p-Index From 2015 - 2020
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Diskursus Islam
Aliah, Abd. Rauf
Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

SIMBOL MITOLOGI DALAM KARYA SASTRA TEKS AL-BARZANJI (ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES PADA PASAL 4) Mirnawati, Mirnawati; Kasim, Amrah; Aliah, Abd. Rauf
Jurnal Diskursus Islam Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas tentang pendekatan semiotika Roland Barthes terhadap karya sastra al-barzanji. Jenis penelitian ini adalah penelitian library research dengan pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan linguistik dan semiotika. Adapun sumber data penelitian diperoleh langsung dari teks al-barzanji serta penelusuran berbagai literatur atau referensi. Data dikumpulan dengan memilih dari beberapa pasal dalam barzanji kemudian memilah dan menganalisis leksia per leksia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada 5 pasal tersebut, setiap pasalnya dimulai dengan kata وَلَمَّا yang penulis bedah menjadi 87 leksia. Selanjutnya penulis analisis teks tersebut dan mengkategorikan 16 leksia mengandung kode hermeneutika, 13 leksia tergolong kedalam kode gnomik/budaya, 33 leksia yang termasuk kode prioretik/aksi, 11 leksia terkandung kode semik/konotatif dan terakhir kode simbolik terdapat dalam 14 leksia yang ada pada teks tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui pendekatan pembacaan semiotik Roland Barthes, bisa katakan bahwa Abu Ja’far Al-Barzanji menulis karya sastra ini tidak sekedar mengungkapkan kekagumannya terhadap Rasulullah saja saw., tapi juga mengisahkan secara tersirat budaya-budaya bangsa Arab khususnya di wilayah Makkah dan Negeri Syam. Simbol mitologi pada 5 pasal yang dikaji masih mengalami eksistensi hingga saat ini, meliputi: hakikat status yatim, Bani Najjar, juru kunci Ka’bah atau Bani Syaibah, usia Rasulullah saw. menginjak 4 tahun, Umur saat pernikahan Rasulullah saw., Umur ketika Nabi saw. diangkat menjadi Rasul Allah, simbol mitologi mimpi, serta Mahallul Qiyam disetiap pembacaan al-barzanji khusunya pada pasal 4, hingga saat ini masih tetap berlaku. Dan juga kata Atthir di setiap awal pasalnya, pada dasarnya kata ini termasuk kinayah yang bisa bermakna asli dan bisa juga tidak, namun jika dijabarkan bahwa keharuman bau harum yang disandarkan kepada Nabi saw. dalam bentuk rahmat. Implikasi dari penelitian ini adalah 1) Al-Barzanji adalah sebuah karya sastra yang paling akrab ditelinga bisa dikaji melalui berbagai pisau pendekatan, baik dari balaghah, Ilmu Arudh, Semantik, Sintaksis, dan berbagai cabang disiplin ilmu kebahasaan dan kesusastraan yang lainnya. Hal tersebut bisa menjadi salah satu sudut pandang bagi kaum intelektual muda di tengah maraknya isu bid’ah dan haram terkait barzanji. 2) Isi teks dari barzanji bukan hanya tentang syair namun juga sirah Rasulullah serta gambaran kondisi budaya Arab saat itu, tentu hal ini bisa juga menjadi bahan perbandingan bagi penggelut sejarah keislaman maupun sirah Nabawiyah. 3) Dengan adanya penelitian ini kedepannya bisa memberi sumbangsih terhadap penelitian selanjutnya, khususnya penelitian dibidang semiotika, bahasa dan sastra. Peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih membutuhkan pengkajian yang lebih dalam maka dibutuhkan saran dan masukan yang membangun demi kebaikan penulisan ke depannya.
WUJUD KONFLIK BATIN TOKOH UTAMA QAYS DALAM ROMAN “LAYLA MAJNUN” KARYA SYAIKH NIZAMI DAN DATU MUSENG DALAM ROMAN “DATU MUSENG DAN MAIPA DEAPATI” KARYA VERDY R. BASO Zainuddin, Hardiyanti; Safa, Najmuddin H. Abd.; Aliah, Abd. Rauf
Jurnal Diskursus Islam Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas tentang wujud konflik batin tokoh utama yang terdapat dalam dua roman, yaitu Qays dalam roman “Layla Majnun” Karya Syaikh Nizami dan Datu Museng dalam roman “Datu Museng dan Maipa Deapati” Karya Verdy R. Baso. Penelitian ini menggunakan paradigma kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan. Data yang telah diteliti menggunakan pendekatan psikologi sastra yaitu psikoanalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertentangan antara pilihan tidak sesuai dengan keinginan. Kedua tokoh utama tersebut memiliki keinginan untuk memiliki sang wanita, yaitu Layla untuk Qays dan Maipa Deapati untuk Datu Museng. Namun, terdapat kendala di antara keduanya. Qays yang dengan keadaannya (gila) sehingga orang tua Layla enggan untuk menerima dan merestui hubungan mereka. Selain itu, orang tua Layla juga tersinggung atas mahar yang dibawa oleh orang tua Qays yang menganggap bahwa dengan harta ia dapat dengan mudah mengambil Layla. Begitupula dengan Datu Museng yang ingin memiliki Maipa Deapati. Strata sosiallah yang menjadi penghalang ia untuk dapat menikahi dan memiliki Maipa Deapati. Keterpurukan dalam menghadapi permasalahan. Konflik batin Qays cukup kompleks dengan berbagai permasalahan yang dihadapinya. Sedangkan konflik batin pada diri Datu Museng terletak pada kerinduannya terhadap Maipa Deapati yang mengakibatkan ia tidak fokus dalam mengerjakan pekerjaannya. Harapan tidak sesuai kenyataan. Qays dengan harapan lamarannya diterima oleh ayah Layla melalui bantuan Naufal, ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Berbeda dengan Datu Museng yang menginginkan kehidupan yang bahagia setelah berhasil mendapatkan restu dari orang tua Maipa lalu menikah. Harapan untuk hidup bahagia tersebut harus pupus sebab ia kalah dalam perang menghadapi Tomalompoa. yakni harapan untuk melamar kembali Layla dapat diterima oleh ayahnya tidak sesuai dengan kenyataan.