Amarullah, Deddy
Buletin Sumber Daya Geologi

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI KALORI BATUBARA DAERAH HORNA IRIAN JAYA BARAT Amarullah, Deddy
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 2, No 2 (2007): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (956.454 KB)

Abstract

Didalam Formasi Steenkool di Cekungan Bintuni terdapat endapan batubara yang nilai kalorinya berbeda jauh, yaitu yang ditemukan didaerah Tembuni dan daerah Horna. Untuk mengetahui faktor -faktor yang menyebabkan perbedaan nilai kalori tersebut perlu dilakukan kajian mengenai aspek geologi dari keduadaerah tersebut. Nilai kalori rata-rata batubara daerah Tembuni sekitar 4823 cal/gr, sedangkan nilai kalori rata-rata daerah Horna sekitar 7526 cal/gr. Padahal berdasarkan peta geologi Lembar Ransiki (Atmawinata S.,dkk., 1989)endapan batubara yang ditemukan didaerah Tembuni maupun Horna terdapat dalam formasi yang sama yaitu Formasi Steenkool yang berumur Mio-Pliosen.Menurut C. F. K. Diessel (1992) pembentukan batubara diawali dengan proses biokimia, kemudian diikuti oleh proses geokimia dan fisika, proses yang kedua ini sangat berpengaruh terhadap peringkat batubara (“ coal rank “), yaitu perubahan jenis mulai dari gambut ke lignit, bituminous, sampai antrasit. Faktor yang sangat berperan didalam proses kedua tersebut adalah temperatur, tekanan, dan waktu. Nilai kalori batubara daerah Horna yang tinggi disebabkan oleh pembebabanan yang lebih tinggi dari daerah Tembuni, sehingga tekanan yang mempengaruhinya lebih besar, akibat dari tekanan yang besar akan menimbulkan panas juga. Apabila pembebabanan lebih tinggi berarti sedimentasi diatas batubara lebih tebal, hal ini bisa terjadi kalau sebelum diendapkan Formasi Steenkool, posisi daerah Horna jauh lebih rendahatau lebih dalam dari daerah Tembuni. Jurus perlapisan batuan di daerah Tembuni berkisar antara 75 derajat -150 derajat, dengan sudut kemiringan berkisar antara 12 derajat -25 derajat, sedangkan jurus perlapisan batuan di Horna berkisar antara 70 derajat -140 derajat , dengan sudut kemiringan berkisar antara 15  derajat - 85 derajat. Berdasarkan jurus dan kemiringan lapisan di daerah Horna yang sangat bervariasi, diduga di daerah Horna ada gangguan tektonik yang ada pengaruhnya juga terhadap nilai kalori batubara walaupun tidak terlalu kuat.
SUATU PEMIKIRAN UNTUK MEMANFAATKAN POTENSI BATUBARA FORMASI TANJUNG DIDAERAH LEMO, KALIMANTAN TENGAH SEBAGAI KOKAS Amarullah, Deddy
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 4, No 1 (2009): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1052.477 KB)

Abstract

Di daerah Lemo, Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah terdapatdua formasi pembawa batubara, yaitu Formasi Tanjung yang berumur Eosen Akhir dan Formasi Warukin yang berumur Miosen Tengah-Akhir. Batubara yang terdapat pada Formasi Tanjung termasuk kedalam batubara peringkat tinggi (“high rank coal”), sedangkan yang terdapat pada Formasi Warukin termasuk kedalam kelompok batubara peringkat rendah-menengah (“low-medium rank coal”). Geologi batubara daerah Lemo seperti sebaran, ketebalan serta sumberdaya batubaranya telah diselidiki. Berdasarkan hasil analisis proksimat, batubara pada Formasi Tanjung mempunyai potensi sebagai batubara kokas, dicirikan oleh kisaran angka “volatile matter”, kandungan abu dan kandungan “sulphur” yang sesuai dengan yang diperlukan untuk kokas, { “volatile matter” (adb) 19 % - 31 %, kandungan abu (adb) 6 % - 12 %, dan kandungan “sulphur” (adb) 0,4 % - 1,0 %}. Diharapkan ada kajian lebih lanjut untuk batubara Formasi Tanjung agar bisa dimanfaatkan sebagai kokas, melalui analisis petrografi organik, “free swelling index”, “fluidity”, “dilatation”, “grayking coke” dan “roga index”.
COAL BED METHANE POTENCYOF TANJUNG FORMATION IN TANAH BUMBU SOUTH KALIMANTAN Simatupang, David P; Amarullah, Deddy
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 5, No 2 (2010): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Buletin Sumber Daya Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coal deposits distributes widely in Indonesia, mainly in Sumatera and Kalimantan. These deposits become an indication for a huge quantity of coal-bed methane (CBM) potency. As an environmentally friendly source of energy, CBM could be one of Indonesia's future energy sources. Centre for Geological Resources (CGR) started the exploration for this energy since 2005, while the study was conducted in 2008 at Tanjung Formation in Tanah Bumbu Area, South Kalimantan.CSAT-1 well was drilled to provide CBM resources and deep coal mine potency data for Tanjung Formation (Eocene) in Asem-asem Basin. This well went through 10 coal seams with three main seam, which is E seam at 212.34-213.30 m depth, I seam at 261.93-264.20 m, and J seam at 270.20-275.35 m depth. Calorific value from this three main seam categorized as high rank coal, vary from 6197-6745 cal/gram (adb), with total moisture between 4.51-7.11 %, adb.Total coal resources used for CBM resources quantification is 112,733,226 tons (between 300 to 1000 meters depth). Based on desorption test and gas chromatograph measurement from samples at various depth from three main seams, those coal gives methane resources estimation about 430 MSCF, with methane content vary between 1.2 - 6.6 cu-ft/ton of coal.