cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Pesisir dan Laut Tropis mewadahi kajian-kajian ilmiah dalam bidang bio-ekologi pesisir dan laut, hidro-oesanografi dan morfologi pesisir, toksikologi dan farmasitika, kajian substansi kimiawi biota dan perkembangan bioteknologi kelautan lainnya, di lingkup pesisir dan laut di daerah tropis. Kajian ilmiah dimaksud bisa berupa hasil penelitian maupun critical review. Jurnal ini terbit 3 (tiga) kali dalam satu tahun (Februari, Juni, September). Diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Kelautan FPIK-UNSRAT
Arjuna Subject : -
Articles 163 Documents
NEMATOSIT DAN TIGA MACAM WARNA KARANG GALAXEA FASCICULARIS (LINNAEUS) DITEMUKAN DI TERUMBU KARANG PANTAI MALALAYANG KOTA MANADO Paruntu, Carolus P.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 2, No 1 (2014): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.2.1.2014.7343

Abstract

Nematosit dan tiga macam warna karang G. fascicularis (Gs, B dan Wt) ditemukan berlimpah di terumbu karang sekitar Nusantara Diving Center (NDC) lama di pantai Malalayang Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara, diteliti di Laboratorium Biologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi.  Tiga dari 25 nematosit yang dikenal dalam filum Cnidaria, diamati dalam tiga macam warna karang G. fascicularis, yaitu MpM, MbM dan HI.  Tipe MpM ditemukan paling dominan terdapat dalam bagian ujung tentakel normal dari tiga macam warna karang spesies ini.  MpM dari warna karang Wt memiliki bentuk kapsul nematosit yang lebih kecil dan tangkai-tangkai lebih pendek dibandingkan dengan yang ada pada warna karang Gs atau B, sedangkan yang dari Gs dan B adalah mirip.  Penelitian sekarang ini memperlihatkan bahwa tipe nematosit dan karakteristik tubuh dari tiga macam warna karang G. fascicularis adalah berbeda antara Gs atau B dengan Wt, sedangkan yang dari Gs dan B adalah mirip.  Penelitian sekarang ini mengusulkan bahwa ketiga macam warna karang  G. fascicuaris (Gs atau B dengan Wt) adalah spesies yang berbeda berdasarkan morfologi nematosit dan karakteristik tubuhnya.  Penelitian selanjutnya tentang dimensi dan komposisi nematosit, DNA dan pengaruh faktor lingkungan habitat terhadap bermacam warna karang G. fascicularis adalah penting untuk memastikan apakah mereka spesies yang sama atau berbeda.
PEMISAHAN JENIS PIGMEN KAROTENOID DARI KEPITING GRAPSUS SP JANTAN MENGGUNAKAN METODE KROMATOGRAFI KOLOM Silaa, Anisa ET; Paransa, Darus SJ; Rumengan, Anton P; Kemer, Kurniati; Rumampuk, Natalie DC; Manoppo, Hengky
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 7, No 2 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.7.2.2019.24247

Abstract

Grapsus sp crab has a greenish black body color and also known as stone crab. Crabs in the genus Grapsus sp have a swift movement, long legs, they do not have swimming legs and have small reddish purple or purple-orange color, claws on the body of this crab indicated the presence of pigments such as carotenoid pigments. Carotenoid pigments are one form of secondary metabolites which consist of carotene and xanthophyll groups. Carotenoid pigments are present in yellow, orange or orange red which are also found in crabs. Separation of carotenoid pigments can be done using the TLC method, High Performance Liquid Chromatography (HPLC) and Column Chromatography (CC). The purpose of this study was to determine the type of carotenoid pigment from male Grapsus sp crab extract using the Column Chromatography separation method. From the results of this study, the carotenoid pigment content in the 1,2 and 3 carapace was 46,85 ?g, 39 µg, and 33,14 µg. The carotenoid pigment concentrations in carapace extracts 1,2 and 3 are 25,38 µg/g, 23,4 µg/g and 5,11 µg/g. From the results of the separation using the column chromatography method, the type of carotenoid pigment identified from the carapace extract of Grapsus sp male is ?-Carotene, Ekinenon, Astaxantine, Kantaxantine and Astacen.Keywords: Grapsus sp, Carotenoid, Column ChromatographyKepiting Grapsus sp memiliki warna tubuh hitam kehijauan dan dikenal dengan nama kepiting batu. Kepiting dalam genus Grapsus sp memiliki gerakkan yang cekatan, mempunyai kaki yang panjang, tidak memiliki kaki renang dan memiliki capit berukuran kecil yang berwarna ungu kemerahan atau ungu-oranye warna pada tubuh kepiting ini mengindikasikan adanya kandungan pigmen seperti pigmen karotenoid. Pigmen karotenoid merupakan salah satu bentuk metabolit sekunder yang yang terdiri dari golongan karoten dan xantofil. Pigmen karotenoid  hadir dalam warna kuning, oranye, atau merah oranye, yang juga ditemukan pada kepiting. Pemisahan pigmen karotenoid dapat dilakukan dengan menggunakan metode KLT, Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) dan Kromatografi Kolom (KK). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis pigmen karotenoid dari ekstrak kepiting Grapsus sp Jantan dengan menggunakan metode pemisahan Kromatografi Kolom. Dari hasil penelitian ini, didapatkan kandungan pigmen karotenoid pada karapas 1,2 dan 3 adalah 46,85 µg 39 µg, dan 33,14 µg. Konsentrasi pigmen karotenoid pada ekstrak karapas 1,2 dan 3 adalah 25,38 µg/g, 23,4 µg/g dan 5,11 µg/g. Hasil pemisahan menggunakan metode pemisahan kromatografi kolom didapatkan ekstrak karapas kepiting Grapsus sp jantan memiliki jenis pigmen ?-Karoten, Ekinenon, Astaxantin, Kantaxantin dan Astasen.Kata kunci: Grapsus sp, Karotenoid, Kromatografi Kolom, 
UJI AKTIVITAS ANTIKOAGULAN EKSTRAK MANGROVE AEGICERAS CORNICULATUM Tangkery, Robert A. B.; Paransa, Darus Sa?adah; Rumengan, Antonius
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 1, No 1 (2013): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.1.1.2013.1278

Abstract

Mangrove telah lama dikenal oleh penduduk yang berada di daerah pesisirsebagai sumber bahan pangan, bangunan dan obat-obatan tradisional. Pada penelitianini digunakan batang dari tumbuhan bakau Aegiceras corniculatum yang diambil dipesisir pantai Desa Mokupa Kecamatan Tombariri untuk diamati secara laboratorikapakah Aegiceras corniculatum memiliki aktivitas antikoagulasi. Untuk memperolehekstrak kasar dari tumbuhan bakau Aegiceras corniculatum khususnya pada batang,digunakan metode ekstraksi secara maserasi.Pengujian dilakukan pada darah manusiayang diujikan pada 5 orang sukarelawan. Pengujian ini dilakukan pada masing-masingorang dimana dilakukan 5 pengujian setiap orangnya. Pengujian pertama yaitu pengujiandarah yang tidak diberi perlakuan apa-apa, pengujian kedua yaitu darah yangditambahkan dengan ekstrak Aegiceras corniculatum, pengujian ketiga yaitu darah yangditambahkan dengan EDTA, pengujian keempat yaitu darah yang ditambahkan EDTAdan ekstrak Aegiceras corniculatum, dan pengujian kelima yaitu darah yang ditambahkandengan etanol. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan secara ilmiah di laboratorium,apakah pemanfaatan dari tumbuhan bakau Aegiceras corniculatummemiliki aktivitasantikoagulan pada darahmanusia dan juga untuk membandingkan aktivitas koagulasidarah dari ekstrak mangrove Aegiceras corniculatum dengan kontrol.Dari hasil pengujiandi laboratorium, ekstrak Aegiceras corniculatum tidak memiliki aktivitas koagulasi,melainkan memiliki sifat antikoagulan atau anti pembekuan darah.
SEDIMENT REMOVAL ACTIVITIES OF THE SEA CUCUMBERS PEARSONOTHURIA GRAEFFEI AND ACTINOPYGA ECHINITES IN TAMBISAN, SIQUIJOR ISLAND, CENTRAL PHILIPPINES Bucol, Lilibeth; Cadivida, Andre; Wagey, Billy
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 6, No 1 (2018): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.6.1.2018.19454

Abstract

Teripang terkenal mengkonsumsi sejumlah besar sedimen dan dalam proses meminimalkan jumlah lumpur yang negatif dapat mempengaruhi organisme benthic, termasuk karang. Kegiatan pengukuran kuantitas pelepasan sedimen dua spesies holothurians (Pearsonuthuria graeffei dan Actinophyga echites) ini dilakukan di area yang didominasi oleh ganggang dan terumbu terumbu karang di Pulau Siquijor, Filipina. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P. graeffei  melepaskan sedimen sebanyak 12.5±2.07% sementara pelepasan sedimen untuk A. echinites sebanyak 10.4±3.79%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua spesies ini lebih memilih substrat yang didominasi oleh macroalgae, diikuti oleh substrat berpasir dan coralline alga
INVENTARISASI DAN KEPADATAN UDANG DAN KEPITING DI PERAIRAN MANGROVE Josia, Marbun; Kaligis, Erly; Kumampung, Deislie R.H; Darwisito, Suria; Sinjal, Chatrien A.L; Sinjal, Hengky
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 7, No 2 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.7.2.2019.23625

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis-jenis udang dan kepiting, menentukan kepadatan, morfometrik dan mengetahui parameter kualitas air (suhu, pH dan salinitas) di perairan mangrove Kelurahan Meras Kecamatan Bunaken, Kota Manado. Hasil penelitian, diperoleh 4 spesies udang genus Penaeus dengan total 251 ekor (?: 115 ekor dan ?: 136 ekor). Kepiting yang didapatkan 10 spesies dari tiga genus yaitu Uca (295 ekor), Portunus (12 ekor) dan Scylla (53 ekor). Total kepiting yang ditemukan 360 ekor (?: 203 ekor dan ?: 157 ekor). Kepadatan tertinggi udang P. monodon, yaitu 0,092 ind/m2 sedangkan terendah P. merguiensis, yaitu 0,055 ind/m2. Kepadatan tertinggi kepiting U. annulipes, yaitu 0,126 ind/m2 sedangkan terendah P. trituberculatus, yaitu 0,003 ind/m2. Pengukuran morfometrik tertinggi udang P. monodon yaitu ?: 19,9 cm, ?: 17,8 cm sedangkan terendah P. semisulcatus yaitu ?: 11,3 cm, ?: 10,5 cm dan morfometrik kepiting tertinggi pada S. serrata yaitu ?: 20,3 cm, ?: 16,1 cm sedangkan terendah U. annulipes yaitu ?: 3,7 cm, ?: 2,4 cm. Hasil pengukuran parameter kualitas air, meliputi: suhu (27-30 0C), derajat keasaman (pH 6,9-8) dan salinitas (27-33 ppt), Kata Kunci : Inventarisasi; Cruise method; Udang; Kepiting; MangroveThe stock taking and solidity of shrimp and crab in mangrove waterThe purpose of this research is to describe the types of shrimp and crab, to decide the solidity, to decide the morphometric and to find out the parameter of water quality (temperature, pH and salinity) in mangrove water at Meras, Bunaken subdistrict, Manado. The result of this research found 4 species of shrimps genus Penaeus with total 251 (?: 115 and ?: 136 ). The founded crabs are 10 species from three genus, they are Uca (295), Portunus (12) and Scylla (53). The total of founded crab are 360 (?: 203 and ?: 157). The highest solidity of shrimp is P. monodon that is 0,092 ind/m2 , the lowest is P. trituberculatus that is 0,003 ind/m2 . The highest morphometric measurement of shrimp is P. monodon that is ?: 19,9 cm, ?: 17,8 cm while the lowest is P. semisulcatus that is ?: 11,3 cm, ?: 10,5 cm and the highest crab morphometric is S. serrata that is ?: 20,3 cm, ?: 16,1 cm while the lowest is U. annulipes that is ?: 3,7 cm, ?: 2,4 cm. The parameter measurement result of water quality, include: temperature (27-30 0C), acidity degree (pH 6,9-8) and salinity (27-33 ppt). Keywords: Stock taking, Cruise method, Shrimp, Crab, Mangrove
PENGETAHUAN MASYARAKAT DAN PENDATAAN TERHADAP KOMPOSISI SAMPAH PESISIR DI PANTAI PASIR PADI KOTA PANGKALPINANG Sari, Eka; Pratiwi, Fika Dewi
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 8, No 1 (2020): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.8.1.2020.27558

Abstract

Coastal waste will have an impact on ecology, economy, safety and human health. High amount of waste can reduce the efficiency of Final Disposal Sites, so that it requires a better waste management concept in Pangkal Pinang City. In this study, we will reveal public knowledge of the garbage composition  and compare the collection of the waste composition on Saturdays and Sundays and in the Pangkal Pinang Coastal Beach. Determination of public knowledge using a questionnaire with a Likert scale. The Instrument validity and reliability test used the product moment correlation and the Cronbach's alpha method, respectively. Both tests were analyzed using Microsoft Excel. Waste samples were obtained from 10 sampling points and classified according to the type and weight of the waste. Instrument shows valid results and reabelitation with high to very high categories. The community stated that the very frequent and frequently found waste compositions were cigarette butts, plant parts and plastic candy wrappers, snack plastic wrap, plastic dropper, asoy plastic, plastic bottles, paper, respectively. The total waste found on Saturdays tends to be higher compared to Sundays. The most  collected of waste composition is organic rubbish i.e plant part and inorganic rubbish, i.e glass, plastic candy packaging and snack packs and plastic bottles. Sampling points 2, 10 and 1 are the most common rubbish found on Saturdays and Sundays. In order to maintain the cleanliness and comfort of Pasir Padi Beach, the society must have a high awareness to maintain the cleanliness of the beach environment and a good waste management system to reduce landfill waste at the final disposal site.Keywords: Pasir Padi Beach, Pangkalpinang, Coastal WasteAbstrakSampah pesisir akan berdampak bagi ekologi, ekonomi, keselamatan dan kesehatan manusia. Jumlah sampah tinggi dapat menurunkan efisiensi Tempat Pembuangan Akhir, sehingga memerlukan suatu konsep pengelolaan sampah lebih baik di Kota Pangkalpinang. Dalam penelitian ini, akan mengungkapkan pengetahuan masyarakat terhadap komposisi sampah serta membandingkan koleksi komposisi sampah pada hari Sabtu dan Minggu serta Pesisir Pantai Pasir Padi Kota Pangkalpinang. Penentuan pengetahuan masyarakat menggunakan kuisioner dengan skala Likert. Uji validitas instrumen menggunakan metode korelasi produk momen, sementara uji reabilitas menggunakan metode Cronbach?s alpha. Kedua uji dianalisis menggunakan Microsoft Excell. Sampel sampah diperoleh dari 10 titik sampling dan diklasifikasikan sesuai dengan jenis dan bobot sampah. Instrumen menunjukkan hasil yang valid dan reabelitasi dengan kategori tinggi sampai dengan sangat tinggi. Masyarakat mengemukakan bahwa kompoisi sampah yang sangat sering dan sering ditemukan masing-masing adalah puntung rokok, bagian tumbuhan dan plastik bungkus permen, plastik bungkus makanan ringan, pipet plastik, plastik asoy, botol plastik, kertas. Total sampah yang ditemukan pada hari Sabtu cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan hari Minggu.  Komposisi sampah yang paling banyak dikoleksi adalah sampah organik berupa bagian tumbuhan dan sampah anorganik, berupa: kaca, plastik bungkus permen dan bungkus makanan ringan serta botol plastik. Titik sampling  2, 10 dan 1 merupakan yang paling banyak ditemukan sampah di hari Sabtu dan Minggu. Dalam rangka menjaga kebersihan dan kenyamanan Pantai Pasir Padi, masyarakat harus mempunyai kesadaran tinggi untuk menjaga kebersihan lingkungan pantai serta adanya sistem pengelolaan sampah yang baik untuk mengurangi timbunan sampah di tempat pembuagan akhir. Kata Kunci: Pantai Pasir Padi, Pangkalpinang, Sampah Pesisir
FORAMINIFERA BENTIK PADA PADANG LAMUN DI KAWASAN PANTAI SEKITAR PULAU BUNAKEN SULAWESI UTARA Kombo, Feby GB; Mamuaja, Jane M; Rampengan, Royke M; Wagey, Billy Th; Sondakh, Calvyn FA; Pangkey, Henneke
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 7, No 3 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.7.3.2019.24468

Abstract

Benthic foraminifera lives on the seaflor and some of them are attached to plant stem. This organisms use pseudopodia to move. The study aims to describe the groups of foraminifera that live on leaves and seagrass sediments and provide information on the comparison of the number of benthic foraminifera genera in seagrass beds. The study was performed in Bunaken Island and during the study a number of 4593 specimens of benthic foraminifera has been identified and they are divided into specimen that lives on seagrass leaves (1097 specimens) and specimens that live on sediments (3496 specimens). The specimen was grouped in 16 genera and they were scattered in 2 stations within four sampling points. These genera are: Amphistegina, Calcarina, Coscinospira, Elphidium, Eponides, Lachlanela, Marginophora, Neorotalia, Operculina, Cleroplis, Planorbulina, Pseudorotalia, Quinqueloculina, Sorites, Spiroluculina, and Triloculina. Benthic foraminifera in seagrass leaves consist of 16 genera which are characterized by the genus Marginophora and Amphistegina and those live in substratum consist of 14 genera which was characterized by the genus Amphistegina.Keywords : Benthic Foraminifera, Seagrass beds, Bunaken Island
STUDI PERUBAHAN LAHAN PANTAI KOLONGAN DI KELURAHAN MALALAYANG DUA KOTA MANADO Mumu, Richard R.; Djamaluddin, Rignolda; Tarumingkeng, Adrie A.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 1, No 2 (2013): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.1.2.2013.2010

Abstract

TeridentifikasiPantai Kolongan telah dimanfaatkan secara intensif, salah satunya yaitu dengandibangunnya bangunan pelindung pantai T-groins.Efektivitas peran bangunan pelindung pantai T-groinsdalam meredamaksi faktor hidro-oseanografi serta menjalankan fungsinya dalam menangkapsedimen, merupakan faktor yang dikaji dalam studi ini. Diketahui bahwa faktorhidro-oseanografi sebagai agen geomorfik, merupakan kontributor terbesar dalamproses perkembangan suatu lahan pantai. Penelitian ini dilakukan dengan caramengamati kondisi lahan pantai dan menganalisis perubahan lahan pantai melaluipengamatan citra google sertamenganalisis karakteristik arus yang terjadi pada lahan yang diobservasi. Hasil penelitian menunjukkan T-groinsmelindungi lahan pantai dibelakangnya. Hal ini ditunjang dengan hasil pengukurankemiringan lereng yang menunjukkan keberadaan lereng pantai yang cenderungdatar danlandai. Berdasarkan hasil analisis granulometri sedimen, Pantai Kolongansementara atau sedang dalam proses pendeposisian sedimen. Data hasil pengukuran arus di Pantai Kolongan bervariasi di setiap titikpengamatan, dengan kisaran kecepatan arus 0,08 knot ? 0,47 knot saat pasang dan0,27 knot ? 0,55 knot saat surut.
ESTIMASI POTENSI KARBON PADA SEDIMEN EKOSISTEM MANGROVE DI PESISIR TAMAN NASIONAL BUNAKEN BAGIAN UTARA Verisandria, Rio; Schaduw, Joshian; Sondak, Calvyn; Ompi, Medy; Rumengan, Antonius; Rangan, Jety
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 6, No 1 (2018): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.6.1.2018.20567

Abstract

Ekosistem mangrove merupakan salah satu potensi yang menjadi parameter untuk dikaji dari ekosistem Blue Carbon. Mangrove memanfaatkan CO2 untuk proses fotosintesis dan menyimpannya dalam stok biomassa dan sedimen sebagai upaya mitigasi perubahan iklim. Perkiraan penyimpanan karbon pada ekosistem mangrove begitu besar sehingga penting untuk menghitung persentase estimasi simpanan karbon pada ekosistem mangrove terutama pada sedimen mangrove. Telah dilakukan penelitian untuk mengestimasi simpanan karbon pada sedimen ekosistem mangrove yang tumbuh di Pesisir Taman Nasional Bunaken bagian Utara. Pengambilan sampel sedimen mangrove dilakukan dengan teknik Purpose Sampling dan data yang diperoleh dianalisis dengan metode Loss on Ignition. Nilai rata-rata densitas sedimen tanah tertinggi terletak pada lapisan kedalaman 60-100 cm, yaitu pada bagian depan dan tengah masing-masing sebesar 0,78 g/cm3 dan 0,80 g/cm3. Pada titik bagian belakang terletak di kedalaman 0-30 cm yaitu 0,90 g/cm3. Nilai rata-rata persentase karbon tertinggi terletak pada lapisan kedalaman 60-100 cm, masing-masing bagian depan sebesar 20,61%; bagian tengah sebesar 22,01%; dan bagian belakang sebesar 16,18%. Nilai rata-rata simpanan karbon pada sedimen ekosistem mangrove di Pesisir Taman Nasional Bunaken bagian Utara tersebar di 5 lokasi, yaitu di Molas sebesar 126,61 Mg ha-1; di Meras sebesar 157,01 Mg ha-1; di Tongkaina sebesar 138,26 Mg ha-1; di Bahowo sebesar 40,25 Mg ha-1; dan di Tiwoho sebesar 136,54 Mg ha-1.
KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN POPULASI ROTIFER (BRACHIONUS ROTUNDIFORMIS) TANPA PEMBERIAN AERASI DAN MIKROALGA SEBAGAI PAKAN PADA MEDIA KADAR GARAM BERBEDA Fembri, Fransiskus; Kaligis, Erly; Rumengan, Inneke
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 5, No 1 (2017): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.5.1.2017.14996

Abstract

Rotifer sangat populer sebagai biokapsul bagi larva fauna laut, karena menjadi pentransfer nutrien, mikromolekul, asam amino dan asam lemak tak jenuh tingkat tinggi, mineral, vitamin dan antibiotik dari lingkungan hidup ke larva tanpa efek polutan. Metode penelitian yang dilakukan adalah percobaan kultur rotifer dalam kondisi laboratorium  dengan menggunakan media kadar garam berbeda (20, 25, 30 dan 35 ppt). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan populasi dan proporsi betina rotifer yang membawa telur pada setiap perlakuan. Hasil penelitian menunjukan laju pertumbuhan populasi tertinggi pada kadar garam 20 ppt menghasilkan peningkatan pertumbuhan populasi tertinggi pada hari ke-3 yaitu 0,66 sedangkan pada kadar garam lainnya yaitu 25 ppt, 30 ppt, dan 35 ppt nilai r yang diperoleh adalah 0,45 ; 0,26 ; 0,22.  Berdasarkan proporsi betina yang membawa telur hasil tertinggi dicapai pada perlakuan kadar garam 20 ppt yaitu 56.7% pada hari pertama, kemudian pada hari selanjutnya terjadi penurunan. Pada perlakuan kadar garam 20 ppt penurunan terjadi karena pertumbuhan populasi yang tinggi tidak disertai dengan jumlah individu yang membawa telur, sehingga pertumbuhan pada kadar garam 35 ppt lebih tinggi mulai pada hari ke-2 hingga hari ke-5.

Page 1 of 17 | Total Record : 163