Fatah, Khoirul
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

STRUKTUR TINGKAT TROFIK KOMUNITAS IKAN DI WADUK WADASLINTANG KABUPATEN WONOSOBO, JAWA TENGAH Fatah, Khoirul; Adjie, Susilo
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 7, No 3 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.858 KB) | DOI: 10.15578/bawal.7.3.2015.155-163

Abstract

Waduk Wadas lintang memiliki potensi perikanan yang cukup besar baik perikanan tangkap maupun perikanan budidaya. Kegiatan penangkapan ikan di waduk Wadaslintang saat ini sudah cukup tinggi, yang akan berdampak langsung pada struktur komunitas ikan yang menyebabkan pergeseran pola hubungan antara pemangsa,mangsa atau pesaing pada berbagai tingkat trofik. Tujuan penelitian ini untukmengetahui pola hubungan antar kelompok ikan berdasarkan tingkat trofik dari tingkat trofik terendah sampai kepada ikan karnivor, sehingga diperoleh gambaran peran kelompok ikan dalam komunitas. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April, Juni, September dan Nopember 2013 di perairan waduk Wadaslintang. Analisa data mencakup komposisi hasil tangkapan dan kebiasaan makan ikan serta tingkat trofik komunitas ikan. Analisis sidik ragam untuk mengetahui perbedaan antar tingkat trofik. Ikan contoh diperoleh dari nelayan dengan alat tangkap jaring, mulai dari ukuran 0,75 – 4,5 inchi. Hasil penelitian diketemukan sebanyak 15 jenis ikan yang didominasi oleh ikan nila dengan persentase berat mencapai 56,45%. Struktur komunitas ikan di perairan waduk Wadaslintang tersusun atas tiga kelompok tingkat trofik yaitu ikan patin, nila, tawes dan nilem mempunyai jenjang trofik terendah (<2,5), ikan bader dan brek mempunyai nilai jenjang trofik sedang (2,5 – 3,49) dan ikan beong, betutu, palung dan lelemempunyai nilai jenjang trofik tertinggi (>3,5). Kelompok ikan pada tingkat trofik rendah < 2,5 sangat penting dalam menyokong komunitas ikan di perairan waduk Wadaslintang karena akan mempengaruhi kelompok ikan dengan tingkat trofik tinggi.Wadaslintang reservoirs was considered have high potential for fisheries and aquaculture. Fishing Activities in the Wadaslintang reservoir is currently quite high, which may gave a direct impact on the trophic levels structure of fish community and would change composition of predators, preys, and competitors on various trophik levels. The objective of research was focused on the pattern of relationship among trophic groups from the lowest level of trophic to the highest level of carnivorous fish, to find out the role of each fish group in the community. This research was carried out in April, June, September and November 2013 at Wadaslintang reservoir waters. The recorded data were analysed to find out the composition of the fish, feeding habits and trophic levels, and followed by statistical analysis of variance to evaluate the difference among trophic level. Fish samples obtained from a capture tool gillnets, ranging from size 0.75 – 4.5 inches. The results shows that Wadaslintang Reservoir was habited by 15 species of fish where Nile Tilapiais is the dominance species with percentage weight is 56,45%. The structure of fish communities in the water of the Wadaslintang reservoir composed of three groups, namely trophic level of sutchi catfish, nile tilapia, silver barb and nilemhad the lowest trophic levels (< 2.5), barb and javaen barb had value trophic level moderat (2.5-3.49) and catfish, marble goby, hampala barb and walking catfish had the highest trophic level values (>3.5). Fish group on trophic level < 2.5 levels is very important group in supporting good community structure in Wadaslintang reservoir as a way to sustainability of populaion oh the other groups with higher trophic level.
BEBERAPAASPEKBIOLOGI IKAN SEMBILANG(Plotosus canius) DI PERAIRANESTUARIABANYUASIN, SUMATERASELATAN Fatah, Khoirul; Asyari, Asyari
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 4 (2011): (April 2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.4.2011.225-230

Abstract

Ikan sembilang (Plotosus canius) merupakan salah satu sumber daya ikan di perairan estuaria, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Penelitian beberapa aspek biologi ikan sembilang dilakukan pada bulanApril sampai Juli 2007. Contoh ikan diperoleh dari nelayan yang menangkap dengan alat tangkap belad dan rawai dasar. Hasil penelitian ini menunjukan ratio kelamin jantan terhadap betina yaitu 1:2. Organisme yang ditemukan dalamsaluran pencernaan terdiri atas lima jenis yaitu potongan kepiting, udang, ikan, cacing, dan keong, sehingga ikan sembilang dapat digolongkan sebagai ikan karnivora. Pola pertumbuhan ikan sembilang bersifat isometrik (b=3), berartipertumbuhan panjang seiring dengan pertumbuhan bobot. Kelompok ukuran panjang ikan sembilang tertangkapdidominansi oleh ukuran panjang antara 25,1-30,1 cm. Eeltailed catfish (Plotasus canius) is one of the fish resources in the estuarine waters of Banyuasin South Sumatera. Research on some biological aspect of Plotosus canius was conducted from April to July 2007. Fishes were caught by fishermen using barrier traps and bottom long line. The results show that the sex ratio of male to female was 1:2. Organisms found in the digestive tract consists of five types crabs, shrimp, fish, worms, and snails. Thus eeltailed catfish can be classified as a carnivorous fish. The constant (=b) of length weight relationship of Plotosus canius was 3 (t-test) suggesting this species was length increment as fast as weight increment. Based on total length size group measured, fish dominontly caught in length of 25.1-30.1 cm.
KERAGAAN ALAT TANGKAP DAN JENIS IKAN DI PERAIRAN SUNGAI SIAK, PROVINSI RIAU Fatah, Khoirul; Makri, Makri
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 1 (2010): (April 2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4219.952 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.1.2010.1-8

Abstract

Sungai Siak merupakan salah satu Sungai besar yang mengalir di Provinsi Riau yang memiliki banyak fungsi salah satu dari fungsi tersebut adalah usaha penangkapan ikan. Kegiatan penangkapan ikan di Sungai Siak menggunakan alat tangkap yang bersifat tradisional dan dilakukan secara kelompok atau perorangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah dan jenis alat tangkap jenis ikan, kelimpahan relatif, dan keanekaragaman jenis ikan yang ada di perairan Sungai Siakpada tahun 2008. Pengambilan data dilakukan di perairan Sungai Siak mulai dari Kuala Tapung sampai Muara Mandau. Pengambilan data alat tangkap dilakukan terhadap nelayan yang sedang mengoperasikan alat tangkap tersebut, sedang pengambilan data jenis dan hasil tangkapan ikan dilakukan secara langsung di lapangan. Pengumpulan data bulanan jenis dan hasil tangkapan dibantu oleh nelayan setempat sebagai enumerator. Hasil penelitian menunjukan terdapat delapanjenis alat tangkap yang beroperasi di Sungai Siak mulai dari Kuala Tapung sampai Muara Mandau yaitu jaring, rawai, tajur, luka, pengilar, belad, dan jala. Alat tangkap jaring dan jala jumlah dan sebarannya paling banyak ditemukan di sepanjang Sungai Siak mulai dari Kuala Tapung sampai Muara Mandau, lalu disusul alat tangkap belad. Untuk jenis ikan ditemukan 60 jenis ikan yang tertangkap dari berbagai jenis alat tangkap, ikan tersebut berasal dari 12 famili dan satu jenis krustacea yaitu udang galah (Macrobrachium rosenbergii), dari 12 famili tersebut kelimpahan relatif didominansi oleh famili Cyprinidae dan Engraulidae baik pada bulan Juni, Agustus, dan Oktober. Jika dilihat dari nilai Indeks keanekaragaman pada beberapa stasiun Sungai Siak mempunyai nilai indeks berkisar antara 0,5-3,0. Siak River one of the biggest river at Riau Province has a multipurpose function including fisheries. Fishing activity at the river used a traditional gear which was operated by individual or group fisherman. A study aimed to investigate number and type of fishing gears, fish species caught, relative abundance and fish diversity of the Siak River was conducted from Kuala Tapung until Muara Mandau in 2008. Data of fishing were collected from the fisherman operated the fishing gears. Monthly data on fish species caught and fish yield were collected directly by enumerator. Results of the study showed that eight kinds of fishing gears, namely gillnets, long line, hand line, traps (luka, pengilar, and belad), filtering device, and cast net were operated. The dominant fishing gear operated was gillnet and cast net and filtering device in the next. About sixty fish species from the twelve families and giant freshwaters prawn (Macrobrachium rosenbergii) were caught using those fishing gears. During June, August, and October, the relative abundance of the fish species was dominated by family of Cyprinidae and Engraulidae. The fish diversity index of the Siak River ranged from 0.5-3.0.
SPESIFIKASI, CARA OPERASI, DAN HASIL TANGKAPAN ALAT TANGKAP BLAD (BEACH BARRIER TRAP) DI PERAIRAN ESTUARI YANG BERMUARA DI SELAT BANGKA, SUMATERA SELATAN Rupawan, Rupawan; Gaffar, Abdul Karim; Fatah, Khoirul
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 2, No 1 (2008): (April 2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1439.575 KB) | DOI: 10.15578/bawal.2.1.2008.1-7

Abstract

Perairan estuaria merupakan wilayah pertemuan air tawar dari sungai dengan air laut, mempunyai karakteristik habitat yang khas dan dinamis, keanekaragaman hayati tinggi, aktivitas perikanan tangkap dengan bermacam jenis alat tangkap cukup berkembang. Penelitian untuk mengetahui spesifikasi, cara operasi, dan hasil tangkapan alat tangkap blad dilakukan dengan metode survei pada tahun 2006 di perairan estuari yang bermuara di Selat Bangka, Sumatera Selatan. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa alat tangkap blad dibuat dari bahan jaring mesh size 4 mm, ukuran panjang 100 sampai dengan 400 m, lebar 2,0 sampai dengan 3,0 m. Alat tangkap pasif, dipasang memanjang garis pantai pinggiran sungai, menjebak ikan yang bermigrasi secara lateral saat air pasang. Dapat dioperasikan 14 sampai dengan 18 hari per bulan sepanjang tahun, dominan musim kemarau. Hasil tangkapan terdiri atas 54 jenis ikan dan 7 jenis udang, komposisi bobot ikan 73% dan udang 27%. Nilai indek keragaman jenis 1,95 sampai dengan 2,87 (tingkat sedang). Hasil tangkapan per unit upaya (catch per unit of effort) 2,31 sampai dengan 8,75 kg per 100 m jaring blad per trip operasi.
KEBIASAANMAKAN DANBIOLOGI REPRODUKSI IKANMOTAN (Thynnichthys polylepis) DIWADUK KOTOPANJANG, RIAU Asyari, Asyari; Fatah, Khoirul
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 3, No 4 (2011): (April 2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.895 KB) | DOI: 10.15578/bawal.3.4.2011.217-224

Abstract

Ikan motan (Thynnichthys polylepis) merupakan jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomi yang cukup penting di Kabupaten Kampar. Ikanmotan diWaduk Kotopanjang termasuk jenis ikan yang dominan dan digemarimasyarakat. Penelitian ini untuk mendapatkan data dan informasi mengenai kebiasaan makan dan biologi reproduksi dilakukan pada bulan Agustus sampai Nopember 2009. Penelitian ini dilakukan melalui metode survei dengan pengambilan contoh dilakukan secara purposive sampling. Untuk mengetahui kebiasaan makan digunakan metode Indeks Preponderan, kematangan gonad diamati secara morfologi dan penentuan fekunditas dihitung dengan metodegravimetrik. Hasil penelitian inimenunjukan bahwa ikan motan tergolong jenis ikan herbivora dengan pakan utama makrofita 49,9%, pakan pelengkapnya adalah phytoplankton 22,6% dan detritus 17,4%, dan pakan tambahan terdiri atas protozoa 0,8%, rotifera 0,5%, dan crustaceae 0,4%. Selain itu makanan yang tak teridentifikasi 8,4%. Ikan motan memijah secara bertahap (parsial) dimulai pada bulan Nopember. Fekunditas ikan motan berjumlah antara 25.360-61.198 butir dengan diameter telur pada kisaran antara 0,31-0,90mm, serta indeks kematangan gonad antara 6,65-17,56%. Motan (Thynnichthys polylepis) is one of fish species having the economically important value in Kampar Regency. In Kotopanjang Reservoir motan is a kind of fish which is dominant and it is liked by the people. The objectives of the research were to get data and information of food habit and the biology reproduction such as gonadal maturity, fecundity, and egg diameter has been carried out on August to November 2009. The research is done with the survey method, meanwhile the samples taken by purposive sampling. Food habit can used an index of preponderance method, the gonadal maturity is used by the morphology, meanwhile fecundity is counted by gravimetric. The result of the research shows that motan is belong to a herbivore fish with a mean food macrophyta of 49.9% as a mean food, phytoplankton of 22.6% and detritus of 17.4% as complement food. Meanwhile the addition food such as protozoa of 0.8%, rotiferas of 0.5%and crustaceae of 0.4%. Beside that, the unidentify part is 8.4%. Motan spawning by partial which is started on November. Fecundity of motan shows that the total egg varied between 25,360-61,198 with egg diameter is between 0.31-0.90 mm. Meanwhile index maturity of gonads is between 6.15-17.56 %. Based on the aspects some water quality.
BIOLOGI REPRODUKSI IKAN RED DEVIL (Amphilopus labiatus) dan (Amphilopus citrinellus) DIWADUKKEDUNGOMBO, JAWATENGAH Adjie, Susilo; Fatah, Khoirul
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 7, No 1 (2015): (April 2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.227 KB) | DOI: 10.15578/bawal.7.1.2015.17-24

Abstract

Waduk Kedung ombo yang mempunyai luas kurang lebih 4.800 ha merupakan waduk serbaguna. Bagi sektor perikanan, perairan waduk merupakan sumber daya alam yang dimanfaatkan baik untuk kegiatan penangkapan maupun budidaya. Populasi ikan red devil di waduk Kedung Ombo semakin tidak terkendali dan memangsa ikan komersial lain seperti ikan mas, tawes, nila. Penelitian untuk mengetahui beberapa aspek biologi (tingkat kematangan gonad, fekunditas, frekuensi dan musim pemijahan dan ukuran ikan pertama kali matang gonad) ikanred devil di waduk Kedung Ombo Jawa Tengah telah dilakukan pada bulan Maret, Mei, Juli dan Oktober 2011. Contoh ikan dikumpulkan dari hasil tangkapan nelayan yang menggunakan jaring insang. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa ikan red devil (A. labiatus) pertama kali matang gonad pada ukuran panjang total antara 9,66-11,47 cm, sedangkan pada A. citrinellus terjadi pada kisaran panjang total 7,9-11,95 cm. Fekunditas pada A. labiatus berkisar antara 677-1378 butir dan pada A. citrinellus berkisar antara 631-2.771 butir. Diameter telur pada A. labiatus berkisar antara 0,4-1,59 mmdan pada A. citrinellus berkisar antara 0,54-2,16 mm. Keragaman ukuran telur ikan A. labiatus dan A. citrinellus terutama pada TKG IV menunjukkan bahwa ikan ini tergolong jenis ikan yang memijah sepanjang tahun dan secara parsial (partial spawner).
BIOLOGI REPRODUKSI IKAN BETUTU (Oxyeleotris marmorata) DI WADUK KEDUNGOMBO PROPINSI JAWA TENGAH Fatah, Khoirul; Adjie, Susilo
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 5, No 2 (2013): (Agustus 2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.969 KB) | DOI: 10.15578/bawal.5.2.2013.89-96

Abstract

Ikan betutu (Oxyeleotris marmorata) merupakan jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis penting di Waduk Kedungombo. Ikan betutu di Waduk Kedungombo termasuk jenis ikan yang dominan dan digemari masyarakat. Penelitian ini mengetahui mengenai biologi reproduksi ikan betutu, dilakukan pada bulan Maret, Mei, Juli dan Oktober 2011. Penelitian ini dilakukan melalui metode survei dengan pengambilan contoh dilakukan secara purposive sampling. Untuk mengetahui tingkat kematangan gonad diamati secara morfologi dan penentuan fekunditas dihitung dengan metode gravimetrik. Hasil penelitian menunjukan bahwa ikan betutu memijah secara bertahap (parsial) dimulai pada bulan Maret, nilai ukuran pertama kali matang gonad pada ukuran 16,5-18,1 cm. Fekunditas berjumlah antara 6414-56.302 butir  dengan diameter telur pada kisaran antara 0,2 – 0,67 mm, serta indeks kematangan gonad ikan betutu jantan berkisar antara 0,03 % - 0,65 %, untuk ikan betutu betina berkisar antara 0,11 % - 5,57 % . Betutu (Oxyeleotris marmorata)  is one of fish species having the economically important value in Kedungombo reservoir. In Kedungombo betutu is a kind of fish which is dominant and it is liked by the people. The objectives of the research were to get data and information on biology reproduction such as gonadal maturity, fecundity and egg diameter has been carried on March, May, July and October 2011. The research is done with survey method, meanwhile the samples taken by purposive sampling. The gonadal maturity is used by morphology, meanwhile fecundity is counted by gravimetric. The result of the research shows that betutu spawning by partial which is started on March, the size of the fish first mature gonads ranged from 16,5-18,1 cm, Fecundity of betutu shows that the total egg varied between 6414-56.302 with egg diameter is between 0,2 – 0,67 mm, Meanwhile index maturity of gonad male is between 0,03 % - 0,65 % and famale between 0,11 % - 5,57 % . Based on the aspects some water quality.