M. Ilham, M. Ilham
P3M STAIN Parepare

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

HERMENEUTIKA AL-QUR’AN M. Ilham, M. Ilham
Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol 10 No 2 (2017): Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan
Publisher : P3M STAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (792.685 KB)

Abstract

Secara normatif, al-Qur’an sebagai kitab suci Islam diyakini memiliki kebenaran mutlak, namun pembacaan al-Qur’an sebagai proses penafsiran mengandung kebenaran relatif dan tentatif. Proses penafsiran merupakan respon penafsir ketika memahami sebuah teks, situasi, dan problem sosial yang dihadapi. Karena itu, terdapat jarak antara al-Qur’an dan penafsir. Bagaimana jarak tersebut dapat didekatkan? Artikel ini mencoba untuk menguraikan dengan metode analisis hermeneutik yang dikembangkan oleh Muhammad Shahrour. Berdasarkan analisis tersebut ditemukan bahwa dialektika antara wahyu (teks al-Qur’an), interpreter, dan realitas konteks harus senantiasa difungsikan secara berimbang, mengingat al-Qur’an bukanlah teks “mati”. Kesadaran akan kenyataan bahwa problem manusia terus berkembang dan konteks senantiasa berubah, semantara ayat-ayat al-Qur’an bersifat statis dan jumlahnya pun  terbatas, mestinya mampu menggerakkan manusia untuk senantiasa menjadikan al-Qur’an sebagai mitra dialog dalam memnjawab problem sosial keagamaan yang muncul dewasa ini.
HERMENEUTIKA ALQURAN M. Ilham, M. Ilham
KURIOSITAS: Media Komunikasi Sosial Keagamaan Vol 10 No 2 (2017): Pemikiran Islam dan Hubungannya dengan Budaya Nusantara
Publisher : LPPM IAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (792.685 KB) | DOI: 10.35905/kur.v10i2.595

Abstract

Normatively, al-Qur’an as Islamic Holy book is trusted to have the absolute truth, but the reading of al-Qur’an as the process of interpretation contains the relative and tentative truth. The process is a response of the interpreter when understanding a text, situation, and social problem. Consequently, there is a gap between al-Qur’an and the interpreter. How could both be close? This article attempts to reveal it through hermeneutic analysis that is developed by Muhammad Shahrour. Based on the analysis, it found that dialectic between revelation (al-Qur’an text), interpreter, and the reality context should be equally functioned. It remembers that al-Qur’an is not a “dead text”. The consciousness about the reality that human problem is ongoing and the context is fluctuatif, but the verses of al-Qur’an is static and its quantity is finite. Hence, it is able to encourage people to make al-Qur’an be a dialogue partner to answer the social problem regarding religion in the present day.