Khomalia, Isti
Program Studi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

Micro Hijabers Celebrity: Membentuk Identitas dengan Update Self-Story via Instagram (Kasus Dian Pelangi) Khomalia, Isti; Rahman, Khairul Arief
NALAR Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.457 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v2i1.869

Abstract

Artikel ini akan membahas mengenai fenomena hijabers yang sering mewarnai media sosial seperti Instagram. Fenomena mengenai hijabers yang tampil sebagai representasi wanita muslimah ini menarik untuk dikaji dari sisi pembentukan citra diri. Namun seiring berjalannya waktu hijabers juga menjadi model endorse produk-produk mulai dari kosmetik, jilbab dan lain sebagainya. Karena nilai keekonomian ini pula, hijabers tersebut menjadi tampil semenarik mungkin dengan foto atau gambar yang menunjang citra diri. Otomatis batas dalam membangun citra diri, menjadi kabur dan seakan tidak bisa dibedakan antara diri secara identitas personal sebagai micro-celebrity dengan diri sebagai model endorse. Pada titik inilah peneliti tertarik apa dan bagaimana para hijabers membangun percampuran identitas personal dengan identitas diri sebagai market branding. Peneliti juga tertarik tentang bagaimana pembentukan identitas ini dipadukan dengan gambar dan teks yang seolah diceritakan layaknya sebuah diary. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menganalisis temuan. Penelitian ini akan dibedah menggunakan dua teori, yaitu teori identitas untuk melihat citra diri dan teori dramaturgi Erving Goffman untuk   membedah bagaimana Dian Pelangi menceritakan keseharian dirinya khususnya lewat instagram. Berdasarkan hasil analisis terhadap temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa self-story di Instagram memiliki peranan penting seseorang dalam membentuk para micro-celebrity. Dalam perspektif aspek-aspek dramaturgi pembentukan ceritanya terdapat perbedaan terutama dalam aspek misrepresentation. Pertama, para follower lebih banyak akan melihat Dian Pelangi sebagai orang yang sempurna dalam akun Instagramnya dan lebih banyak memujinya. Sementara follower tidak akan tahu masalah apa yang mungkin terjadi lewat akun Instagramnya. Kedua, dikarenakan identitas yang tumpang tindih antara identitas personal dengan branding, maka identitas yang tercipta lebih menyerupai hyper-identity.Kata Kunci: Micro-Celebrity, Identitas, Hijabers, Media Sosial, Self-Story.
Micro Hijabers Celebrity: Membentuk Identitas dengan Update Self-Story via Instagram (Kasus Dian Pelangi) Khomalia, Isti; Rahman, Khairul Arief
NALAR Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.457 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v2i1.869

Abstract

Artikel ini akan membahas mengenai fenomena hijabers yang sering mewarnai media sosial seperti Instagram. Fenomena mengenai hijabers yang tampil sebagai representasi wanita muslimah ini menarik untuk dikaji dari sisi pembentukan citra diri. Namun seiring berjalannya waktu hijabers juga menjadi model endorse produk-produk mulai dari kosmetik, jilbab dan lain sebagainya. Karena nilai keekonomian ini pula, hijabers tersebut menjadi tampil semenarik mungkin dengan foto atau gambar yang menunjang citra diri. Otomatis batas dalam membangun citra diri, menjadi kabur dan seakan tidak bisa dibedakan antara diri secara identitas personal sebagai micro-celebrity dengan diri sebagai model endorse. Pada titik inilah peneliti tertarik apa dan bagaimana para hijabers membangun percampuran identitas personal dengan identitas diri sebagai market branding. Peneliti juga tertarik tentang bagaimana pembentukan identitas ini dipadukan dengan gambar dan teks yang seolah diceritakan layaknya sebuah diary. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menganalisis temuan. Penelitian ini akan dibedah menggunakan dua teori, yaitu teori identitas untuk melihat citra diri dan teori dramaturgi Erving Goffman untuk   membedah bagaimana Dian Pelangi menceritakan keseharian dirinya khususnya lewat instagram. Berdasarkan hasil analisis terhadap temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa self-story di Instagram memiliki peranan penting seseorang dalam membentuk para micro-celebrity. Dalam perspektif aspek-aspek dramaturgi pembentukan ceritanya terdapat perbedaan terutama dalam aspek misrepresentation. Pertama, para follower lebih banyak akan melihat Dian Pelangi sebagai orang yang sempurna dalam akun Instagramnya dan lebih banyak memujinya. Sementara follower tidak akan tahu masalah apa yang mungkin terjadi lewat akun Instagramnya. Kedua, dikarenakan identitas yang tumpang tindih antara identitas personal dengan branding, maka identitas yang tercipta lebih menyerupai hyper-identity.Kata Kunci: Micro-Celebrity, Identitas, Hijabers, Media Sosial, Self-Story.
STANDARISASI KECANTIKAN DI MEDIA SOSIAL: Analisis Wacana Sara Mills Beauty Standard di Canel Youtube (Gita Savitri Devi) Khomalia, Isti
Dialogia: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 16, No 1 (2018): DIALOGIA JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.436 KB) | DOI: 10.21154/dialogia.v16i1.1494

Abstract

Abstract: This study is aiming at revealing the standardization of beauty on social media, especially youtube for the Beauty standard on YouTube made by Gita Savitri Devi by using Sara Mills's Critical Discourse Analysis. The results showed that women often feel that they are not beautiful after watching the beauty video tutorial on YouTube. Their mindset is led to see that beautiful standards by what they see in the video. Though the definition of beauty according to social media is inseparable from the role of capitalists. Gita Savitri present her YouTube content criticaly and and smartly and she campaigned for loving herself at her YouTube site. This is in accordance with Islamic teachings that we have to respect not only from the appearance/outside but also inside/ inner beauty.ملخص: تناقش هذه الدراسة معايير الجمال في وسائل الإعلام الاجتماعية وخاصة يوتيوب (youtube)، لفيديو معايير الجمال على قانة Gita Savitri Devi باستخدام تحليل الخطاببالنقدعندSara Mills .وأظهرت النتائج أن النساء يفترضن في كثير من الأحيان أنهن ليس جميلات بعد مشاهدة الفيديو التعليمي على يوتيوب(Youtube) ـ يقود تفكيرهم إلى رؤية أن المعايير الجمال هي ما يرونه في الفيديو. في حين أن تعريف الجمال وفقا لوسائل الإعلام الاجتماعية لا ينفصل عن دور الرأسماليين .تأتي Gita Savitri مع محتوى يوتيوب الحرجة والذكية وتنظيم الحملات لحب النفس في قانته على يوتيوب(Youtube) .وهذا يتفق مع التعاليم الإسلامية التي لا ترى الجمال فقط من الخارج (الجمال الخارجي) ولكن الجمال الحقيقي هو داخل المرأة (الجمال الداخلي).Abstrak: Penelitian ini membahas tentang standarisasi kecantikan di media sosial khususnya youtube  terhadap video Beauty standard di canel youtube Gita Savitri Devi dengan menggunakan Analisis Wacana Kritis Sara Mills. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kaum perempuan acapkali menscaning bahwa dirinya tidak cantik setelah melihat video beauty tutorial di youtube. Mindset mereka digiring untuk melihat bahwa standar cantik adalah seperti apa mereka lihat di video tersebut. Padahal definisi cantik menurut sosial media tidak terlepas dari peran kapitalis. Gita Savitri Hadir membawa konten youtube yang kritis dan cerdas dan mengkampanyekan mencintai diri sendiri di canel youtubenya.  Hal ini sesuai dengan ajaran islam yang tidak hanya melihat kecantikan dari luarnya saja (outer beauty) akan tetapi kecantikan yang sejati adalah berada dalam diri seorang perempuan (inner beauty).