Mulyasari, Mulyasari
Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

PENGARUH PENAMBAHAN GLISEROL PADA PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN NILA (Oreochromis niloticus) [Effect of Glycerol Addition into Fish Feed on the Growth and Survival Rate of Nile Tilapia (Oreochromis niloticus)] Suryaningrum, Lusi Herawati; Mulyasari, Mulyasari; Samsudin, Reza
BERITA BIOLOGI Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3201.575 KB) | DOI: 10.14203/beritabiologi.v16i2.2833

Abstract

The aim of this research was to determine the optimum percentage of glycerol addition into the diets of  Nile Tilapia (Oreochromis niloticus) on growth performance, feed convertion ratio, and survival rate. The research was conducted using 15 aquaria with the size of 60 x 50 x 45 cm3, each containing 25 O. niloticus with average initial weight of 4.63 ± 0.15 g. The experiment was conducted using a complete random design with five treatments and three replications. Isonitrogenous (31%) and isocaloric (17 MJ.kg-1) diets were provided for 60 days of rearing period. Five diets were formulated with glycerol content of 0% (G0); 5% (G5); 10% (G10); 15% (G15), and 20% (G20). Fish were fed twice daily with experimental diet at satiation level. The result showed that addition of 10% glycerol in the diet (G10) presented the highest values for weight gain (105.85 ± 0.40%), specific growth rate (3.44 ± 0.01%), protein retention (27.75 ± 0.02%), protein efficiency ratio (2.53 ± 0.15%), lipid retention (60.44 ± 0.03%), and feed convertion ratio (1.59 ± 0.01%) (P < 0.05). Survival rate was not affected by dietary containing glycerol (P > 0.05). Therefore, addition of 10% glycerol into the diet gave a significant increase on growth performance and feed convertion ratio without adverse effect on survival rate of Nile Tilapia.  
KARAKTERISASI 17 FAMILI IKAN NILA {Oreochromis niloticus) GENERASI KE TIGA (G-3) BERDASARKAN METODE TRUSS MORFOMETRIKS Nuryadi, Nuryadi; Ariiin, Otong Zenal; Gustiano, Rudhy; Mulyasari, Mulyasari
BERITA BIOLOGI Vol 9, No 1 (2008)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1189.01 KB) | DOI: 10.14203/beritabiologi.v9i1.806

Abstract

Objective of the study is to elucidate phenotype characters of nile tilapia (Oreochromis niloticus) of the third generation (G3)resulted from the selection breeding program in the Research Institute for Freshwater Aquaculture Bogor. Phenotypes of seventeen nile tilapia families, were observed using truss morphometric methods. The results showed that the composition average of standard lenght has low coefficient variation mean (10.42%) as well as coefficient variation of the truss measured characters (4.3- 13.3%). The highest index similarity of boddy shape within family was found in family 5 (79.3%), in contrast the lowest was in family 12 (32.3%). For index similarity between families, the highest score was in between family 12 and 17 (22.6).There were 8 characters enabled to differentiate the 17 families observed. They were Al, A3, A5, B2, C3, C5, C5, and D4. Cluster analyses recognized into 4 groups based on the phenotypic distance
KARAKTERISASI GENETIK IKAN KELABAU (Osteochilus kelabau) DARI BERBAGAI LOKASI DI KALIMANTAN BARAT MENGGUNAKAN METODE RAPD (Random Amplified Polymorphism DNA) Kusmini, Irin Iriana; Gustiano, Rudy; Mulyasari, Mulyasari
BERITA BIOLOGI Vol 10, No 4 (2011)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.725 KB) | DOI: 10.14203/beritabiologi.v10i4.762

Abstract

Kelabau fish (Osteochilus sp.) is an endemic fish to Kalimantan inland waters that is potential to be developed. The aim of this research was to characterize Kelabau fish and to study the data base (genetic character) of kelabau as well as its relationship. The result showed that the highest polymorphism and heterozigosity was on Kelabau Sintang and the lowest was on Kelabau Kapuas Hulu. The closest genetic distance value were between Kelabau Pontianak-Kapuas Hulu (0.5351) and the furthest were between Kelabau Pontianak-Sintang (0.6852).
Karakterisasi Mutu Gelatin yang diproduksi dari Tulang Ikan Patin (Pangasius Hypopthalmus) secara Ekstraksi Asam. Peranginangin, Rosmawaty; Mulyasari, Mulyasari; Tazwir, Tazwir
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v11i4.472

Abstract

          Mutu gelatin yang diproduksi dari tulang ikan patin (Pangasius hypopthalmus) dengan cara perendaman tulang ikan patin dalam HCI pada pH 0,37 yang kemudian dicuci dan diekstraksi pada suhu 900C selama 7 jam dan filtratnya dikeringkan dalam oven suhu 50 derajad Celcius selama 36‑48 jam telah dikarakterisasi. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa rendemen 15,38% dengan kadar air 9,26%, kadar abu 2,26%, kadar protein 85,91 %, dan kandungan kalsium 57,5 mg/1 00 g. Hasil pengujian Escherichia coli dan Salmonella adalah negatif. Sedangkan pengujian organoleptik menunjukkan bahwa berdasarkan penilaian panelis gelatin mempunyai nilai bau yang sama dengan standar tetapi nilai penampakan dan warnanya lebih rendah dari gelatin standar dan komersial.
Penelitian mengenai Keberadaan Biotoksin pada Biota dan Lingkungan Perairan Teluk Jakarta. Mulyasari, Mulyasari
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v9i5.465

Abstract

           Penelitian dilakukan di perairan pantai Teluk Jakarta yaitu sekitar Muara Angke, Muara Dadap, Cilincing dan Tanjung Pasir. Untuk mengetahui kadar biotoksin seperti paralytic shellfish poison­ing (PSP) dan diarrhetic shellfish poisoning (DSP) pada biota laut, dilakukan bioassay dan analisis HPLC. Parameter pendukung yang diamati adalah kondisi fisik seperti suhu, salinitas, pH, kecepatan dan arah arus, kecerahan dan kedalaman laut, nilai DO dan BOD; kandungan zat hara (nitrat, nitrit, fosfat, ammonia dan sulfur),‑ dan plankton Oenis dan kelimpahan). Pengamatan dilakukan dua kali dalam setahun yaitu bulan Mei dan Oktober 2001, pada 9 titik yaitu 1, 2 dan 3 mil dari garis pantai dan pada masing‑masing titik diambil 1 mil ke kanan dan 1 mil ke kiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan jumlah plankton ternyata dipengaruhi oleh kondisi zat hara. Jenis fitoplankton yang dominan adalah Chaetocheros. Jenis plankton yang potensial sebagai penyebab harmful algal bloom (HAB) yang terdapat di perairan Teluk Jakarta adalah dari filum dinoflagellata seperti: Ceratium, Dynophysis, Ganyaulax, dan Gymnodium. Dari filum Bacillariophyceae adalah genus Nitzchia, Chaetocheros dan Thalassiosira, sedangkan dari filum Cyanophyceae adalah genus Trichodesmium. Kandungan paralytic shellfish poisoning (PSP) dari kerang berdasarkan uji bioassay, tidak menyebabkan kematian. Contoh kerang mengandung saxitoxin sekitar 2,1‑2,3 ug/1 00 g. Kandungan okadaic acid pada kerang dan ikan karang berkisar antara 0,05‑0,1 ug/100 g. Pada ikan karang, kandungan toksin lebih banyak terdapat pada isi perut dibandingkan pada daging ikan. Namun demikian, kandungan saxitoxin dan okadaic acid pada kerang dan ikan tersebut masih dibawah ambang yang diijinkan.
Seleksi dan Identifikasi Bakteri Selulolitik yang Dapat Mendegradasi Serat Kasar Daun Singkong Mulyasari, Mulyasari; Widanarni, Widanarni; Suprayudi, M. Agus; Junior, M. Zairin
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v10i2.238

Abstract

Pemanfaatan daun singkong sebagai bahan baku pakan ikan belum dilaksanakan secara optimal karena mengandung selulosa yang cukup t inggi. Tujuan penelit ian ini adalah mendapatkan bakteri yang dapat mendegradasi serat daun singkong dan melakukan identifikasi jenis bakteri selulolitik tersebut. Seleksi bakteri selulolitik dilakukan pada 4 jenis isolat bakteriasal saluran pencernaan ikan gurame yaitu UG3, UG6, UG7, dan UG8 dengan mengukur aktivitas enzim selulase secara kuantitatif pada substrat Carboxy Methyl Cellulose (CMC) dan daun singkong menggunakan metode 3,5-dinitrosalicylic acid (DNS). Identifikasi bakteri dilakukan pada 3 isolat yang memiliki aktivitas enzim selulase tertinggi pada substrat daun singkong berdasarkan morfologi (perwarnaan Gram, motilitas dan bentuk bakteri), uji biokimia (oksidase dan katalase) dan analisis gen (16S-rRNA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 4 isolat yang diuji cobakan, isolat UG7 memiliki aktivitas enzim selulase (CMCase) tertinggi (0,0043 U/ml) sedangkan yang terendah adalah UG3 (0,0018 U/ml). Pada uji coba di substrat daun singkong, aktivitas enzim tertinggi terlihat pada isolat UG3 (0,107 U/ml) dan terendah adalah UG6 (0,077 U/ml). Hasil identifikasi dari 3 jenis isolat bakteri uj i yang memiliki kemampuan mendegradasi daun singkong tertinggi (UG3, UG7, dan UG8) menunjukkan bahwa ketiga jenis isolat tersebut merupakan bakteri jenis Gram positif berbentuk batang (basil). Berdasarkan data base dari GenBank, isolat UG3 memiliki kemiripan sebesar 93% dengan Bacillus clausii, UG7 memiliki kemiripan sebesar 96% dengan Bacillus amyloliquefaciens dan UG8 memiliki kemiripan sebesar 88% dengan Bacillus subtilis.
Pengaruh Suhu Esterifikasi terhadap Karakteristik Karboksimetil Kitosan (Cmcts) Dwiyitno, Dwiyitno; Basmal, Jamal; Mulyasari, Mulyasari
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v10i3.373

Abstract

Sifat kitosan yang hanya larut dalam asarn lemah menjadi kendala pada pernanfaatannya secara luas. Seperti diketahui banyak produk aplikasi kitosan yang menuntut kitosan yang bersifat larut dalam air seperti pada produk‑produk kosmetik, pangan dan farmasi. Salah satu turunan kitosan yang bersifat larut dalarn air adalah karboksimetil kitosan (CMCts) yang merupakan salah satu bentuk modifikasi kitosan yang diperoleh melalui proses karboksimetilasi kitosan dengan monokloroasetat dalam kondisi alkali. Pada penelitian ini poses produksi CMCts dilakukan berdasarkan metode Bader & Birkholz (1997). Kitosan kasar direndam dalam NaOH, kernudian ditambah monokloroasetat, Selanjutnya dilakukan esterifikasi dengan perlakuan suhu yaitu 30, 50 dan 90 derajad Celcius selama 60 menit. Kernudian pH larutan diatur menjadi 5 dan dicuci dengan metanol. Produk dikeringkan dengan oven pada suhu 50 derajad Celcius Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh produk larut dalam air meskipun dengan tingkat kelarutan yang bervariasi, yaitu antara 65,7­97,9%. Viskositas CMCts bervariasi antara 45,6 sampai 65,2 cps dengan rendermen 57,0‑ 98, 1 %. CMCts yang dihasilkan dari seluruh perlakuan merniliki pH 5 dengan penampakan kuning keputihan sampai kuning kecoklatan.