Articles

Found 8 Documents
Search

PENGARUH PROSES PEMBELAJARAN TEOREMA PYTHAGORAS DENGAN MENGGUNAKAN STRATEGI INQUIRY TERHADAP KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 14 AMBON Sopamena, Patma
MATEMATIKA DAN PEMBELAJARAN Vol 1, No 1 (2013): MATEMATIKA DAN PEMBELAJARAN
Publisher : IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/mp.v1i1.297

Abstract

Teaching teorema Phytagoras using inquiry strategy is an instructional model using the following steps: orientation, formulating problems, making hypothesis, collecting data, testing hypothesis, and drawing conclusion. 1) orientation aims at motivating students by presenting the instructional purpose that will be achieved and steps to achieve them, 2) formulating problems in this step, students formulate problem by considering the question given by teacher. 3) making hypothesis Students make temporary answer for the given question, 4) collecting data Students manipulate instructional media so that they can determine the length and width of each structure, 5) testing hypothesis students test the collected data, 6) drawing conclusion Students draw conclusion concerning the concept of teorema phytagoras. Kata kunci: Pembelajaran Teorema Pythagoras, Strategi Inquiry, Kemampuan Memecahkan Masalah.
PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN MATEMATIKA SUB POKOK BAHASAN JAJARGENJANG DAN TRAPESIUM YANG BERORIENTASI PADA TEORI VAN HIELE PESERTA DIDIK KELAS VII SMP AL HIJRAH AMBON Kaimudin, Asni; Sopamena, Patma; Renngiwur, Janaba
MATEMATIKA DAN PEMBELAJARAN Vol 1, No 2 (2013): MATEMATIKA DAN PEMBELAJARAN
Publisher : IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/mp.v1i2.302

Abstract

Perbedaan karakteristik peserta didik yang sering di abaikan oleh guru dalam proses pembelajaran dengan kondisi belajar yang demikian, patut dijadikan pijakan dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi pembelajaran. Salah satu cara yang cukup relevan untuk memecahkan masalah tersebut adalah penerapan pembelajaran individual, yang memberi kepercayaan pada kemampuan individu untuk belajar mandiri. Salah satu model pembelajaran individu yang kini semakin berkembang penggunaanya adalah sistem pembelajaran dengan menggunakan modul. selain itu, untuk mata pelajaran matematika berdasarkan pada penelitian hasil pembelajaran yang diperoleh peserta didik untuk materi geometri masih rendah. Peserta didik mengalami kesulitan memahami konsep geometri, salah satunya konsep jajargenjang dan trapesium. Untuk memenuhi maksud ini penulis mengembangkan modul yang berorientasi pada teori Van Hiele untuk peserta didik SMP, dengan kegiatan pembelajaran yang melibatkan lima fase (langkah) yakni : (1) fase informasi (2) fase orientasi langsung (3) fase penjelasan (4) fase orientasi bebas dan (5) fase integrasi. Modul yang dihasilkan telah melalui tahapan validasi sebelum diuji cobakan ke peserta didik, meliputi dua dosen IAIN Ambon yang menilai materi dan desain dari modul dan satu guru matematika SMP yang menilai kesesuaian modul dengan kurikulum. Setelah mendapat masukkan dari para validator, maka modul diperbaiki dan di anggap layak untuk diuji cobakan ke peserta didik dengan dua kali uji coba. Uji coba pertama dilakukan untuk kelompok peserta didik terbatas sebanyak lima orang, dengan tujuan untuk mengetahui manfaat dan efektifitas penggunaan modul dalam pembelajaran. Dan uji coba kedua dilakukan untuk peserta didik dalam satu kelas dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan peserta dan efisiensi waktu belajar pada saat menggunakan modul. Kata Kunci : Modul, Teori Van Hiele, Jajargenjang, Trapesium.
HUBUNGAN STRATEGI THINK PAIR SHARE TERHADAP KEMAMPUAN METAKOGNISI PESERTA DIDIK PADA MATERI SPLDV KELAS VIII SMP AL HIJRAH AMBON Helmiati, Helmiati; Sopamena, Patma; Lasaiba, Irvan
MATEMATIKA DAN PEMBELAJARAN Vol 1, No 1 (2013): MATEMATIKA DAN PEMBELAJARAN
Publisher : IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/mp.v1i1.294

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan strategi Think Pair Share terhadap kemampuan metakognisi peserta didik pada materi SPLDV pada peserta didik kelas VIII SMP Al Hijrah Ambon serta besarnya hubungan strategi TPS terhadap kemampuan metakognisi peserta didik pada materi SPLDV pada peserta didik kelas VIII SMP Al Hijrah Ambon. Dilaksanakan pada Tanggal 26 Januari sampai dengan 27 Februari 2012 dengan sampel yang digunakan adalah peserta didik kelas VIII2 yang berjumlah 31 orang, tipe penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, ada hubungan signifikan antara strategi TPS terhadap kemampuan metakognisi peserta didik pada materi SPLDV pada peserta didik kelas VIII SMP Al Hijrah Ambon. Dalam hal ini yang ditandai dengan sumbangan nilai (p=0,019) atau P hit < 0,05. Besarnya hubungan strategi TPS terhadap kemampuan metakognisi peserta didik pada materi SPLDV pada peserta didik kelas VIII SMP Al Hijrah Ambon yaitu sebesar 41,9% dan 58,1% di pengaruhi oleh faktor/kondisi lain. Kata Kunci: Strategi Think Pair Share, Kemampuan Metakognisi Peserta Didik, SPLDV.
ETNOMATEMATIKA MASYARAKAT MALUKU TENGAH DAN KOTA AMBON: PEMIKIRAN MATEMATIKA DALAM MULTIKULTURAL Sopamena, Patma
MATEMATIKA DAN PEMBELAJARAN Vol 4, No 2 (2016): MATEMATIKA DAN PEMBELAJARAN
Publisher : IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ethnomatematics is a cultural approach mathematical thinking is shaped by multicultural community of mathematical objects. This study aims for exploration Etnomatematika Community Central Maluku and Ambon city: Thinking Mathematics in Multicultural. This research is classified ethnographic research with qualitative descriptive approach. The subject of research as much as three persons from the society and academia. Data in the form of interviews. The results show that that there are ways that are specific to the community of Central Maluku and Ambon city in doing math activities. Without studying the theory of mathematical concepts, the people of Central Maluku and Ambon City has also applied mathematical concepts in their daily lives using ethnomatematics. Proved their form ethnomatematics community Central Maluku and Ambon city is reflected through various activity results of mathematical owned and developed in the community of Central Maluku and Ambon city, covering math concepts on: (a) cultural legacy in the form of artifacts (logo / symbol Nunusaku) form geometric forms in parts of artifacts, including flat figure model, a circle, a model mathematical properties, including symmetry, and the concept of translation (shift), as well as dilatation pattern rectangle where the artifacts that make up the arithmetic progression. (b) motif woven village artisans Laimu Central Maluku district including the concept of circles, straight lines and curved lines, symmetric, reflection, scaling, translation and rotation. Key Words: ethnomatematics, community central maluku and ambon, thinking mathematics in multicultural.
Karakteristik Proses Berpikir Mahasiswa dalam Mengonstruksi Bukti Keterbagian Sopamena, Patma
MATEMATIKA DAN PEMBELAJARAN Vol 5, No 2 (2017): MATEMATIKA DAN PEMBELAJARAN
Publisher : IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/mp.v5i2.244

Abstract

Assimilation outline and accommodation from Piaget is used to evaluate student’s thinks process. According to Piaget, assimilation is integration process of new stimulation through the change of old scheme or the construction or new scheme to adapt with accepted stimulation. The sampling is done by Think-Out-Loud (TOL). From results of this research is found that the process thought the student IAIN Ambon in constructing proof evidence had two characteristics, that is: (a) almost complete, that is when the student construct but proof is not in accordance with the sub-structure of the problem (the process of algebra) in the process of the assimilation and accommodation, (b) incomplete because incomplete the process of the assimilation that is the process of thinks simplest and incomplete the process of accommodation. Key word: Thinking Process, Construction, Proof
PROSES BERPIKIR SISWA DALAM MENGKONSTRUKSI MATERI BANGUN RUANG SISI LENGKUNG DI KELAS IX SMP NEGERI 2 LEIHITU Henaulu, Wiwin; Sopamena, Patma; Lasaiba, Irvan
MATEMATIKA DAN PEMBELAJARAN Vol 1, No 1 (2013): MATEMATIKA DAN PEMBELAJARAN
Publisher : IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/mp.v1i1.299

Abstract

Pandangan konstruktivisme menyatakan keberhasilan belajar bukan hanya bergantung pada lingkungan atau kondisi belajar melainkan juga pada pengetahuan awal siswa. Pengetahuan itu tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke siswa, namun secara aktif dibangun oleh siswa sendiri melalui proses berpikir siswa secara nyata. Karena proses berpikir dalam belajar merupakan proses adaptasi terhadap lingkungan yang melibatkan asimilasi, yaitu proses bergabungnya stimulus kedalam struktur kognitif. Bila stimulus baru tersebut masuk kedalam struktur kognitif diasimilasikan, maka akan terjadi proses adaptasi yang disebut kesinambungan dan struktur kognitif menjadi bertambah. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 05 Desember 2011 sampai dengan tanggal 4 Januari 2012. Tujuan penelitian untuk mengetahui proses berpikir siswa dalam mengkonstruksi materi bangun ruang sisi lengkung di kelas IX SMP Negeri 2 Leihitu. Subjek penelitian sebanyak 3 orang dengan 3 kategori, yaitu; kategori kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Hasil penelitian menunjukkan proses berpikir siswa kelas IX SMP Negeri 2 Leihitu dalam mengkonstruksi materi bangun ruang sisi lengkung yaitu; pada siswa berkemampuan tinggi (EL) dalam memahami masalah, menyusun rencana, melaksanakan rencana dan mengecek kembali penyelesaian masalah adalah abstraksi reflektif sekaligus asimilasi. Pada siswa berkemampuan sedang (BA) dalam memahami masalah adalah abstraksi reflektif dan asimilasi. Menyusun rencana penyelesaian adalah abstraksi reflektif, akomodasi dan asimilasi. Melaksanakan rencana penyelesaian masalah adalah abstraksi reflektif, abstraksi empirik-semu dan asimilasi. Mengecek kembali penyelesaian abstraksi reflektif. Sedangkan proses berpikir siswa berkemampuan rendah (AL) cukup pada memahami masalah adalah abstraksi reflektif sekaligus asimilasi. Kata Kunci : Proses Berpikir Siswa, Mengkonstruksi, Materi Bangun Ruang Sisi Lengkung
Student’s thinking path in mathematics problem-solving referring to the construction of reflective abstraction Sopamena, Patma; Nusantara, Toto; Irawan, Eddy Bambang; Sisworo, Sisworo; Wahyu, Kamirsyah
Beta: Jurnal Tadris Matematika Vol 11 No 2 (2018): Beta November
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/betajtm.v11i2.230

Abstract

[English]: This article is a part of research which aimed to reveal the path of undergraduate students’ thinking in solving mathematical problems referring to the construction of reflective abstraction. Reflective abstraction is the process of thinking in constructing logical structures (logico-mathematical structures) by individuals through interiorization, coordination, encapsulation, and generalization. This article seeks to analyze a student with the simple closed path, as one of the two types of students’ thinking path found in the research, in solving limit problems. The thinking process of the student in solving mathematical problems occurred through the path of interiorization - coordination - encapsulation - generalization then to coordination - encapsulation - generalization. The path of the student’s thinking yields alternative to understand and marshal problem-solving activities in mathematics learning. Keywords: Thinking path, Limit problem, Reflective abstraction, Simple closed path [Bahasa]: Artikel ini merupakan bagian dari penelitian yang bertujuan mengungkap jalur berpikir mahasiswa dalam menyelesaikan masalah matematika berdasarkan konstruksi abstraksi reflektif. Abstraksi reflektif merupakan proses berpikir individu dalam membangun struktur logika (struktur matematis logis) melalui interiorisasi, koordinasi, enkapsulasi, dan generalisasi. Artikel ini akan menganalisis seorang mahasiswa yang memiliki jalur berpikir tertutup sederhan, salah satu dari dua jalur berpikir yang terungkap dalam penelitian, dalam menyelesaikan permasalahan limit. Proses berpikir mahasiswa dalam menyelesaikan masalah matematika berdasarkan konstruksi abstraksi reflektif dapat terjadi melalui jalur interiorisasi – koordinasi – enkapsulasi – generalisasi kemudian ke koordinasi – enkapsulasi – generalisasi. Hasil penelitian ini memberikan alternatif dalam memahami dan merancang aktivitas pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika. Kata kunci: Jalur berpikir, Masalah limit, Abstraksi reflektif, Jalur tertutup sederhana
KARAKTERISTIK ETNOMATEMATIKA SUKU NUAULU DI MALUKU PADA SIMBOL ADAT CAKALELE Sopamena, Patma; Juhaevah, Fahruh
BAREKENG: Jurnal Ilmu Matematika dan Terapan Vol 13 No 2 (2019): BAREKENG : Jurnal Ilmu Matematika dan Terapan
Publisher : MATHEMATIC DEPARTMENT FACULTY OF MATHEMATICS AND NATURAL SCIENCES UNIVERSITY OF PATTIMURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/barekengvol13iss2pp075-084ar772

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik etnomatematika Suku Nuaulu, Maluku khususnya pada simbol adat cakalele. Cakalele merupakan tarian adat perang yang dilaksanakan oleh semua desa adat di Provinsi Maluku. Cakalele dilaksanakan ketika pelaksanaan adat atau menyambut tamu penting. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Nuanea kabupaten Maluku Tengah dengan menggunakan desain etnografi dan analisis kualitatif. Ketua adat menjadi sumber utama dalam pengambilan data tentang simbol adat cakalele. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada simbol tarian adat cakalele Suku Nuaulu mengandung karakteristik etnomatematika, yaitu menghitung (penjumlahan, perkalian, pembagian, dan lain-lain) terdapat pada para pelaku cakalele dan aksesoris yang digunakannnya; pengukuran terdapat pada kain berang yang dipakai oleh para pelaku adat; merancang terdapat pada aksesoris-aksesoris yang dipakai oleh para pelaku adat; permainan terdapat pada tarian cakalele sendiri; menjelaskan terdapat pada cerita tarian cakalele dan pendukungnya; dan Locating terdapat pada tempat pelaksanaan tarian cakalele.