Perwitasari, Dyah A.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

Adherence and Quality of Life of Hypertension Patients in Gunung Jati Hospital, Cirebon, Indonesia Perwitasari, Dyah A.; Susilo, Rinto; Supadmi, Woro; Kaptein, Adrian A.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 4 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.835 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2015.4.4.289

Abstract

The treatment effectiveness of hypertension could be influenced by patients’ characteristics and patients’ adherence with medication. Besides reaching the goal of blood pressure decrease after the treatment, their quality of life has become the main concern regarding effectiveness of hypertension treatment. This study aimed to explore the hypertension patients’ adherence and quality of life. In addition, it was studied which factors associated with adherence and quality of life in hypertension patients treated withantihypertensive at Gunung Jati Hospital, Cirebon. We recruited 85 adult hypertension patients who were treated with antihypertensive agents for at least 6 months. The patients’ adherence was measured by Medication Adherence Report Scale and the patients’ quality of life was measured by Indonesian version of Short Form-36 questionnaire. The patients’ adherence was found as 24.03 (SD: 1.98) and there were no significant differences of patients’ adherence using monotherapy and combination therapy. Thepatients’ characteristics such as, age, gender and education level could not predict patients’ adherence (p>0.05). The average of Physical Component Summary (PCS) and Mental Component Summary (MCS) were 43.35 (SD: 9.4) and 52.13 (SD:5.59). Age and gender may predict PCS, however, education and comorbidity may predict MCS (p<0.05). Hypertension patients’ adherence in Gunung Jati hospital is good. The PCS and MCS scores in this study are comparable to the other previous studies. The patients’characteristic could not be the predictor of patients’ adherence.Keywords: Adherence, hypertension, quality of life, MARS, SF-36Kepatuhan dan Kualitas Hidup Pasien Hipertensi Di Rumah Sakit Gunung Jati CirebonEfektivitas terapi pasien hipertensi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor karakteristik pasien dan kepatuhan pasien. Selain menurunkan tekanan darah, luaran lain dari terapi hipertensi adalah meningkatkan kualitas hidup pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kepatuhan dan kualitas hidup pasien hipertensi serta memahami faktor prediksi kepatuhan dan kualitas hidup pasien. Sejumlah 85 pasien hipertensi yang telah mengonsumsi obat hipertensi minimal 6 bulan berpartisipasi dalam penelitian ini. Kepatuhan pasien diukur dengan kuesioner Medication Adherence Report Scale versi Indonesia dan kualitas hidup pasien diukur dengan kuesioner Short Formulary-36 versi Indonesia. Kepatuhan pasien hipertensi di RS Gunung Jati Cirebon adalah 24,03 (SD:1,98) dan tidak terdapat perbedaan signifikan antara kepatuhan pasien hipertensi yang menggunakan monoterapi dan kombinasi terapi. Karakteristik pasien seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan bukan merupakan prediktor kepatuhan (p>0,05). Rata-rata Physical Component Summary (PCS) dan Mental Component Summary (MCS) adalah 43,35 (SD: 9,4) dan 52,13 (SD:5,59). Usia dan jenis kelamin merupakan prediktor PCS dan pendidikan serta komorbiditas merupakan prediktor MCS (p<0,05). Kepatuhan pasien hipertensi di RS Gunung Jati Cirebon cukup baik. Komponen PCS dan MCS cukup baik dibandingkan dengan penelitian lain. Karakteristik demografi pasien bukan merupakan prediktor kepatuhan pasien.Kata kunci: Hipertensi, kepatuhan, kualitas hidup, SF-36, MARS
Illness Perceptions and Quality of Life in Patients with Diabetes Mellitus Type 2 Perwitasari, Dyah A.; Santosa, Setiyo B.; Faridah, Imaniar N.; Kaptein, Adrian A.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.277 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2017.6.3.190

Abstract

One of the treatment objectives in patients with type 2 diabetes mellitus (T2DM) is improving their quality of life (QoL). Illness perceptions are major determinant of QOL. This study was aimed to evaluate the QoL of T2DM patients with complications, and to examine the correlation between patients’ illness perceptions and QoL. We conducted a cross-sectional study in a private hospital in Yogyakarta, Indonesia from July to September 2015. We recruited adult patients with a diagnosis of T2DM with complications (ICD E.11) that has been diagnosed for at least 3 months. Illness perceptions were assessed with the Brief Illness Perception Questionnaire (BIPQ), and diabetes type 2 specific QoL with the Diabetes Quality of Life for Clinical Trial Questionnaire (DQLCTQ). Data was analyzed using Pearson correlation test. We recruited 51 T2DM patients. Female patients were dominant and most of the subjects experienced T2DM more than 5 years. The BIPQ scores indicated that patients had positive perceptions about T2DM and the treatment in all domains, except for coherence. Scores on the DQLCTQ showed that T2DM patients’ QoL is good, except for the self satisfaction and treatment effect. Statistically significant positive correlations were observed between BIPQ dimensions of personal control, treatment control and coherence and QoL domains (p<0.01). Moreover, the strong negative correlation were observed between consequences, concern and emotional response and QoL domains (p<0.01). However, 92% correlations are weak. Illness perceptions are correlated with T2DM patients’ QoL. Interventions aimed to get more adaptive illness perceptions may impact positively on QoL.Keywords: BIPQ, DQLCTQ, illness perceptions, Indonesia, QoL, T2DM Persepsi terhadap Penyakit dan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Salah satu tujuan terapi DM tipe 2 adalah memperbaiki kualitas hidup pasien. Persepsi terhadap penyakit merupakan penentu utama dari kualitas hidup. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kualitas hidup pasien pada pasien DM tipe 2 dengan komplikasi serta mengetahui hubungan antara persepsi pasien dan kualitas hidup. Rancangan penelitian ini adalah potong lintang yang dilakukan di rumah sakit swasta di Yogyakarta. Subjek yang berpartisipasi dalam penelitian ini adalah pasien DM tipe 2 dewasa dengan komplikasi yang terdiagnosa minimal 3 bulan sebelum penelitian ini dimulai (ICD E11). Kualitas hidup diukur dengan Diabetes Quality of Life for Clinical Trial Questionnaire (DQLCTQ) dan persepsi pasien diukur dengan Brief Illness Perception Questionnaire (BIPQ). Sejumlah 51 pasien DM tipe 2 dengan komplikasi turut berpartisipasi dalam penelitian ini dari bulan Juli sampai September 2015. Mayoritas subjek adalah wanita dan sebagian besar pasien mengalami DM tipe 2 lebih dari 5 tahun. Skor domain BIPQ memperlihatkan bahwa pasien DM tipe 2 mempunyai persepsi yang positif terhadap penyakit dan pengobatannya pada semua domain kecuali koherensi. Skor domain DQLCTQ memperlihatkan bahwa pasien mempunyai kualitas hidup yang baik, kecuali domain kepuasan pribadi dan efek terapi (berturut-turut 55,6 dan 44,3). Korelasi kuat yang positif terlihat pada domain persepsi kontrol diri, kontrol terapi dan koherensi dengan semua domain kualitas hidup (p<0,01). Korelasi kuat yang negatif terlihat pada domain konsekuensi, kekhawatiran dan respon emosi dengan kualitas hidup (p<0,01). Sejumlah 92% korelasi BIPQ dan DQLCTQ adalah lemah. Persepsi pasien dan komplikasi dapat memengaruhi kualitas hidup pasien DM tipe 2. Intervensi yang bersifat memperbaiki persepsi pasien akan berdampak positif terhadap kualitas hidup.Kata kunci: BIPQ, DM tipe 2, DQLCTQ, Indonesia, kualitas hidup, persepsi
Quality of Life and Adherence of Diabetic Patients in Different Treatment Regimens Perwitasari, Dyah A.; Adikusuma, Wirawan; Rikifani, Shoma; Supadmi, Woro; Kaptein, Adrian A.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 3, No 4 (2014)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1165.779 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2014.3.4.107

Abstract

The diabetic patient’s quality of life and adherence should be a concerned by health care providers. This study aimed to explore the diabetic patient’s quality of life and medication adherence into account. We recruited 88 subjects in a cross-sectional design. The research subjects were out-patients with type 2 diabetes mellitus in a private hospitals in Yogyakarta City who had taken single or combination of oral anti diabetic and insulin at least six months prior to quality of life measurement. Patients were classified into three groups (monotherapy, oral combination therapy, and oral-insulin combination group). The domains of physical function, energy, satisfaction treatment, and treatment effect were significantly different among the three groups. There were significant associations between treatment satisfaction domain and adherence in monotherapy and oral-insulin combination groups, the health pressure domain and adherence in oral-insulin combination group, the treatment satisfaction domain with adherence in first two groups, and health pressure domain with adherence in oral-insulin combination group. In conclusion, the quality of life of the diabetic patients was good and their medication adherence was at a moderate level.Key words: Adherence, diabetes, Indonesia, quality of life Kualitas Hidup dan Kepatuhan Pasien Diabetes Melitus dengan Pengobatan yang BerbedaKualitas hidup dan kepatuhan pasien diabetes melitus (DM) sebaiknya mendapat perhatian dari pemberilayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas hidup pasien DM dan hubungannya dengan kepatuhan pasien. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan potong lintang. Subjek penelitian ini adalah 88 orang pasien DM tipe 2 di suatu rumah sakit swasta di Yogyakarta yang memperoleh pengobatan baik tunggal maupun kombinasi antara antidiabetes oral dan insulin minimal enam bulan sebelum pengambilan data kualitas hidup. Pasien dikategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok monoterapi, kombinasi oral antidiabetes, dan kombinasi oral-insulin. Terdapat perbedaan yang signifikan antara ketiga kelompok ini pada domain fungsi fisik, energi, kepuasan terhadap terapi, dan efek pengobatan. Terdapat hubungan signifikan antara domain kepuasan pasien dengan kepatuhan pada kelompok monoterapi dan terapi kombinasi oral, domain tekanan kesehatan dengan kepatuhan pada kelompok terapi kombinasi oral-insulin, serta domain kepuasan pasien dan tekanan kesehatan dengan kepatuhan pasien pada ketiga kelompok terapi. Kualitas hidup pasien DM pada penelitian ini cukup bagus dengan kepatuhan pada tingkat moderat.Kata kunci: Diabetes, kepatuhan, kualitas hidup, Indonesia
Pengaruh Pemberian Kombinasi Probiotik dan Seng terhadap Frekuensi dan Durasi Diare pada Pasien Anak di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta Huda, Nurul; Perwitasari, Dyah A.; Risdiana, Irma
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.68 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2017.6.1.11

Abstract

Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga dan Riset Kesehatan Dasar dari tahun ke tahun,diare merupakan penyebab utama kematian balita di Indonesia. Penggunaan probiotik untuk diareakut pada anak sudah digunakan secara luas meskipun belum direkomendasikan oleh World HealthOrganization (WHO). Penelitian yang membandingkan penambahan probiotik pada terapi standar diaremasih sangat terbatas, oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberianprobiotik yang diberikan secara bersamaan dengan terapi standar diare terhadap frekuensi dan durasidiare akut pada anak. Penelitian ini menggunakan desain kohort dengan pengambilan data dilakukansecara prospektif pada pasien diare akut pada anak di Unit Rawat Inap Anak RS PKU MuhammadiyahYogyakarta periode September–Desember 2015. Subjek yang diamati adalah pasien yang mendapatkanterapi standar diare (cairan rehidrasi dan seng) sebagai kelompok I, dan yang mendapatkan terapistandar diare (cairan rehidrasi dan seng) yang dikombinasikan dengan probiotik sebagai kelompok II.Variabel pengamatan utama adalah frekuensi dan durasi diare. Perbedaan frekuensi diare dan durasidiare antar kelompok yang terdistribusi normal dianalisis dengan uji parametrik yaitu uji t-test tidakberpasangan, sedangkan yang tidak terdistribusi normal dianalisis dengan uji non-parametrik yaitu ujiMann-Whitney. Selama periode penelitian diperoleh 44 subjek yang memenuhi kriteria inklusi, yangterdiri dari 38 subjek yang mendapatkan terapi cairan rehidrasi, seng dan probiotik dan sebanyak6 subjek yang mendapatkan terapi cairan rehidrasi dan seng. Frekuensi diare lebih sedikit padakelompok I dengan nilai rata-rata 1 kali dibanding kelompok II yaitu 3 kali (p=0,024). Durasi diarelebih singkat pada kelompok I dengan nilai rata-rata 46 jam 30 menit dibanding kelompok II dengannilai rata-rata 53 jam 10 menit (p=0,515). Dari penelitian ini disimpulkan bahwa pemberian probiotikpada terapi standar diare tidak menunjukkan penurunan pada frekuensi dan durasi diare dibandingkandengan kelompok yang hanya diberikan terapi standar diare dalam tata laksana diare akut pada anak.
Hubungan Pemberian Terapi Antipsikotik terhadap Kejadian Efek Samping Sindrom Ekstrapiramidal pada Pasien Rawat Jalan di Salah Satu Rumah Sakit di Bantul, Yogyakarta Dania, Haafizah; Faridah, Imaniar N.; Rahmah, Khansa F.; Abdulah, Rizky; Barliana, Melisa I.; Perwitasari, Dyah A.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.777 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2019.8.1.19

Abstract

Skizofrenia merupakan penyakit gangguan jiwa terbanyak yang memiliki prognosis yang buruk, dengan remisi total hanya dialami oleh sekitar 20% penderitanya, sedangkan sisanya akan mengalami berbagai tingkat kesulitan dan kemunduran secara klinis dan sosial. Antipsikotik merupakan terapi utama pada skizofrenia, namun pemberian terapi ini terkadang dapat menimbulkan efek samping, salah satunya adalah sindrom ekstrapiramidal yang dapat menyebabkan pasien enggan untuk minum obat secara rutin, akibatnya frekuensi kekambuhan menjadi meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan terapi antipsikotik terhadap kejadian sindrom ekstrapiramidal pada pasien skizofrenia rawat jalan di salah satu rumah sakit di wilayah Bantul, Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain penelitian cross-sectional dengan pengambilan data secara retrospektif menggunakan data rekam medis pasien skizofrenia yang menjalani rawat jalan di salah satu rumah sakit di wilayah Bantul, Yogyakarta pada periode Januari–Desember 2017. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 100 orang pasien dengan kriteria inklusi yaitu pasien skizofrenia dengan usia >15 tahun dan mendapatkan terapi antipsikotik selama minimal 4 minggu, sedangkan kriteria ekslusi yaitu pasien yang mendapatkan terapi metoklopramid dan mempunyao riwayat sindrom ekstrapiramidal sebelumnya. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan uji Chi–Square dengan menggunakan program SPSS versi 16.0. Diperoleh bahwa sebagian besar pasien mendapat risperidon sebesar 27%, risperidon+klozapin 17%, dan haloperidol+klozapin 10%. Pada pasien yang memperoleh terapi antipsikotik tunggal, sebanyak 5 orang mengalami efek samping sindrom ekstrapiramidal, sedangkan pada pasien yang memperoleh terapi antipsikotik kombinasi, 7 orang mengalami efek samping sindrom ekstrapiramidal. Hasil analisis uji Chi-Square menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan baik itu antara penggunaan terapi antipsikotik (tunggal maupun kombinasi) (p=1,000), antara terapi antipsikotik tunggal (tipikal maupun atipikal) (p=0,467), dan antara terapi antipsikotik kombinasi (atipikal-atipikal, tipikal-tipikal, dan tipikal-atipikal) (p=0,269), dengan kejadian efek samping sindrom ekstrapiramidal.Kata kunci: Antipsikotik, sindrom ekstrapiramidal, skizofrenia Relationship between the Use of Antipsychotic and Incident of Extrapyramidal Syndrome on Schizophrenic Outpatients at One of Hospitals in Bantul, YogyakartaAbstractSchizophrenia is the most kind of psychiatric diseases which has bad prognosis with total remision only around 20%, otherwise social and clinical difficulties will be faced by the rest. Antipsychotic is a first line therapy for schizophrenic patients, however it has some side effects such as extrapyramidal syndrome that make people reluctant to take the medication regularly. Furthermore, the number of recurrence is increasing. The aim of this study was to analyze the relationship between the use of antipsychotic and the incident of extrapyramidal syndrome in outpatient schizophrenia in one of hospitals in Bantul region, Yogyakarta. This study was observational study, using cross-sectional design. Data was taken retrospectively using patients’ medical records who were outpatients in one of hospitals in Bantul region, Yogyakarta, in the period of January–December 2017. The sample of this research was 100 patients. The inclusion criteria was schizophrenic patients aged >15 years old who took an antipsychotic therapy for a minimum of 4 weeks, while the exclusion criteria was patients who took metoclopramide as a therapy and had a history of extrapyramidal syndrome previously. Purposive sampling was used as a technique for sampling. Data analysis was conducted using Chi-Square by SPSS ver. 16.0. Results of this study is most patients took risperidon e (27%), risperidone+clozapine 17%, and haloperidol+clozapine 10%. The incident of extrapyramidal syndrome happened in 5 patients who took single antipsychotic and in 7 patients who took combination antipsychotic. However, the Chi-Square analysis showed that there was no relationship between the use of antipsychotic (single or combination) and the incident of extrapyramidal syndrome (p-value=1.000). Likewise, there was no relationship between the use of single (both typical and atypical) antipsychotic therapy (p-value=0.467), also no relationship between the use of combination (atypical-atypical, typical-typical and atypical) antipsychotic therapy (p-value=0.269) and the incident of extrapyramidal syndrome side-effects.Keywords: Antipsychotics, extrapyramidal syndrome, schizophrenia
Adherence and Quality of Life of Hypertension Patients in Gunung Jati Hospital, Cirebon, Indonesia Perwitasari, Dyah A.; Susilo, Rinto; Supadmi, Woro; Kaptein, Adrian A.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 4 (2015)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1252.045 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2015.4.4.289

Abstract

The treatment effectiveness of hypertension could be influenced by patients’ characteristics and patients’ adherence with medication. Besides reaching the goal of blood pressure decrease after the treatment, their quality of life has become the main concern regarding effectiveness of hypertension treatment. This study aimed to explore the hypertension patients’ adherence and quality of life. In addition, it was studied which factors associated with adherence and quality of life in hypertension patients treated withantihypertensive at Gunung Jati Hospital, Cirebon. We recruited 85 adult hypertension patients who were treated with antihypertensive agents for at least 6 months. The patients’ adherence was measured by Medication Adherence Report Scale and the patients’ quality of life was measured by Indonesian version of Short Form-36 questionnaire. The patients’ adherence was found as 24.03 (SD: 1.98) and there were no significant differences of patients’ adherence using monotherapy and combination therapy. Thepatients’ characteristics such as, age, gender and education level could not predict patients’ adherence (p>0.05). The average of Physical Component Summary (PCS) and Mental Component Summary (MCS) were 43.35 (SD: 9.4) and 52.13 (SD:5.59). Age and gender may predict PCS, however, education and comorbidity may predict MCS (p<0.05). Hypertension patients’ adherence in Gunung Jati hospital is good. The PCS and MCS scores in this study are comparable to the other previous studies. The patients’characteristic could not be the predictor of patients’ adherence.Keywords: Adherence, hypertension, quality of life, MARS, SF-36Kepatuhan dan Kualitas Hidup Pasien Hipertensi Di Rumah Sakit Gunung Jati CirebonEfektivitas terapi pasien hipertensi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor karakteristik pasien dan kepatuhan pasien. Selain menurunkan tekanan darah, luaran lain dari terapi hipertensi adalah meningkatkan kualitas hidup pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kepatuhan dan kualitas hidup pasien hipertensi serta memahami faktor prediksi kepatuhan dan kualitas hidup pasien. Sejumlah 85 pasien hipertensi yang telah mengonsumsi obat hipertensi minimal 6 bulan berpartisipasi dalam penelitian ini. Kepatuhan pasien diukur dengan kuesioner Medication Adherence Report Scale versi Indonesia dan kualitas hidup pasien diukur dengan kuesioner Short Formulary-36 versi Indonesia. Kepatuhan pasien hipertensi di RS Gunung Jati Cirebon adalah 24,03 (SD:1,98) dan tidak terdapat perbedaan signifikan antara kepatuhan pasien hipertensi yang menggunakan monoterapi dan kombinasi terapi. Karakteristik pasien seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan bukan merupakan prediktor kepatuhan (p>0,05). Rata-rata Physical Component Summary (PCS) dan Mental Component Summary (MCS) adalah 43,35 (SD: 9,4) dan 52,13 (SD:5,59). Usia dan jenis kelamin merupakan prediktor PCS dan pendidikan serta komorbiditas merupakan prediktor MCS (p<0,05). Kepatuhan pasien hipertensi di RS Gunung Jati Cirebon cukup baik. Komponen PCS dan MCS cukup baik dibandingkan dengan penelitian lain. Karakteristik demografi pasien bukan merupakan prediktor kepatuhan pasien.Kata kunci: Hipertensi, kepatuhan, kualitas hidup, SF-36, MARS
Illness Perceptions and Quality of Life in Patients with Diabetes Mellitus Type 2 Perwitasari, Dyah A.; Santosa, Setiyo B.; Faridah, Imaniar N.; Kaptein, Adrian A.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2429.99 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2017.6.3.190

Abstract

One of the treatment objectives in patients with type 2 diabetes mellitus (T2DM) is improving their quality of life (QoL). Illness perceptions are major determinant of QOL. This study was aimed to evaluate the QoL of T2DM patients with complications, and to examine the correlation between patients’ illness perceptions and QoL. We conducted a cross-sectional study in a private hospital in Yogyakarta, Indonesia from July to September 2015. We recruited adult patients with a diagnosis of T2DM with complications (ICD E.11) that has been diagnosed for at least 3 months. Illness perceptions were assessed with the Brief Illness Perception Questionnaire (BIPQ), and diabetes type 2 specific QoL with the Diabetes Quality of Life for Clinical Trial Questionnaire (DQLCTQ). Data was analyzed using Pearson correlation test. We recruited 51 T2DM patients. Female patients were dominant and most of the subjects experienced T2DM more than 5 years. The BIPQ scores indicated that patients had positive perceptions about T2DM and the treatment in all domains, except for coherence. Scores on the DQLCTQ showed that T2DM patients’ QoL is good, except for the self satisfaction and treatment effect. Statistically significant positive correlations were observed between BIPQ dimensions of personal control, treatment control and coherence and QoL domains (p<0.01). Moreover, the strong negative correlation were observed between consequences, concern and emotional response and QoL domains (p<0.01). However, 92% correlations are weak. Illness perceptions are correlated with T2DM patients’ QoL. Interventions aimed to get more adaptive illness perceptions may impact positively on QoL.Keywords: BIPQ, DQLCTQ, illness perceptions, Indonesia, QoL, T2DM Persepsi terhadap Penyakit dan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Salah satu tujuan terapi DM tipe 2 adalah memperbaiki kualitas hidup pasien. Persepsi terhadap penyakit merupakan penentu utama dari kualitas hidup. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kualitas hidup pasien pada pasien DM tipe 2 dengan komplikasi serta mengetahui hubungan antara persepsi pasien dan kualitas hidup. Rancangan penelitian ini adalah potong lintang yang dilakukan di rumah sakit swasta di Yogyakarta. Subjek yang berpartisipasi dalam penelitian ini adalah pasien DM tipe 2 dewasa dengan komplikasi yang terdiagnosa minimal 3 bulan sebelum penelitian ini dimulai (ICD E11). Kualitas hidup diukur dengan Diabetes Quality of Life for Clinical Trial Questionnaire (DQLCTQ) dan persepsi pasien diukur dengan Brief Illness Perception Questionnaire (BIPQ). Sejumlah 51 pasien DM tipe 2 dengan komplikasi turut berpartisipasi dalam penelitian ini dari bulan Juli sampai September 2015. Mayoritas subjek adalah wanita dan sebagian besar pasien mengalami DM tipe 2 lebih dari 5 tahun. Skor domain BIPQ memperlihatkan bahwa pasien DM tipe 2 mempunyai persepsi yang positif terhadap penyakit dan pengobatannya pada semua domain kecuali koherensi. Skor domain DQLCTQ memperlihatkan bahwa pasien mempunyai kualitas hidup yang baik, kecuali domain kepuasan pribadi dan efek terapi (berturut-turut 55,6 dan 44,3). Korelasi kuat yang positif terlihat pada domain persepsi kontrol diri, kontrol terapi dan koherensi dengan semua domain kualitas hidup (p<0,01). Korelasi kuat yang negatif terlihat pada domain konsekuensi, kekhawatiran dan respon emosi dengan kualitas hidup (p<0,01). Sejumlah 92% korelasi BIPQ dan DQLCTQ adalah lemah. Persepsi pasien dan komplikasi dapat memengaruhi kualitas hidup pasien DM tipe 2. Intervensi yang bersifat memperbaiki persepsi pasien akan berdampak positif terhadap kualitas hidup.Kata kunci: BIPQ, DM tipe 2, DQLCTQ, Indonesia, kualitas hidup, persepsi
Pengaruh Pemberian Kombinasi Probiotik dan Seng terhadap Frekuensi dan Durasi Diare pada Pasien Anak di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta Huda, Nurul; Perwitasari, Dyah A.; Risdiana, Irma
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1056.811 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2017.6.1.11

Abstract

Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga dan Riset Kesehatan Dasar dari tahun ke tahun, diare merupakan penyebab utama kematian balita di Indonesia. Penggunaan probiotik untuk diare akut pada anak sudah digunakan secara luas meskipun belum direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO). Penelitian yang membandingkan penambahan probiotik pada terapi standar diare masih sangat terbatas, oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian probiotik yang diberikan secara bersamaan dengan terapi standar diare terhadap frekuensi dan durasi diare akut pada anak. Penelitian ini menggunakan desain kohort dengan pengambilan data dilakukan secara prospektif pada pasien diare akut pada anak di Unit Rawat Inap Anak RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta periode September–Desember 2015. Subjek yang diamati adalah pasien yang mendapatkan terapi standar diare (cairan rehidrasi dan seng) sebagai kelompok I, dan yang mendapatkan terapi standar diare (cairan rehidrasi dan seng) yang dikombinasikan dengan probiotik sebagai kelompok II. Variabel pengamatan utama adalah frekuensi dan durasi diare. Perbedaan frekuensi diare dan durasi diare antar kelompok yang terdistribusi normal dianalisis dengan uji parametrik yaitu uji t-test tidak berpasangan, sedangkan yang tidak terdistribusi normal dianalisis dengan uji non-parametrik yaitu uji Mann-Whitney. Selama periode penelitian diperoleh 44 subjek yang memenuhi kriteria inklusi, yang terdiri dari 38 subjek yang mendapatkan terapi cairan rehidrasi, seng dan probiotik dan sebanyak 6 subjek yang mendapatkan terapi cairan rehidrasi dan seng. Frekuensi diare lebih sedikit pada kelompok I dengan nilai rata-rata 1 kali dibanding kelompok II yaitu 3 kali (p=0,024). Durasi diare lebih singkat pada kelompok I dengan nilai rata-rata 46 jam 30 menit dibanding kelompok II dengan nilai rata-rata 53 jam 10 menit (p=0,515). Dari penelitian ini disimpulkan bahwa pemberian probiotik pada terapi standar diare tidak menunjukkan penurunan pada frekuensi dan durasi diare dibandingkan dengan kelompok yang hanya diberikan terapi standar diare dalam tata laksana diare akut pada anak.Kata kunci: Diare, probiotik, prospektif, seng Effect of Probiotics and Zinc Combination to the Frequency and Duration of Diarrhea in Pediatrics Patients at PKU Muhammadiyah Hospital YogyakartaAbstractBased on the survey of household health and basic medical research over the years, diarrhea is a major cause of infant mortality in Indonesia. Probiotics have been used extensively in acute diarrhea in children, although are not recommended yet by Word Health Organization (WHO). Research on comparative of increasing probiotic research to standard therapy of diarrhea is still very limited. Therefore this study was conducted to determine the effect of probiotics given concomitantly with standard therapy of diarrhea to the frequency and duration of acute diarrhea in children. This study was conducted by cohort design with data collection was performed prospectively in children patients with acute diarrhea in the pediatric ward of PKU Muhammadiyah Hospital in Yogyakarta from September until December 2015. Subjects were receiving standard therapy of diarrhea (rehydration solution and zinc) as group I, and who received standard therapy diarrhea (rehydration solution and zinc) combined with probiotics as group II. The main observation variables were frequency and duration of diarrhea. Differences of diarrhea frequency and diarrhea duration between groups normally distributed were analyzed by parametric unpaired t-test, while not normally distributed were analyzed by non-parametric Mann-Whitney test. During the study period we recruited 44 subjects who met the inclusion criteria, which consisted of 38 subjects who received fluid rehydration therapy, zinc and probiotics and as much as 6 subjects who received therapy rehydration liquid and zinc. The results show the frequency of diarrhea in group I is less than group II, the average value of group I is 1 time and the average value of group II is 3 times (p=0.024). Duration of diarrhea was shorter in group I with the average value of 46 hours 30 minutes than in group II 53 hours 10 minutes (p=0.515). This study suggests that the administration of probiotics in the standard therapy of diarrhea did not significantly affect the reduction in the frequency of diarrhea and the duration of diarrhea, compared to the group given only the standard therapy of diarrhea in the management of acute diarrhea in children.Keywords: Diarrhea, probiotics, prospective, zinc
Efektivitas Pemberian Terapi Cairan Inisial Dibandingkan Terapi Cairan Standar WHO terhadap Lama Perawatan pada Pasien Demam Berdarah di Bangsal Anak Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantul Rahmawati, Asnia; Perwitasari, Dyah A.; Kurniawan, Nurcholid U.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.717 KB)

Abstract

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue. Kasus DBD di Kabupaten Bantul pada tahun 2016 berjumlah 1.706 dengan 13 kematian. Salah satu kunci keberhasilan terapi pada pasien DBD adalah menjaga tercukupinya kebutuhan cairan pasien selama fase kritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pemberian terapi cairan inisial terhadap perbaikan klinis, laboratoris dan lama rawat inap dibandingkan terapi standar WHO pada pasien DF dan DHF di bangsal anak RS PKU Muhammadiyah Bantul. Penelitian ini dilakukan di bangsal anak RS PKU Muhammadiyah Bantul pada bulan Februari 2018 sampai Juni 2018 menggunakan metode eksperimental single blind randomised clinical trial pada dua kelompok yaitu cairan standar WHO (n=24) dan cairan inisial (n=24). Hasil yang diukur yaitu luaran terapi suhu badan, hematokrit, trombosit dan lama rawat inap. Perbedaan antarkelompok dianalisis dengan unpaired t-test dan Mann-Whitney. Berdasarkan hasil penelitian, kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan bermakna terhadap rata-rata suhu badan dan hematokrit (p>0,05), sedangkan kedua kelompok menunjukkan perbedaan yang bermakna terhadap rata-rata peningkatan trombosit dan lama rawat inap (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa kelompok cairan inisial memiliki rerata lama rawat inap lebih cepat 4,00±0,7 hari dibanding kelompok standar WHO yang disertai dengan peningkatan trombosit selama menjalani rawat inap. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian terapi cairan inisial tidak memberikan perbedaan yang signifikan terhadap rata-rata suhu badan dan hematokrit sedangkan efektivitas antara kedua kelompok menunjukkan perbedaan yang bermakna terhadap rata-rata peningkatan trombosit dan lama rawat inap.Kata kunci: Cairan inisial, demam berdarah dengue, hematokrit, lama rawat inap, suhu badan, trombosit Effectiveness of Initial Fluid Therapy Compared to WHO Standard Therapy on the Length of Stay of Patients with Dengue Fever in Children’s Ward PKU Muhammadiyah Bantul HospitalAbstract Dengue hemorrhagic fever (DHF) is an infectious disease caused by the dengue virus. The number of dengue cases in Bantul Regency in 2016 was 1,706 with 13 deaths. One of the keys to successful therapy in DHF patients is to maintain adequate fluid requirements for patients during the critical phase. This study aimed to determine differences in initial fluid therapy for clinical, laboratory improvement and length of stay compared to WHO standard therapy in DF and DHF patients in pediatric ward PKU Muhammadiyah Bantul Hospital, Yogyakarta. This research was conducted in the pediatric ward of PKU Muhammadiyah Bantul Hospital in February 2018 to June 2018 using a single blind randomized clinical trial experimental method. Samples were divided into two groups, namely WHO standard fluid (n=24) and initial fluid (n=24). The results measured were body temperature, hematocrit, platelets and length of stay. Differences between groups were analyzed using unpaired t-test and Mann-Whitney. The two groups showed a significant difference toward the increase in platelets and length of stay (p<0.05). This suggests that the initial fluid group had an average length of stay 4.00±0.7 days faster than the WHO standard group which was accompanied by an increase in platelets during hospitalization. In conclusion, the initial fluid therapy did not give a significant difference to the mean body temperature and hematocrit, while the effectiveness between the two groups showed a significant difference toward the increase in platelets and length of stay.Keywords: Body temperature, dengue hemorrhagic fever, hematocrit, initial fluid, length of stay, platelets
Efektivitas Biaya Terapi Cairan Kristaloid dan Koloid pada Pasien Anak Demam Berdarah di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantul Nasriyah, Chotijatun; Munawwarah, Baiq A. A.; Perwitasari, Dyah A.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.496 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2019.8.1.12

Abstract

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Kunci keberhasilan terapi pada penyakit demam berdarah adalah pemberian cairan termasuk jenis dan jumlahnya. Dari aspek biaya terapi, cairan koloid diketahui lebih mahal dibandingkan cairan kristaloid. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas biaya terapi cairan kristaloid dan koloid pada pasien anak demam berdarah periode Januari 2018 sampai Juni 2018 di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantul. Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental single blind randomized clinical trial. Sejumlah 48 pasien anak yang memenuhi syarat inklusi dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok intervensi (n=24) yang mendapatkan terapi cairan koloid berupa inisial cairan gelafusal dan kelompok kontrol (n=24) yang mendapatkan terapi cairan kristaloid tunggal berupa ringer laktat. Data efektivitas (lama rawat inap) dan total biaya medis dianalisis menggunakan independent t-test dan rumus average cost-effectiveness ratio (ACER). Terdapat perbedaan yang signifikan lama rawat inap antara kelompok cairan kristaloid dibandingkan kelompok cairan koloid (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan perbandingan nilai ACER yaitu nilai ACER kelompok koloid (Rp28.560/efektivitas) lebih rendah dari nilai ACER kelompok kristaloid (Rp62.328/efektivitas). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terapi cairan koloid lebih cost-effective dibandingkan cairan kristaloid.Kata kunci: Efektivitas biaya, koloid, kristaloidCost-Effectiveness of Crystalloid and Colloid Therapy in Children with Dengue Fever in PKU Muhammadiyah Hospital, BantulAbstractDengue hemorrhagic fever (DHF) is a disease caused by the dengue virus which is transmitted through the bite of the Aedes aegypti mosquito. The key to the success of therapy in dengue fever is the administration of fluids including types and quantities. Based on its cost, colloid fluid therapy are known to be more expensive than crystalloid fluid therapy. The purpose of this study was to determine the cost-effectiveness of crystalloid and colloid fluid therapy in dengue fever patients in the period of January–June 2018 at PKU Muhammadiyah Hospital Bantul. This study employed an experimental single blind randomized clinical trial design. A total of 48 pediatric patients who met the inclusion requirements were divided into two groups, namely the intervention group (n=24) who received colloid fluid therapy in the form of initial gelafusal fluid and control group (n=24) who received single crystalloid fluid therapy in the form of ringer lactate. Effectiveness data (length of stay) and total medical costs were analyzed using independent t-test and the average cost-effectiveness ratio (ACER) formula. There was a significant difference in length of stay between groups of crystalloid fluid compared to the group of colloid fluid (p<0.05). The ACER values of the colloid group (28,560 IDR/effectiveness) was lower than the crystalloid group (62,328 IDR/effectiveness). The conclusion of this study is that colloid fluid therapy group is more cost-effective than crystalloid fluid group.Keywords: Colloid, cost-effectiveness, crystalloid