cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL MEDIA TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Media Teknologi Hasil Perikanan adalah berkala ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, UNSRAT. Media ini akan mempublikasikan hasil penelitian dan kajian pustaka terbaru dalam bidang Teknologi Hasil Perikanan, khususnya yang berhubungan dengan penerapan teknologi bagi peningkatan kualitas produk perikanan, pengembangan produk baru hasil perikanan, keamanan produk hasil perikanan,pemanfaatan limbah hasil perikanan serta topik lain yang berhubungan erat dengan pemanfaatan dan pengolahan hasil perikanan yang dapat dikonsumsi oleh manusia.
Arjuna Subject : -
Articles 103 Documents
KUALITAS SEMI-REFINED CARRAGEENAN CHIPS PADA RUMPUT LAUT MERAH KAPPAPHYCUS ALVAREZII YANG DIKERINGKAN DENGAN MENGGUNAKAN CABINET DRYER Dumondor, Brian; Makapedua, Daisy Monica; Taher, Nurmeilita; Dotulong, Verly; Mongi, Eunike Louisje; Montolalu, Roike Iwan
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.7.1.2019.21306

Abstract

Rumput laut merah Kappaphycus alvarezii merupakan salah satu komoditas ekspor dan program utama revitalisasi perikanan yang berperan penting dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat karena mengandung zat karaginan yang merupakan bahan campuran dalam industri pangan dan non pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas semi-refined carrageenan rumput laut merah Kappaphycus alvarezii yang dikeringkan dengan menggunakan cabinet dryer. Penelitian ini menggunakan konsentrasi larutan KOH 8% serta menggunakan metode pengeringan cabinet dryer dengan suhu 50?60°C. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kedua perlakuan pengeringan A1 (12 Jam) dan A2 (24 Jam) memenuhi syarat yang ditentukan oleh FAO. Tetapi perlakuan terbaik adalah perlakuan A2 (24 Jam) dimana kadar air yang didapat adalah 6,75%, kadar abu 25,04%, kadar abu tidak larut asam 0,04%, viskositas 14,52 cP, rendemen 26% dan memiliki nilai pH 9,85.
KANDUNGAN FITOKIMIA DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK METANOL RUMPUT LAUT KAPPAPHYCUS ALVAREZII Lantah, Puji Lestari; Montolalu, Lita ADY; Reo, Albert Royke
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.5.3.2017.16785

Abstract

The objective of the study was to determine the phytochemical content and antioxidant activity of Kappaphycus alvarezii seaweed extracted with methanol solvent. The extract was obtained by maceration of dried seaweed. Phytochemical tests were performed to determine the presence of alkaloids, flavonoids, saponins, triterpenoids and steroids. Kaphaphycis alvarezii seaweed antioxidant activity was tested by DPPH method (1-1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). A phytichemical test revealed that there was not any alkaloids, flavonoids, saponins, steroids and triterpenoids content in methanol extract Kappaphycus alvarezi. The antioxidant activity by DPPH method showed the high IC50 value (163.82 ppm) It is indicated that the antioxidant activity of Kappaphycus alvarezii of dried seaweed extracted with methanol was very weak. The negative result from phytochemical test was speculated caused by the drying process of seaweed samples, the type of seaweed itself, and the insufficiency of desalting process. The unsaturated fatty acids was suspected to act as antioxidant in this type of seaweedTujuan penelitian adalah untuk mengetahui kandungan fitokimia dan aktivitas antioksidan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang diekstraksi dengan pelarut metanol. Ekstrak diperoleh dengan cara maserasi terhadap rumput laut kering. Uji fitokimia dilakukan untuk mengetahui keberadaan senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, triterpenoid dan steroid. Aktivitas antioksidan rumput laut Kaphaphycis alvarezii diuji dengan metode DPPH (1-1-difenil-2-pikrilhidrazil). Hasil penelitian memperlihatkan tidak terdeteksinya senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, steroid dan triterpenoid pada ekstrak metanol Kappaphycus alvarezi. Uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH menunjukkan nilai IC50 sebesar 163.82 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan rumput laut Kappaphycus alvarezii kering yang diekstraksi dengan metanol sangat lemah. Tidak terdeteksinya kandungan fitokimia diduga karena sampel rumput laut dikeringkan dengan sinar matahari langsung, jenis rumput laut ini tidak memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi dan proses desalting yang tidak maksimal. Aktivitas antioksidan yang sangat lemah dari rumput laut ini diduga berasal dari kandungan asam lemak tak jenuh
PENGEMBANGAN PRODUKSI MINUMAN RUMPUT LAUT EUCHEMA COTTONII DI KELURAHAN MALALAYANG DUA KECAMATAN MALALAYANG, KOTA MANADO Sanger, Grace; Assa, Yan R
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.6.2.2018.19930

Abstract

Sasaran program ini berlokasi di Kelurahan Malalayang Dua Kecamatan Malalayang Kota Manado, yang secara geografis sangat strategis untuk dikembangkan industri pengolahan minuman rumput laut. Kelurahan ini merupakan daerah wisata kuliner, dimana terdapat banyak pengusaha makanan dan minuman. Sulawesi Utara, merupakan penghasil rumput laut yang besar, dengan demikian ketersediaan bahan baku mudah diperoleh dan memadai untuk pengolahan secara industri. Pengolahan minuman rumput laut yang terdiri dari sirup, sari dan serbuk instan, sangat mudah serta pemasarannya tidak sukar, dapat dijangkau oleh masyarakat kelas ekonomi atas maupun bawah. Tujuan program ini yaitu pengembangan lapangan usaha baru untuk meningkatkan ekonomi masyarakat serta meningkatkan nilai jual dan ekonomi rumput laut. Target khusus program IbM ini yaitu 1. Memproduksi minuman rumput laut memenuhi syarat sanitasi dan higienis, dikemas dan dilabel dengan baik/menarik; 2. Mengembangkan usaha industri minuman sirup rumput laut. Adapun metode pelaksanaan yang disepakati dengan mitra yaitu: 1. Masalah produksi minuman sirup rumput laut, pemasaran produk dan keuangan; 2. Metode untuk menyelesaikan masalah dengan penyuluhan, pelatihan, pendampingan dan evaluasi; 3. Prosedur kerja untuk menyelesaikan masalah melalui survei, penyuluhan, pelatihan, pendampingan, evaluasi, pelaporan dan jurnal.
PENGGUNAAN ASAP CAIR CANGKANG PALA (MYRISTICA FRAGRANS) SEBAGAI BAHAN PENGAWET PADA PENGOLAHAN IKAN TONGKOL (EUTHINNUS AFFINIS) ASAP Lala, Neil Steward; Pongoh, Jenki; Taher, Nurmeilita
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.5.1.2017.14905

Abstract

The purpose of this research is to determine the quality of the smoked mackerel tuna (Euthynnus affinis) processed with liquid smoke from nutmeg shell at various concentration (6, 8 or 10%) by drying for 6 hours or 8 hours. The tested parameters tested were moisture content, pH, organoleptic and texture. The lowest water content (36.25) and pH value (5.5) was obtained from a smoked fish that was dried for 8 hours using 10% liquid smoke. The organoleptic results of taste and smell indicated that the panelists preferred smoked fish which was made with 6% concentration of liquid smoke and dried for 6 hours. Keyword: Mackerel tuna, liquid smoke, nutmeg shell.   Ikan tonggkol (Euthynnus affinis) adalah salah satu jenis ikan yang banyak terdapat di perairan Indonesia terlebih khusus di daerah Sulawesi Utara. Pengolahan ikan menggunakan asap cair memiliki beberapa kelebihan antara lain, mudah diterapkan dan praktis penggunaannya polusi ke lingkungan dapat diperkecil dan yang paling penting senyawa karsinogen yang terbentuk dapat dieliminasi. Asap cair cangkang Pala dapat dijadikan solusi. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui penggunaan asap cair cangkang Pala dengan konsentrasi 6, 8, 10% terhadap mutu ikan tongkol (Euthynnus affinis) asap. Manfaat yang di peroleh dari penelitian ini ialah mengetahui penggunaan asap cair dari cangkang pala yang direndam pada ikan tongkol dengan konsentrasi berbeda-beda, dengan perlakuan perendaman pada konsentrasi 6, 8, 10% dengan pengeringan selama 6 jam dan pengeringan selama 8 jam. Dengan parameter uji Kadar air, pH, Organoleptik dan Tekstur. Hasil yang diperoleh dari ikan tongkol asap cair cangkang pala konsentrasi 6, 8, 10%. Kadar air dengan pengeringan selama 6 jam memiliki kadar air tertinggi kosentrasi 6%, 44,75%. 8%, 38,75%. 10%, 36,25%. Dan pengeringan selama 8 jam memiliki kadar air terendah. Hasil pH dari ikan tongkol asap cair cangkang Pala dengan konsentrasi 6%, 8%, 10%. Dengan pengeringan selama 6 jam memiliki nilai tertinggi yaitu konsentrasi 6%, 5,76. 8%, 5,65. 10%, 5,61. dan pengeringan selama 8 jam memiliki nilai terendah. Organoleptik kenampakan setelah dari uji direngking diperoleh konsentrasi 10% yang dikeringkan 6 jam memiliki nilai tertinggi yaitu 66,5 Untuk organoleptik bau setelah di uji rengking konsentrasi 6% dikeringkan selama 6 jam memiliki nilai tertinggi yaitu 59,5. Organoleptik rasa setelah dari uji rengking dengan konsentrasi 6% dengan lama pengeringan 6 jam memiliki nilai tertinggi 75,5. Dan untuk tekstur dimana konsentrasi 10 % dengan pengeringan 8 jam memiliki nilai terendah 0,28 dari konsentrasi lainnya. Kata Kunci: Ikan tongkol, asap cair, cangkang pala.
ANALISA KADAR AIR DAN UJI ORGANOLEPTIK PADA IKAN SELAR (SELAROIDES LEPTOLEPIS) DAN IKAN CAKALANG (KATSUWONUS PELAMIS L) Imbir, Yakobus Kostan; Onibala, Hens; Reo, Albert Royke
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.2.2.2014.6594

Abstract

Ikan Selar (Selaroides leptolepis) dan ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis L) termasuk jenis ikan yang bernilai ekonomis tinggi dan biasanya dipasarkan dalam bentuk segar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kadar air dan uji organoleptik ikan Selar dan ikan Cakalang segar yang dipasarkan di pasar Tradisional Bahu, Manado. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nilai Rata-rata kadar air ikan Selar pada hari pertama jam 06:00 72,5% dan pada jam 11:00 meningkat menjadi 73,1% sehingga pada jam 18:00 Wita terjadi penurunan kadar air 71,4%. Dan nilai Rata-rata kadar air ikan Cakalang pada hari kedua pada jam 06:00, 72,6% dan pada jam 11:00 Wita terjadi peningkatan 73,1% sedangkan pada jam 18:00 terjadi penurunan kadar air 71,6%. Hasil uji organoleptik ikan Selar dan ikan Cakalang pada kriteria mata, insang, daging dan perut, bau, tekstur. Menunjukkan bahwa pada jam 06:00 WITA kedua jenis ikan pelagis masih dalam keadaan segar, dan pada jam 11:00 WITA terjadinya perubahan suhu dan cahaya pasar yang kurang baik. Sehingga pada jam 18:00 WITA terjadinya penurunan tingkat kesegaran ikan yang sangat signifikan. Berdasarkan hasil analisa kadar air dan uji organoleptik ikan Selar dan ikan Cakalang menunjukkan dalam keadaan yang masih baik (segar).Kata kunci: Selar, Cakalang, kadar air, organoleptik. Manado.
BAKTERI ESCHERICHIA COLI PADA AIR PENCUCI IKAN DI PASAR BAHU MANADO Kapisa, Norce Elin; Timbowo, Semuel Marthen; Mewengkang, Hanny Welly
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.4.1.2016.6858

Abstract

Air merupakan media pelarut yang penting dalam pencucian ikan, sebab dengan pencucian ikan dapat mengurangi sampai menghilangkan bahan kimia ataupun mikro organisme berbahaya. Dengan mengetahui kualitas air yang digunakan dapat mencegah kontaminasi bakteri patogen berasal dari air terhadap produk oleh konsumen.Penelitian bertujuan untuk mengenal keberadaan bakteri pada E. coli pada air pencuci ikan di Pasar Tradisional Bahu Manado. Metode yang digunakan dalam penelitian yang dilakukan untuk mengungkapkan keterangan suatu fakta tertentu suatu terperinci dan sistematik. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah masalah mikrobiologi meliputi bakteri dan total E. coli pada air pencuci ikan. Perlakuan yang diberikan adalah air pencuci ikan dan air pencuci ikan diberi khlorin10% total bakteri tertinggi terdapat pada air pencuci ikan tanpa khlorin sebesar 2400. Dan terendah pada air pencuci ikan dengan khlorin 10 % ppm.Kata kunci: Escherichia coli, kualitas air, kontaminasi, pasar tradisional.
PENGOLAHAN IKAN CAKALANG (KATSUWONUS PELAMIS L) ASAP PRESTO Anti, Richard Suhartono; Onibala, Hens; Mongi, Eunike Louisje; Pongoh, Jenki; Palenewen, Joyce CV; Makapedua, Daisy Monica
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.7.1.2019.21364

Abstract

This research objective was to determine the sensory quality and microbial contamination (ALT) of skipjack fish products (Katsuwonus pelamis L) as soon as possible. The treatments tested were 30 and 60 minutes of smoking time, dipresto for 1 hour and then stored at 0, 5 and 10 days at room temperature. The results showed that the ALT value was very precise on the 10th day storage of 6.12 x 105 and the lowest value on day 0 was 4.84 x 102 while the 5th day of the highest highest 2.15 x 104 showed that the product was no longer a recommendation on day 10 because it has exceeded the limit of SNI microbial contamination which is 5.0 x 105. The results of sensory evaluation using hedonic scale 1- 9 indicated that the highest value of color 7.5, smell 7.4, taste 7.9, and texture texture 7.1. Penelitian ini bertujuan untuk melihat mutu organoleptik dan cemaran mikroba (ALT) pada produk ikan cakalang (Katsuwonus pelamis L) asap presto. Perlakuan yang diujikan adalah lama pengasapan 30 dan 60 menit, dipresto selama 1 jam kemudian disimpan pada 0, 5 dan 10 hari pada suhu ruang. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai ALT tertinggi ada pada penyimpanan hari ke 10 yaitu 6.12 x 105 dan nilai terendah pada hari ke 0 yaitu 4.84 x 102 sedangkan hari ke 5 mendapatkan nilai tertinggi 2.15 x 104 ini menunjukan produk tidak lagi direkomendasikan pada hari ke 10 karena telah melebihi batas cemaran mikroba SNI yaitu 5.0 x 105 . Hasil mutu organoleptik menunjukkan bahwa nilai tertinggi warna 7.5, bau 7.4, rasa 7.9, dan tekstur tekstur 7.1.
EKSTRAKSI KOLAGEN TULANG IKAN CAKALANG (KATSUWONUS PELAMIS) MENJADI GELATIN DENGAN ASAM KLORIDA Singkuku, Febri Triani; Onibala, Hens; Agustin, Agnes Triasih
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.5.3.2017.16846

Abstract

Protein of fish can be divided into 3 main groups i.e. myofibril protein which exist mostly in meat, sarcoplasmic protein present in the blood and stroma protein which can be found in the skin and fish bones. Fish waste can be processed into highly value product such as gelatin. Gelatin is the final product after collagen from the skin or animal bones were hydrolysis. The main resources for making gelatin was the skin or bones of cattle and pigs. The objective of this study was to obtain the gelatin from the skeletal bone of skipjack tuna which were extracted using varied concentration of hydrochloric acid (1, 3, and 5%) . This study used a complete randomized design. The data were analyzed by ANOVA (analysis of variance) using JMP software. The gelatin has a rendemen value varying between 2.5?16,25%, water content 7,75?9,75%, protein level 17,6?48,2% and fat content 0,6?3%. The results showed that the gelatin from the skeletal bone of skipjack tuna can be used as food additives (BTP) due to its high protein value, and can assist the reduction of organic waste from fishery industry due to its economical value. Protein ikan dapat dibagi menjadi 3 golongan yaitu protein myofibril yang terdapat pada daging, protein sarkoplasma yang ada pada darah dan protein stroma yang terdapat pada kulit dan tulang ikan (limbah ikan). Limbah ikan dapat diolah menjadi bahan yang memiliki daya jual seperti gelatin. Gelatin merupakan hasil hidrolisis kolagen dari kulit atau tulang hewan. Pada umumnya gelatin diolah dari kulit atau tulang sapi dan babi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gelatin dari tulang ikan cakalang yang diekstrak menggunakan larutan asam klorida(HCI) yang bervariasi (1, 3, dan 5%). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap. Data yang didapatkan dianalisis dengan uji ANOVA (analysis of variance) dengan bantuan software JMP. . Gelatin yang dihasilkan memiliki nilai rendemen bervariasi antara 2,5?16,25%, kadar air 7,75?9,75%, kadar protein 17,6?48,2% dan kadar lemak 0,6?3%. Hasil penelitian menunjukkan potensi tulang ikan cakalang yang diekstraksi menjadi gelatin memiliki nilai protein yang baik sehingga dapat dijadikan bahan tambahan pangan (BTP), dan memiliki nilai ekonomis tinggi sehingga dapat membantu proses pengurangan limbah organik industri perikanan
ANALISA KADAR AIR DAN UJI ORGANOLEPTIK PADA IKAN MUJAIR (OREOCHCROMIS MOSSAMBICUS) DI PASAR BRESEHATI Yapen, Musa; Kaseger, Bertie Elias; Taher, Nurmeilita
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.4.1.2016.6859

Abstract

Ikan mujair (Oreochromis mossambicus) termasuk jenis ikan yang bernilai ekonomis tinggi dan biasanya dipasarkan dalam bentuk segar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kadar air dan uji organoleptik ikan Mujair segar yang dipasarkan di pasar Bersehati Kota Manado. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen, yang dilakukan di Laboratorium Penanganan dan Pengolahan Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nilai Rata-rata kadar air ikan Mujair pada jam 09:00 76,45% dan pada jam 15:00 beratnya konstan menjadi 76,86% sehingga pada jam 21:00 WITA terjadi peningkatan kadar air ikan Mujair 77,88%. Dan nilai Rata-rata kadar air pada jam 09:00, 0,29 % dan pada jam 15:00 WITA terjadi peningkatan 1,02% sedangkan pada jam 21:00 terjadi peningkatan kadar air ikan Mujair 1,31 %. Hasil uji organoleptik Ikan Mujair pada kriteria Mata, Insang, Daging dan perut, Bau, Tekstur. Menunjukkan bahwa pada jam 09:00 WITA kedua jenis ikan Mujair masih dalam keadaan segar, dan pada jam 15:00 WITA terjadinya perubahan suhu yang kurang baik. Sehingga pada jam 21:00 WITA terjadinya penurunan tingkat kesegaran ikan yang sangat signifikan. Berdasarkan hasil analisa kadar air dan uji organoleptik ikan Mujair yang dipasarkan di Pasar Bersehati Kota Manado menunjukkan jenis ikan ini dalam keadaan yang masih baik (segar).Kata kunci: Ikan Mujair, Oreochcromis mossambicus, kadar air, uji organoleptik, pasar tradisional.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI AIR REBUSAN DAUN MANGROVE SONNERATIA ALBA Sendukh, Toar Waraney; Linggama, Gisella Aisyah; Kembaren, Meiliani Sembiring; Montolalu, Lita ADY
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.7.3.2019.23623

Abstract

tradisional untuk mengobati beberapa penyakit. Penggunaan daun, buah, kulit kayu, batang, akar dan buah dari beberapa spesies mangrove dan memiliki senyawa yang bersifat antibakteri. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri yang terdapat pada ekstrak daun mangrove Sonneratia alba untuk menghambat bakteri S. aureus danE. coli. Menggunakan metode ekstraksi infusa dengan cara direbus selama  10, 20, dan 30 menit setelah itu di rebus kembali dengan air api kecil kemudian di keringkan dalam oven dengan suhu 75-80°C dengan konsentrasi ekstrak 50.000 ppm dan 10.000 ppm, kontrol positif (kloramfenikol), dan kontrol negatif (aquades). Hasil pengujian antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak air rebusan daun mangrove Sonneratia albamempunyai aktivitas paling besar pada perlakuan 30 menit konsentrasi 100.000 ppm terhadap bakteri E. colididapatkan rata-rata zona hambat sebesar 11,7 mm. Sedangkan pada bakteri S. aureus, paling besar pada perlakuan 30 menit konsentrasi 50.000 mendapatkan rata-rata zona hambat sebesar 7,5 mm. 

Page 1 of 11 | Total Record : 103