Articles

Found 4 Documents
Search

Analisis Multivariate Adaptive Regression Splines (MARS) pada Prediksi Ketertinggalan Kabupaten Tahun 2014 Oktora, Siskarossa Ika
Jurnal Aplikasi Statistika & Komputasi Statistik Vol 7 No 2 (2015): Journal of Statistical Aplication and Statistical Computing
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Statistika STIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34123/jurnalasks.v7i2.26

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membentuk model kabupaten tertinggal dan melakukan prediksi ketertinggalan kabupaten pada tahun 2014 berdasarkan kriteria perekonomian masyarakat, SDM, infrastruktur, kemampuan keuangan daerah, aksesbilitas, dan karakteristik daerah dengan metode MARS. MARS adalah salah satu metode pengklasifikasian yang mampu menangani data berdimensi tinggi dengan pola data yang tidak diketahui sebelumnya, serta dapat diterapkan untuk melihat interaksi diantara variabel yang digunakan. MARS digunakan untuk mengatasi beberapa kelemahan dari metode yang selama ini digunakan serta sebagai metode alternatif ketika data yang digunakan tidak memenuhi asumsi yang dibutuhkan pada statistika parametrik. Dari model MARS yang dibangun, terdapat tiga variabel utama yang berpengaruh terhadap ketertinggalan kabupaten diantaranya adalah pengeluaran konsumsi per kapita, angka harapan hidup, dan persentase rumah tangga pengguna listrik. Akurasi dari model MARS yang terbentuk sangat tinggi, yakni mencapai 97,83 persen dan dapat dipergunakan untuk melakukan prediksi ketertinggalan kabupaten. Berdasarkan model MARS, maka di akhir periode RPJM Nasional 2010-2014 diprediksikan terjadi transisi yang signifikan dari kabupaten dengan kondisi tertinggal menjadi tidak tertinggal serta terdapat beberapa kabupaten yang diindikasikan salah klasifikasi (yang sebelumnya dinyatakan tidak tertinggal namun seharusnya terkategorikan sebagai kabupaten tertinggal). Model ini juga dapat digunakan untuk memprediksi kondisi ketertinggalan daerah otonom baru berdasarkan data empiris yang ada, karena sebelumnya pengklasifikasian DOB hanya mengikuti status ketertinggalan daerah induknya saja.
DETERMINAN TRANSAKSI NONTUNAI DI INDONESIA DENGAN PENDEKATAN ERROR CORRECTION MECHANISM (ECM) MODEL Ramadhani, Zulfa Nur Fajri; Oktora, Siskarossa Ika; IJSA, Indonesian Journal of Statistics and Its Applications
Indonesian Journal of Statistics and Applications Vol 3 No 1 (2019)
Publisher : Departemen Statistika, IPB dengan Forum Perguruan Tinggi Statistika (FORSTAT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/ijsa.v3i1.190

Abstract

Consumption is an activity that must be done by everyone. In order to consume something, a transaction is needed to get the goods or services desired. One kind of transaction that is used by many people nowadays is non-cash transaction. Since Bank Indonesia established Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) in August 2014, the value of non-cash transactions exceeds the value of cash transactions. It happenned because people prefer non-cash to cash transaction which is easier, safer, more practical, and more economical. Besides, an increase in non-cash transactions can also be influenced by other factors. Therefore, a study is conducted to analyze the determinants of non-cash transactions from the macro side by using Error Correction Mechanism (ECM). The data used in this study are secondary data from Bank Indonesia and Badan Pusat Statistik with monthly period from January 2010 until December 2017. The results showed that in the long run, private savings and BI rate have positive effect on non-cash transactions. In the short run, private savings and money supply have positive effect on non-cash transactions. While inflation does not affect non-cash transactions, both in the short and long run.
THE IMPACT OF ZERO IMPORT TARIFF POLICY AND AIR POLLUTION PREVENTION AND CONTROL ACTION PLAN ON INDONESIAN COAL EXPORT TO CHINA Rahmawan, Nanda Bagus; Oktora, Siskarossa Ika
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (960.406 KB) | DOI: 10.30908/bilp.v12i1.263

Abstract

Indonesia dan Tiongkok merupakan pelaku utama perdagangan batu bara dunia. Indonesia adalah eksportir batu bara terbesar dan pemasok utama kebutuhan batu bara Tiongkok, sedangkan Tiongkok adalah importir batu bara terbesar di dunia. Kebijakan tarif impor nol persen pada komoditas batu bara yang diterapkan Tiongkok pada Januari 2008, berdampak pada meningkatnya ekspor batu bara Indonesia ke Tiongkok. Namun, setelah Tiongkok mengeluarkan kebijakan Air Pollution Prevention and Control Action Plan, ekspor batu bara Indonesia ke Tiongkok mulai menurun pada tahun 2014. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh kebijakan tarif impor nol persen dan Air Pollution Prevention and Control Action Plan terhadap ekspor batu bara Indonesia ke Tiongkok. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis intervensi multi input. Data yang digunakan berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS). Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kebijakan tarif impor nol persen yang diterapkan oleh Tiongkok memiliki pengaruh yang signifikan positif dan permanen terhadap ekspor batu bara Indonesia ke Tiongkok. Sementara itu, kebijakan Air Pollution Prevention and Control Action Plan memiliki pengaruh yang signifikan negatif dan permanen. Rekomendasi kebijakan adalah implementasi kebijakan tentang standar minimum kualitas batu bara yang dihasilkan. Dengan demikian, kualitas ekspor batu bara Indonesia dapat menyesuaikan spesifikasi permintaan pasar dari negara pengimpor yang menerapkan kebijakan pengendalian pencemaran udara. Indonesia and China are the main actors of world coal trading. Indonesia is the largest coal exporter and the main supplier of Chinese coal needs, while China is the world's largest coal importer. The zero import tariff policy on coal commodities applied by China in January 2008, has an impact on increasing Indonesian coal exports to China. However, after China issued its policy of Air Pollution Prevention and Control Action Plan, Indonesian coal exports to China began to decline in 2014. The objective of this research is to study the influence of zero import tariff policy and Air Pollution Prevention and Control Action Plan to the Indonesian coal exports to China. The method used in this research is the multi-input intervention analysis. Data used are developed from BPS. The results show that the zero import tariff policy applied by China has significantly positive and permanent effect on Indonesian coal exports to China. Meanwhile, the policy of Air Pollution Prevention and Control Action Plan has significantly negative and permanent effect. Policy recommendation is the implementation of policy about minimum standards of coal quality that may be produced. Thus, Indonesian coal exports quality will able to adjust market demand specification from importing countries that implement policies about pollution control.
The Impact of Information and Communication Technology (ICT) on the Indonesian Apparel Export Oktora, Siskarossa Ika
Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan Vol 13 No 1 (2019)
Publisher : Trade Analysis and Development Agency, Ministry of Trade of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1029.744 KB) | DOI: 10.30908/bilp.v13i1.363

Abstract

Abstrak Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) berdampak pada perdagangan dalam era digital. Produk pakaian jadi merupakan komoditas utama dalam perdagangan yang ditunjukkan oleh tingginya permintaan untuk komoditas pakaian jadi. Hal tersebut menjadi peluang bagi pertumbuhan industri pakaian jadi dalam negeri, tidak hanya untuk memenuhi konsumsi domestik tetapi juga untuk memperluas pasar luar negeri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh TIK seperti penggunaan telepon seluler dan terbukanya akses internet, serta variabel lainnya seperti PDB, kurs, populasi, dan jarak terhadap ekspor pakaian jadi Indonesia ke sepuluh mitra dagang utama selama periode 2010-2016 dengan menggunakan model gravitasi pada data panel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TIK negara-negara tujuan ekspor berpengaruh signifikan terhadap ekspor pakaian jadi Indonesia, sedangkan TIK Indonesia memberikan hasil yang tidak signifikan. Sementara untuk variabel lainnya, hanya PDB yang berpengaruh signifikan, sedangkan kurs, populasi dan jarak tidak signifikan. Salah satu penyebab mengapa TIK Indonesia tidak signifikan adalah adanya kesenjangan yang lebar pada persentase pengguna internet antar wilayah, yang salah satunya disebabkan oleh tidak meratanya ketersediaan jaringan internet. Perluasan jaringan internet dengan kualitas baik akan dapat menghubungkan para desainer, industri hilir dan pedagang pakaian dalam rantai pemasaran yang lebih luas, selain keterlibatan Indonesia dalam Global Value Chain (GVC). Kata kunci: Perdagangan Internasional, TIK, Industri Pakaian, Model Panel Gravity   Abstract The Information and Communication Technology (ICT) development has impacted on trade sector in the digital era. Apparel is the main trading commodity which is indicated by a high demand for apparel commodities. There is an opportunity for domestic apparel industry, not only to satisfy domestic consumption but also to expand overseas market. This research aims to analyze the impact of ICT such as the use of cellular telephone and the open access to internet, as well as other variables such as GDP, REER, Population, and Distance on Indonesian apparel export to ten main importers during 2010-2016, by using panel gravity model. This study found that ICT of the export destination countries significantly affected Indonesian apparel export, while Indonesia’s ICT gave insignificant result. Other variables that have significant impact was GDP. While REER, Population, and Distance gave insignificant impact. The reasons for this situation due to a wide gap of internet users percentage between regions because of the unevenly distributed internet sevices. This study suggested, in addition to Indonesia’s better participation in the Global Value Chain (GVC), the expansion of good quality internet networks would enable designers, downstream industries and apparel traders to connect in a broader marketing chain. Keywords: International Trade, ICT, Apparel Industry, Panel Gravity Model JEL Classification: P45, O33, L67, C33