p-Index From 2015 - 2020
1.798
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Pattingalloang
Madjid, Muh. Saleh
Dosen Pendidikan Sejarah FIS UNM

Published : 12 Documents
Articles

Found 12 Documents
Search

PERKAWINAN ORANG TIONGHOA DAN ORANG MANDAR (STUDI SEJARAH EMPAT KELUARGA DI WONOMULYO 1990-2012) Yuliana, Yuliana; Madjid, Muh. Saleh; Ahmadin, Ahmadin
Jurnal Pattingalloang Vol. 2 No. 3 Juli - September 2015
Publisher : Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.905 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v2i3.8460

Abstract

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkawinan antara orang Tionghoa dan orang Mandar  di Kecamatan Wonomulyo dikarenakan adanya keinginan orang Tionghoa untuk membuka suatu usaha sehingga orang Tionghoa melakukan perkawinan terhadap orang Mandar dengan cara mengkolaborasikan antara sistem adat istiadat terhadap perkawinan dan menjalin  hubungan yang baik antara orang Tionghoa dan orang Mandar dalam hubungan Sosial, karena budaya dan kebiasaan yang dilakukan oleh orang Tionghoa sudah sama dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang Mandar. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perkawinan orang Tionghoa dan orang Mandar mengalami sedikit perubahan dalam menjalankan adat istiadat, namun perubahan tersebut tidak menjadi penghalang untuk mereka menjalankan suatu usaha karna mereka juga mendapat respon yang baik oleh masyarakat setempat, sehingga orang Tionghoa dan orang Mandar dapat memajukan usaha yang mereka jalankan dengan saat ini. Kata Kunci: Perkawinan orang Tionghoa dan orang Mandar
HUBUNGAN I MANYAMBUNGI DI KERAJAAN BALANIPA DENGAN TUMAPPA’RISI KALLONNA DARI KERAJAAN GOWA PADA ABAD XVI Usman, Arif Husain; Madjid, Muh. Saleh
Jurnal Pattingalloang Vol. 2 No. 2 April - Juni 2015
Publisher : Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.905 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v2i2.8432

Abstract

Hubungan antara Kerajaan Balanipa dengan Kerajaan Gowa pada masa pemerintahan I Manyambungi meliputi dua hal yakni; hubungan kekerabatan dan hubungan politik. Hubungan kekerabatan diperoleh pada saat I Manyambungi menikah dengan anak dari Karaeng Suria yang juga masih merupakan kemanakan raja Gowa. Adapun menyangkut hubungan politik bisa kita cermati dari beberapa ikrar yang melibatkan Kerajaan Balanipa dan Kerajaan Gowa perihal untuk selalu menjaga hubungan baik dan juga selalu berkomunikasi manakala dua kerajaan tersebut mendapat ancaman dari kerajaan lain. Hubungan antara Kerajaan Balanipa dengan Kerajaan Gowa ternyata membawa pengaruh yang besar bagi Kerajaan Balanipa. Ilmu dan pengalaman yang diperoleh I Manyambungi sewaktu tinggal di Kerajaan Gowa pada akhirnya sangat membantunya dalam usahanya memimpin Kerajaan Balanipa. Adapun bagi Kerajaan Gowa, hubungan dengan Kerajaan Balanipa di Mandar dapat membawa  keuntungan darisegi ekonomi atau perdagangan dengan melalui jalur laut.Kata Kunci: Hubungan  I Manyambungi, Kerajaan Balanipa, Tumappa’risi Kallonna ,Kerajaan      Gowa Pada Abad XVI
Petani Jeruk di Bumi Tanadoang 1979-2017 Ramadhan, Muh. Nur Fajri; Ahmadin, Ahmadin; Madjid, Muh. Saleh
Jurnal Pattingalloang Vol. 5 No. 1 Januari - April 2018
Publisher : Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.351 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i1.6709

Abstract

This paper attempt to provide an explanation of the description of orange farming in Batangmata Sapo. After having succes in rice self-sufficiency the government is giving more attention in the development of horticultural commodities. As well as South  Sulawesi region that increasing the economic growth and also develops a wide variety of business, one of them in the field of horticulture. Through the type of orange plant developed in the Luwu and Selayar areas. In 1979’s the coconut farmers was much higher more than of other cultivators. In the 1980’s people in this area are turning to cultivate oranges because that is considered more promising a better result than planting coconut. The Batangmata Sapo area that development the oranges agriculture for  the first time was in a village called Tamallua. Being farmed oranges is not always pan out, the disease and the season become a obstacle to farmers right now. This study is interesting to be studied because Batangmata Sapo is a center of orange production in Selayar Islands District because there are no one of researcher that looked at specifically. This research is a qualitative research with descriptive analysis approach, which consist of several stages namely: (1) Heuristic, by interviewing some orange  farmers such: Makmur, Taris, Muh. Daeng, Harundini. The archives collection at the Agriculture Department and Food Security of the Selayar Islands Regency, regarding orange production data in each year and also used a books that related to agriculture andorange crops such as Rahmat Rukmana's book entitled Tangerine farming (2) Criticism or the process of verifying the authenticity of historical sources. (3) Interpretation or interpretation of historical sources, and (4) Historiography, is the stage of historical writing.
Yayasan Pengkajian Pemberdayaan Masyarakat Sulawesi Selatan 1989-2017 Sari, Aulia; Madjid, Muh. Saleh; Ridha, Muh. Rasyid
Jurnal Pattingalloang Vol. 5 No. 3 Juli - September 2018
Publisher : Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.779 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i3.8515

Abstract

Penelitian ini membahas tentang Yayasan Pengkajian Pemberdayaan Masyarakat Sulawesi Selatan (YKPM) Sulsel adalah Non-governmental organizations (NGO) yang secara umum mengkaji terkait permasalahan-permasalahan sosial dan melakukan pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan pembangunan khususnya di Sulawesi Selatan. YKPM sendiri lahir dari realitas yang terjadi di wilayah Sulawesi Selatan, yakni kekangan pemerintah Orde Baru dari segi sosial dan ekonomi dimana sangat membutuhkan pengembangan dan pemberdayaan. Dengan kondisi sosial dan politik maka terbentuk YKPM dengan program-program terkait permasalahan-permasalahan sosial terkait partisipasi masyarakat, perempuan, anak, dan kondisi sosial yang membutuhkan pengkajian dan pengembangan. Penelitian ini adalah penelitian dengan pendekatan penelitian historis (Historical Research), yang terdiri atas beberapa tahapan yakni: (1) Heuristik, mengumpulkan tulisan tentang YKPM dari berbagai bentuk berita, arsip, profil dari YKPM, beberapa buku diantaranya: Taktik Politik Gratis (Audit Sosial Pendidikan dan Kesehatan Gratis Berbasis Komunitas di Kota Makassar), Meretas Kebijkan Program Pro Rakyat (pembelajaran Audit Sosial dan Partisipasi Warga dalam Pembangunan di Kota Makassar), Ketika Pembangunan Berpihak (Meretas Kebijakan Program Pro Rakyat), Menuju Masyarakat Partisipatif, dan Pengembangan Masyarakat wacana dan Pratik. (2) Kritik atau proses verifikasi keaslian sumber sejarah. (3) Interpretasi atau penafsiran sumber sejarah, dan (4) Historiografi, yakni tahap penulisan sejarah.Kata Kunci :  Hak Asasi Manusia, Lembaga Swadaya Masyarakat, Yayasan Pengkajian Pemberdayaan Masyarakat
KABUPATEN SOPPENG PADA MASA PEMERINTAHAN A. SOETOMO (2005-2010) Yani, Ahmad; Patahuddin, Patahuddin; madjid, Muh. Saleh
Jurnal Pattingalloang Vol. 2 No. 3 Juli - September 2015
Publisher : Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.905 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v2i3.8457

Abstract

Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama lima tahun pemerintahan A. Soetomo (2005-2010) berhasil dilakukan peningkatan produktivitas pertanian di Tahun 2010 dibandingkan dengan Tahun 2005 khususnya pada tanaman pangan, holtikultura, perkebunan, peternakan, dan kehutanan; peningkatan di bidang pendidikan yang dapat dilihat dari meningkatnya APS (Angka Partisipasi Sekolah) masyarakat Kabupaten Soppeng, peningkatan sarana dan prasarana pendidikan; serta pengadaan fasilitas dan pelayanan kesehatan yang memudahkan akses oleh masyarakat Kabupaten Soppeng. Akhir penelitian menyimpulkan bahwa Kabupaten Soppeng pada masa pemerintahan A. Soetomo mengalami peningkatan dalam berbagai bidang, yakni bidang ekonomi dengan peningkatan ketahanan pangan, pengembangan agribisnis, dan pembangunan pada sumber daya tanaman pangan dan pertanian, di bidang pendidikan terjadi pemerataan dan perluasan kesempatan pendidikan bagi masyarakat, peningkatan mutu dan relevansi pendidikan, penataan sistem management pendidikan, dan peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, serta di bidang sosial budaya dengan adanya peningkatan kualitas pendidikan dan kesejahteraan masyarakat. Kata Kunci: Kabupaten Soppeng, Masa Pemerintahan A. Soetomo
Pemukiman Baru Penduduk Liwu Ke Desa Gu-Lakudo 1969-1977 Arwin, Arwin; Ridha, Muh. Rasyid; Madjid, Muh. Saleh
Jurnal Pattingalloang Vol. 5 No. 3 Juli - September 2018
Publisher : Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.917 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i3.8519

Abstract

Tulisan ini menjelaskan tentang latar belakang pemindahan penduduk Liwu ke Desa Gu Lakudo, proses pemindahan dan dampak dari pemindahan penduduk Liwu ke Desa Gu-Lakudo. Hasil penelitian menunjukkan latar belakang pemindahan penduduk Liwu ke Desa Gu-Lakudo yaitu pada tahun 1969-1977 yang dilakukan oleh pemerintah khususnya pemerintah Kabupaten Buton. Dengan adanya pemindahan tersebut maka seiring dengan berjalannya pemerintahan Desa Gu-Lakudo mengalami perkembangan baik dalam sistem pemerintahan, perkembangan jumlah penduduk dan infrastruktur sosial serta perekonomian yang setiap tahun mengalami peningkatan dari tahun 1969-1977. Dengan adanya perkembangan maka terdapat pula dampak yang ditimbulkan dalam pembetukan Desa yaitu mempercepat pelayanan untuk masyarakat, pembangunan semakin nampak serta kesejahteraan sosial masyarakat semakin meningkat. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa dengan adanya Program Rsettlement Desa: Kajian Tentang Pemindahan Penduduk Liwu ke Desa Gu-Lakudo pada tahun 1969-1977 telah mengalami kemajuan diberbagai bidang seperti sosial, ekonomi, politik dan budaya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahap yaitu heuristic (mencari dan pengumpulan sumber), kritik sumber (kritik ekstern dan kritik intern), interpretasi (penafsiran sumber), dan historiografi (penulisan sejarah). Metote pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan penelitian lapangan (wawancara) dan pustaka.Kata Kunci: Program Resettlement Desa, lakudo, Buton Tengah .  
Petani Salak di Dusun Banca Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang 1960-2016 Mawaddah, Mawaddah; Jumadi, Jumadi; Madjid, Muh. Saleh
Jurnal Pattingalloang Vol. 5 No. 4 Oktober - Desember 2018
Publisher : Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.276 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i4.9005

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang munculnya petani salak di Dusun Banca Kecamatan Baraka, perkembangan petani salak di Dusun Banca Kecamatan Baraka, dan kehidupan sosial ekonomi petani salak di Dusun Banca. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa komoditi salak di Enrekang mulai diperkenalkan di Kalosi oleh Bandu, seorang yang merantau ke Jawa kemudian kembali ke Enrekang. Kemudian Bandu menyebarkan biji salak hasil pertanian salaknya kepada H. Londa, Hamma, Ranni, Sele’, Wa’ Pada’, Tija, dan Satia. Mereka adalah pedagang dari Banca yang saat itu berdagang di Pasar Kalosi. Tahun 1960 H. Londa pertama kali menanam salak di Dusun Banca.  Kemudian terus berkembang di masyarakat dan mengalami puncak perkembangan pada tahun 1982.  Setelah itu perkembangan komoditi salak yang dilihat dari produksi salak di Dusun Banca mengalami pasang surut yang disebabkan beberapa hal seperti faktor cuaca, penambahan lahan baru, dan pergantian lahan pertanian salak ke lahan lainnya. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa keadaan sosial ekonomi masyarakat di Dusun Banca mengalami pertumbuhan dan perkembangan di berbagai bidang, seperti pendidikan serta berdampak pada peningkatan kesejahtraan hidup. Penelitian ini dilakukan melalui wawancara dan kajian pustaka  dengan menggunakan metode sejarah melalui bebrapa tahapan: heuristik (pengumpulan sumber, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara penelitian lapangan terdiri dari wawancara H. Londa, para petani salak,dan  pedagang salak Kata kunci : Salak, Pertanian, Dusun Banca                            Abstrac This study was intended to know the background of the emergence of salak farmers in Banca hamlet, subdistrict of Baraka, the development of salak farmer in Banca hamlet, subdistrict of Baraka, and the socio-economic life of salak farmer in Banca hamlet. Results from the study indicated that salak in Enrekang started to be introduced in Kalosi by bandu, a traveling member to java and the returned to Enrekang. Then Bandu spread his salak seeds to H. Londa, Hamma, Ranni, Sele’, Wa’on, Tija, and Satia. They are the merchants of Banca who were then trading in the marketplace of Kalosi. In 1960 H. Londa first planted salak in the Banca hamlet. Then they continue to thrive in society and are experiencing the peak of development in 1982. Following this the development of the salak commodity seen in salak production in the Banca hamlet had it was up and down as a result of some such factors as the weather, the increasing of new land, and the change of salak farmland to other land. Based on the results of the study, it can be concluded that the socio-economic conditions of the people in the Banca hamlet have experienced growth and development in various fields, such as education and has resulted in improved well-being of life. The study is conducted through interviews and library studies using historical methods through some of the stages: heuristic, source criticism, interpretation, and historiography. Data collection methods are conducted by a field research of interviews (H. Londa, salak farmers, and salak merchants)Keywords: Salak, Farmer, Banca hamlet. 
Eksistensi Bendung Leko Pancing di Kabupaten Maros 1973-2016 Yusuf, Nurhaidah; Madjid, Muh. Saleh; Sahabuddin, Jumadi
Jurnal Pattingalloang Vol. 5 No. 1 Januari - April 2018
Publisher : Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.454 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i1.7080

Abstract

This Paper discusses Leko Pancing Dam in Maros district (1973-2016) which will be decomposed in several sub-material that is the background of the contruction of Leko Pancing Weir, the  development of Leko Pancing Dam from the beginning of the  development in 1973 until 2016 and the impact of the existence of Weir for the community. The Problem studied in this paper is Leko Pancing Dam located in Maros regency build in Maros District administration area but untilized as raw water source by PDAM Makassar thorough water treatment plant (IPA) Panaikang to fulfill the need of clean water of Makassar City community. The result of research shows that Leko Pancing Dam in Maros Regency development is in the background against the unavailability of surface water in Makassar city which can be used as a sourch of raw water that can be used as if the water source of PDAM Makassar in Panaikang Water Treatment Plant, and in Makassar only has one processing installation water is IPA I Ratulangi with a capacity of 50 liters/second that can not meet the need for clean water Makassar city community. Impact of existence of Leko Pancing Dam which reside in Maros Regency as raw water supply for three water Treatment Plant that is water treatment plant (IPA) II Panaikang, water treatment plant (IPA) III Antang, water treatment plant (IPA) II Pattontongan has benefits so that the need for clean water can be available although it can not be available althoughout the year because during the dry season the water supply from the lute of fishing lute is reducer and other problems such as public complaint that feel the water is less clean and sometimes smelly. Another impact is because water from the weir to the installation uses an open channel then the community uses its water to meet daily needs. This research is descriptive analysis using historis method. Through the stages of heuristics by finding sources related to researce either in the form books, brochures, or visiting the location of research and conduct interviews that have to do with research, the next stage of criticism both in the form of internal criticism and external critism to get historical facts about Leko Pancing weir in Maros district, from these facts which are further interpreted chronologically then presented in a historical writing.
Kelompok Tani Tebu Rakyat di Kecamatan Libureng Kabupaten Bone 2006-2016 Suhaeni, Andi; Bosra, Mustari; Madjid, Muh. Saleh
Jurnal Pattingalloang Vol. 5 No. 3 Juli - September 2018
Publisher : Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.861 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i3.8538

Abstract

Tulisan ini membahas mengenai Kelompok Tani Tebu Rakyat di Kecamatan Libureng Kabupaten Bone (2006-2016) yang akan terurai dalam beberapa submateri yaitu pembentukan kelompok tani, dinamika kelompok tani dan kehidupan sosial ekonomi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa latar belakang terbentuknya kelompok tani yaitu memanfaatkan peluang berada di wilayah penanaman tebu dan karena keinginan untuk memperbaiki kondisi sosial ekonomi masyarakat. Kelompok Tani Tebu Rakyat di Kecamatan Libureng pertama kali terbentuk pada tahun 2006, usaha ini merupakan usaha yang cukup menjanjikan meskipun hanya merupakan pekerjaan sampingan. Meskipun kelompok tani mengalami pasang surut dalam pengolahan tebu namun itu hanya merupakan suatu tantangan dalam bertani dan tetap bertahan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Dalam bidang sosial terjalin kerjasama antar petani yag dididukung oleh pembentukan kelompok tani. Dalam bidang ekonomi usaha pengolahan tebu cukup membantu pendapatan petani untuk memenuhi kebutuhannya. Jenis penelitian ini adalah penelitian Kualitatif. Penelitian ini dilakukan melalui wawancara dan kajian pustaka dengan menggunakan metode sejarah melalui beberapa tahapan yaitu, heuristik (pengumpulan sumber), kritik sumber, interpretasi, dna historiografi.Kata Kunci: Kelompok Tani, Tebu, Kecamatan Libureng
Objek Wisata Pantai Lemo-Lemo di Kabupaten Bulukumba 2000-2015 Agustina., Anang; Madjid, Muh. Saleh; Sahabuddin, Jumadi
Jurnal Pattingalloang Vol. 5 No. 1 Januari - April 2018
Publisher : Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.049 KB) | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i1.6707

Abstract

This research is intended to give an overview To know the background of early existence of Lemo-Lemo Beach Objects in Bulukumba, the development of Lemo-Lemo Coastal Tourism Object in Bulukumba District, and the impact of Lemo-Lemo Beach Object in Bulukumba District around and for the district government bulukumba. This study is a historical research with qualitative descriptive approach, so that in the process of research using research methods in accordance with historical scientific rules consisting of several stages. The stages are heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The results of this study indicate that Bulukumba Regency has tourism potency which can be developed maximally by the government, so that the tourist object of lemo-lemo beach is officially used as tourism object in Bonto Bahari Subdistrict since 2000 by Bulukumba Regency Tourism Office. The existence of lemo-lemo beach attraction gives an impact to the life of the economy, both for the surrounding community in particular and bulukumba district in general.