Harun, Harnavi
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

Indikasi dan Persiapan Hemodialis Pada Penyakit Ginjal Kronis Zasra, Radias; Harun, Harnavi; Azmi, Syaiful
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 2
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit Ginjal Kronik (PGK) adalah kelainan struktural atau fungsi yang terjadi lebih dari 3 bulan dan mempunyai implikasi terhadap kesehatan serta diklasifikasikan berdasarkan penyebab, laju flitrasi glomerulus (LFG) dan albuminuria. Komplikasi serius yang ditimbulkan PGK dapat berupa malnutrisi, kelebihan cairan, perdarahan, serositis, depresi, gangguan kognitif, neuropati perifer, infertilitas dan Infeksi. Untuk mencegah komplikasi tersebut, diperlukan indikasi dan waktu yang tepat untuk memulai terapi dialisis pada pasien PGK.
Biomarker Acute Kidney Injury (AKI) pada Sepsis Setiawan, Dional; Harun, Harnavi; Azmi, Syaiful; Priyono, Drajad
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 2
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sepsis didefinisikan sebagai infeksi bersama dengan manifestasi sistemik dari infeksi. Sepsis berat adalah penyebab 50% kasus acute kidney injury (AKI) pada pasien kritis. Patofisiologi cedera ginjal akut (AKI) pada sepsis disebabkan oleh respon inflamasi, toksin dan perubahan hemodinamik glomerulus. Tingkat keparahan disfungsi ginjal tergantung pada tingkat keparahan sepsis. Perubahan laju filtrasi glomerulus (GFR) adalah fenomena AKI yang terlambat. Diagnosis AKI dengan mengukur kreatinin serum. Sayangnya, kreatinin adalah indikator yang kurang dapat diandalkan selama perubahan akut pada fungsi ginjal. Munculnya penanda biologis baru dalam lingkup AKI sangat membantu bagi dokter untuk dapat mendiagnosa awal AKI. Penanda biologis AKI bisa menjadi komponen serum atau urin. Penanda biologis urin menjanjikan untuk mendeteksi awal AKI, sehingga dapat berguna untuk diagnosis dini.
Hipertensi Renovaskular Falah, Afdhol; Harun, Harnavi
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 3
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi renovaskular adalah peningkatan tekanan darah sistolik dan atau diastolik yang umumnya mendadak dan resisten akibat hipoperfusi ginjal yang biasanya disebabkan stenosis arteri renalis dan aktivasi sistem renin-angiotensin. Penyakit ini merupakan salah satu penyebab dari hipertensi sekunder yang dapat terjadi karena gangguan pada vaskular berupa stenosis arteri renalis, berkaitan dengan penyakit parenkim ginjal atau dapat juga merupakan kombinasi dari keduanya. Angka kejadiannya yaitu 1-4 % dari seluruh penderita hipertensi. Hipertensi renovaskular lebih sering ditemukan pada usia remaja dibandingkan pada kelompok usia dewasa. Tujuan penatalaksanaan hipertensi renovaskular adalah memperbaiki oklusi arteri renalis sehingga hipoperfusi ginjal membaik dan tekanan darah menurun. Dalam kasus ini kami melaporkan seorang perempuan berusia 22 tahun datang dengan keluhan sakit kepala sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Hasil angiografi arteri renalis: stenosis 80-90% pada arteri renalis dextra. Selanjutnya pasien dilakukan Percutaneous Transluminal Renal Angioplasty. Setelah dilakukan pemasangan balon arteri renalis keluhan sakit kepala berkurang dan tekanan darah menjadi normal dan obat antihipertensi dihentikan.
The Role of Methylglyoxal Accumulation on Cognitive Function Impairment of Chronic Hemodialysis Patients: an Observational Study Harun, Harnavi; Roslaini, Roslaini; Azmi, Syaiful; Martini, Rose Dinda
Indonesian Journal of Kidney and Hypertension Vol 2 No 1 (2019): January - April 2019
Publisher : PERNEFRI (PERHIMPUNAN NEFROLOGI INDONESIA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.665 KB)

Abstract

Background: Cognitive function decline is prevalent on routine hemodialysis patients. Many factors contribute to the increased risk of cognitive function impairment, one of them is the accumulation of uremic toxins. Methylglyoxal (MG) has been identified as one of the uremic toxins found in dialysis patients by the European Uremic Toxin Group. It has also been found much higher on CKD patients; over five times higher in non-dialysis CKD and 18-40 times higher in CKD patients on dialysis, and cause impaired cognitive function in rats with diabetes. Aim: To find the correlation between blood MG levels and cognitive function of patients who underwent routine hemodialysis. Methods: This study is an observational cross-sectional study done in Hemodialysis Unit of Dr. M Djamil General Hospital, Padang, West Sumatera, Indonesia. Fifty-seven subjects aged 40-60 years old were included in this study, where the blood MG levels were obtained. Cognitive function was measured using the Mini Mental State Examination (MMSE) questionnaire. Result: Among 57 subjects, 29 (50.8%) were male, and 33 (57.9%) were 50-60 years old. The subjects’ mean methylglyoxal levels were 10.8 (SD ± 3.2) µmol/L. The subjects’ mean MMSE score was 26 (SD ± 1.8), with 35% of the subjects had low (<25) scores. Spearman correlation analysis showed a statistically significant negative correlation between methylglyoxal level and MMSE score (r = -0.6, p >< 0.001). Conclusion: High levels of methylglyoxal negatively correlates with cognitive function in chronic hemodialysis patients. Future research should include analysis regarding age, gender, hypertension, and other confounding factors.