Articles

Found 2 Documents
Search

PENGOLAHAN AIR LIMBAH LABORATORIUM MENGGUNAKAN METODE AOPs (ADVANCED OXIDATION PROCESSES) DENGAN PEREAKSI FENTON (H2O2 dan FeSO4) PADA SKALA BATCH cahyana, gede
ENVIROSAN : Jurnal Teknik Lingkungan Vol 1, No 1 (2018): ENVIROSAN Juni 2018
Publisher : Universitas Kebangsaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/ejtl.v1i1.72

Abstract

ABSTRAKAir limbah laboratorium berasal dari aktivitas uji di laboratorium dan bersifat limbah berbahaya dan beracun. Air limbah ini berbeda dengan air limbah berbahaya dan beracun dari industri karena terdiri atas banyak ragam polutan. Komposisinya yang variatif dan berbahaya ini menyebabkan sulit diolah dengan pengolahan biologi. Oleh sebab itu, dicoba pengolahan kimia, yaitu Advanced Oxidation Processes (AOPs) atau Proses Oksidasi Lanjut. Penelitian ini bertujuan mendapatkan dosis optimum pereaksi Fenton (H2O2 dan FeSO4) dalam menurunkan Chemical Oxygen Demand (COD). Diterapkan tiga variasi konsentrasi COD: 10.090,09 mg/L, 5.009,01 mg/L dan 511,71 mg/L dengan variasi rasio pereaksi. Diperoleh dosis optimum pereaksi Fenton 1 : 300 dengan efisiensi penurunan COD sebagai berikut: konsentrasi COD 10.090,09 mg/L = 21,43%, konsentrasi COD 5.009,01 mg/L = 46,76% dan konsentrasi COD 511,71 mg/L = 83,10%. Hasil ini menyatakanbahwa Fenton mampu menurunkan COD limbah cair laboratorium hingga 80% pada konsentrasi yang relatif rendah.Kata Kunci : air limbah laboratorium, Fenton, CODABSTRACTLaboratory wastewater was derived from analytical activities in the laboratory and grouped to hazardous waste. It was different from hazardous industrial wastewater because of many different pollutants. The composition of its dangerous substances was not easy to be processed by biological process. Therefore, chemical method was tried, namely Advanced Oxidation Processes (AOPs). The optimum dose of Fenton (H2O2 and FeSO4) reagent was the purpose to reduce the concentration of Chemical Oxygen Demand (COD). Variations applied were COD concentrations, which were 10,090,09 mg / L, 5.009,01 mg / L and 511,71 mg / L with varied reagen. The optimum dose of Fenton reagent was obtained 1: 300 with COD reduction efficiency as follows: COD concentration 10,090,09 mg / L = 21,43%, COD concentration 5.009,01 mg / L = 46,76% and concentration of COD 511,71 mg / L = 83,10%. The results suggested that Fenton could to reduce COD concentration up to 80% in relatively low concentrations.Keywords: laboratory wastewater, Fenton, COD, batch
PERBANDINGAN PENGOLAHAN AIR SUNGAI CITARUM, AIR SUPERNATAN PRASEDIMENTASI, AIR EFLUEN GUTERTAP (GUGUS FILTER MULTITAHAP) MENGGUNAKAN KOAGULAN ALUMINUM SULFAT DAN SERBUK BIJI KELOR (MORINGA OLEIFERA) Cahyana, Gede; Heryana, Heri; Mulyani, Tri
ENVIROSAN : Jurnal Teknik Lingkungan Vol 1, No 2 (2018): ENVIROSAN Desember 2018
Publisher : Universitas Kebangsaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/ejtl.v1i2.64

Abstract

ABSTRAKSudah dilaksanakan penelitian pengolahan air Sungai Citarum menggunakan koagulan aluminum sulfat dan serbuk biji kelor (Moringa oleifera) dengan Jar Test. Ada tiga tingkat kekeruhan yang diteliti, yaitu air Citarum berkekeruhan 214 NTU, air Citarum yang diendapkan dua jam berkekeruhan 48,4 NTU, dan air Citarum yang diolah terlebih dahulu dengan Gutertap (Gugus Filter atau Filtrasi Multitahap), kekeruhan efluennya 14,7 NTU. Dosis optimum yang diperoleh bervariasi untuk tiga kekeruhan air dan tiga koagulan. Aluminum sulfat dan serbuk biji kelor tanpa lemak mampu menurunkan kekeruhan dengan efisiensi lebih dari 95%. Serbuk biji kelor berlemak perlu dosis yang lebih besar untuk menurunkan kekeruhan dengan efisiensi lebih dari 95%. Tetapi pada air efluen Gutertap yang rendah kekeruhannya, efisiensi ketiga koagulan tidak lebih dari 45%. Diperoleh bahwa makin keruh air, makin besar efisiensi penurunan kekeruhannya, baik dengan koagulan alum sulfat maupun biji kelor berlemak dan tanpa lemak. Serbuk biji kelor mampu memberikan muatan listrik positif (kation) yang menetralkan muatan negatif koloid. Selama pertumbuhan flok, koloid dan suspended solid ikut terperangkap di dalam flok sehingga air menjadi lebih jernih.  Kata kunci : Citarum, kekeruhan, aluminum sulfat, biji kelorABSTRACTWater treatment research for Citarum River has been done using coagulants aluminum sulphate and Moringa oleifera seeds powder with Jar Test. Three different turbidities have been tested, e.g. Citarum water with turbidity 214 NTU, supernatant water 48,4 NTU, and effluent of Multistage Filtration (Gutertap) 14,7 NTU. Dose of coagulants are varied for three turbidities and three kind of coagulants. Aluminum sulphate and nonfatty Moringa powder could reduce turbidity more than 95%. Fatty Moringa powder needs more dose to reduce turbidity for 95%. But in case of low turbidity of Gutertap effluent, efficiency of the three coagulants were less than 45%. Concluded that more turbid the water, the reduction of turbidity will be higher both for aluminum sulphate and Moringa powder with and without fat. This happened because of the electrical charge of Moringa powder. In the process of flocc growth, colloidal and suspended solid are trapped in floccs so that the water become clearer.Keywords: Citarum, turbidity, aluminum sulphate, Moringa seed