah, Rizky; Ghassani, Salma K.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 2, No 4 (2013)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.955 KB)

Abstract

pemahaman mengenai instruksi pengobatan merupakan permasalahan utama dalam pengobatan DMT2. Ketidakpatuhan pasien terhadap regimen obat hipoglikemik oral yang kompleks serta ketidaktepatan dalam cara dan waktu pengonsumsiannya merupakan barrier tercapainya keberhasilan terapi DMT2. Hal ini sangat berkaitan dengan kualitas pelayanan kefarmasian yang diberikan kepada pasien, khususnya pelayanan informasi obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh intervensi pelayanan informasi obat terhadap parameter keberhasilan terapi diabetes yaitu glukosa 2 jam postprandial, HDL dan trigliserida. Penelitian ini merupakan nonrandomized concurrent control trial secara prospektif. 14 subjek uji direkrut selama 4 bulan selama Mei–Agustus 2013 kemudian dibagi menjadi dua grup. Kedua grup mendapat terapi pengobatan diabetes berupa hipoglikemik oral. Grup intervensi mendapatkan pelayanan informasi obat dan edukasi mengenai diabetes, sedangkan grup kontrol tidak mendapatkannya. Data dianalisis menggunakan uji t independen dengan α 0,05. Walau belum berbeda signifikan, nilai keberhasilan terapi dengan intervensi pelayanan informasi obat pada parameter glukosa 2 jam postprandial, HDL dan trigliserida memberikan hasil yang lebih tinggi 17,01%; 6,73%; dan 6,31% untuk masing-masing parameter dibandingkan terapi tanpa pelayanan kefarmasian tersebut.Kata kunci: Pelayanan informasi obat, diabetes, obat hipoglikemik oral Effect of Pharmaceutical Information Care on Clinical Outcomes of Patients With Type 2 Diabetes MellitusPoor adherence to medication and lack of understanding about medication instructions are the main problems in the treatment of type 2 diabetes mellitus. Poor adherence to oral hypoglicemic drugs which have complex regiment and unappropriate consumption of them are the obstacles to reach good clinical outcomes. These problems are highly related to the quality of pharmaceutical care given to patients. The aim of this study was to evaluate the effect of pharmaceutical information care towards the outcome of type 2 diabetes mellitus including 2 hours postprandial glucose, HDL and tryglicerides. This study used nonrandomized concurrent control trial prospectively. 14 subjects were recruited during 4 months from May–August 2013 and were divided into two groups. Both of group were given oral hypoglycemic drugs. The intervention group received pharmaceutical information care and diabetes education, whilecontrol group did not receive these. Data were then analysed with independent t test using α 0,005. Although the difference were not significant yet, pharmaceutical information care intervention on diabetes treatment gave higher improvement by 17,01%; 6,73%; and 6,31% respectively in 2 hours postprandial glucose, HDL and tryglicerides parameters, compared with the treatment without pharmaceutical care.Key words: Pharmaceutical information care, diabetes, oral hypoglicemic drugs
Korelasi Faktor Usia, Cara Minum, dan Dosis Obat Metformin terhadap Risiko Efek Samping pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Riwu, Magdarita; Subarnas, Anas; Lestari, Keri
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.662 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2015.4.3.151

Abstract

Metformin merupakan obat antidiabetes oral yang umumnya direkomendasikan sebagai pengobatan lini pertama pada diabetes melitus tipe 2 apabila kadar glukosa darah tidak terkontrol dengan modifikasi gaya hidup. Pada penggunaan metformin sebagai kontrol glikemia sering terjadi reaksi obat yang merugikan (ROM) berupa gangguan gastrointestinal seperti diare, mual, dan perut kembung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi faktor usia, cara minum, dan dosis metformin terhadap risiko efek samping gangguan gastrointestinal pada penderita rawat jalan BPJS Kesehatan yang baru terdiagnosis diabetes melitus tipe 2 di RSAU Dr. M. Salamun Bandung. Penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain potong lintang. Data dikumpulkan dari bagian poliklinik penyakit dalam, rekam medis, dan form check penderita yang mendapat pengobatan dengan metformin yang dilakukan sejak April–Juni 2014. Jumlah penderita yang memenuhi kriteria penelitian sebanyak 65 orang dengan rentang usia rata-rata 48 tahun. Keluhan efek samping yang dialami penderita berupa kembung (58,46%) dan mual (41,54%). Cara minum dan dosis metformin berkorelasi terhadap risiko efek samping berupa mual dan kembung pada penderita diabetes melitus tipe 2 (p<0,05) sedangkan faktor usia tidak berkorelasi (p>0,05). Penggunaan metformin dianjurkan sesudah makan dan dengan dosis awal rendah yang dititrasi perlahan untuk mengurangi dan menghindari terjadinya efek samping mual dan perut kembung pada penderita diabetes melitus tipe 2.Kata kunci: Diabetes melitus tipe 2, efek samping, metforminThe Correlation of Age Factor, Administration, and Metformin Dose Against Risk of Side Effect on Type 2 Diabetes MellitusMetformin is an antidiabetic oral medicine commonly recommended as first line treatment on type 2 diabetes mellitus. Metformin can caused drug related problems (DRPs) such as gastrointestinal disorders, e.g. diarrhea, nausea, and flatulence. This study aimed to analyze correlation profiles on age, administration, and metformin dosage factors against risk of gastrointestinal disorders among newlydiagnosed diabetic outpatients of National Health Insurance in RSAU Dr. M. Salamun Bandung. This study was an analytic observational study with a cross sectional method. The study was carried out in the internal medicine outpatient clinic and data were extracted from patients medical records from April to June 2014. Metformin-treated patients were interviewed using a form check. The number of patients were 65 with the median rate was 48 years old. Side effect reported were flatulence (58.46%) and nausea (41.54%). Administration and metformin dosage factors were correlated to the risk of side effects such as nausea and flatulence on type 2 diabetes mellitus (p<0.05), while age was not correlated (p>0.05). The administration of metformin is recommended after meals and with a lower initial dose titrated slowly to reduce and avoid the side effects of nausea and flatulence in patients with type 2 diabetes mellitus.Keywords: Metformin, side effect, type 2 diabetes mellitus
Pengaruh Konseling Apoteker terhadap Pengetahuan dan Persepsi Pasien Penyakit Jantung Terapi Warfarin di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Putriana, Norisca A.; Barliana, Melisa I.; Lestari, Keri
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 4 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.367 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2017.6.4.282

Abstract

Warfarin merupakan turunan dari kumarin, yang sudah biasa diresepkan sebagai antikoagulan oral untuk mengobati atau mencegah penyakit-penyakit trombotik. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis pengaruh konseling apoteker terhadap pengetahuan dan persepsi pada pasien penyakit jantung pengguna warfarin. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2012–Februari 2014 di Poli Jantung RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Desain penelitian berupa mixed method. Data kualitatif digunakan untuk mendukung data kuantitatif, dengan metode kualitatif berupa analisis konten dengan cara wawancara. Metode kuantitatif berupa quasi-eksperimental dengan kelompok kontrol pre-post test design. Analisis data penelitian menggunakan uji Wilcoxon dan uji Mann-Whitney dengan level signifikansi p≤0,05 dan analisis multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh konseling apoteker terhadap pengetahuan (p<0,05) dan persepsi (p<0,05). Konseling apoteker dapat memperbaiki pengetahuan dan persepsi pasien terapi warfarin.Kata kunci: Konseling, pengetahuan, persepsi, warfarin The Influence of Pharmacist’s Counseling on Knowledge and Perception on Cardiac Patient Warfarin Management at Dr. Hasan Sadikin Hospital BandungWarfarin is a derivate of coumarin, which is usually prescripted as an oral anti-coagulant for treatment and prevention of thromboembolic disorders. The aim of this research was to analyse the influence of pharmacist’s counseling on knowledge and perception on warfarin management. This research was conducted from July 2012 until February 2014 in Cardiac Polyclinic Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung. This research used mixed method design. Qualitative data was obtained using content analysis with interview method and used to complete quantitative data. Quantitative method used a quasi-experimental method with control groups and pre-post test design. Data was collected by prospective method and analysed using Wilcoxon and Mann-Whitney test at significance level p≤0.05 and multivariate analysis covariate. The result of this research is pharmacist’s counseling affected knowledge (p<0.05) and perception (p<0.05). Pharmacist’s counseling can improve knowledge and perception on warafarin therapy.Keywords: Counseling, knowledge, perception, warfarin
Permasalahan Terkait Obat (Drug Related Problems/DRPs) pada Penatalaksanaan Penyakit Ginjal Kronis dengan Penyulit Penyakit Arteri Koroner Furqani, Winda H.; Zazuli, Zulfan; Nadhif, Nabilah; Saidah, Siti; Abdulah, Rizky; Lestari, Keri
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.176 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2015.4.2.141

Abstract

Masalah terkait obat (DRPs) didefinisikan sebagai setiap kondisi dalam penatalaksanaan terapi pasien yang menyebabkan atau berpotensi menyebabkan tidak tercapainya hasil terapi yang optimal. Penelitian ini dilakukan di salah satu rumah sakit di Kota Cimahi pada bulan Mei 2014. Pada penelitian ini dilakukan identifikasi DRPs pada pasien wanita berusia 59 tahun yang didiagnosis penyakit ginjal kronis dengan penyulit penyakit arteri koroner dan gangren di tangan kiri (jari ke-3). Pasien diketahui mempunyai riwayat diabetes melitus sejak dua hingga tiga tahun yang lalu. Melalui kajian DRPs ditemukan permasalahan terkait obat, yaitu adanya terapi obat yang tidak diperlukan (pemberian kalsium polistiren sulfonat), ketidaktepatan pemilihan antibiotik, Ketidaktepatan dosis (pemberian amoksisilin dan kaptopril), dan risiko interaksi obat-obat merugikan (interaksi kaptopril–furosemid, kaptopril–isosorbid dinitrat, dan kaptopril–natrium bikarbonat). Pasien penyakit ginjal kronis dengan penyulit penyakit arteri koroner menerima terapi obat yang kompleks sehingga meningkatkan risiko terjadinya DRPs. Keterlibatan apoteker klinis di rumah sakit dalam penatalaksanaan penyakit yang kompleks diperlukan untuk mengoptimalkan terapi, meminimalisir risiko DRPs, dan meningkatkan kualitas hidup pasien.Kata kunci: Drug related problems, penyakit ginjal kronis, penyakit arteri koronerDrug Related Problems in the Management of Chronic Kidney Disease with Coronary Artery DiseaseDrug related problems were defined as conditions on patient’s therapy management that caused, or potentially caused unsuccessful therapy. This study was conducted at a hospital in Cimahi City in May 2014. In this study, DRPs were identified on a 59 years old woman who was diagnosed with chronic kidney disease and coronary artery disease with gangrene on the left hand (the third finger). The patient also had a diabetes mellitus for two until three years ago. Drug related problems (DRPs) were found in this patient. Unnecessary drug therapy (administration of calsium polystirene sulfonate), inappropriate choosen antibiotic, inappropriate dosing (administration of amoxicillin and captopril), and risks drug interactions (captopril–furosemide, captopril–isosorbide dinitrate, and captopril–sodium bicarbonate). Patients with chronic kidney disease and coronary artery disease received complex drug therapy. These condition lead to higer risk of DRPs. The involvement of clinical pharmacist in interdisciplinary team for management of complex diseases was needed to monitor drug therapy to optimizing the therapy, minimalizing the risk of DRPs, and improving patient’s quality of life.Key words: Chronic kidney disease, coronary artery disease, drug related problems
Pengukuran Tingkat Pengetahuan tentang Hipertensi pada Pasien Hipertensi di Kota Bandung: Sebuah Studi Pendahuluan Sinuraya, Rano K.; Siagian, Bryan J.; Taufik, Adit; Destiani, Dika P.; Puspitasari, Irma M.; Lestari, Keri; Diantini, Ajeng
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 4 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.091 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2017.6.4.290

Abstract

Hipertensi merupakan penyebab umum dalam peningkatan angka mortalitas dan mobiditas di masyarakat. Selain merupakan silent killer, prevalensi penyakit ini semakin meningkat di seluruh dunia. Prevalensi hipertensi di Indonesia 25,8% dan Jawa Barat berada di peringkat keempat dengan prevalensi 29,4%. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat pengetahuan pasien hipertensi terkait penyakit yang dideritanya. Studi ini merupakan penelitian observasional menggunakan rancangan potong lintang dan dilakukan pada bulan Juni–Oktober 2017 di Apotek Pendidikan Universitas Padjadjaran, Kota Bandung. Sejumlah seratus lima puluh responden mengisi kuesioner yang telah divalidasi setelah menandatangani informed consent terlebih dahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 56,7% dari responden memiliki tingkat pengetahuan baik, 40% dari responden memiliki tingkat pengetahuan cukup, dan 3,3% dari responden memiliki tingkat pengetahuan kurang. Data kemudian diolah secara statistik sehingga diperoleh hasil bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna (p>0,05) antara setiap kelompok responden terhadap sosiodemografi dan karakteristik klinis pasien. Hanya sekitar 50% responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik, pasien yang memiliki tingkat pengetahuan cukup dan kurang umumnya adalah pasien dengan tingkat pendidikan rendah dan menderita hipertensi kurang dari lima tahun.Kata kunci: Fasilitas kesehatan primer, hipertensi, tingkat pengetahuan Assessment of Knowledge on Hypertension among Hypertensive Patients in Bandung City: A Preliminary StudyHypertension is a common health problems that can increase the mortality and mobility rate in the community. As a silent killer, the prevalence of this disease is increasing worldwide. The prevalence of hypertension in Indonesia is 25.8% and West Java is ranked at top four with prevalence of 29.4%. This study aimed to measure the level of knowledge of hypertensive patients about their disease. This study was an observational study using cross-sectional design in June–October 2017 at Apotek Pendidikan Universitas Padjadjaran, Bandung City. A total of one hundred and fifty respondents completed a validated questionnaire after signing informed consent. The results showed that 56.7% of respondents have “good” level of knowledge, 40% of respondents have “moderate” level of knowledge, and 3.3% of respondents have “poor” level of knowledge. Data were analyzed statistically, the results showed that there was no significant difference (p>0.05) between each group of respondents to sociodemographic and clinical characteristics of the patients. Only fifty percent of respondents have “good” level of knowledge, patients who have “moderate” and “poor” level of knowledge generally are patients with low levels of education and suffer from hypertension less than five years.Keywords: Hypertension, level of knowledge, primary health care
Permasalahan Terkait Obat (Drug Related Problems/DRPs) pada Penatalaksanaan Penyakit Ginjal Kronis dengan Penyulit Penyakit Arteri Koroner Furqani, Winda H.; Zazuli, Zulfan; Nadhif, Nabilah; Saidah, Siti; Abdulah, Rizky; Lestari, Keri
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2487.813 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2015.4.2.141

Abstract

Masalah terkait obat (DRPs) didefinisikan sebagai setiap kondisi dalam penatalaksanaan terapi pasien yang menyebabkan atau berpotensi menyebabkan tidak tercapainya hasil terapi yang optimal. Penelitian ini dilakukan di salah satu rumah sakit di Kota Cimahi pada bulan Mei 2014. Pada penelitian ini dilakukan identifikasi DRPs pada pasien wanita berusia 59 tahun yang didiagnosis penyakit ginjal kronis dengan penyulit penyakit arteri koroner dan gangren di tangan kiri (jari ke-3). Pasien diketahui mempunyai riwayat diabetes melitus sejak dua hingga tiga tahun yang lalu. Melalui kajian DRPs ditemukan permasalahan terkait obat, yaitu adanya terapi obat yang tidak diperlukan (pemberian kalsium polistiren sulfonat), ketidaktepatan pemilihan antibiotik, Ketidaktepatan dosis (pemberian amoksisilin dan kaptopril), dan risiko interaksi obat-obat merugikan (interaksi kaptopril–furosemid, kaptopril–isosorbid dinitrat, dan kaptopril–natrium bikarbonat). Pasien penyakit ginjal kronis dengan penyulit penyakit arteri koroner menerima terapi obat yang kompleks sehingga meningkatkan risiko terjadinya DRPs. Keterlibatan apoteker klinis di rumah sakit dalam penatalaksanaan penyakit yang kompleks diperlukan untuk mengoptimalkan terapi, meminimalisir risiko DRPs, dan meningkatkan kualitas hidup pasien.Kata kunci: Drug related problems, penyakit ginjal kronis, penyakit arteri koronerDrug Related Problems in the Management of Chronic Kidney Disease with Coronary Artery DiseaseDrug related problems were defined as conditions on patient’s therapy management that caused, or potentially caused unsuccessful therapy. This study was conducted at a hospital in Cimahi City in May 2014. In this study, DRPs were identified on a 59 years old woman who was diagnosed with chronic kidney disease and coronary artery disease with gangrene on the left hand (the third finger). The patient also had a diabetes mellitus for two until three years ago. Drug related problems (DRPs) were found in this patient. Unnecessary drug therapy (administration of calsium polystirene sulfonate), inappropriate choosen antibiotic, inappropriate dosing (administration of amoxicillin and captopril), and risks drug interactions (captopril–furosemide, captopril–isosorbide dinitrate, and captopril–sodium bicarbonate). Patients with chronic kidney disease and coronary artery disease received complex drug therapy. These condition lead to higer risk of DRPs. The involvement of clinical pharmacist in interdisciplinary team for management of complex diseases was needed to monitor drug therapy to optimizing the therapy, minimalizing the risk of DRPs, and improving patient’s quality of life.Key words: Chronic kidney disease, coronary artery disease, drug related problems
Pengaruh Konseling Apoteker terhadap Pengetahuan dan Persepsi Pasien Penyakit Jantung Terapi Warfarin di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Putriana, Norisca A.; Barliana, Melisa I.; Lestari, Keri
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 4 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7940.818 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2017.6.4.282

Abstract

Warfarin merupakan turunan dari kumarin, yang sudah biasa diresepkan sebagai antikoagulan oral untuk mengobati atau mencegah penyakit-penyakit trombotik. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis pengaruh konseling apoteker terhadap pengetahuan dan persepsi pada pasien penyakit jantung pengguna warfarin. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2012–Februari 2014 di Poli Jantung RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Desain penelitian berupa mixed method. Data kualitatif digunakan untuk mendukung data kuantitatif, dengan metode kualitatif berupa analisis konten dengan cara wawancara. Metode kuantitatif berupa quasi-eksperimental dengan kelompok kontrol pre-post test design. Analisis data penelitian menggunakan uji Wilcoxon dan uji Mann-Whitney dengan level signifikansi p≤0,05 dan analisis multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh konseling apoteker terhadap pengetahuan (p<0,05) dan persepsi (p<0,05). Konseling apoteker dapat memperbaiki pengetahuan dan persepsi pasien terapi warfarin.Kata kunci: Konseling, pengetahuan, persepsi, warfarin The Influence of Pharmacist’s Counseling on Knowledge and Perception on Cardiac Patient Warfarin Management at Dr. Hasan Sadikin Hospital BandungWarfarin is a derivate of coumarin, which is usually prescripted as an oral anti-coagulant for treatment and prevention of thromboembolic disorders. The aim of this research was to analyse the influence of pharmacist’s counseling on knowledge and perception on warfarin management. This research was conducted from July 2012 until February 2014 in Cardiac Polyclinic Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung. This research used mixed method design. Qualitative data was obtained using content analysis with interview method and used to complete quantitative data. Quantitative method used a quasi-experimental method with control groups and pre-post test design. Data was collected by prospective method and analysed using Wilcoxon and Mann-Whitney test at significance level p≤0.05 and multivariate analysis covariate. The result of this research is pharmacist’s counseling affected knowledge (p<0.05) and perception (p<0.05). Pharmacist’s counseling can improve knowledge and perception on warafarin therapy.Keywords: Counseling, knowledge, perception, warfarin
Pengukuran Tingkat Pengetahuan tentang Hipertensi pada Pasien Hipertensi di Kota Bandung: Sebuah Studi Pendahuluan Sinuraya, Rano K.; Siagian, Bryan J.; Taufik, Adit; Destiani, Dika P.; Puspitasari, Irma M.; Lestari, Keri; Diantini, Ajeng
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 4 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6111 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2017.6.4.290

Abstract

Hipertensi merupakan penyebab umum dalam peningkatan angka mortalitas dan mobiditas di masyarakat. Selain merupakan silent killer, prevalensi penyakit ini semakin meningkat di seluruh dunia. Prevalensi hipertensi di Indonesia 25,8% dan Jawa Barat berada di peringkat keempat dengan prevalensi 29,4%. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat pengetahuan pasien hipertensi terkait penyakit yang dideritanya. Studi ini merupakan penelitian observasional menggunakan rancangan potong lintang dan dilakukan pada bulan Juni–Oktober 2017 di Apotek Pendidikan Universitas Padjadjaran, Kota Bandung. Sejumlah seratus lima puluh responden mengisi kuesioner yang telah divalidasi setelah menandatangani informed consent terlebih dahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 56,7% dari responden memiliki tingkat pengetahuan baik, 40% dari responden memiliki tingkat pengetahuan cukup, dan 3,3% dari responden memiliki tingkat pengetahuan kurang. Data kemudian diolah secara statistik sehingga diperoleh hasil bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna (p>0,05) antara setiap kelompok responden terhadap sosiodemografi dan karakteristik klinis pasien. Hanya sekitar 50% responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik, pasien yang memiliki tingkat pengetahuan cukup dan kurang umumnya adalah pasien dengan tingkat pendidikan rendah dan menderita hipertensi kurang dari lima tahun.Kata kunci: Fasilitas kesehatan primer, hipertensi, tingkat pengetahuan Assessment of Knowledge on Hypertension among Hypertensive Patients in Bandung City: A Preliminary StudyHypertension is a common health problems that can increase the mortality and mobility rate in the community. As a silent killer, the prevalence of this disease is increasing worldwide. The prevalence of hypertension in Indonesia is 25.8% and West Java is ranked at top four with prevalence of 29.4%. This study aimed to measure the level of knowledge of hypertensive patients about their disease. This study was an observational study using cross-sectional design in June–October 2017 at Apotek Pendidikan Universitas Padjadjaran, Bandung City. A total of one hundred and fifty respondents completed a validated questionnaire after signing informed consent. The results showed that 56.7% of respondents have “good” level of knowledge, 40% of respondents have “moderate” level of knowledge, and 3.3% of respondents have “poor” level of knowledge. Data were analyzed statistically, the results showed that there was no significant difference (p>0.05) between each group of respondents to sociodemographic and clinical characteristics of the patients. Only fifty percent of respondents have “good” level of knowledge, patients who have “moderate” and “poor” level of knowledge generally are patients with low levels of education and suffer from hypertension less than five years.Keywords: Hypertension, level of knowledge, primary health care
Korelasi Faktor Usia, Cara Minum, dan Dosis Obat Metformin terhadap Risiko Efek Samping pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Riwu, Magdarita; Subarnas, Anas; Lestari, Keri
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8009.124 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2015.4.3.151

Abstract

Metformin merupakan obat antidiabetes oral yang umumnya direkomendasikan sebagai pengobatan lini pertama pada diabetes melitus tipe 2 apabila kadar glukosa darah tidak terkontrol dengan modifikasi gaya hidup. Pada penggunaan metformin sebagai kontrol glikemia sering terjadi reaksi obat yang merugikan (ROM) berupa gangguan gastrointestinal seperti diare, mual, dan perut kembung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi faktor usia, cara minum, dan dosis metformin terhadap risiko efek samping gangguan gastrointestinal pada penderita rawat jalan BPJS Kesehatan yang baru terdiagnosis diabetes melitus tipe 2 di RSAU Dr. M. Salamun Bandung. Penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain potong lintang. Data dikumpulkan dari bagian poliklinik penyakit dalam, rekam medis, dan form check penderita yang mendapat pengobatan dengan metformin yang dilakukan sejak April–Juni 2014. Jumlah penderita yang memenuhi kriteria penelitian sebanyak 65 orang dengan rentang usia rata-rata 48 tahun. Keluhan efek samping yang dialami penderita berupa kembung (58,46%) dan mual (41,54%). Cara minum dan dosis metformin berkorelasi terhadap risiko efek samping berupa mual dan kembung pada penderita diabetes melitus tipe 2 (p<0,05) sedangkan faktor usia tidak berkorelasi (p>0,05). Penggunaan metformin dianjurkan sesudah makan dan dengan dosis awal rendah yang dititrasi perlahan untuk mengurangi dan menghindari terjadinya efek samping mual dan perut kembung pada penderita diabetes melitus tipe 2.Kata kunci: Diabetes melitus tipe 2, efek samping, metforminThe Correlation of Age Factor, Administration, and Metformin Dose Against Risk of Side Effect on Type 2 Diabetes MellitusMetformin is an antidiabetic oral medicine commonly recommended as first line treatment on type 2 diabetes mellitus. Metformin can caused drug related problems (DRPs) such as gastrointestinal disorders, e.g. diarrhea, nausea, and flatulence. This study aimed to analyze correlation profiles on age, administration, and metformin dosage factors against risk of gastrointestinal disorders among newlydiagnosed diabetic outpatients of National Health Insurance in RSAU Dr. M. Salamun Bandung. This study was an analytic observational study with a cross sectional method. The study was carried out in the internal medicine outpatient clinic and data were extracted from patients medical records from April to June 2014. Metformin-treated patients were interviewed using a form check. The number of patients were 65 with the median rate was 48 years old. Side effect reported were flatulence (58.46%) and nausea (41.54%). Administration and metformin dosage factors were correlated to the risk of side effects such as nausea and flatulence on type 2 diabetes mellitus (p<0.05), while age was not correlated (p>0.05). The administration of metformin is recommended after meals and with a lower initial dose titrated slowly to reduce and avoid the side effects of nausea and flatulence in patients with type 2 diabetes mellitus.Keywords: Metformin, side effect, type 2 diabetes mellitus