Iryadi, Rajif
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

PAKU EPIFIT DAN POHON INANGNYA DI BUKIT PENGELENGAN, TAPAK DAN LESUNG, BEDUGUL, BALI Darma, I Dewa Putu; Lestari, Wenni Setyo; Priyadi, Arief; Iryadi, Rajif
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2018.15.1.41-50

Abstract

ABSTRACTEpiphytic ferns grow attached to the phorophyte tree or rocks. This study aims to determine the diversity, distribution of epiphytic ferns and its phorophyte trees in the forests of Bedugul, Bali. The method used in this study was purposive random sampling. The study recorded 24 species of epiphytic ferns in the forest of Bedugul Bali (16 species in Bukit Pengelengan, 12 species in Bukit Tapak and 12 species in Bukit Lesung). Epiphytic ferns found limited in one study area are Arthropteris palisotii, Goniophlebium subauriculatum, Loxogramme avenia, Oleandra pistillaris, Asplenium caudatum, Belvisia mucronata, Ctenopteris obliquata, Davallia pentaphylla, Davallia solida, Drynaria sp., Hymenophyllum sp., Monogramma trichoidea and Nephrolepis sp1. Epiphytic ferns found spread over in more than one study areas are Asplenium nidus, Belvisia spicata, Davallia denticulata, Goniophlebium percisifolium, Pyrrosia varia and Selliguea enervis. The highest-distributed species of epiphytic ferns are occupied by Belvisia spicata and Davallia denticulate. There are 33 species of phorophyte trees recorded (22 species in Bukit Pengelengan, 21 species in Bukit Tapak and 11 species in Bukit Lesung). The favorite phorophyte trees are Platea latifolia in Bukit Pangelangan, Syzygium zollingerianum. in Bukit Tapak and Engelhardia spicata in Bukit Lesung.Key words: Bedugul, distribution, diversity, epiphytes fern.ABSTRAKPaku epifit merupakan tumbuhan paku yang tumbuh menempel pada pohon inang (phoropyte) atau bebatuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman serta persebaran paku epifit dan pohon inangnya di kawasan hutan Bedugul Bali. Kegiatan ini dilakukan dengan metode purposive random sampling. Hasil penelitian mencatat 24 jenis tumbuhan paku epifit yang teramati di kawasan hutan Bedugul Bali. Jumlah tersebut tersebar di Bukit Pengelengan 16 jenis, di Bukit Tapak 12 jenis dan di Bukit Lesung 12 jenis. Jenis paku epifit yang persebaranya terbatas hanya di satu area studi adalah Arthropteris palisotii, Goniophlebium subauriculatum, Loxogramme avenia, Oleandra pistillaris, Asplenium caudatum, Belvisia mucronata, Ctenopteris obliquata, Davallia pentaphylla, Davallia solida, Drynaria sp., Hymenophyllum sp., Monogramma trichoidea dan Neprolepis sp1. Sedangkan jenis yang tersebar di lebih dari satu area studi adalah Asplenium nidus, Belvisia spicata, Davallia denticulata, Goniophlebium percisifolium, Pyrrosia varia dan Selliguea enervis. Jenis paku epifit yang berdistribusi paling luas adalah Belvisia spicata dan Davallia denticulata. Keanekaragaman pohon inang tercatat 33 jenis (Bukit Pengelengan 22 jenis, Bukit Tapak 21 jenis dan Bukit Lesung 11 jenis). Jenis pohon inang yang disenangi oleh jenis tumbuhan paku epifit bervariasi, di Bukit Pengelengan adalah Platea latifolia, di Bukit Tapak adalah Syzygium zollingerianum dan di Bukit Lesung adalah Engelhardia spicata.Kata kunci: Bedugul, epifit, keanekaragaman, persebaran.
KERAGAMAN, KONSERVASI DAN AKLIMATISASI ARACEAE KALIMANTAN DI KEBUN RAYA “EKA KARYA” BALI Asih, Ni Putu Sri; Lestari, Dewi; Warseno, Tri; Iryadi, Rajif
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2018.15.1.1-13

Abstract

ABSTRACTBorneo has a rich diversity, endemicity and abundance of plants, including the Aroids; but it is currently threatened by widespread forest degradation. Therefore, immediate ex-situ conservation efforts are needed. Eka Karya Bali Botanical Garden (EKBBG) is an ex-situ conservation institution that has been doing an ex-situ conservation of Aroids since 2007. This study aims to determine the diversity of Kalimantan Aroid’s species, the conservation process from the beginning of the collection up to date and the acclimatization of Borneo’s Aroids in EKBBG. The method used is documentation and observation of collections that are still alive and then analyzed descriptively and displayed in tables and diagrams. EKBBG has collected 21 (53.85%) genera and 136 (18.73%) species of Kalimantan’s Aroids. Among these, 6 (50%) genera and 27 (8.44%) species are endemic Borneo and the most numerous collections are Homalomene, Schismatoglottis and Scindapsus genus. Most of the collections come from North Borneo. The survival rate of Aroid from exploration up to now is 71.54% and 28.46% were deceased. Of the 71.54%, only 39.43% are collectible and 32.11% have seed status. In the acclimatization stage the highest survival rate is 100% (i.e. in plants, which was found at an altitude of 1200 - 1500 asl), then followed by 90.54% at an altitude of 900 - 1200 asl, while the smallest percentage is 47.06% at an altitude of 300 - 600 asl.Key words: Araceae, conservation, endemic, acclimatization, explorationABSTRAKBorneo memiliki keragaman, endemisitas dan kemelimpahan tumbuhan yang tinggi, termasuk suku Araceae, tetapi saat ini kondisinya terancam akibat kerusakan hutan di Borneo yang semakin meningkat. Oleh karena itu perlu segera dilakukan upaya konservasi secara ex-situ. Kebun Raya Eka Karya Bali (KREKB) merupakan lembaga konservasi ex-situ yang telah melakukan konservasi ex-situ suku Araceae sejak 2007. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman jenis Araceae Kalimantan, proses konservasi dari awal dikoleksi hingga saat ini dan aklimatisasi Araceae Kalimantan di KREKB. Metode yang digunakan adalah dokumentasi dan observasi koleksi yang masih hidup dan kemudian dianalisis secara deskriptif dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan diagram. KREKB telah mengkoleksi sebanyak 21 (53,85%) marga dan 136 (18,73%) jenis Araceae yang berasal dari Kalimantan. Diantaranya enam (50%) genus endemik dan 27 (8,44%) jenis endemik Borneo dan yang paling banyak jumlah koleksinya adalah genus Homalomena, Schismatoglottis dan Scindapsus. Sebagian besar koleksi berasal dari Kalimantan Utara. Hasil eksplorasi Araceae yang berhasil bertahan hidup hingga saat ini sebesar 71,54% dan yang mati 28,46%. Dari 71,54% hanya 39,43% yang berstatus koleksi dan 32,11% berstatus bibit. Pada tahap aklimatisasi, persentase hidup yang paling tinggi adalah 100%, yaitu pada tanaman yang ditemukan pada ketinggian 1.200-1.500 m dpl, kedua 90,54% pada ketinggian 900-1200 m dpl sedangkan persentase hidup paling kecil adalah 47,06% pada ketinggian 300-600 m dpl.Kata Kunci: Araceae, konservasi, endemik, aklimatisasi, eksplorasi