cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Arjuna Subject : -
Articles 560 Documents
217 PROFIL PIODERMA PADA ANAK DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMINRSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI-DESEMBER 2012 Pangow, Caren C.a; Pandaleke, Herry E. J.; Kandou, Renate T.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.6820

Abstract

Abstract: Pyoderma is a skin infection caused byeither or both of staphylococcus and streptococcus bacteria. This infectious skin diseases are still the main problem of high level morbidity cases in children, especially indeveloping countries with topical climate including Indonesia. This study?s goal to gain pyoderma patients profile in children at the dermatovenereology clinic of Prof. Dr R. D. Kandou General Hospital Manado during the period from January - December 2012. This is a retrospectivedescriptive study from the secondary data of pyoderma?spatient in children, based on the number of patients, sex, age, diagnose, nutritional status, and therapy. The results showed that of pyoderma?s cases in children during January - Decemberwas fifty three cases (16,51%). The distribution based on sex mostly on female (56,6%), based on age infected group mostly on 1-4 years old (43,4%). The majortypes of pyoderma isimpetigo (58,5%). The distributionbased on nutritional status mostly on well-nourished (64,7%). There were thirty fivepatients (66%) givensystemic antibiotic with topical therapy.The most systemic antibiotics therapy used was erythromycin (62,2%), and the most topical therapy used was fusidic acid (34 %).Keywords: pyoderma, childrenAbstrak: Pioderma adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh kuman staphylococcus, streptococcus atau keduanya.Penyakit infeksi kulit masih merupakan masalah utama penyebab tingginya angka morbiditas pada anak-anak terutama di negara-negara berkembang dan wilayah beriklim tropis, termasuk di Indonesia.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui profil pasien pioderma pada anak di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2012 ? Desember 2012. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dari data sekunder pasien pioderma anak (umur 0-14 tahun) berdasarkan jumlah pasien, umur, jenis kelamin, diagnosis, status gizi, dan terapi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pioderma pada anak periode januari ? desember 2012 sebanyak 53 kasus (16,51%). Distribusi menurut jenis kelamin terbanyak pada perempuan (35,6 %) dan menurut umur terbanyak adalah kelompok umur 1-4 tahun (43,4%). Jenis pioderma terbanyak adalah impetigo (58,5%). Distribusi menurut status gizi terbanyak adalah bergizi baik (64,7%). Sebanyak 35 pasien (66%) diberikan terapi antibiotik sistemik dengan topikal. Terapi antibiotik sistemik terbanyak yang digunakan adalah eritromisin (62,2%), dan topikal yang paling sering digunakan adalah asam fusidat (34%).Kata kunci: pioderma, anak
PERBEDAAN KADAR HEMOGLOBIN PADA REMAJA GIZI BAIK YANG TINGGAL DI PEGUNUNGAN DENGAN YANG TINGGAL DI TEPI PANTAI Jacobus, Marianne C.; Mantik, Max F.J; Umboh, Adrian .
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.11696

Abstract

Abstract: Haemoglobin is the main component of red blood cells that serves as a transporter of oxygen and carbon dioxide in the blood. The normal range of haemoglobin values can be used to determine the degree of anemia according to age and gender. Geographical condition such as altitude influences the haemoglobin value. This study aimed to obtain the difference of haemoglobin levels between teenagers with good nutrition status who live at the highland and those at the seaside. This was an observational analytical study with a cross sectional design. Samples were students with good nutrition status of SMPN 3 Tomohon (living at the highland) and those of SMP Kristen Nazaret Tuminting (living at the seaside). There were 60 students who met the inclusion criteria as follows: adolescent, good nutrition status, healthy, aged 13-15 years, lived at the highland or at the seaside ? 6 month, and willing to be performed blood examinations, and had been approved by their parents. The Mann-Whitney test for the difference between haemoglobin levels of the two groups showed a p value < 0,001. Conclusion: There was a very significant difference between haemoglobin levels of good nutrition teenagers who lived at the highland and at the seaside. Keywords: haemoglobin levels, good nutrition, teenagers, highland, seaside  Abstrak: Hemoglobin merupakan komponen utama sel darah merah dan berfungsi sebagai transporter oksigen dan karbon dioksida dalam darah. Batas normal nilai hemoglobin dapat digunakan untuk menetapkan derajat anemia, dengan distribusi usia dan jenis kelamin spesifik didasarkan pada sampel referensi sehat. Kondisi geografis, seperti ketinggian tempat dari permukaan laut menjadi faktor pertimbangan dalam distribusi nilai normal hemoglobin. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perbedaan kadar hemoglobin antara remaja gizi baik yang tinggal di pegunungan dengan yang tinggal di tepi pantai. Jenis penelitian ini analitik-observasional dengan desain potong lintang. Sampel penelitian yaitu remaja gizi baik yang tinggal di pegunungan yaitu siswa SMPN 3 Tomohon dan yang di tepi pantai yaitu siswa SMP Kristen Nazaret Tuminting. Subjek penelitian berjumlah 60 remaja yang memenuhi kriteria inklusi yaitu gizi baik, sehat, berumur 13-15 tahun, berdomisili di pegunungan atau tepi pantai ?6 bulan, bersedia dilakukan pemeriksaan darah, dan telah disetujui oleh orang tua. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney dengan bantuan program SPSS. Hasil uji Mann-Whitney mengenai perbedaan kadar hemoglobin antara kedua kelompok menunjukkan nila p <0,001. Simpulan: Terdapat perbedaan yang sangat bermakna kadar hemoglobin remaja gizi baik yang tinggal di pegunungan dengan di tepi pantai.Kata kunci: kadar hemoglobin, remaja gizi baik, pegunungan, tepi pantai
GAMBARAN KEHAMILAN DENGAN LUARAN MAKROSOMIA PERIODE JANUARI – DESEMBER 2014 DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Osok, Stelaine; Wantania, John J. E.; Mewengkang, Maya E.
e-CliniC Vol 5, No 1 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.1.2017.14765

Abstract

Abstract: According to the American College of Obstetricians and Gynecologist and the World Health Organization, an infant who has a birth weight of more than 8 pounds (4.000 gram) is diagnosed as macrosomia. There are some risk factors that arise from fetal macrosomia such as diabetes, maternal obesity, and excessive weight gain during pregnancy. These risk are directly related to the birth weight of the infant and begin to increase substantially when birth weight exceeds 4.000 gram especially when it is more than 5.000 gram. This study was aimed to identify the description of pregnancy with macrosomia. This was a descriptive retrospective study. Data were obtained from patient records and survey in the Maternity Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. The results showed that the number of total pregnancies with macrosomia were 202 from 3,347 cases. The most common cases were multigravida with macrosomia (128 cases), gestational age 37-40 weeks (80 cases), maternal weight 61-80 kg (97 cases), and caesarean section as the type of labor (115 cases). Additionaly, most of the macrosomia cases were found in male infants, birth weight 4,000-4,250 grams (88 cases), and suffered from asphyxia.Keywords: the pregnancy, macrosomia Abstrak: Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists and World Health Organization, bayi dengan berat lebih dari 8 ons, 13 ons (4.000 gram) disebut makrosomia. Beberapa faktor risiko yang terkait dengan janin makrosomia seperti diabetes serta ibu dengan obesitas dan kenaikan berat badan yang berlebihan selama kehamilan. Risiko ini secara langsung berhubungan dengan berat badan lahir bayi dan mulai meningkat secara substansial ketika berat badan lahir melebihi 4.500 gram dan terutama ketika melebihi 5.000 gram. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kehamilan dengan luaran makrosomia. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan catatan rekam medik pasien dan pendataan di bagian ruang bersalin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian mendapatkan jumlah kehamilan dengan luaran makrosomia sebanyak 202 dari 3.347 kasus yang tercatat dan terbanyak pada usia ibu 35-40 tahun (42 kasus). Luaran makrosomia terbanyak pada multigravida (128 kasus), usia kehamilan 37-40 minggu (80 kasus), berat badan ibu 61-80 kg (97 kasus), dan jenis persalinan seksio sesarea (115 kasus). Luaran makrosomia terbanyak pada bayi laki-laki dengan berat badan 4.000-4.250 gram (88 kasus), dan pada bayi asfiksia. Simpulan: Jumlah makrosomia sebanyak 202 kasus, terbanyak pada usia ibu 35-40 tahun, multigravida, usia kehamilan 37-40 minggu, berat badan ibu 61-80 kg, persalinan seksio sesarea, terbanyak pada bayi laki-laki dengan berat badan 4.000-4.250 gram dan bayi asfiksia.Kata kunci: gambaran kehamilan, luaran makrosomia
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP MENJAGA KEBERSIHAN GENITALIA EKSTERNA DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN PATOLOGIS PADA SISWI DI SMA NEGERI 1 MANADO Tombokan, Arianto; Wantania, Jhon; Wagey, Freddy
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.2.2014.5708

Abstract

Abstract: All women may experience vaginal discharge according to the data on women?s reproductive health research shows 75 % of women in the world would suffer from vaginal discharge, at least once in her life. Bad attitude in maintaining genital hygiene, such as washing with dirty water, wear rinse excessively, use pants that do not absorb sweat, change underwear rarely, change pads rarely can trigger the onset of the infection that causes vaginal discharge. The purpose of this study is to determine the correlation of the level of the knowledge and attitude of maintaining the external genitalia with pathological vaginal discharge event on schoolgirl in SMA Negeri 1 Manado on 2012. Methods: The type of this research is observational analytic studies with cross sectional design. Subject of this research is 106 class XII schoolgirl of SMA Negeri 1 Manado 2012 ? 2013. Data were collected by questionnaires which have been tested. Results: Schoolgirl who have had vaginal discharge is obtained as 35,8 % and who haven?t as 64,2 %. Knowledge of schoolgirl who have had vaginal discharge 24,6 % included in good category and on schoolgirl who haven?t had vaginal discharge 75,4 % included in good category. Attitude of schoolgirl who have had vaginal discharge 29,6 % included in supportive category and of schoolgirl who haven?t had vaginal discharge 70,4 % included in supportive category. Conclusion: According to the result of the research, knowledge and attitude of maintaining the cleanliness of the external genitalia are related with pathological vaginal discharge events. Bad knowledge about maintaining the cleanliness of the external genitalia increase the risk of experiencing vaginal discharge by 2,304 times. Meanwhile, attitude that does not support manitaining cleanliness of the external genitalia increase the risk of experiencing vaginal discharge by 1,89 times. Keywords: Knowledge, attitude, pathological vaginal discharge.   Abstrak: Semua wanita dapat mengalami keputihan berdasarkan data penelitian tentang kesehatan reproduksi wanita menunjukan 75% wanita didunia pasti menderita keputihan, paling tidak sekali dalam hidupnya. Sikap buruk dalam menjaga kebersihan genitalia, seperti mencucinya dengan air kotor, memakai pembilas secara berlebihan, menggunakan celana yang tidak menyerap keringat, jarang mengganti celana dalam, tak sering mengganti pembalut dapat menjadi pencetus timbulnya infeksi yang menyebabkan keputihan tersebut. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan patologis pada siswi di SMA Negeri 1 Manado tahun 2012. Metode: Jenis penelitian adalah penelitian analitik observasional dengan rancangan cross sectional. Subjek penelitian ini adalah 106 siswi kelas XII SMA Negeri 1 Manado periode 2012-2013. Pengambilan data dilakukan dengan pengisian kuesioner yang telah diuji cobakan. Hasil: Siswi yang pernah mengalami keputihan didapatkan sebanyak 35,8 % dan yang tidak pernah 64,2 %. Pengetahuan siswi yang pernah mengalami keputihan 24,6 % masuk dalam kategori baik dan pada siswi yang tidak pernah mengalami keputihan 75,4 % masuk dalam kategori baik. Sikap siswi yang mengalami keputihan 29,6 % masuk dalam kategori mendukung dan pada siswi yang tidak pernah mengalami keputihan 70,4 % masuk dalam kategori mendukung. Simpulan: Berdasarkan hasil penelitian, pengetahuan dan sikap menjaga kebersihan genitalia eksterna berhubungan dengan kejadian keputihan patologis. Pengetahuan buruk mengenai kebersihan genitalia eksterna meningkatkan resiko mengalami keputihan sebesar 2,304 kali. Sementara itu, sikap yang tidak mendukung menjaga kebersihan genitalia eksterna meningkatkan resiko mengalami keputihan sebesar 1,89 kali. Kata kunci: Pengetahuan, sikap, keputihan patologis.
HUBUNGAN KADAR HEMOGLOBIN DENGAN LAJU FILTRASI GLOMERULUS PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK STADIUM 3 DAN 4 DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2017 - DESEMBER 2018 Patrick, Fabio M.; Umboh, Octavianus R. H.; Rotty, Linda W. A.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.8.1.2020.27190

Abstract

Abstract: Chronic kidney disease (CKD) is defined as kidney damage which occured more than 3 months, with structural or functional abnormalities such as decreasing of glomerular filtration rate (GFR) <60ml/min/1,73m2. This kidney damage will certainly disrupt one of the kidney?s functions as a producer of erythropoietin hormone which plays a role in the process of erythropoiesis. This is related to the hemoglobin levels in the erythocytes themselves. This study was aimed to determine the relationship between Hb level and GFR in patients with stage 3 and 4 CKD at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was an analytical and retrospective study with a cross-sectional design using medical record of patient with stage 3 and 4 CKD at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital from January 2017 to December 2018 as secondary data. The results showed that there were 50 patients with stage 3 and 4 CKD who met the inclusion criteria of 57 existing patients. The Pearson correlation test obtained a p-value of 0.023 and an r value of 0.32 for the relationship between Hb level and GFR. In conclusion, there was a significant relationship between Hb level and GFR in patients with stage 3 and 4 CKD at Prof. Dr. R. D. Kandou Manado from January 2017 to December 2018.Keywords: CKD, eGFR, hemoglobin level Abstrak: Penyakit ginjal kronik (PGK) ditandai dengan adanya kerusakan ginjal yang terjadi lebih dari 3 bulan, berupa kelainan struktural atau fungsional seperti menurunnya laju filtrasi glomeurulus (LFG) <60ml/menit/1,73m2. Kerusakan ginjal pada PGK akan mengganggu fungsi ginjal sebagai penghasil hormon eritropoietin yang berperan dalam eritropoiesis yang berhubungan dengan kadar hemoglobin (Hb) dalam eritrosit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar Hb dan LFG pada pasien PGK stadium 3 dan 4 di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah analitik retrospektif dengan desain potong lintang menggunakan catatan rekam medik pasien PGK stadium 3 dan 4 di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2017-Desember 2018 sebagai data sekunder. Hasil penelitian mendapatkan 50 pasien PGK stadium 3 dan 4 yang memenuhi kriteria inklusi dari 57 pasien yang ada. Hasil uji korelasi Pearson mendapatkan nilai p=0,023 dan r=0,320 untuk hubungan antara kadar Hb dengan LFG. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara kadar Hb dengan LFG pada pasien PGK stadium 3 dan 4 di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2017-Desember 2018.Kata kunci: PGK, LFG, kadar hemoglobin
HUBUNGAN ANTARA LINGKAR PINGGANG DENGAN KADAR ALBUMIN URIN PRIA DEWASA DENGAN OBESITAS SENTRAL Biasa, Christie Endrio; Moeis, Emma Sy.; Waleleng, B. J.
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.2.2014.5113

Abstract

Abstract: Obesity is an abnormal accumulation of body fat in proportion to body size. Central obesity is a major problem in clinical and public health. Central obesity is closely related to metabolic risk factors such as insulin-resistant,  hypertension, and dyslipidemia. Obesity can lead to functional and structural changes in the kidneys. Reduced insulin sensitivity is the most important link between obesity and other metabolic complications cause kidney injury. Insulin also increases the effect of angiotensin II on mesangial cells, thus contributing to hypertension, increased intraglomerular pressure, exacerbation of proteinuria, intrarenal induction of inflammatory cytokines and growth factors and apoptosis. Microalbuminuria is one of the first indicators of kidney abnormalities and has been used to detect problems in kidney function. Methods: this study uses an analytical method with cross-sectional study. By looking at the relationship betwen urinary albumin with waist circumference in men with central obesity. Results: respondents waist circumference (central obesity with waist circumference> 90 cm) with a urine albumin levels. 30 samples consisting of students and staff in the Faculty of Medicine Unsrat. This research was carried out not by checking the dipstick albumin as less sensitive, but using the ratio of albumin to creatinine examination. The results showed no significant association between waist circumference and urinary albumin levels. Conclusion: although the results of the study showed no significant association between waist circumference and levels of albuminuria, but not eliminate the risk of central obesity to kidney disorders. Keywords: obesity, central obesity, urine albumin levels.   Abstrak: Obesitas adalah akumulasi abnormal lemak tubuh dalam proporsi ukuran tubuh. Obesitas sentral adalah masalah utama secara klinik dan kesehatan masyarakat. Obesitas sentral sangat berhubungan dengan faktor-faktor resiko metabolik seperti resitensi insulin, hipertensi, dan dislipidemia. Obesitas dapat menyebabkan perubahan fungsional dan struktural pada ginjal. Sensitivitas insulin berkurang merupakan rantai penghubung yang paling penting antara obesitas dan komplikasi metabolik lainnya menyebabkan cedera ginjal. Insulin juga meningkatkan efek angiotensin II pada sel mesangial, sehingga memberikan kontribusi untuk hipertensi, peningkatan tekanan intraglomerular, eksaserbasi proteinuria, induksi sitokin inflamasi intrarenal dan faktor-faktor pertumbuhan dan apoptosis. Mikroalbuminuria adalah salah satu indikator pertama dari abnormalitas ginjal dan telah digunakan untuk mendeteksi masalah pada fungsi ginjal. Metode: penelitian ini menggunakan metode analitik dengan studi cross-sectional. Dengan melihat hubungan kadar albumin urin dengan lingkar pinggang pada pria dengan obesitas sentral. Hasil: lingkar pinggang responden (obesitas sentral dengan lingkar pinggang >90 cm) dengan kadar albumin urine. 30 sampel yang terdiri dari mahasiswa dan pegawai di Fakultas Kedokteran Unsrat. Penelitian ini dilakukan bukan dengan pemeriksaan dipstick albumin karena kurang sensitif, tapi menggunakan pemeriksaan rasio albumin terhadap kreatinin. Hasil yang diperoleh menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara lingkar pinggang dengan kadar albumin urine. Simpulan: walaupun hasil penelitian tidak menunjukkan adanya hubungan signifikan antara lingkar pinggang dengan kadar albuminuria, namun tidak  menghilangkan resiko obesitas sentral terhadap gangguan ginjal. Kata kunci: obesitas, obesitas sentral, kadar albumin urine.
PROFIL PENDERITA KANKER PROSTAT DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE TAHUN 2013–2015 Solang, Valdo R.; Monoarfa, Alwin; Tjandra, Ferdinand
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14371

Abstract

Abstract: Prostate cancer is a malignant disease of urogenital system which is the second most common type of cancer in men after lung cancer. Prostate cancer is also one of the most common cause of death in male population. There is no database regarding profiles of prostate cancer in Manado. This study was aimed to determine the profile of prostate cancer patients treated at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado in the period 2013 to 2015. This was a descriptive retrospective study in October to November 2016. Samples were taken based on secondary data of the medical record. The results showed that there were 54 patients with prostate cancer, most were found in 2015 (38.9%), age group 61-70 years old (37.0%), lived in Manado (33.3%), graduated Senior High School (64.8%), retirees (50.0%), difficult urination (44.4%), PSA levels >100 ng/ml (50.0%), histopathological of adenocarcinoma (100.0%), and Gleason score ranging from 8-10 (46.7%). Based on metastasis, 14 patients had metastasis (25.9%).Keywords: prostate cancer, profile, PSA, histopatology, Gleason score Abstrak: Kanker prostat ialah penyakit keganasan sistem urogenital yang merupakan kanker kedua terbanyak pada pria setelah kanker paru. Kanker prostat juga merupakan salah satu penyebab terbanyak kematian pada populasi pria. Belum ditemukan data tentang profil kanker prostat di Manado. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil penderita kanker prostat yang dirawat di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou pada periode 2013?2015. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif yang dilakukan pada bulan Oktober sampai November 2016. Sampel diambil berdasarkan data sekunder dari catatan rekam medik. Hasil penelitian mendapatkan 54 penderita kanker prostat, paling banyak ditemukan pada tahun 2015 (38,9%), kelompok usia 61-70 tahun (37,0%), berdiam di Kota Manado (33,3%), tamat SMA (64,8%), pensiunan (50,0%), keluhan utama sulit buang air kecil (44,4%), kadar PSA >100 ng/ml (50,0%), jenis adenokarsinoma (100,0%), dan skor Gleason 8-10 (46,7%). Berdasarkan metastasis, sebanyak 14 penderita (25,9%) mengalami metastasis. Kata kunci: kanker prostat, profil, psa, histopatologi, skor gleason
HUBUNGAN INFEKSI HEPATITIS VIRUS C KRONIK DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS REGULER Tjhie, Otto S.; Wantania, Frans; Palar, Stella
e-CliniC Vol 5, No 1 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.1.2017.14699

Abstract

Abstract: Chronic kidney disease (CKD) is a pathophysiologic process with diverse etiology, resulting in a progressive decline of renal function, and generally end up with kidney failure. CKD is a clinical condition characterized by the irreversible decline in kidney function requiring renal replacement therapy such as dialysis or kidney transplantation. This study was aimed to determine the relationship between chronic hepatitis C virus with the quality of life of patients with CKD who underwent regular hemodialysis. This was an observational analytical study with a cross sectional design. Samples were CKD patients undergoing hemodialysis who were infected with hepatitis C virus in chronic hemodialysis at Installation of Special Measures Section Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from October to December 2015. The results showed that there were 82 people as samples. Thirty-one (36.6%) of them were patients with CKD who were infected with chronis hepatitis C. Most samples were male as many as 54 patients (65.9%) and 18 of them were infected with chronic hepatitis C virus. The age group 39-47 years was the largest age group as many as 10 patients (33.33%). The analysis of the relationship of anti-HCV and quality of life was tested with a correlation coefficient point biserial (p=0.327). Conclusion: There were no relationship between chronic hepatitis C virus infectionand the quality of life in patients with chronic kidney disease undergoing regular hemodialysis.Keywords: CKD, chronic hepatitis C virus infection, quality of life Abstrak:Penyakit ginjal kronik(PGK) adalah suatu proses patofisiologis dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif, dan pada umumnya berakhir dengan gagal ginjal. PGK adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang ireversibel yang memerlukan terapi pengganti ginjal berupa dialisis atau transplantasi ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan hepatitis virus C kronik dengan kualitas hidup pasien PGK yang menjalani hemodialisis reguler. Jenis penelitian ialah observational analitik dengan desain potong lintang. Sampel penelitian ialah pasien PGK yang menjalani hemodialisis yang terinfeksi virus hepatitis C kronik di Instalasi Tindakan Khusus Hemodialisis Bagian/SMF Ilmu Penyakit Dalam RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Oktober-Desember 2015. Hasil penelitian mendapatkan jumlah sampel sebanyak 82 orang. Tiga puluh orang (36,6%) diantaranya ialah penderita PGK yang terinfeksi hepatitis C kronik. Jenis kelamin terbanyak ialah laki-laki sebanyak 54 penderita (65,9%) dan 18 diantaranya terinfeksi virus hepatitis C kronik. Kelompok usia 39-47 tahun merupakan kelompok usia terbanyak yaitu 10 orang (33,33%). Hasil analisis hubungan anti-HVC dan kualitas hidup yang diuji dengan koefisien korelasi point biserial mendapatkan niai p=0,327. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara infeksi virus hepatitis C kronik dan kualitas hidup pada pasien PGK yang menjalani hemodialisa regulerKata kunci: penyakit ginjal kronik, infeksi virus hepatitis C kronik, kualitas hidup
PROFIL KASUS BUNUH DIRI DI KOTA MANADO PERIODE JANUARI-NOVEMBER 2015 Mantiri, Arthur D. B.; Kristanto, Erwin; Siwu, J.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.1.2016.10964

Abstract

Abstract: Suicide has been seen as one final solution. For some people, suicide has become the one and only way towards a solution of the pressing problems of life. Life ending is an alternation to be free of life troubles. Nowadays, suicide has become a global problem. Each year there are more than 800,000 people who committed suicide and many others who tried to commit suicide. The results showed that the incidence of suicide in Manado was lower thhan the the other regions in Indonesia such as Bali and Mount Kidul. However, comparing to its surrounding areas Manado has a higher incidence. From all suicide cases in Manado, 100% chose hanging oneself as the most preferred method. Most cases were males aged 11-20 years and 31-40 years.Keywords: commit suicide, hanging Abstrak: Bunuh diri telah dipandang sebagai salah satu penyelesaian masalah. Bagi sebagian orang, bunuh diri telah menjadi satu - satunya jalan menuju solusi dari masalah hidup yang menekan. Mengakhiri hidup menjadi alternatif untuk bebas dari masalah hidup. Bunuh diri telah menjadi suatu masalah global. Tiap tahun lebih dari 800.000 orang yang melakukan tindakan bunuh diri dan masih banyak lagi yang mencoba untuk bunuh diri. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa angka kejadian bunuh diri di Manado lebih rendah dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia seperti Bali dan Gunung Kidul. Namun dibandingkan dengan daerah sekitarnya, Manado memiliki angka kejadian yang lebih tinggi. Dari semua kasus bunuh diri di Manado, 100% melakukan gantung diri. Pelaku bunuh diri terbanyak ialah laki-laki berusia 11-20 tahun dan 31-40 tahun. Kata kunci: bunuh diri, gantung diri
ANGKA KEJADIAN HIPOSPADIA DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2009-OKTOBER 2012 Limatahu, Nurfitrianasari; Oley, Mendy Hatibie; Monoarfa, Alwin
e-CliniC Vol 1, No 2 (2013): Jurnal e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.1.2.2013.3292

Abstract

Abstract: Hypospadias is a congenital abnormality. In hypospadia the urethra meatus is located ventral position and proximally from its normal position at the tip of glans penis. Hypospadia present with a wide array of meatal position and curvature. Surgery to repair anatomical defect is the only one treatment for hypospadias. Urethrocutaneous fistula is the most frequent complication of hypospadias. There is not yet research about hypospadias in Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital. That?s motivated me make research about hypospadias. This research is retrospective descriptive with the medical record in Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado period January 2009 to October 2012. This research was two month from November 2012 to Desember 2012. The incidence of hypospadias has been found by 17 cases. The most frequent is in 2011 and 2012. Penoscrotal hypospadia is the most frequent in this research. There are many patient have uretroplasty and chordectomy. Fistula in this research have been found two cases. Keywords: hypospadias, incidence, type, manajemen, fistula    Abstrak: Hipospadia merupakan salah satu kelainan kongenital saluran kemih. Pada hipospadia meatus uretra eksternus  terletak di permukaan ventral penis dan lebih ke proksimal dari tempatnya yang normal pada ujung penis. Hipospadia dibagi menurut posisi meatus dan derajat kelengkungan penis. Koreksi bedah untuk memperbaiki kelainan anatomi merupakan satu-satunya penanganan untuk hipospadia. Fistula uretrakutaneus merupakan komplikasi dengan frekuensi yang paling banyak pada koreksi hipospadia. Juga dilaporkan adanya fistula uretra kongenital yang timbul bersama-sama hipospadia. Penelitian mengenai hipospadia di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado belum pernah dilakukan. Hal tersebut mendorong penulis untuk melakukan penelitian tentang hipospadia.Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif dengan menggunakan data rekam medik di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2009 hingga Oktober 2012. Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan yaitu pada bulan November hingga Desember 2012. Ditemukan angka kejadian hipospadia sebanyak 17 kasus. Angka kejadian hipospadia paling tinggi ialah pada tahun 2011 dan 2012. Tipe penoskrotal merupakan tipe hipospadia yang paling banyak frekuensinya. Penderita hipospadia paling banyak mendapat penanganan uretroplasti dengan chordectomi. Fistula yang ditemukan sebanyak dua kasus. Kata kunci: hipospadia, angka kejadian, tipe, penanganan, fistula.

Page 1 of 56 | Total Record : 560