This Author published in this journals
All Journal Jurnal Mosharafa
Rahadi, Moersetyo
Institut Pendidikan Indonesia

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

PERBEDAAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA MELALUI PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN STAD DENGAN SISWA YANG MENGGUNAKAN METODE PEMBELAJARAN JIGSAW Wahyudi, Tri; Rahadi, Moersetyo
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study aimed to determine differences in mathematical problem-solving ability of students through the implementation of STAD method with students who use the jigsaw learning method . The method used in this study is an experimental method with two groups of students , the experimental group 1 is the group of students who use STAD model and experimental group 2 the group of students who use the learning jigsaw . This research was conducted in the SMPN 1 Tarogong Kidul eighth grade second semester of the school year 2012/2013 , The instrument used in this study is shaped Written test descriptions and Likert scale questionnaire . Based on the research results , using the model of learning and jigsaw better than good enough student activity STAD . Involvement of the student in learning the model jigsaw get visible when the expert group discussions . Learning jigsaw model in the beginning to get a pretty good response for high ability students , but for students who are less capable , less response . But it can be solved by making changes in teaching materials packaging . Judging from the average final test , the average of experiment 1 at 64.22 and experiment 2 at 77.46 then , it can be concluded that the mathematical problem-solving ability of students who get the jigsaw learning model is better than the students who received STAD . Calculation result of the Likert scale questionnaire , found that the average agreement in the experimental group 1 was 64 % (mostly ) , and the mean approval in the experimental group 2 was 67 % (mostly ) . From the data it can be seen that the average student in the experimental class 2 response to better mathematics learning and application of learning models used . Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa melalui penerapan metode pembelajaran STAD dengan siswa yang menggunakan metode pembelajaran jigsaw. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan dua kelompok siswa, sebagai kelompok eksperimen 1 yaitu kelompok siswa yang menggunakan model STAD dan kelompok eksperimen 2 yaitu kelompok siswa yang menggunakan pembelajaran jigsaw. Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 1 Tarogong Kidul kelas VIII semester dua tahun ajaran 2012/2013, Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Tes tulis berbentuk uraian dan Angket skala likert. Berdasarkan hasil penelitian, pembelajaran yang menggunakan model jigsaw lebih baik dan keaktifan siswa cukup baik dibandingkan pembelajaran STAD. Keaktifan siswa pada pembelajaran yang mendapatkan model jigsaw terlihat ketika kegiatan diskusi pada kelompok ahli. Pembelajaran dengan model jigsaw pada awalnya mendapatkan respon yang cukup baik bagi siswa yang kemampuannya tinggi, namun bagi siswa yang kemampuannya kurang, responnya kurang. Namun hal itu dapat diatasi dengan melakukan perubahan pada pengemasan materi ajar. Dilihat dari rata-rata tes akhir, rata-rata kelas eksperimen 1 sebesar 64,22 dan kelas eksperimen 2 sebesar 77,46 maka, dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran jigsaw lebih baik dibandingkan dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran STAD. Dari hasi perhitungan angket skala likert, diperoleh bahwa rerata persetujuan pada kelompok eksperimen 1 adalah 64% (sebagian besar), dan rerata persetujuan pada kelompok eksperimen 2 adalah 67% (sebagian besar). Dari data rerata tersebut dapat diketahui siswa pada kelas eksperimen 2 lebih baik responnya terhadap pembelajaran matematika dan penerapan model pembelajaran yang digunakan.
PENERAPAN MODEL NUMBERED HEADS TOGETHER DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI SISWA Nazihah, Vini; Rahadi, Moersetyo
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Jenis penelitian ini adalah penelitian quasi eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP kelas VII, sedangkan sampel diambil sebanyak dua kelas (kelas eksperimen , kelas kontrol ). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes kemampuan komunikasi berbentuk uraian dan tes skala sikap. Dari hasil analisis data diperoleh kesimpulan: (1) Kualitas peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang mendapatkan model Numbered Heads Together tergolong tinggi (2) Peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang mendapatkan model Numbered Heads Together lebih tinggi daripada siswa yang mendapatkan pembelajaran konvensional. (3) Respon/tanggapan siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan model Numbered Heads Together sebagian besar berinterpretasi baik. Abstract This kind of research is a quasi-experimental study. The sample of population in this study are all junior high school students of class VII, while samples were taken of two classes (class experiment, class Control ). Instruments used in this research is a form of communication ability test and a description of the attitude scale tests. From the analysis of the data obtained conclusions: (1) Quality improvement of communication skills students gain mathematical study of mathematics by using active Model Nembered Heads Together is high. (2) The attitude of the students toward learning mathematics by using active learning strategies type of Quiz Team’s result is mostly good. (3) The attitude of students toward learning mathematics by using active model Numbered Heads Together result is mostly very good.
PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIKA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Sari, Lisna Siti Permana; Rahadi, Moersetyo
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Teacher-centered mathematics learning is one of factors that decrease students’ communication ability. In the learning process, teachers dominate class activities whereas students become passive listeners. Consequently, students are not able to improve their mathematical communication ability. This experimental research used randomized control group pretest-posttest design which was aimed to improve students’ mathematical communication ability in problem-based learning and to discover students’ responses toward problem-based mathematics learning. Population of this research was VIII grade students in MTs Negeri 1. The result of research showed that: (1) the increase of students’ mathematical communication ability with problem-based learning was better than students’ with conventional learning; (2) most of students (81,82%) gave positive responses toward problem-based learning and only small amount of students (18,18%) gave negative responses. Abstrak: Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kemampuan komunikasi matematika siswa adalah pembelajaran matematika yang berpusat pada guru. Dalam proses pembelajaran, sebagian besar guru mendominasi sedangkan siswa menjadi pendengar yang pasif. Akibatnya siswa tidak dapat mengembangkan kemampuan komunikasi matematikanya. Penelitian eksperimen dengan randomizedcontrol group pretest–posttest design ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematika siswa dalam pembelajaran berbasis masalah, dan untuk mengetahui sikap siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menggunkan pembelajaran berbasis masalah. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa MTs Negeri 1 Garut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1)peningkatan kemampuan komunikasi matematika siswa yang mendapat pembelajaran berbasis masalah lebih baik dari siswa yang mendapat pembelajaran konvensional; (2)sebagian besar siswa (81,82%) memberikan sikap positif terhadap pembelajaran berbasis masalah dan sebagian kecil siswa (18,18%) memberikan sikap negatif.
PERBEDAAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA YANG MENDAPATKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY TWO STRAY DENGAN YANG MENDAPATKAN MODEL PEMBELAJARAN NUMBERED HEAD TOGETHER Hidayatilah, Lia Nurul; Rahadi, Moersetyo
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Institut Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Quasi experiment studies with experimental design ( the statistic group posttes design) aimed to determine differences in mathematical problem solving ability of students get the learning model two stay two stray with again learning model Numbered Head Together, as well as the attitude of students towards learning mathematics for teaching model Two stay Two stray with learning model Numbered Head Together. Data analysis can be carried out with test data normality. Mann whitney. The results of this study indicate : (1) there is a difference mathematical problem solving ability of students get the learning model Two stay two stray with a gain learning model Numbered Head Together; (2) student’s attitudes toward learning model Two stay Two stray and learning model Numbered Head Together in general the students to be kind to both the learning model. Abstak: Penelitian kuasi eksperimen dengan desain eksperimen (the statistic group posttes design) bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran Two stay Two Stray dengan yang mendapatkan model pembelajaran Numbered Head Together, serta mengetahui sikap siswa terhadap pembelajaran matematika terhadap model pembelajaran Two stay Two Stray dengan model pembelajaran Numbered Head Together. Analisis data dilakukan dengan uji normalitas data, Mann Whitney. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran Two stay Two Stray dengan yang mendapatkan model pembelajaran Numbered Head Together; (2) sikap siswa terhadap model pembelajaran Two stay Two Stray dan model pembelajaran Numbered Head Together secara umum siswa bersikap baik terhadap kedua model pembelajaran tersebut.