Setiadi, Rizky
Humanistic Network for Science and Technology (HNST)

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

Determinants of Resilience Adolescent for Not Doing Premarital Sexual Intercourse (Data Analysis of Integrated Biologic and Behavior Survey, 2013) Setiadi, Rizky; Yuniar, Popy; Besral, Besral; Kalsum, Umi
Health Notions Vol 2, No 8 (2018): August
Publisher : Humanistic Network for Science and Technology (HNST)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The adolescent is a transition period from childhood to adulthood, signed by rapid development in physical, mental, emotional and social. Earlier sexual initiation by the adolescent, increasing the risk to get sexually transmitted diseases, unmeet need, teen's pregnancies, and unsafe abortion. The younger adolescent sexual intercourse, the greater the risk of transmission of infectious diseases through sexual transmission. In Indonesia, the age of adolescent who had premarital sexual intercourse was 9-24 years old. Prevalence of unmarried boys who had to have sex is 8.3% and girls are 1%. This study aims to know the determinants of resilience adolescent for not doing premarital sexual intercourse. The results show that adolescent's survival cumulative proportion is about 92.6% and age mean of sexual debut is 15.8 years old. Factors associated with adolescent's survival not to have premarital sexual intercourse are sexual arousal behavior (AHR: 7.7; 95% CI: 5.2-11.3), drunk with alcohol (AHR: 1.5; 95% CI: 1.1-2) and kissing. The association between kissing and adolescent's survival rate is different in each time unit (year). Need enforcement to give earlier education about adolescent's health reproduction, not just as formal education in high school, but also in the family and adolescent's community to prevent premarital sexual intercourse among adolescents. Keywords: Premarital sexual intercourse, Adolescent’s survival
Strengthening Patients Safety Culture through the Implementation of SBAR Communication Method Hilda, Hilda; Setiadi, Rizky; Wahyuni, Emmy Putri; Supriadi, Supriadi; Loriana, Rina; Rasmun, Rasmun; Nurachmah, Evy
Health Notions Vol 2, No 8 (2018): August
Publisher : Humanistic Network for Science and Technology (HNST)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The communication method of Situation, Background, Assessment, and Recommendation (SBAR) are effective communication techniques that aim to improve patient safety. This study aims to analyze the application of SBAR communication to nurses to improve the safety culture of patients who are part of the service at A.W. Sjahranie Hospital, Samarinda, Indonesia. This study used a cross-sectional design with a population of 452 people spread over 14 service units. The sample size was 77 people. Variables in this study were SBAR communication methods and patient safety culture. The instrument used to assess the application was the SBAR communication method in the form of an observation sheet for the procedure for reporting patients' conditions during handover while collecting data on variable patient safety culture used a questionnaire from the agency for Healthcare Research Quality (AHRQ). Data of SBAR communication technique variables were collected using the observation method, while the patient safety culture variable was collected by distributing patient safety culture questionnaires. Data were analyzed using a Chi-Square test. The results of this study showed that nurses who used the SBAR communication method had a better patient safety culture (p = 0.000). The conclusion is the SBAR communication method to nurses can use to improve patient safety culture in the hospital. Keywords: SBAR communication method, Patient safety culture
Pelatihan Dengan Metode Role Play Efektif Terhadap Kader PMO-TB Tentang Penemuan Kasus Baru TB Paru Badar, Badar; Amiruddin, Amiruddin; Setiadi, Rizky; Rahman, Gajali
Husada Mahakam Vol 4 No 7 (2018): November 2018
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.516 KB)

Abstract

Latar belakang : Kasus TB Indonesia diperkirakan ada  1.020.000,  namun dilaporkan Kemenkes (2017) hanya 420.000 . Data Case Detection Rate (CDR) Dinas Kesehatan Kota Samarinda (2018), per triwulan yang masih mengalami fluktuasi yang dapat terlihat hingga triwulan ketiga. Estimasi penemuan TB di Samarinda, (Bachtiar, R, 2018) tahun 2018, yaitu,  3957 orang, ( 39 % ) Target minimal harus dicapai adalah 1575 orang. Data bagian surveilen Puskesmas Lempake Samarinda Utara per Juli 2018 ditemukan kasus TB hanya 30 kasus dari 720 suspek. Tujuan : Tujuan penelitian ini menganalisis perbedaan perilaku kader PMO-TB sebelum dan setelah pelatihan penemuan kasus baru TB Paru dengan metode role play di wilayah kerja Puskesmas  Lempake Samarinda Utara Tahun 2018. Metode Penelitian ini menggunakan kuasi eksperimen, dengan rancangan one group pretest-posttest.  tanpa kelompok control,dan telah melewati uji etik sebelum dilakukan eksperimen . Populasi seluruh kader PMO TB di wilayah kerja Puskesmas Lempake sebanyak 30 orang. Instrumen menggunakan kuesioner dengan variabel pengetahuan, sikap dan tindakan PMO-TB dalam menemukan kasus baru TB Paru. Hasil : Pengetahuan PMO-TB sesudah diberikan pelatihan metode role play, menjadi baik sebanyak 22 orang (73,3%), Sikap PMO-TB sesudah diberikan pelatihan  metode role play, menjadi positif sebanyak 16 orang (53,3%), Tindakan PMO-TB sesudah diberikan pelatihan  metode role play,  menjadi baik sebanyak 18 orang (60%). Simpulan : Ada peningkatan perbaikan signifikan pengetahuan, dan sikap, namun tidak signifikan pada tindakan PMO-TB  setelah pelatihan metode role play di wilayah kerja Puskesmas Lempake Samarinda Utara 2018. Saran : Diharapkan Puskesmas Lempake  khususnya pemegang program TB Paru meningkatkan pengetahuan, sikap dan tindakan kader PMO-TB paru dalam menemukan kasus baru TB paru, menggunakan metode role play.  
Hubungan Perilaku Berciuman Dan Penyalahgunaan Napza Dengan Seksual Pranikah Remaja Di Kota Samarinda (Analisis Lanjut Data Survey Terpadu Biologis Dan Perilaku) Setiadi, Rizky; Rahman, Gajali
Husada Mahakam Vol 1 No I (2017): Proceeding Book "Mensinergikan GERMAS dengan Penatalaksanaan PENYAKIT TIDAK MENU
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.56 KB)

Abstract

Masa remaja merupakan suatu fase perkembangan yang dinamis dalam kehidupan seorang individu. Masa inimerupakan masa transisi dimana individu mengalami peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa yangditandai dengan percepatan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial yang berlangsung pada dekadekedua masa kehidupannya. Perubahan yang sangat cepat cenderung dapat menyebabkan masalah-masalahterkait kepribadian, seksual dan sosial remaja yang dapat berdampak pada kesehatan. Masalah kesehatan utamapada remaja dewasa ini antara lain terkait dengan penyalahgunaan napza dan peningkatan perilaku seksualberesiko. Penelitian ini ingin mengetahui hubungan antara perilaku berciuman dan penyalahgunaan NAPZAdengan hubungan seksual pranikah. Metode penelitian adalah analisis observasional dengan pendekatan potonglintang. Data yang digunakan merupakan data Survei Terpadu Biologis dan Perilaku tahun 2013 dengan jumlahresponden sebanyak 569 remaja di kota Samarinda. Secara statistik terdapat hubungan antara perilakuberciuman (p: 0,0001, OR: 39,24) dan penyalahgunaan NAPZA (p: 0,059; OR: 8,6). Diharapkan upaya darisemua pihak yang terkait untuk mengatasi perilaku hubungan seksual pranikah di kalangan remaja.
Hubungan Perawatan Diri Dengan Resiko Kaki Diabetik Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Tini, Tini; Noorma, Nilam; Setiadi, Rizky
Husada Mahakam Vol 1 No I (2017): Proceeding Book "Mensinergikan GERMAS dengan Penatalaksanaan PENYAKIT TIDAK MENU
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.56 KB)

Abstract

Adanya perilaku kepatidakpatuhan pasien diabetes melitus dalam melakukan perawatan diri dapat memperburukstatus kesehatannya dan memicu terjadinya komplikasi, salah satunya kaki diabetik. Pasien DM tipe 2 memilikiresiko 15% terjadinya ulkus kaki diabetik pada masa hidupnya dan 70% beresiko mengalami kekambuhankembali dalam 5 tahun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara perawatan diri denganresiko kaki diabetik pada pasien diabetes melitus tipe 2.Jenis penelitian analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Responden berjumlah 68 orang yangdiambil secara purposive sampling. Perawatan diri diukur dengan mengguakan kuesioner Summary of DiabetesMelitus Self Care Activies (SDSCA) sedangkan resiko kaki diabetik diambil melalui pemeriksaan skriningresiko kaki diabetik dengan Screening Tools Inlow’s 60 second diabetic foot dari Canadian Association ofWound Care.Hasil analisis dengan pearson menunjukkan ada hubungan antara perawatan diri dengan resiko kaki diabetik (pvalue 0,032) dengan nilai korelasi -0,26. Oleh karena itu diharapkan perawat sebagai edukator dan motivatordapat meningkatkan dan memberdayakan pasien dan keluarga dalam meningkatkan kegiatan perawatan diriguna mencegah terjadinya resiko kaki diabetik.
Hubungan Komunikasi Keluarga dengan Angka Kekambuhan pada Remaja Pengguna Napza di Rumah Sakit Jiwa Daerah Atma Husada Mahakam Samarinda Rahman, Gajali; Amiruddin, Amiruddin; Setiadi, Rizky
Husada Mahakam Vol 4 No 8 (2019)
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.243 KB)

Abstract

Abstrak
THE RISK OF SMARTPHONE ADDICTION TO EMOTIONAL MENTAL DISORDERS AMONG JUNIOR HIGH SCHOOL STUDENTS Setiadi, Rizky; Tini, Tini; Sukamto, Edi; Kalsum, Umi
Belitung Nursing Journal Early View
Publisher : Belitung Nursing Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (19.572 KB) | DOI: 10.33546/bnj.841

Abstract

Background: The use of smartphones increases in Indonesia, its users are no longer among adults but have also spread to teenagers and children. Smartphone addiction causes a variety of problems, both physical, social, behavioral, and psychological problems of adolescents.Objective: The objective of this study is to identify the association between the tendency of smartphone addiction and the occurrence of emotional mental disorders in adolescents of junior high school students in Samarinda.Methods: This study used a descriptive analytic design through cross-sectional approach conducted in junior high schools in Samarinda. Sample of this study were 127 students. The 20 self-questionnaire adopted from the 2013 Basic Health Research questionnaire was used to measure emotional mental disorders, and the Smartphone Addiction Scale - Short Version (SAS-SV) questionnaire was used to measure smartphone addiction. Data were analyzed with multiple logistic regressions.Results: Results showed that there was an association between smartphone addiction and emotional mental disorders among junior high school students in Samarinda (p < .05). Adjusted Odds Ratio (AOR) was obtained at 2.418 (95% CI was 1.033 – 5.660).Conclusions: Smartphone addiction may lead emotional mental disorder among Junior High School students. The decisive rules are needed in the use of smartphones, both at school and at home to prevent the occurrence of smartphone addiction.