Huraini, Emil
Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

Hubungan Mekanisme Koping dengan Tingkat Stres Pada Pasien Fraktur Huraini, Emil; Surmasih, Gusti
Ners Jurnal Keperawatan Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.576 KB) | DOI: 10.25077/njk.10.2.%p.2014

Abstract

Fraktur dapat mengakibatkan kehilangan fungsi fisik sehingga dapat mengakibatkan terjadinya stres. Pasien yang mengalami stres tampak gelisah, kurang nafsu makan, cemas dan mereka berupaya menarik diri dengan diam dan melamun. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan mekanisme koping  dengan tingkat stres pada  pasien fraktur di Ruang Trauma Centre RSUP. Dr. M. Djamil Padang Tahun 2013. Jenis penelitian adalah korelasional dengan pendekatan cross sectional study. Jumlah sampel 60 orang, diambil secara Purposive Sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner tingkat stres dan kuesioner COPE. Analisa data univariat yang digunakan yaitu distribusi frekuensi dan analisa bivariat menggunakan uji Lambda. Hasil analisa univariat didapatkan 50% mengalami stres ringan, 68,3% menggunakan mekanisme koping adaptif   didapatkan hubungan bermakna antara mekanisme koping dengan tingkat stres dengan kekuatan lemah dan arah positif, dimana (p=0,004) dan (r=0,300). Disarankan kepada perawat untuk dapat memperhatikan manifestasi klinis stres dan pasien fraktur yang menggunakan mekanisme koping maladaptif, untuk dapat mengatasi stres dengan cara bertanya pada orang terdekat, penilaian secara positif dan menganjurkan menggunakan koping adaptif.  
Studi Fenomenologi : Pengalaman Interaksi Sosial Lansia Dengan Sesama Lansia Dan Pengasuh Di Panti Sosial Tresna Werdha “ Sabai Nan Aluih” Sicincin Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2012 Huraini, Emil; Surmasih, Gusti
Ners Jurnal Keperawatan Vol 8, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.173 KB) | DOI: 10.25077/njk.8.1.98-106.2012

Abstract

: Penurunan derajat kesehatan dan kemampuan fisik yang terjadi pada lansia disertai dengan kondisi kesepian dan terisolasi karena berada di Panti Tresna Wedha mempengaruhi interaksi sosial lansia secara kuantitas maupun kualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman interaksi sosial sesama lansia dan dengan pengasuh di Panti Sosial Tresna Werdha Sabai Nan Aluih, Sicincin Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2012. Jenis penelitian adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Jumlah informan sebanyak 6 orang, pemilihan informan secara purposive sampling dengan kriteria spesifik yaitu dengan pengasuh yang tinggal 24 jam di panti. Teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam dan studi dokumentasi, dan observasi. Alat pengumpul data adalah pedoman wawancara dan alat perekam (recorder). Pengolahan data dilakukan dengan mencatat, membuat transkrip, intisari, dan analisis tematik dari 5 variabel penelitian yaitu kerjasama, komunikasi, konflik, pelayanan yang diberikan pengasuh, dan tindakan/cara kerja pengasuh baik itu yang menyenangkan maupun yang kurang menyenangkan. Hasil penelitian didapatkan 5 tema yakni : Kerjasama menjaga kebersihan wisma dan menolong teman yang sakit, Upaya lansia menjalin komunikasi dengan sesama teman, Konflik sesama lansia dan penyebabnya, Jenis Pelayanan yang diberikan pengasuh, Sikap dan perilaku pengasuh dalam interaksi. Disarankan agar pengasuh lebih intensif dan proaktif memberikan bimbingan sosial, lebih luwes, dan berpartisipasi aktif pada setiap kegiatan di panti. Pimpinan panti disarankan sebaiknya perlu dilakukan pelatihan tentang pekerja sosial lanjut usia, kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk meneliti interaksi sosial secara kuantitatif sesuai tema yang sudah terindentifikasi
Gambaran Pelaksanaan Mobilisasi dengan Pola Eliminasi Fekal Pasien Paska Laparatomi Merdawati, Leni; Huraini, Emil
Ners Jurnal Keperawatan Vol 9, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.074 KB) | DOI: 10.25077/njk.9.2.190-196.2013

Abstract

Pasien paska laparatomi hanya berbaring saja di tempat tidur dan takut untuk begerak karena merasa nyeri pada luka bekas operasi. Angka kejadian konstipasi meningkat sebesar 17-15% pada pasien yang mengalami penurunan fisik karena tirah baring yang lama akibat dari pembedahan. Dianjurkan 6-10 jam paska operasi pasien harus melakukan mobilisasi untuk mempercepat pemulihan organ-organ dalam pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh mobilisasi terhadap pola eliminasi fekal pada pasien paska laparatomi di Irna B (Bedah) RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penelitian menggunakan pre- exsperiment design dengan menggunakan post test only design dengan jumlah responden sebanyak 13 orang, diambil dengan cara quota sampling. Teknik pengumpulan data dengan observasi. Analisa yang dilakukan analisa univariat. Hasil menunjukkan terdapat 92 % responden mengalami pola eliminasi fekal normal. Diharapkan bagi profesi keperawatan, institusi RSUP Dr. M. Djamil padang disarankan bahwa mobilisasi penting dilakukan terhadap pasien paska laparatomi untuk meningkatkan pemenuhan kebutuhan eliminasi pasien serta merevisi SOP mobilisasi paska pembedahan dan mensosialisasikanya kepada pasien. 
PENENTUAN DURASI PEMBERIAN LOW-MOLECULAR-WEIGHT HEPARIN SECARA SUBKUTAN PADA PASIEN SINDROMA KORONER AKUT UNTUK MENGURANGI KEJADIAN DAN LUAS Huraini, Emil; Novrianda, Dwi
Ners Jurnal Keperawatan Vol 11, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/njk.11.1.14-21.2015

Abstract

: Penggunaan Low-Molecular-WeightHeparin(LMWH) secara subkutan telah direkomendasikan pada penatalaksanaan Sindroma Koroner Akut. Namun efek samping pemberian LMWH berupa memar terlihat pada 20,6 % sampai 88,9 % (de Campos, da Silva, Beck, Secoli & de Melo Lima, 2013). Perlu diketahui durasi terbaik penyuntikan LMWH secara subkutan yang dapat diaplikasikan dengan kejadian dan luas memar yang rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perbedaan kejadian dan luas memar setelah 48 jam pada lokasi penyuntikan LMWHsecara subkutan pada pemberian dengan durasi 10 detik dengan durasi 20 detik. Penelitian quasi eksperimental dengan pendekatan posttest only Equivalen control group design ini dilakukan di Pusat Jantung Regional RS Dr M Djamil Padang. Sampel adalah 35 orang penderita Sindroma Koroner Akut yang mendapat terapi LMWH. Variabel independen adalah penyuntikan LMWH secara subkutan dengan durasi 10 detik dan dengan durasi 20 detik sedangkan variabel dependen adalah kejadian dan luas memar pada area penyuntikan LMWH secara subkutan setelah 48 jam. Analisa data dilakukan secara deskriptif dan dengan menggunakan uji Mann-Whithney. Derajat kemaknaan secara statistic ditetapkan pada nilai p=0,05.Hasil penelitian menunjukkan 54,29% responden dengan durasi penyuntikan 10 detik mengalami memar (2,86% mengalami memar besar) dibandingkan dengan 28,57% responden dengan penyuntikan 20 detik mengalami memar (2,86% mengalami memar besar). Terdapat perbedaan bermakna kejadian dan luas memar pada kedua kelompok (p=0,013). Durasi injeksi 20 detik dapat mengurangi kejadian dan luas memar pada penyuntikan LMWH secara subkutan
Pengaruh Mobilisasi Dan Fisioterapi Dada Terhadap Kejadian Ventilator Associated Pneumonia Di Unit Perawatan Intensif -, Hendra; Huraini, Emil
Ners Jurnal Keperawatan Vol 7, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.308 KB) | DOI: 10.25077/njk.7.2.121-129.2011

Abstract

Kejadian Ventilator Associated Pneumonia (VAP) pada pasien yang terpasang ventilasi mekanik di Ruang Perawatan Intensif RS. Dr. M. Djamil terjadi peningkatan, padahal untuk tindakan mobilisasi (ambulasi) dan fisioterapi dada telah disusun standar operasional prosedur (SOP). Diduga hal ini disebabkan oleh pelaksanaan SOP yang tidak sepenuhnya. Tujuan penelitian ini untuk melihat pengaruh mobilisasi (ambulasi) dan fisioterapi dada terhadap kejadian VAP pada pasien yang terpasang Ventilator di ruang perawatan intensif RS. Dr. M. Djamil Padang. Penelitian Kuasi-eksperimen ini menggunakan rancangan perbandingan kelompok statis, dengan jumlah responden sebanyak 20 orang. Analisa yang dilakukan menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukan penurunan kejadian VAP pada kelompok eksperimen, namun tidak ada perbedaan yang bermakna antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan nilai p=0.189. Perlu peningkatan pelaksanaan mobilisasi (ambulasi) dan fisioterapi dada terhadap pasien yang terpasang ventilator untuk mencegah terjadinya Ventilator Associated Pneumonia (VAP). 
HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN DERAJAT HIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSIDI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ANDALAS PADANG TAHUN 2014 -, Basnelly; Huraini, Emil
Ners Jurnal Keperawatan Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.763 KB) | DOI: 10.25077/njk.10.2.166-175.2014

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu faktor penyebab kematian yang terbesar di Sumatera Barat yang jumlahnya terus meningkat, penyakit hipertensi penyebab kematian kedua setelah penyakit jantung, dimana salah satu faktor risikonya adalah stress. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara tingkat stress dengan derajat hipertensi pada pasien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Andalas Padang tahun 2014. Rancangan penelitian korelasi dengan desaincross sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 64 orang pasien hipertensi  diambil dengan metode accidental sampling. Waktu penelitian dari tanggal 18 Januari sampai 11 Juli 2014.Pengambilan data dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Andalas Padang dengan menggunakan Depression Anxiety and Stres Scale (DASS). Data dianalisa univariat dengan distribusi nilai rata-rata tingkat stress 20,69, nilai minimum 15 dan nilai maksimum 32. Distribusi frekuensi derajat hipertensi 1 (65,6%) dan derajat hipertensi 2 (34,4%). Analisa bivariat dengan uji spearman.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stress dengan derajat hipertensi pada pasien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Andalas Padang Tahun 2014. Hasil uji korelasi didapatkan nilai korelasi (r) tingkat stres dengan derajat hipertensi 0,486 dengan kekuatan sedang, nilai signifikansi 0,000 (p<0,05) dan arah positif artinya semakin tinggi tingkat stress maka akan semakin tinggi derajat hipertensi. Berdasarkan hal tersebut disarankan kepada responden untuk dapat mengontrol stress dengan teknik relaksasi dan manajemen stress. kepada perawat disarankan agar dapat memberikan intervensi mengenai teknik-teknik yang dapat mengurangi stress pasien hipertensi.