Faridah, Imaniar N.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

Illness Perceptions and Quality of Life in Patients with Diabetes Mellitus Type 2 Perwitasari, Dyah A.; Santosa, Setiyo B.; Faridah, Imaniar N.; Kaptein, Adrian A.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.277 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2017.6.3.190

Abstract

One of the treatment objectives in patients with type 2 diabetes mellitus (T2DM) is improving their quality of life (QoL). Illness perceptions are major determinant of QOL. This study was aimed to evaluate the QoL of T2DM patients with complications, and to examine the correlation between patients’ illness perceptions and QoL. We conducted a cross-sectional study in a private hospital in Yogyakarta, Indonesia from July to September 2015. We recruited adult patients with a diagnosis of T2DM with complications (ICD E.11) that has been diagnosed for at least 3 months. Illness perceptions were assessed with the Brief Illness Perception Questionnaire (BIPQ), and diabetes type 2 specific QoL with the Diabetes Quality of Life for Clinical Trial Questionnaire (DQLCTQ). Data was analyzed using Pearson correlation test. We recruited 51 T2DM patients. Female patients were dominant and most of the subjects experienced T2DM more than 5 years. The BIPQ scores indicated that patients had positive perceptions about T2DM and the treatment in all domains, except for coherence. Scores on the DQLCTQ showed that T2DM patients’ QoL is good, except for the self satisfaction and treatment effect. Statistically significant positive correlations were observed between BIPQ dimensions of personal control, treatment control and coherence and QoL domains (p<0.01). Moreover, the strong negative correlation were observed between consequences, concern and emotional response and QoL domains (p<0.01). However, 92% correlations are weak. Illness perceptions are correlated with T2DM patients’ QoL. Interventions aimed to get more adaptive illness perceptions may impact positively on QoL.Keywords: BIPQ, DQLCTQ, illness perceptions, Indonesia, QoL, T2DM Persepsi terhadap Penyakit dan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Salah satu tujuan terapi DM tipe 2 adalah memperbaiki kualitas hidup pasien. Persepsi terhadap penyakit merupakan penentu utama dari kualitas hidup. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kualitas hidup pasien pada pasien DM tipe 2 dengan komplikasi serta mengetahui hubungan antara persepsi pasien dan kualitas hidup. Rancangan penelitian ini adalah potong lintang yang dilakukan di rumah sakit swasta di Yogyakarta. Subjek yang berpartisipasi dalam penelitian ini adalah pasien DM tipe 2 dewasa dengan komplikasi yang terdiagnosa minimal 3 bulan sebelum penelitian ini dimulai (ICD E11). Kualitas hidup diukur dengan Diabetes Quality of Life for Clinical Trial Questionnaire (DQLCTQ) dan persepsi pasien diukur dengan Brief Illness Perception Questionnaire (BIPQ). Sejumlah 51 pasien DM tipe 2 dengan komplikasi turut berpartisipasi dalam penelitian ini dari bulan Juli sampai September 2015. Mayoritas subjek adalah wanita dan sebagian besar pasien mengalami DM tipe 2 lebih dari 5 tahun. Skor domain BIPQ memperlihatkan bahwa pasien DM tipe 2 mempunyai persepsi yang positif terhadap penyakit dan pengobatannya pada semua domain kecuali koherensi. Skor domain DQLCTQ memperlihatkan bahwa pasien mempunyai kualitas hidup yang baik, kecuali domain kepuasan pribadi dan efek terapi (berturut-turut 55,6 dan 44,3). Korelasi kuat yang positif terlihat pada domain persepsi kontrol diri, kontrol terapi dan koherensi dengan semua domain kualitas hidup (p<0,01). Korelasi kuat yang negatif terlihat pada domain konsekuensi, kekhawatiran dan respon emosi dengan kualitas hidup (p<0,01). Sejumlah 92% korelasi BIPQ dan DQLCTQ adalah lemah. Persepsi pasien dan komplikasi dapat memengaruhi kualitas hidup pasien DM tipe 2. Intervensi yang bersifat memperbaiki persepsi pasien akan berdampak positif terhadap kualitas hidup.Kata kunci: BIPQ, DM tipe 2, DQLCTQ, Indonesia, kualitas hidup, persepsi
Hubungan Pemberian Terapi Antipsikotik terhadap Kejadian Efek Samping Sindrom Ekstrapiramidal pada Pasien Rawat Jalan di Salah Satu Rumah Sakit di Bantul, Yogyakarta Dania, Haafizah; Faridah, Imaniar N.; Rahmah, Khansa F.; Abdulah, Rizky; Barliana, Melisa I.; Perwitasari, Dyah A.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.777 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2019.8.1.19

Abstract

Skizofrenia merupakan penyakit gangguan jiwa terbanyak yang memiliki prognosis yang buruk, dengan remisi total hanya dialami oleh sekitar 20% penderitanya, sedangkan sisanya akan mengalami berbagai tingkat kesulitan dan kemunduran secara klinis dan sosial. Antipsikotik merupakan terapi utama pada skizofrenia, namun pemberian terapi ini terkadang dapat menimbulkan efek samping, salah satunya adalah sindrom ekstrapiramidal yang dapat menyebabkan pasien enggan untuk minum obat secara rutin, akibatnya frekuensi kekambuhan menjadi meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan terapi antipsikotik terhadap kejadian sindrom ekstrapiramidal pada pasien skizofrenia rawat jalan di salah satu rumah sakit di wilayah Bantul, Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain penelitian cross-sectional dengan pengambilan data secara retrospektif menggunakan data rekam medis pasien skizofrenia yang menjalani rawat jalan di salah satu rumah sakit di wilayah Bantul, Yogyakarta pada periode Januari–Desember 2017. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 100 orang pasien dengan kriteria inklusi yaitu pasien skizofrenia dengan usia >15 tahun dan mendapatkan terapi antipsikotik selama minimal 4 minggu, sedangkan kriteria ekslusi yaitu pasien yang mendapatkan terapi metoklopramid dan mempunyao riwayat sindrom ekstrapiramidal sebelumnya. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan uji Chi–Square dengan menggunakan program SPSS versi 16.0. Diperoleh bahwa sebagian besar pasien mendapat risperidon sebesar 27%, risperidon+klozapin 17%, dan haloperidol+klozapin 10%. Pada pasien yang memperoleh terapi antipsikotik tunggal, sebanyak 5 orang mengalami efek samping sindrom ekstrapiramidal, sedangkan pada pasien yang memperoleh terapi antipsikotik kombinasi, 7 orang mengalami efek samping sindrom ekstrapiramidal. Hasil analisis uji Chi-Square menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan baik itu antara penggunaan terapi antipsikotik (tunggal maupun kombinasi) (p=1,000), antara terapi antipsikotik tunggal (tipikal maupun atipikal) (p=0,467), dan antara terapi antipsikotik kombinasi (atipikal-atipikal, tipikal-tipikal, dan tipikal-atipikal) (p=0,269), dengan kejadian efek samping sindrom ekstrapiramidal.Kata kunci: Antipsikotik, sindrom ekstrapiramidal, skizofrenia Relationship between the Use of Antipsychotic and Incident of Extrapyramidal Syndrome on Schizophrenic Outpatients at One of Hospitals in Bantul, YogyakartaAbstractSchizophrenia is the most kind of psychiatric diseases which has bad prognosis with total remision only around 20%, otherwise social and clinical difficulties will be faced by the rest. Antipsychotic is a first line therapy for schizophrenic patients, however it has some side effects such as extrapyramidal syndrome that make people reluctant to take the medication regularly. Furthermore, the number of recurrence is increasing. The aim of this study was to analyze the relationship between the use of antipsychotic and the incident of extrapyramidal syndrome in outpatient schizophrenia in one of hospitals in Bantul region, Yogyakarta. This study was observational study, using cross-sectional design. Data was taken retrospectively using patients’ medical records who were outpatients in one of hospitals in Bantul region, Yogyakarta, in the period of January–December 2017. The sample of this research was 100 patients. The inclusion criteria was schizophrenic patients aged >15 years old who took an antipsychotic therapy for a minimum of 4 weeks, while the exclusion criteria was patients who took metoclopramide as a therapy and had a history of extrapyramidal syndrome previously. Purposive sampling was used as a technique for sampling. Data analysis was conducted using Chi-Square by SPSS ver. 16.0. Results of this study is most patients took risperidon e (27%), risperidone+clozapine 17%, and haloperidol+clozapine 10%. The incident of extrapyramidal syndrome happened in 5 patients who took single antipsychotic and in 7 patients who took combination antipsychotic. However, the Chi-Square analysis showed that there was no relationship between the use of antipsychotic (single or combination) and the incident of extrapyramidal syndrome (p-value=1.000). Likewise, there was no relationship between the use of single (both typical and atypical) antipsychotic therapy (p-value=0.467), also no relationship between the use of combination (atypical-atypical, typical-typical and atypical) antipsychotic therapy (p-value=0.269) and the incident of extrapyramidal syndrome side-effects.Keywords: Antipsychotics, extrapyramidal syndrome, schizophrenia
Illness Perceptions and Quality of Life in Patients with Diabetes Mellitus Type 2 Perwitasari, Dyah A.; Santosa, Setiyo B.; Faridah, Imaniar N.; Kaptein, Adrian A.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2429.99 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2017.6.3.190

Abstract

One of the treatment objectives in patients with type 2 diabetes mellitus (T2DM) is improving their quality of life (QoL). Illness perceptions are major determinant of QOL. This study was aimed to evaluate the QoL of T2DM patients with complications, and to examine the correlation between patients’ illness perceptions and QoL. We conducted a cross-sectional study in a private hospital in Yogyakarta, Indonesia from July to September 2015. We recruited adult patients with a diagnosis of T2DM with complications (ICD E.11) that has been diagnosed for at least 3 months. Illness perceptions were assessed with the Brief Illness Perception Questionnaire (BIPQ), and diabetes type 2 specific QoL with the Diabetes Quality of Life for Clinical Trial Questionnaire (DQLCTQ). Data was analyzed using Pearson correlation test. We recruited 51 T2DM patients. Female patients were dominant and most of the subjects experienced T2DM more than 5 years. The BIPQ scores indicated that patients had positive perceptions about T2DM and the treatment in all domains, except for coherence. Scores on the DQLCTQ showed that T2DM patients’ QoL is good, except for the self satisfaction and treatment effect. Statistically significant positive correlations were observed between BIPQ dimensions of personal control, treatment control and coherence and QoL domains (p<0.01). Moreover, the strong negative correlation were observed between consequences, concern and emotional response and QoL domains (p<0.01). However, 92% correlations are weak. Illness perceptions are correlated with T2DM patients’ QoL. Interventions aimed to get more adaptive illness perceptions may impact positively on QoL.Keywords: BIPQ, DQLCTQ, illness perceptions, Indonesia, QoL, T2DM Persepsi terhadap Penyakit dan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Salah satu tujuan terapi DM tipe 2 adalah memperbaiki kualitas hidup pasien. Persepsi terhadap penyakit merupakan penentu utama dari kualitas hidup. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kualitas hidup pasien pada pasien DM tipe 2 dengan komplikasi serta mengetahui hubungan antara persepsi pasien dan kualitas hidup. Rancangan penelitian ini adalah potong lintang yang dilakukan di rumah sakit swasta di Yogyakarta. Subjek yang berpartisipasi dalam penelitian ini adalah pasien DM tipe 2 dewasa dengan komplikasi yang terdiagnosa minimal 3 bulan sebelum penelitian ini dimulai (ICD E11). Kualitas hidup diukur dengan Diabetes Quality of Life for Clinical Trial Questionnaire (DQLCTQ) dan persepsi pasien diukur dengan Brief Illness Perception Questionnaire (BIPQ). Sejumlah 51 pasien DM tipe 2 dengan komplikasi turut berpartisipasi dalam penelitian ini dari bulan Juli sampai September 2015. Mayoritas subjek adalah wanita dan sebagian besar pasien mengalami DM tipe 2 lebih dari 5 tahun. Skor domain BIPQ memperlihatkan bahwa pasien DM tipe 2 mempunyai persepsi yang positif terhadap penyakit dan pengobatannya pada semua domain kecuali koherensi. Skor domain DQLCTQ memperlihatkan bahwa pasien mempunyai kualitas hidup yang baik, kecuali domain kepuasan pribadi dan efek terapi (berturut-turut 55,6 dan 44,3). Korelasi kuat yang positif terlihat pada domain persepsi kontrol diri, kontrol terapi dan koherensi dengan semua domain kualitas hidup (p<0,01). Korelasi kuat yang negatif terlihat pada domain konsekuensi, kekhawatiran dan respon emosi dengan kualitas hidup (p<0,01). Sejumlah 92% korelasi BIPQ dan DQLCTQ adalah lemah. Persepsi pasien dan komplikasi dapat memengaruhi kualitas hidup pasien DM tipe 2. Intervensi yang bersifat memperbaiki persepsi pasien akan berdampak positif terhadap kualitas hidup.Kata kunci: BIPQ, DM tipe 2, DQLCTQ, Indonesia, kualitas hidup, persepsi