Articles

Found 6 Documents
Search

Down Syndrome : Through The Eyes of The Parents Maritska, Ziske; Abdurrahman, Fakhri; Prananjaya, Bintang Arroyantri; Parisa, Nita; Syifa, Syifa; Triwani, Triwani
Jurnal Kedokteran Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol 5, No 3 (2018): Oktober 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.315 KB) | DOI: 10.32539/JKK.v5i3.6316

Abstract

Sindroma Down merupakan salah satu kejadian kelainan kromosom tipe aneuploidi yang kerap ditemukan.  Kejadian Sindroma Down terkait erat dengan disabilitas intelektual dan stugma sosial yang melekat padanya.  Pandangan orang tua mengenai Sindroma Down yang tercerminkan melalui perilaku amat penting karena dukungan keluarga merupakan salah satu kunci utama untuk mengoptimalkan kualitas hidup penyandang Sindroma Down. Studi ini merupakan studi deskriptif pada orang tua penyandang Sindroma Down yang bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) di Palembang.  Perilaku orang tua diukur dengan menggunakan kuesioner HealthStyles©.  Sebagian besar orang tua penyandang Sindroma Down sepakat bahwa anak dengan Sindroma Down harus bersekolah di SLB (82,5%) karena mayoritas meyakini pencampuran penyandang Sindroma Down di sekolah biasa dapat mengganggu murid lain (60%).  Namun orang tua memiliki pandangan optimis bahwa anak penyandang Sindroma Down dapat bekerja jika telah dewasa (72,5%).  Mereka pun percaya bahwa penyandang Sindroma Down tidak lebih rentan mengalami kecelakaan kerja di tempat kerja (37,5%).  Dari studi ini terlihat bahwa orang tua penyandang Sindroma Down memiliki perilaku yang bervariasi tergantung dari aspek mana mereka memandang Sindroma Down.
Efek Sedativa dan Kebugaran Teh Celup Daun Gaharu (Aquilaria malaccensis L) Kamaluddin, Muhammad Totong; Yuliarni, Yuliarni; Agustin, Yeni; Parisa, Nita; Hidayat, Rahmat; Wahyuni, Tri; Yuliana, Citra; Perryanis, Perryanis
Jurnal Jamu Indonesia Vol 2 No 3 (2017): Jurnal Jamu Indonesia
Publisher : Pusat Studi Biofarmaka Tropika LPPM IPB; Tropical Biopharmaca Research Center - Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (975.362 KB) | DOI: 10.29244/jji.v2i3.40

Abstract

Daun Gaharu (Aquilaria malaccensis) sejak lama telah digunakan masyarakat Kabupaten Bangka Tengah untuk menangkal keletihan akibat gangguan tidur ringan. Minuman yang diramu dari daun Gaharu yang diiris-iris lalu dijemur sebentar kemudian disedu air hangat kuku ternyata berkhasiat untuk menimbulkan rasa kantuk dan setelah bangun dari terlelap sejenak maka tubuh akan menjadi lebih segar. Penelitian ini ingin membuktikan manfaat tersebut di atas. Sejumlah 60 orang sukarelawan sehat terdiri dari 30 orang laki-laki dan 30 orang wanita dengan rentang umur 18 – 60 tahun berpartisipasi untuk membuktikan efek sedativa dan pengaruh kesehatan lainnya. Dengan disain pre-post test serta kerelaan sukarelawan sehat ini (dengan mengisi informed consent) sebagai responden, maka semuanya diberi minum teh celup Gaharu yang berisi 1 g simplisia kering/saset setiap hari selama 3 minggu berturut-turut. Setelah selesai satu sesi minum, semuanya diwawancarai pemeriksaan fisik, mental dengan menggunakan kuesioner model Pittsburgh Insomnia Rating Scale (PIRS) serta dikoleksi darah intravenanya. Hasil menunjukkan bahwa 32 % responden timbul rasa kantuk ringan, 10 % merasa lebih segar walaupun terasa sakit kepala ringan, serta berkurangnya rasa pegal dan nyeri sendi namun nafsu makan bertambah. Profil darah rutin tidak berubah namun kadar hormon seks seperti testosteron, progesteron, estradiol dan FSH meningkat ringan tanpa LH serta penurunan fibrinogen dan hs-CRP. Sedangkan transaminase hepar tidak berubah. Dari temuan ini disimpulkan bahwa konsumsi rutin teh gaharu memperbaiki profil tidur dan kesegaran jasmani namun tidak bersifat hepatotoksik. Perubahan kadar hormon seks, fibrinogen dan hs-CRP perlu dikaji lebih lanjut.
Antifungi Effect of Keghenyat Leaves Fraction (Acmella uliginosa) In Vitro Study Hijir, Agustina Septi; Salni, Salni; Marwoto, Joko; Triwani, Triwani; Nita, Sri; Saleh, Mgs Irsan; Maritska, Ziske; Parisa, Nita; Lusiana, Evi; Tamzil, Nia Savitri; Rosdah, Ayeshah Augusta
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol 1 No 1 (2017): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine and Translational Research
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Faculty of Medicine, Universitas Sriwijaya) Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/bsm.v1i1.5

Abstract

Introduction Candida is a yeast fungus classes most commonly found in the oral cavity, gastrointestinal tract, reproductive tract and skin, especially the species Candida albicans. Alternative medicines such as herbs are easily available and affordable by the community, such as keghenyat leaves (Acmella uliginosa). Aim of StudyTo determine the activity of Keghenyat leaves fraction (Acmella uliginosa) compared to Nystatin against Candida albicans in vitro. MethodsIn vitro study was held in Laboratory of Genetics and Biotechnology Department of Biology, Faculty of Science and Medical Faculty, Sriwijaya University in December 2015 and January 2016. Research stages: extraction, fractionation, sensitivity test using Nystatin and Candida albicans, fractions antifungal activity test, the determination of minimum inhibitory concentration (MIC), bioautografi test and determination of compound classes. One final stages of testing the active fraction Keghenyat leaves (Acmella uliginosa) with Nystatin. Data were analyzed using ANOVA and Post Hoc Duncan test and linear regression using SPSS 20. ResultsHexane faction of Keghenyat leaves (Acmella uliginosa) is active against the fungus Candida albicans, has a Minimum Inhibitory Concentration (MIC) of 0.625% (6250μl) against the fungus Candida albicans antifungal contain active compounds that terpenoids and flavonoids, amounting to 84.68 mg / ml equivalent to 1 mg / ml Nystatin against the fungus Candida albicans. ConclusionThere is a significance different MIC between hexane fraction of Keghenyat leaves (Acmella uliginosa) and Nystatin, Nystatin have more high activity.
Antibacterial Efficacy of Aloe vera Sap Against Staphylococcus aureus and Escherichia coli Azahra, Safira; Parisa, Nita; Fatmawati, Fatmawati; Amalia, Ella; Larasati, Venny
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol 3 No 2 (2019): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine and Translational Research
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Faculty of Medicine, Universitas Sriwijaya) Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/bsm.v3i2.87

Abstract

Abstract Background Aloe vera is a plant that has been used as an alternative drug. This plant contains various compounds, like anthraquinone, saponin, flavonoid, alkaloid, and tannin that has an antibacterial effect against Staphylococcus aureus and Escherichia coli. Both of it were responsible for the infection incident. This study aims to determine the efficacy of Aloe vera sap as an antibacterial against Staphylococcus aureus and Escherichia coli. Methods An experimental study, in vitro using post-test only control group design, has been done at laboratory of Medical Faculty of Sriwijaya University, by examining the antibacterial activity of Aloe vera sap in five different concentration (5%, 10%, 20%, 40%, dan 80%) using well diffusion and solid dillusion method to determine the minimum bactericidal concentration (MBC). And then continued with the phytocemical screening to determine the compound inside the Aloe vera sap. Results Aloe vera sap were able to kill Staphylococcus aureus at 5% and Eshcerichia coli at 80%. Compatibility test showed that Aloe vera sap with concentration of 10%, 20%, 40%, and 80% are compatible with amoxicillin, therefore 80% is compatible with cefotaxime. This ability due to the compound that it contains, which is alkaloid, flavonoid, tannin, quinone, and saponin. Conclusion Aloe vera sap is effective as an antibacterial against Staphylococcus aureus and Escherichia coli.   Keyword: Aloe vera sap, antibacterial, efficacy, Staphylococcus aureus, Escherichia coli.  
Identifikasi Polimorfisme Gen mTOR rs 2536 dan rs 2295080 serta Ekspresi ER, PR, HER-2, Ki-67 pada Penderita Kanker Payudara Haq, Anisah Nida'ul; Triwani, Triwani; Parisa, Nita

Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/SJM.v2i3.79

Abstract

Kanker payudara adalah suatu penyakit keganasan yang berasal dari transformasi neoplastik sel-sel epitelial, sebagai akibat akumulasi perubahan genetik, epigenetik dan lingkungan yang dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologi. Kanker payudara menempati urutan pertama sebagai jenis kanker yang paling umum diderita oleh perempuan di dunia. Salah satu predisposisi genetik yang berperan pada terjadinya kanker payudara adalah polimorfisme gen mTOR yang terjadi pada 3’-UTR dan regio promoter. Polimorfisme gen mTOR akan menyebabkan aktivasi proses transkripsi gen mTOR secara terus-menerus sehingga terjadi proliferasi dan diferensiasi sel yang abnormal.  Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi polimorfisme gen mTOR rs 2536 dan rs 2295080 serta ekspresi ER, PR, HER-2 dan Ki-67 pada penderita kanker payudara di Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang. Penelitian ini adalah penelitian laboratorium berjenis deskriptif observasional dengan teknik PCR-RFLP menggunakan enzim EcoRI dan FokI terhadap 33 penderita kanker payudara berdasarkan metode purposive sampling. Polimorfisme gen mTOR rs 2536 paling banyak terdapat pada genotip mutan homozigot (CC) yaitu terdapat pada 27 orang (81,8%) dengan frekuensi alel C sebesar 89,4% sementara alel T hanya 10,6%. Genotip yang paling banyak ditemukan pada polimorfisme gen mTOR rs 2295080 adalah wild type (TT) yang  terdapat pada 19 orang (57,6%) dengan frekuensi alel T sebesar 63,6% sementara alel G sebanyak 36,4%. Data dari bagian Patologi Anatomi menunjukkan adanya kecendrungan meningkatnya ekspresi Ki-67, ER, PR dan HER-2 pada polimorfisme gen mTOR rs 2536 dan rs 2295080. Polimorfisme gen mTOR rs 2536 (CC) pada kanker payudara lebih banyak dibanding polimorfisme gen mTOR rs 2295080 (GG).
THE ASSOCIATION BETWEEN SELF MANAGEMENT AND QUALITY OF LIFE TYPE 2 DIABETES MELLITUS PATIENT IN RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG Pratama, Vincensius Hans Kristian; Shahab, Alwi; Parisa, Nita
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 51, No 2 (2019): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/MKS.v51i2.8543

Abstract

Kualitas hidup merupakan persepsi seseorang tentang dirinya sendiri dalam kaitannya dengan sistem tata nilai di tempat dirinya tinggal yang dapat dipengaruhi banyak faktor, seperti tingkat kemandirian. Tingkat kemandirian berbanding lurus dengan kualitas hidup. Tingkat kemandirian yang baik dapat mengoptimalkan kualitas hidup, serta mencegah komplikasi akut dan kronis dari penyakit diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat kemandirian dengan kualitas hidup pasien diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini adalah studi analitik observational dengan rancangan cross sectional. Sampel adalah pasien diabetes melitus tipe 2 di Poliklinik Penyakit Dalam dan Instalasi Rawat Inap di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang bulan November-Desember 2018. Sampel penelitian ini berjumlah 50 kasus. Hasil penelitian ini akan disajikan dalam bentuk tabel dan narasi.Dari 50 kasus pasien DM tipe 2 didapatkan penderita laki-laki berjumlah 27 orang (54%) dan perempuan 23 orang (46%), kelompok usia di bawah 40 tahun sebanyak 3 orang (6%), kelompok usia 40-50 tahun sebanyak 12 (24%), kelompok usia 50-60 tahun sebanyak 13 orang (26%)kelompok usia diatas 60 tahun sebanyak 22 orang (44%). Hasil uji Chi-square terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat kemandirian dengan kualitas hidup pasien diabetes melitus tipe 2 yang dinyatakan dalam p value=0.011. Hasil odd ratio pada pasien diabetes melitus tipe 2 menyatakan bahwa kemungkinan terjadi peningkatan kualitas hidup 5,271 kali lebih besar pada pasien yang bertingkat kemandirian baik. Tingkat kemandirian juga merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas hidup (CI 95% = 1,380-20,138).Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kemandirian dengan kualitas hidup pasien diabetes melitus tipe 2.