Madeali, Mun Imah
Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

TEKNIK APLIKASI BAKTERI PROBIOTIK PADA PEMELIHARAAN UDANG WINDU (Penaeus monodon) DI LABORATORIUM Muliani, Muliani; Nurbaya, Nurbaya; Madeali, Mun Imah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 1 (2011): (April 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.01 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.1.2011.81-92

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui teknik pemberian bakteri probiotik pada pemeliharaan pascalarva udang windu dalam skala laboratorium. Penelitian ini dilakukan menggunakan 21 buah akuarium yang berukuran 40 cm x 30 cm x 27 cm yang diisi air tambak salinitas 28 ppt sebanyak 15 L dan tanah dasar tambak setebal 10 cm, dan ditebari benur windu PL 22 sebanyak 30 ekor/wadah. Penelitian diset dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola faktorial yang terdiri atas dua faktor yaitu I) jenis bakteri probiotik dan II) teknik pemberian probiotik. Perlakuan yang dicobakan adalah A1 (BL542 melalui media air); B1 (BT950 melalui media air); A2 (L542 melalui tanah dasar); B2 (BT950 melalui media tanah dasar); A3 (BL542 melalui pakan); B3 (BT950 melalui pakan); K (kontrol/tanpa probiotik), dan masing-masing dengan 3 ulangan dengan lama pemeliharaan 3 bulan. Pengamatan parameter kualitas air yang meliputi, BOT, NH3-N, NO2-N, NO3-N, PO4-P, dan total bakteri dalam air dan sedimen serta total Vibrio sp. dalam air dan sedimen diamati setiap 2 minggu. Sedangkan pengamatan sintasan udang windu dilakukan pada akhir penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi BOT pada perlakuan A1 selama penelitian relatif lebih rendah dibanding perlakuan lainnya. Sintasan udang windu tertinggi pada perlakuan A1 (BL542 melalui media air) yaitu 61,11% dan terdapat perbedaan yang nyata (P<0,05) dengan sintasan udang windu pada perlakuan B1, A2, dan kontrol. Penggunaan probiotik BL542 lebih baik jika melalui media air, sedangkan penggunaan probiotik BT950 dapat digunakan melalui media air, tanah dasar, maupun pakan
KIT ENZYME-LINKED IMMUNOSORBENT ASSAY UNTUK DETEKSI WSSV PADA UDANG Madeali, Mun Imah; Nurhidayah, Nurhidayah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 1 (2011): (April 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.414 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.1.2011.131-137

Abstract

Komponen dasar yang penting dan menentukan keberhasilan pengendalian suatu penyakit dalam bidang perikanan adalah informasi tentang patogen secara dini, cepat, dan akurat, serta epidemi penyakit di lapangan. Teknik serologi, khususnya ELISA, merupakan salah satu teknik yang menjanjikan untuk keperluan tersebut, karena relatif mudah dan murah, serta berpeluang untuk digunakan secara langsung di lapangan. Telah dilakukan uji lapang terhadap perangkat Kit ELISA yang telah diproduksi oleh Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau. Hasil uji lapang menunjukkan bahwa Kit ELISA dapat digunakan untuk mendeteksi penyakit WSSV pada udang windu, dengan waktu ± 3 jam untuk setiap kali pengujian mulai persiapan sampai pembacaan hasil uji. Hasil Kit ELISA lebih cepat dibandingkan dengan metode PCR yang memerlukan waktu 24 jam. Biaya yang diperlukan untuk mendeteksi satu sampel juga lebih ekonomis yaitu ± Rp 35.000,- dibandingkan dengan PCR (Rp 150.000,- – Rp 300.000,-) per sampel
FREKUENSI VAKSINASI UNTUK PENCEGAHAN PENYAKIT PADA BUDI DAYA UDANG WINDU ( Penaeus monodon Fabr.) DI TAMBAK Tompo, Arifuddin; Susianingsih, Endang; Madeali, Mun Imah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 2, No 1 (2007): (April 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.484 KB) | DOI: 10.15578/jra.2.1.2007.93-101

Abstract

Pencegahan dan penanggulangan penyakit pada budi daya udang windu dewasa ini dilakukan dengan cara merangsang kekebalan spesifik udang dengan menggunakan immunostimulan, namun optimalisasi penggunaannya masih perlu dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini dimaksudkan untuk mengoptimalisasikan penggunaan immunostimulan untuk dapat memberikan hasil yang efektif terhadap pencegahan penyakit pada budi daya udang windu. Immunostimulan yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil ekstraksi dari bakteri, Vibrio harveyii yang dilemahkan dengan formalin 1%. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan: A= vaksinasi empat kali sebulan, B= vaksinasi dua kali sebulan, C= vaksinasi sekali sebulan, dan D= tanpa vaksin (kontrol) yang diulang sebanyak tiga kali. Aplikasi dolomit diberikan dua kali per minggu untuk semua perlakuan dengan dosis 5—10 mg/L untuk tiap kali penggunaan. Padat penebaran sebanyak 60.000 ekor/ha dengan pola tradisional plus. Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa perlakuan B (vaksinasi dua kali sebulan) memberikan sintasan yang tertinggi yaitu 91,5% dengan produksi tertinggi yaitu 84,0 kg. Pengamatan terhadap populasi bakteri Vibrio sp. pada lingkungan berada pada kisaran 102—103 cfu/mL yang masih layak bagi lingkungan dan budi daya udang sedangkan untuk kualitas air pada beberapa parameter juga berada pada kisaran yang layak untuk budi daya udang.In recent years the prevention and control of diseases on tiger shrimp culture has been stimulated by specific immunostimulan such as vaccine. How ever the optimalization used of immunostimulan have to be conducted. Based on that information, the study aims to optimalized the using of immunostimulan to give the effective result on diseases prevention on tiger shrimp culture. The immunostimulan used in this research was extracted from vibrio by formalin killed 1% with four treatments i.e. A= four times of vaccination a month, B= two times of vaccination a monts, C= once of vaccination a month and, D= control (non vaccination). Dolomite application was given two times a week for all treatments with the dosage 5—10 mg/ L. The results shows that the treatment B (two times of vaccination a month) exhibit the survival rate i.e. 91.5% it is higher than A, C, and D treatments with highest production 84.0 kg. Observation on the population of Vibrio sp. value range 102—103 cfu/mL that’s normally condition both on environmental and shrimp culture, and water quality parameters was still in normal condition.