cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Pro Food
Published by Universitas Mataram
ISSN : 24431095     EISSN : 24433446     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Pro Food adalah jurnal yang mempublikasikan hasil-hasil penelitian ilmiah di bidang ilmu dan teknologi pangan serta aplikasinya dalam industri pangan. Jurnal Pro Food terbit dua kali dalam setahun, yaitu bulan Mei dan November. The aims of this journal is to provide a venue for academicians, researchers and practitioners for publishing the original research articles.
Arjuna Subject : -
Articles 70 Documents
NILAI ZAT GIZI MAKRO DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN TEMPE KEDELAI (GLYCINE MAX L.) KOMBINASI BIJI KECIPIR (PSOPHOCARPUS TETRAGONOLOBUS L.) Banobe, Christin Octavia; Kusumawati, I Gusti Ayu Wita; Wiradnyani, Ni Ketut
Pro Food Vol 5 No 2 (2019): Pro Food (Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan)
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/profood.v5i2.111

Abstract

ABSTRAK              Dangerous diseases, such as cancer, cardiovascular disease and degenerative diseases including diabetes are the roles of oxidative stress caused by free radicals. Antioxidants are needed by the body to overcome and prevent oxidative stress. Soybean (Glycine max L.) has been studied in recent years as an antioxidant. In addition to soybeans, winged bean is also a plant that has the same activity as soybeans.The purpose of this study was to determine the value of macro nutrients and antioxidant activity of soybean tempeh products with a combination of winged beans. The soybean with a combination of winged beans is made with several combinations, namely soybean (100%: 0%), D1: C1 (80%: 20%), D2: C2 (70%: 30%), D3: C3 (50%: 50%), D4: C4 (30 %: 70%) and D5: C5 (20%: 80%). This research is an experimental research conducted at the Gajah Mada University laboratory (UGM), which contains an analysis of water content using an oven, analysis of gold content using the dry fogging method, analysis of protein content using the kjeldahl method, analysis of fat content using the soxhlet method, analysis using different methods, analysis of antioxidant activity and total flavonoids using Uv-Vis spectrophotometer. The results obtained are soybean formulation (100%: 0%) has the highest protein and fat content, respectively 27.42% and 15.94%, while the formulation D5: C5 (20%: 80%) has the highest carbohydrate content, which is 60.19%. Tempe which contains the highest antioxidant is formulation D2: C2 (70%: 30%), equal to (78.34 ± 0,20)%. Tempe which has the highest flavonoid content is soybean formulation (100%: 0%), (0.33 ± 0.03) mg QE / ml.  Keywords: antioxidant, nutritional value, soybean, winged bean   ABSTRAK  Penyakit berbahaya, seperti, kanker, penyakit kardiovaskular serta penyakit degeneratif termasuk diabetes merupakan peran dari stress oksidatif yang disebabkan oleh radikal bebas. Tubuh memerlukan antioksidan untuk mengatasi dan mencegah stres oksidatif tersebut. Kedelai (Glycine max L.) telah diteliti beberapa tahun terakhir sebagai antioksidan. Selain kedelai, kecipir juga merupakan tanaman yang memiliki aktivitas yang sama dengan kedelai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kandungan nilai zat gizi makro dan aktivitas antioksidan produk tempe kedelai dengan kombinasi biji kecipir. Tempe kedelai dengan kombinasi biji kecipir dibuat dengan beberapa perlakuan, yaitu kedelai (100% : 0%), D1:C1 (80% : 20%), D2:C2 (70% : 30%), D3:C3 (50% : 50%), D4:C4 (30% : 70%) dan D5:C5 (20% : 80%). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan dilaboratorium Universitas Gajah Mada (UGM), yang meliputi analisis kandungan kadar air menggunakan oven, analisis kandungan kadar abu menggunakan metode pengabuan kering, analisis kandungan kadar protein menggunakan metode kjeldahl, analisis kandungan lemak menggunakan metode soxhlet, analisis kandungan karbohidrat menggunakan metode by different, analisis aktivitas antioksidan dan total flavonoid menggunakan spektrofotometer Uv-Vis. Hasil yang didapatkan yaitu formulasi kedelai (100% : 0%) memiliki kandungan protein dan lemak tertinggi yang masing-masing sebesar 27,42% dan 15,94%, sedangkan formulasi D5:C5 (20% : 80%) memiliki kandungan karbohidrat tertinggi, yaitu sebesar 60,1951%. Tempe yang mengandung antioksidan tertinggi yaitu formulasi D2:C2 (70% : 30%) sebesar (78.34 ± 0.20)%. Tempe yang memiliki kandungan flavonoid tertinggi yaitu formulasi kedelai (100% : 0%), sebesar (0.33 ± 0.03) mg QE/ml.   Kata kunci: antioksidan, kecipir, kedelai, nilai gizi
PENGARUH KONSENTRASI TEPUNG TEMPE TERHADAP NUTRISI DAN MUTU SENSORI OPAK SINGKONG DARI LOMBOK UTARA Pemilia, Arindra; Handito, Dody; Sulastri, Yeni
Pro Food Vol 5 No 2 (2019): Pro Food (Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan)
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/profood.v5i2.99

Abstract

ABSTRACT The objective of this research was to determine the right concentration of tempeh flour to enhance nutrition and sensory quality of cassava opak from North Lombok. The method used in this research was Randomized Complete Block Design (RCBD) with six treatments which adding 0% (P0), 5% (P1), 10% (P2), 15% (P3), 20% (P4), 25% (P5) tempeh flour from tapioca starch weight. The data obtained were analyzed by analysis of variance (ANOVA) at 5% level using SPSS software. If there was any difference, the data tested further by Orthogonal Polynomial Method (OPM) for the nutrient and by Honestly Significant Difference (HSD) for sensory evaluation at 5% level. The result showed that the tempeh flour concentration gave a significant difference on protein content, fat content, carbohydrate content, total calories, hedonic test (colour and taste) and scoring test ( colour, taste and  aroma). Based on the result of sensory evaluation, the additional of 15% of tempeh flour was slightly liked by the panelis and it had protein content 5.92%; moisture content 4.10%; ash content 2.60%; fat content 10.89%; carbohydrate content 76.6%; total calories 427.63 Cal/100 g; slightly yellow, slightly crunchy; slightly smells tempeh and slightly tastes tempeh.   Keywords: Cassava, opak, protein, tempeh flour   ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi tepung tempe yang tepat untuk meningkatkan nutrisi dan mutu sensori opak singkong dari Lombok Utara. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 6 taraf perlakuan konsentrasi tepung tempe 0% (P0), 5% (P1), 10% (P2), 15% (P3), 20% (P4), 25% (P5) dari berat tepung tapioka. Data hasil pengamatan diuji dengan analisis keragaman (ANOVA) pada taraf 5% menggunakan software SPSS, apabila terdapat perbedaan nyata diuji lanjut dengan menggunakan uji Polinomial Ortogonal untuk uji nutrisi dan Beda Nyata Jujur (BNJ) untuk uji sensoris pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung tempe memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kadar protein, kadar lemak, kadar karbohidrat dan total kalori serta uji sensoris hedonik (warna dan rasa) dan uji scoring untuk (warna, rasa dan aroma). Berdasarkan hasil uji sensoris penambahan tepung tempe sebanyak 15% adalah perlakuan yang cita rasanya agak disukai oleh panelis dengan kadar protein 5,92%; kadar air 4,10%; kadar abu 2,60%; kadar lemak 10,89%; kadar karbohidrat 76,46%; total kalori 427,63 Kal/100 g; berwarna putih kekuningan; bertekstur agak renyah; agak beraroma tempe dan agak berasa tempe.   Kata Kunci: Opak, protein, singkong, tepung tempe
PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI PENSTABIL PADA PEMBUATAN MINUMAN PROBIOTIK KACANG NAGARA (VIGNA UNGUICULATA SSP. CYLINDRICA) Sutrisno, Ova Deana; Agustina, Lya; Al Hakim, Hisyam Musthafa
Pro Food Vol 5 No 2 (2019): Pro Food (Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan)
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/profood.v5i2.113

Abstract

ABSTRACT             The beans used in this study were cowpea varieties with the Latin name (Vigna unguiculata ssp. Cylindrica) that are widely known as a protein source where 100 grams of nagara beans contains 22.9 grams of protein. This study aimed to determine the effect of the type and stabilizer concentrations on the quality of probiotic drinks of nagara beans. The types of stabilizers used in this study were Carboxy Methyl Celulose (CMC) and Xanthan gum. This research was carried out using Randomized Block Design (RBD), which consisted of two factors, namely factor I Stabilizing concentrations: 0.5%, 0.75% and 1% stabilizing factor II: CMC and xanthan gum with 3 replications , so that there were 18 times the experimental unit. Based on the SNI (2981: 2009), the best probotic  drink was obtained in 1% CMC treatment with physical quality including liquid-viscous appearance, normal/distinctive smell, sour/distinctive taste, homogeneous consistency and gray color. As well as protein content of 1.7%, ash 0.1%, total lactic acid 0.7%, acidity level (pH) is 3.6 and total LAB 2.3 x 1011 CFU/ml.  Keywords: Nagara beans, Carboxy methyl celulose, xanthan gum, probiotic drinks   ABSTRAK   Kacang yang digunakan pada penelitian ini merupakan kacang tunggak varietas nagara dengan nama latin (Vigna unguiculata ssp. Cylindrica). Kacang-kacangan banyak dikenal sebagai sumber protein dimana per 100 gram kacang nagara mengandung protein 22,9 gram. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi penstabil terhadap mutu minuman probiotik kacang nagara. Jenis penstabil yang digunakan pada penelitian ini yaitu Carboxy Methyl celulose (CMC) dan Xanthan gum. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), yang terdiri dari dua faktor, yaitu faktor I  Konsentrasi penstabil : 0,5%, 0,75% dan 1% dan faktor II jenis penstabil : CMC dan xanthan gum dengan 3 kali ulangan, sehingga didapat 18 kali satuan percobaan. Penelitian ini menghasilkan hasil terbaik yang mengacu pada SNI (2981:2009) tentang minuman probiotik yaitu pada perlakuan CMC 1% dengan mutu fisik meliputi penampakan cair-kental, bau Normal/khas, rasa asam/khas, konsistensi homogen dan warna abu-abu. Mutu kimia kadar protein 1,7%, kadar abu 0,1%, total asam laktat 0,7%, derajat keasaman (pH) 3,6 dan total BAL 2,3 x 1011 CFU/ml.   Kata Kunci: Kacang Nagara, carboxy methyl celulose, xanthan gum, minuman probiotik.
PENGARUH RASIO CAMPURAN BERAS KETAN DAN KACANG LEBUI TERHADAP KADAR ANTOSIANIN DAN SIFAT SENSORIS KERIPIK JAJE TUJAK, JAJANAN TRADISIONAL KHAS LOMBOK Widiyastuti, Widiyastuti; Nazaruddin, Nazaruddin; Handito, Dody
Pro Food Vol 5 No 2 (2019): Pro Food (Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan)
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/profood.v5i2.100

Abstract

ABSTRACT             Jaje tujak was a Lombok?s traditional snack food that has a short shelf life and lacks other nutrients besides carbohydrates. The aim of this research was determined the optimal ratio of sticky rice and pigeon pea on nutritional components and sensory of jaje tujak chips. This research used a Completely Randomized Design (CRD) with single factor was the proportion of sticky rice and pigeon pea with three replications. Data were analyzed by analysis of variance (ANOVA) at 5% level using software Co-Stat, if there was difference, then tested further with Orthogonal Polynomial Method (OPM). The result showed that the ratio of sticky rice and pigeon pea had significant on anthocyanin levels, antioxidant activity, moisture, ash and sensory properties including hedonic (texture, color and taste) and scoring properties (texture, color, taste and aroma) but non significant on aroma (hedonic method). The results showed that the highest anthocyanin levels was L5 were 47.67 ppm and 63% antioxidant activity with 1.77% moisture and 5.31% ash. The result showed that The best treatment showed by L3 (70%:30%) seen from the sensory texture, color, taste and aroma which was favored by the panelists and in scoring which had a assessment of texture was slightly crunchy, slightly white color, slightly pigeon pea?s taste and not slightly pigeon pea?s aroma; with 34.23 ppm anthocyanin levels, 50.33% antioxidant activity, 2.01% moisture and 3.57% ash.   Keywords: Chips, jaje tujak, pigeon pea. ABSTRAK             Jaje tujak merupakan jajanan tradisional khas Lombok yang mempunyai umur simpan pendek dan kurang zat gizi lain selain karbohidrat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan rasio campuran yang terbaik antara beras ketan dan kacang lebui terhadap komponen gizi dan sensoris keripik jaje tujak. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktor tunggal yaitu proporsi beras ketan dan kacang lebui dengan tiga kali ulangan. Data hasil pengamatan dianalisis dengan analisis keragaman pada taraf 5% menggunakan aplikasi Co-Stat, apabila terdapat perbedaan yang nyata, maka diuji lanjut dengan menggunakan Metode Ortogonal Polinomial (MOP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi beras ketan dan kacang lebui berpengaruh nyata terhadap kadar antosianin, aktivitas antiosidan, kadar air, kadar abu, hedonik (tekstur, warna, rasa) dan scoring (testur, warna, rasa dan aroma), namun tidak berpengaruh nyata terhadap aroma secara hedonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar antosianin tertinggi yaitu L5 sebesar 47,67 ppm dan aktivitas antioksidan 63% dengan kadar air 1,77% dan kadar abu 5,31%. Proporsi beras ketan dan kacang lebui pada L3 (70%:30%) merupakan hasil terbaik dilihat dari sensoris tekstur, warna, rasa dan aroma yang agak disukai oleh panelis dan secara scoring tekstur agak renyah, berwarna agak putih, agak berasa lebui dan agak tidak beraroma lebui; dengan total antosianin 34,23 ppm, aktivitas antioksidan 50,33%, kadar air 2,01% dan kadar abu 3,57%.   Kata kunci: Jaje tujak, lebui, keripik.
KARAKTERISTIK MUTU MIKROENKAPSULAT MINYAK BUAH MERAH (PANDANUS CONOIDEUS) DENGAN PERBANDINGAN KONSENTRAS Sarungallo, Zita Letviany; Santoso, Budi; Murtiningrum, Murtiningrum; K. Roreng, Mathelda; Murni, Venny
Pro Food Vol 5 No 2 (2019): Pro Food (Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan)
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/profood.v5i2.119

Abstract

ABSTRACT             Red fruit oil is very sensitive to oxygen. One effort that can be done to improve its stability is using microencapsulation technology. This study aims to produce a stable formula of red fruit oil microencapsulated with the best quality characteristics. Formulation of emulsion of red fruit oil to be encapsulated using 11% degumed red fruit oil, mixture of emulsifier and stabilizer (maltodextrin, gum arab, gelatin, tween 80 and Carboxymethyl Celluloce (CMC)) 22%, and water 67%. The emulsion materials are homogenized and dried using a spray dryer. The parameters observed include the color, viscosity and stability of the emulsion, as well as the physicochemical character and the active components of red fruit microcapsules inamely rendemen, color, moisture content, solubility, total carotenoids and carotenoid retention. The results of this study indicate that the concentration of the coating material and the stabilizer affect the quality of the resulting red fruit oil microencapsules. The formula of stable red fruit oil microenkapulates (F4 and F5) consisting of degummed red fruit oil (11%), maltodextrin (18%), gum arab (1.8-2.6%), gelatin (0.9-1.3%) ), CMC (0.4%) and tween 80 (0.4-0.9%). Comparison of oil fraction, fraction of dry matter and water fraction which can form microencapsulated red fruit oil comprises 11% degummed red fruit oil, 22% emulsifier, coating and stabilizer; and water 67%. Characteristics of red fruit oil microenkapsulat (F4 and F5) are old orange color, 29-30% rendement, 24-25% fat content, total carotenoid 108-111 ppm, carotenoid retention 47-48%, and 73-80% solubility. Keywords: microencapsulation, emulsion, red fruit (Pandanus conoideus) oil, carotenoid.   ABSTRAK Minyak buah merah bersifat sangat sensitif terhadap oksigen, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan stabilitasnya yaitu melalui teknologi mikroenkapsulasi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik mutu mikroenkapsulat minyak buah merah dengan perbandingan konsentrasi bahan pengemulsi (tween 80 dan CMC) dan bahan pelapis (maltodekstrin, gum arab dan gelatin). Formulasi emulsi minyak buah merah yang akan dienkapsulasi menggunakan minyak buah merah hasil degumming 11%, campuran bahan pengemulsi dan penstabil (maltodekstrin, gum arab, gelatin, tween 80 dan CMC) 22% dan air 67%. Bahan-bahan emulsi dihomogenisasi dan dikeringkan menggunakan spray dryer. Parameter yang diamati meliputi warna, kekentalan dan stabilitas emulsi, serta sifat fisikokimia (rendemen, warna, kelarutan, kadar air dan kadar lemak) dan komponen aktif (total karotenoid dan retensi karotenoid) mikrokapsul buah merah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi bahan pengemulsi dan pelapis mempengaruhi kualitas mikroenkapsulat minyak buah merah yang dihasilkan. Formula F4 dan F5 adalah mikroenkapsulat minyak buah merah yang paling stabil dengan komposisi minyak buah merah hasil degumming (11%), maltodekstrin (18%), gum arab (1,8-2,6%), gelatin (0,9-1,3), CMC 0,4% dan tween 80 0,4-0,9%. Karakteristik mikroenkapsulat minyak buah merah (F4 dan F5) yaitu warna oranye tua, rendemen 29-30%, kadar lemak 24-25%, total karotenoid 108-111 ppm, retensi karotenoid 47-48%, dan kelarutan 73-80%. Kata Kunci: mikrokapsul, minyak buah merah (Pandanus conoideus), stabilitas minyak.
PENGARUH FORMULASI MALTODEKSTRIN DAN TWEEN 80 PADA KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA BUMBU HERBAL INSTAN Mayasari, Eva; Rahayuni, Tri; Manalu, Jessi
Pro Food Vol 5 No 2 (2019): Pro Food (Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan)
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/profood.v5i2.102

Abstract

ABSTRACT Herbal spices used in making instant spices are sansakng leaf (Albertisia papuana Becc.), onion, and garlic. The drying method in making instant spices uses the foam mat drying method. The purpose of this study was aimed to determine the effect of maltodextrin and tween 80 formulations on instant herbal spices and determine the best formulation of maltodextrin and tween 80 formulations added on instant herbal spices based on physical and chemical properties. This study used a randomized block design (RBD) factorial pattern which is consisted of two factors of maltodextrin (5%,10%,15%) and tween 80 (0.5% and 1%), each treatment was replicated four times. The ANOVA (?=5%) results showed that the addition of maltodextrin on intant herbal spices significantly affected on moisture content, water absorption, water activity, and yield. While the addition of  tween 80 on intant herbal spices significantly affected on moisture content and water activity. The best treatment on physicochemical properties showed in the combination of maltodextrin 5% and tween 80 1%.   Keywords:  Albertisia papuana Becc., foam mat drying, maltodextrin, sansakng, tween 80   ABSTRAK  Bumbu herbal yang digunakan pada pembuatan bumbu instan adalah daun sansakng (Albertisia papuana Becc.), bawang merah, dan bawang putih. Metode pengeringan dalam pembuatan bumbu instan menggunakan metode foam mat drying. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh formulasi maltodekstrin dan tween 80 pada bumbu herbal instan dan menentukan formulasi yang tepat dari formulasi maltodekstrin dan tween 80 pada pembuatan bumbu herbal instan berdasarkan sifat fisik dan kimia. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) pola faktorial dengan dua faktor, yaitu konsentrasi maltodekstrin (5%, 10% 15%) dan  konsentrasi tween 80 (0,5% dan 1%), masing-masing perlakuan diulang sebanyak empat kali. Parameter pengamatan yang diukur adalah karakteristik fisik dan kimia bumbu herbal instan. Hasil  ANOVA (?=5%) menunjukkan bahwa penambahan maltodekstrin pada bumbu herbal instan berpengaruh nyata terhadap terhadap kadar air, daya serap air, aktivitas air dan rendemen bumbu herbal instan. Sedangkan penambahan tween 80 berpengaruh nyata terhadap kadar air dan aktivitas air. Kombinasi maltodekstrin sebanyak 5% dan tween 80 sebanyak 1% merupakan perlakuan terbaik berdasarkan karakteristik fisikokimia. Kata Kunci: Albertisia papuana Becc, foam mat drying, maltodekstrin, sansakng, tween 80
EFFECT OF EXTRACTION SOLVENT ON TOTAL FLAVONOID CONTENT OF ANDALIMAN FRUIT (ZANTHOXYLUM ACANTHOPODIUM DC) Silalahi, Septina; Megaputri, Tory Rachel; ., Daisy
Pro Food Vol 5 No 2 (2019): Pro Food (Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan)
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/profood.v5i2.103

Abstract

Hypertension is a disease where blood pressure increases chronically beyond normal limits. Hypertension needs to be watched out because it includes asymptomatic diseases and can cause complications. One alternative treatment for hypertension that has been proven effective in the pharmaceutical industry is the use of ACE-I (Angiotensin-I Converting Enzyme Inhibitors). At present, ACE-I synthesis has been produced commercially as an antihypertensive drug, for example captopril, enalapril, alcacepril, and lisinopril. However, there are many studies that show the existence of ACE-I synthesis side effects for its users, both physiological and non-physiological effects such as coughing, angioedema, and disorders in pregnancy. ACE-I obtained naturally is safer than ACE-I synthesis. Research on ACE-I activity from natural ingredients is still very limited. Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC) or better known as Batak Pepper has the potential as a natural source of ACE-I. Natural ACE-I in Andaliman can be obtained from the flavonoid content of Andaliman fruit extract. The purpose of this study was to determine total flavonoid content in andaliman fruit by comparing the types of solvents used for extraction. The solvents used were N-hexane, ethyl acetate, ethanol, and water. The extraction results were then compared using a completely randomized design (CRD) to determine the success of this study. Keywords: Antihypertensive, flavonoids, flavonoid, Zanthoxylum acanthopodium DC   ABSTRAK   Hipertensi adalah penyakit di mana tekanan darah meningkat secara kronis di luar batas normal. Hipertensi perlu diwaspadai karena termasuk penyakit tanpa gejala dan dapat menyebabkan komplikasi. Salah satu pengobatan alternatif untuk hipertensi yang telah terbukti efektif dalam industri farmasi adalah penggunaan ACE-I (Angiotensin-I Converting Enzyme Inhibitors). Saat ini, sintesis ACE-I telah diproduksi secara komersial sebagai obat antihipertensi, misalnya captopril, enalapril, alcacepril, dan lisinopril. Namun, ada banyak penelitian yang menunjukkan adanya efek samping sintesis ACE-I bagi penggunanya, baik efek fisiologis dan non-fisiologis seperti batuk, angioedema, dan gangguan pada kehamilan. ACE-I yang diperoleh secara alami lebih aman daripada sintesis ACE-I. Penelitian tentang aktivitas ACE-I dari bahan-bahan alami masih sangat terbatas. Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC) atau lebih dikenal dengan sebutan Batak Lada berpotensi sebagai sumber alami ACE-I. ACE-I alami di Andaliman dapat diperoleh dari kandungan flavonoid dari ekstrak buah Andaliman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan total flavonoid dalam buah andaliman dengan membandingkan jenis pelarut yang digunakan untuk ekstraksi. Pelarut yang digunakan adalah N-heksana, etil asetat, etanol, dan air. Hasil ekstraksi kemudian dibandingkan dengan menggunakan desain acak lengkap (CRD) untuk menentukan keberhasilan penelitian ini. Kata kunci: Antihipertensi, flavonoid, flavonoid, Zanthoxylum acanthopodium DC
KECERAHAN DAN KONSISTENSI WARNA KUNING DARI EMPAT EKSTRAK PEWARNA ALAMI Adawiyah, Rabiatul; Udiantoro, Udiantoro; Nugroho, Agung
Pro Food Vol 5 No 2 (2019): Pro Food (Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan)
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/profood.v5i2.106

Abstract

ABSTRACT There have been many studies on natural dyes, but most have only focused on one type of plant source.This study aims to compare the color quality (Brightness and Consistency) and production costs from four sources of yello natural dyes, namely tumeric (Curcuma domestica Val), ginger rhizome (Curcuma xanthorhiza Roxb.), cosmos flowers (Cosmos sulphureus), and yellow roots (Arcangelisia Flava Merr). The method used in this study is a Completely Randomized Design with a single factor type of material. Parameters for comparision include the strenght and stability of the yellow color measured through image analysis and UV absorption spectrophotometer analysis. The treatment for the brightness test made on this research consist of 4 types of material that is: P1 = Turmeric (Curcuma domestica Val), P2 = Cosmos Flowers (Cosmos sulphureus), P3 = Yellow Root (Arcangelisia Flava Merr) and P4 = Curcuma (Curcuma xanthorhiza Roxb.). While the treatment of the color brightness consistency is 2 treatment is with acid treatment (pH 3.0-4.0) and without acid treatment with 3 times repetitions. The results showed thatthe best natural yellow dye extract is in the cosmos flower. The Cosmos flower extract has the highest color brightness level that produces the value of absorbance 0.63 and the cosmos flower extract has a higher color brightness consistency shown on the value of the 1th day that is as big as 0.63 to day 7 have value absorbance 0.52.   Keywords: brightness, consistency, natural dye   ABSTRAK Studi tentang pewarna alami telah banyak dilakukan, namun kebanyakan hanya fokus pada satu jenis sumber tanaman. Tidak banyak studi secara simultan yang dilakukan pada beberapa jenis bahan. Penelitian ini bertujuan membandingkan kualitas warna (kecerahan dan konsistensi) dan biaya produksi dari empat sumber pewarna alami kuning, yaitu rimpang kunyit (Curcuma domestica Val), rimpang temulawak (Curcuma xanthorhiza Roxb.),bunga cosmos (Cosmos sulphureus), dan akar kuning (Arcangelisia Flava Merr). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktor tunggal jenis bahan. Parameter sebagai pembanding meliputi kekuatan dan stabilitas warna kuning yang diukur melalui analisis citra dan analisis serapan UV spektrofotometer.Perlakuan untuk uji kecerahan warna yang dilakukan pada penelitian ini terdiri dari 4 jenis bahan yaitu: P1= kunyit (Curcuma domestica Val), P2= bunga cosmos (Cosmos sulphureus), P3= akar kuning (Arcangelisia Flava Merr) dan P4= temulawak (Curcuma xanthorhiza Roxb.). Sedangkan perlakuan uji konsistensi kecerahan warna ada 2 perlakuan yaitu tanpa perlakuan asam dan perlakuan kondisi asam (pH 3,0-4,0) dengan tiga kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak pewarna kuning alami terbaik yaitu terdapat pada bunga cosmos. Ekstrak bunga cosmos memiliki tingkat kecerahan warna paling tinggi yang menghasilkan nilai absorbansi 0,63 dan ekstrak bunga cosmos memiliki konsistensi kecerahan warna yang lebih tinggi yang ditunjukkan pada nilai absorbansi dari hari ke-1 yaitu sebesar 0,63 sampai hari ke-7 memiliki nilai absorbansi 0,52.   Kata kunci: kecerahan warna, konsistensi kecerahan warna, dan pewarna alami.
PENAMBAHAN TEPUNG DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) DAN TEPUNG KACANG KEDELAI (GLYCINE MAX. L) TERHADAP NILAI GIZI SNACK BAR Puspaningrum, Dylla Hanggaeni Dyah; Srikulini, Ida Ayu Ida; Wiradnyani, Ni Ketut
Pro Food Vol 5 No 2 (2019): Pro Food (Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan)
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/profood.v5i2.115

Abstract

ABSTRACT Moringa leaf flour (Moringa olefera) and soybean flour (Glicine Max. L) is a food that has high nutrient content. The presence of these contents is good to be used as ingredients for making snack bar that are rich in nutrients .This study used a complete randomized trial (RAL) with five types of treatment and three replications. Data analysis used anova test with LSD and Duncan test. The treatment that used to the moringa leaf  flour and soybean flour in snack bar are K1P1 (0:100%), K2P2 (25:75%), K3P3 (15:15%), K4P4 (75:25%), K5P5 (0:100%). The analysis carried out was an analysis of nutrient content. The results showed that the higher addition of  soybean flour would affect the protein and fat content. The carbohydrate content is influenced by other components. Iron will be affected by the addition of moringa leaf flour. Key words: snack bar, moringa leaf flour, soybean flour, nutrient content   ABSTRAK Tepung daun kelor (Moringa olefera) dan tepung kacang kedelai (Glicine Max. L) merupakan bahan pangan yang tinggi kandungan gizi. Terdapatnya kandungan tersebut baik digunakan sebagai bahan pembuatan snack bar yang kaya akan zat gizi.Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima jenis perlakuan dan tiga kali ulangan. Analisis data menggunakan uji Anova dengan uji lanjut LSD dan Ducan. Perlakuan pada snack bar tepung daun kelor dan tepung kacang kedelai yaitu K1P1 (0:100%), K2P2 (25:75%), K3P3 (15:15%), K4P4 (75:25%), K5P5 (0:100%). Analisis yang dilakukan adalah analisis kandungan zat gizi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tingginya penambahan tepung kacang kedelai maka akan mempengaruhi kandungan protein dan lemak. Kandungan karbohidrat dipengaruhi oleh kandungan komponen yang lain. Kandungan zat besi akan dipengaruhi oleh penambahan tepung daun kelor. Kata kunci: snack bar, tepung daun kelor, tepung kacang kedelai, nilai gizi
GULA DARAH DAN BERAT BADAN TIKUS PUTIH SPRAQUE DAWLEY DIABETES MELITUS SETELAH TERAPI FRAKSI ETIL ASETAT MINUMAN SCJM Wiradnyani, Ni Ketut
Pro Food Vol 5 No 2 (2019): Pro Food (Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan)
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/profood.v5i2.107

Abstract

ABSTRACT           Sinom drinks mixed with lime and honey are made from rhizome of turmeric and young tamarind leaves which are added with lime juice and honey. The aim of the study was to determine the dose of ethyl acetate fraction of sinom drinks mixed with lime juice and honey (SCJM) which lowers fasting blood sugar and has an effect on body weight of spraque dawley (SD) white rats diabetes mellitus. Experimental research using RAK, testing consisted of two phases. Fiirst phase was  antioxidant capacity test of various solvents of  SCJM yielding 29691.1 µg AAEAC / g ingredients namely the highest number of ethyl acetate fractions of n- hexane, chloroform, and water. Second phase was in vivo  test of ethyl acetate fraction of SCJM  which can reduce the best GDP and weight to SD white rats with diabetes mellitus with various doses, namely: control (-) normal mice, 50, 100, 150, 200 mg/dl BW, control (+) of diabetic rats.  The data was statistically tested using ANOVA with further test BNT. The results of the study of the effect of the antioxidant compound SCJM  ethyl acetate fraction of various doses significantly affected (p <0.01) in decreasing fasting blood sugar (GDP) white SD diabetes mellitus rats, a dose that can reduce the lowest GDP based on statistical tests is 150 mg/kg BW of rats, 168.4 mg/dl from other doses. Rats body weight had no significant (p <0.01) effect after treatment of the SCJM etyl acetate fraction.   Keywords: antioxidant capacity, blood sugar, ethylacetate _ fraction, sinom mix of lime and honey   ABSTRAK              Minuman sinom  yang dicampur jeruk nipis dan madu terbuat dari rimpang kunyit dan daun asam muda yang ditambahkan air jeruk nipis dan madu. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan dosis fraksi etil asetat minuman sinom campuran jeruk nipis dan madu (SCJM) yang menurunkan gula darah puasa (GDP) dan menimbulkan efek terhadap berat badan tikus putih spraque dawley (SD) diabetes melitus. Penelitian eksperimental menggunakan RAK terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah uji kapasitas antioksidan berbagai pelarut (SCJM) menghasilkan 29691,1 µg AAEAC/g bahan yaitu angka tertinggi fraksi etil asetat dari n-heksana, khloroform dan air. Tahap ke-2 adalah uji in vivo fraksi etil asetat SCJM yang dapat menurunkan GDP terbaik dan berat badan tikus putih SD diabetes melitus dengan perlakuan berbagai dosis yaitu: kontrol (-) tikus normal 50, 100, 150, 200 mg/dl BB, kontrol (+) tikus diabetes. Data diuji statistik menggunakan Anova dengan uji lanjut BNT. Hasil penelitian senyawa antioksidan SCJM fraksi etil asetat berbagai dosis berpengaruh nyata (p<0,01) pada penurunan GDP tikus putih SD diabetes melitus, dosis terbaik yang dapat menurunkan GDP terendah berdasarkan uji statistik adalah 150 mg/kg BB tikus yiatu 168,4 mg/dl dari perlakuan dosis yang lain. Berat badan tikus tidak berpengaruh nyata (p<0,01) setelah pemberian fraksi etil asetat SCJM.   Kata Kunci: fraksi etilasetat, gula darah, kapasitas antioksidan, sinom campuran jeruk nipis dan madu