cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP
ISSN : 23374306     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ini diterbitkan oleh Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Sam Ratulangi sejak 2012 dan terbit dua kali setahun (Juni dan Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 115 Documents
PERBEDAAN UMPAN DAN WAKTU PENGOPERASIAN PANCING DASAR TERHADAP HASIL TANGKAPAN DI TELUK MANADO Manahonas, Febrik Stopers; Luasunaung, Alfret; Manoppo, Lefrand; Budiman, Johnny; Manu, Lusia
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.4.2.2019.24228

Abstract

One of the important economic resources of North Sulawesi waters is demersal fish, such as deep sea red snapper. These fish live around the bottom with complex topography, so that not all fishing gears can be operated in that area, except bottom hand line. This fishing gear has been widely used by coastal communities in North Sulawesi to catch demersal fishes, since it is simple, cheap, and easy to manage with a small boat.  Although the gear?s design has evolved over centuries, there is still potential to develop for environmental safety and sustainability. The objective of this research was to study the effect of different baits and operation times on the fish catch and identify the fish species. This research was done in Manado Bay waters, North Sulawesi, on July to October 2018, using an experimental method. The baits were mackerel fish (Decapterus sp), frigate tuna (Auxis rochii), squid (Loligo sp), and anchovies (Stolephorus sp). This fishing gear was operated in the morning and afternoon. The study applied randomized block design. Results found 67 fish consisting of 5 species. ANOVA showed that bait types gave significant effect on the fish catch, but operation time did not significantly affect the catch.  BNT test revealed that the use of mackerel bait did not give significantly different effect on fish catch from that of squid bait, but very significantly different effect on the fish catch from that of frigate tuna bait and anchovy bait.ABSTRAKSalah satu sumberdaya ekonomis penting perairan Sulawesi Utara adalah ikan demersal seperti kakap merah laut dalam. Jenis-jenis ikan ini hidup di dasar perairan dengan topografi yang kompleks, sehingga tidak semua alat tangkap dapat dioperasikan di daerah tersebut, kecuali alat tangkap pancing dasar. Pancing dasar merupakan salah satu alat tangkap yang umum digunakan oleh masyarakat nelayan untuk menangkap ikan demersal, karena konstruksinya sederhana, relatif murah dan mudah dioperasikan dengan kapal ukuran kecil. Walaupun alat tangkap ini telah berkembang sejak lama, tetapi efisiensi penangkapan ikan dan selektivitasnya masih memiliki potensi pengembangan untuk memenuhi kriteria ramah lingkungan dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengharuh jenis umpan dan waktu operasi terhadap hasil tangkapan pancing dasar, dan mengidentifikasi jenis-jenis ikan yang tertangkap. Penelitian ini dikerjakan di perairan Teluk Manado pada bulan Juli ? Oktober 2018, yang didasarkan pada metode eksperimental fishing. Umpan yang digunakan terdiri dari ikan layang (Decapterus sp), tongkol (Auxis rochii), cumi-cumi (Loligo sp), teri (Stolephorus sp) yang tersedia selama penelitian.  Alat tangkap ini dioperasikan pada pagi hari dan sore hari. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok. Hasil tangkapan total sebanyak 67 ekor, yang terdiri dari 5 spesies ikan.  Analisis sidik ragam menunjukan bahwa perbedaan jenis umpan pada pancing dasar memberikan pengaruh yang nyata terhadap hasil tangkapan. Tetapi perbedaan jam operasi  tidak berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan. Hasil uji BNT untuk perlakuan menunjukkan bahwa penggunaan umpan layang tidak berbeda nyata dengan umpan cumi, tetapi berbeda sangat nyata dengan umpan tongkol dan umpan teri.
MONITORING JENIS IKAN PADA MODUL TERUMBU BUATAN DI SELAT LEMBEH KELURAHAN MAWALI KECAMATAN LEMBEH SELATAN KOTA BITUNG (FISH SPECIES MONITORING ON ARTIFICIAL REEF MODULES IN LEMBEH STRAIT, MAWALI VILLAGE, SOUTH LEMBEH DISTRICT OF BITUNG) Thalib, Syahrul A.; Budiman, Johnny; Reppie, Emil
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol 2, No 5: Juni 2017
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.5.2017.15026

Abstract

Coral reefs are communities of organisms that live at the bottom of shallow seas of tropics area. Degradation of coral reefs in the waters of Pulau Lembeh, Bitung caused by fishing activities were not responsible. However, there have been attempts to build artifial reefs since 2014 to protect natural coral reefs as well as repairing the damaged coral reefs. It is necessary to hold monitoring association of fish species target on artificial reef has been built with Acropora sp. trasnplantated. This research was conducted in Mawali Village, Lembeh Strait, on August - December 2016; done with descriptive method; and the data were analyzed through the diversity and richness index. Results of the analysis showed that the diversity of species classified as moderate with a value of 2.85; and species richness is high with a value of 6.09. This figure reflects the dominance of Cheilodipterus isostigmus species to other species in terms of number. Oceanography parameters such as temperature (26,99 ? 28,97°C), salinity (32 ? 33,2 ppt), dissolved oxygen (10,2 ? 12,4 mg/l), acidity (7,3 ? 8,4 pH), dissolved density (30,4 ? 31,1 g/l ) and level of turbidity (1,2 ? 2,6 NTU) in natural conditions support the development of the association of fish around the artificial reefs. Keywords: Monitoring, Fish Species Target, Artificial Reefs, Lembeh Strait, Mawali Village ABSTRAK Terumbu karang merupakan komunitas organisme yang hidup di dasar laut dangkal daerah tropis. Degradasi terumbu karang di perairan Pulau Lembeh, Kota Bitung disebabkan oleh aktifitas perikanan yang tidak bertanggungjawab. Namun telah ada upaya pembangunan terumbu buatan sejak tahun 2014 untuk melindungi serta memperbaiki terumbu karang alami yang rusak. Maka dipandang perlu mengadakan monitoring asosiasi ikan target pada terumbu buatan yang telah dibangun dengan karang yang ditransplantasikan jenis Acropora sp.  Penelitian ini dilakukan di Selat Lembeh Kelurahan Mawali pada bulan Agustus ? Desember 2016; dikerjakan dengan metode deskriptif; dan data dianalisis melalui indeks keragaman dan indeks kekayaan.  Hasil analisis menunjukan bahwa keanekaragaman spesies tergolong sedang dengan nilai 2,85; dan kekayaan spesies tergolong  tinggi dengan nilai 6,09. Hal ini menggambarkan adanya dominasi spesies Cheilodipterus isostigmus terhadap spesies lain dari segi jumlah. Parameter oceanografi seperti suhu (26,99 ? 28,97°C), salinitas (32 ? 33,2 ppt), oksigen terlarut (10,2 ? 12,4 mg/l), derajat keasaman (7,3 ? 8,4 pH), kepadatan terlarut (30,4 ? 31,1 g/l ), dan tingkat kekeruhan (1,2 ? 2,6 NTU) dalam kondisi alami menunjang perkembangan asosiasi ikan di sekitar terumbu buatan. Kata kunci : Monitoring, Jenis Ikan Target, Terumbu Buatan, Selat Lembeh, Kelurahan Mawali
STUDI KETERTARIKAN IKAN DI KERAMBA JARING APUNG TERHADAP WARNA CAHAYA LAMPU DI PERAIRAN SINDULANG I, KECAMATAN TUMINTING, KOTA MANADO Urbasa, Felix; Kaparang, Frangky E.; Kumajas, Henry J.
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol 2: Edisi Khusus: Januari 2015
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.0.2015.7020

Abstract

Pemanfaatan cahaya sebagai alat bantu penangkapan ikan sesungguhnya sangat berkaitan dengan upaya nelayan dalam memahami perilaku ikan dan merespon perubahan lingkungan yang ada disekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari ketertarikan ikan terhadap warna cahaya lampu yang berbeda, mempelajari jenis ikan dan bentuk gerombolan ikan yang tertarik pada warna cahaya lampu tertentu. Penelitian ini dilakukan di Perairan Sindulang I, Kecamatan Tuminting Kota Manado. Pengamatan pada keramba jaring apung dilakukan secara langsung dan dengan menggunakan kamera. Untuk mengukur intensitas cahaya di dalam air maka, sensor lux meter dimasukkan dalam tabung kecil ukuran tinggi 5 cm lalu dicelupkan kedalam air sedalam 4 cm. Pada penelitian ini digunakan empat lampu LED modifikasi bawah laut. Ikan lebih tertarik pada warna putih dan hijau dibandingkan dengan warna biru dan merah. Warna yang paling disukai adalah warna putih.
STUDI TENTANG DISTRIBUSI SUHU DAN SALINITAS PADA LOKASI PENANGKAPAN IKAN LAYARAN DI TELUK AMURANG Kasim, Kasim; Polii, Janny F.; Masengi, K. W.A.
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol 1: Edisi Khusus: November 2014
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.0.2014.6089

Abstract

Perairan Teluk Amurang yang terletak di Kabupaten Minahasa Selatan, merupakan salah satu daerah perikanan yang potensial bagi masyarakat Sulawesi Utara.Nelayan melakukan penangkapan ikan hanya berdasarkan pengalaman untuk menentukan daerah penangkapan sehingga mereka memerlukan biaya yang besar dan waktu yang lama.Daerah penangkapan ikan layaran di perairan Teluk Amurang seyogianya dapat diketahui dengan memperhatikan parameter oseanografi, seperti suhu permukaan laut.Hal ini disebabkan karena setiap spesies ikan memiliki kisaran suhu tertentu yang sesuai dengan kebiasaan hidupnya yang dapat ditoleransi oleh tubuhnya sehingga dapat mempengaruhi penyebaran ikan di suatu perairan.Musim penangkapan ikan layaran di perairan Teluk Amurang masih belum pasti setiap tahunnya. Selain adanya tanda-tanda alami yang dapat diketahui oleh nelayan tentang  musim penangkapan , faktor oseanografi yaitu tentang distribusi suhu dan salinitas dilokasi penangkapan perlu diketahui.Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah :1). Menentukan distribusi suhu dan salinitas pada lokasi penangkapan ikan layaran. 2). Menentukan distribusi suhu dan salinitas secara vertical dan horizontal sampai kedalaman 10 meter pada lokasi penangkapan ikan layaran. Ada beberapa titik di perairan Teluk Amurang yang merupakan lokasi penangkapan ikan layaran.Lokasi ini sudah diketahui oleh masyarakat nelayan secara turun temurun. Musim penangkapan ikan layaran dapat diketahui dengan adanya tanda-tanda diantaranya  keberadaanjenis ikan untuk umpan yaitu ikan peda cina (moon fish). Penelitian tentang studi distribusi suhu dan salinitas ini di laksanakan pada lima stasiun dan masing ? masing stasiun ada lima titik lokasi penngkapan  yang ditentukan dengan koordinat. Ikan marlin mempunyai 3 jenis spesies, yaitu ikan marlin hitam, ikan marlin biru, dan ikan marlin loreng. Ikan ini memiliki nama lokal di beberapa daerah di Indonesia, seperti : Layaran, Setuhuk hitam , Meka, Setuhuk, Tumbuk dan Setuhuk. Masyarakat di sekitar teluk Amurang menyebut ikan ini dengan ikan layaran.Penangkapan ikan ini menggunakan alat tangkap tonda dan long line.Klasifikasi ikan layaran (Istiophorus sp.) (Saanin 1984) adalah sebagai berikut : Filum : Chordata , Sub filum : Vertebrata , Kelas : Pisces , Sub kelas : Teleostei , Ordo : Percomorphi, Sub ordo : Scombroidea , Famili : Istiophoridae  , Genus : Istiophorus , Spesies : Istiophorus platypterus. Profil suhu hasil pengukuran di perairan Teluk Amurang selama 5 hari secara umum memperlihatkan berkurangnya suhu dari kedalaman 1 sampai 10 meter tetapi tidak mengalami perubahan yamg signifikan.Nilai salinitas hasil pengukuran di perairan Teluk Amurang selama 5 hari secara umum memperlihatkan meningkatnya salinitas dari kedalaman 1 sampai 10 meter tetapi tidak mengalami perubahan yang besar. Nilai suhu terendah terdapat pada stasiun 5 di kedalaman 10 meter yaitu 30,33 °C dan suhu tertinggi terdapat pada stasiun 2 di kedalaman 1 meter yaitu 30,87 °C. Nilai salinitas terendah terdapat pada stasiun 1 di kedalaman 1 meter yaitu 36,54 ? dan salinitas tertinggi terdapat pada stasiun 4 dan 5 di kedalaman 10 meter yaitu 38,10 ?.
KAJIAN POLA ARUS DI DAERAH PENANGKAPAN BAGAN APUNG DI DESA TATELI WERU Tulengen, Donny; Kalangi, Patrice N.I.; Patty, Wilhelmina
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol 1, No 2: Desember 2012
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.2.2012.1102

Abstract

Salah satu faktor yang harus diketahui dalam pemanfaatan sumber daya ikan, adalah parameter oseanografi, dan arus merupakan parameter yang banyak mendapat perhatian. Akan tetapi data mengenai arus permukaan perairan Desa Tateli Weru khususnya di daerah pengoperasian bagan apung belum tersedia, sehingga perlu dilakukan penelitian untuk melihat pergerakan arus permukaan saat pasang dan surut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan arah dan kecepatan arus pasut, serta  memetakan pola arus pasut sekitar daerah penangkapan bagan apung di perairan desa Tateli Weru. Secara spesifik pengukuran arus dilakukan dengan menggunakan cara Eularian, sedangkan untuk mengukur pasut menggunakan cara pengamatan langsung pada palem pasut.
KAJIAN ASPEK TEKNIS UNIT PENANGKAPAN KAPAL POLE AND LINE YANG BERPANGKALAN DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA BITUNG (STUDY OF TECHNICAL ASPECTS OF POLE AND LINE FISHING CATCHING UNIT AT BITUNG OCEANIC FISHING PORT) ., Sutrisno; Sompie, Meta S.; Polii, Janny F.
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol 2, No 6 (2017): Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.6.2017.17008

Abstract

The objective of the research is to know technical aspect of pole and line fishing unit based at Bitung Oceanic Fishing Port. This thesis is expected to be an information for of Indonesia people especially North Sulawesi to efforts increase and development of pole and line fishing units. The method used in this thesis is descriptive method of technical aspects such as ship size, number of trips, number of anglers, number of catches. Data were analyzed descriptively by comparing technical variables that influence the catch, then the analysis result presented in graph. In general this research is a non hypothesis so that in the step of his research does not need to formulate of hypothesis. From the data of the research of the pole and line fishing gear in the Bitung Oceanic Fishing Port, where is the main ship size varies with length (L) from 25.37 to 28.75 m, breadt (B) from 4.50 to 5.17 m, depth (D) from 2.20 to 2.65 m, and length overall (Loa) from 30.55 to 33.15 m, and the size of fishing gear with the length of rod used varies also between 2.15 to 3.15 m, made entirely of bamboo material with a diameter of 3 cm. The length of the rope used varies from 2.50 to 3.10 m, made of nylon material, used fishing rods numbered 4 to 6, made of tin, the number of fishing gear that was taken each ship varies between 50 to 100 pieces. The number of catches from January to November 2016 skipjack (katsuwonus pelamis) of 7,922,288 kg with 218 trip trips, carried out by 8 ships with 20 to 25 persons.Keywords: ship size, number of trips, number of bait, number of anglers and catch ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengetahui aspek teknis unit penangkapan kapal pole and line yang berpangkalan di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung. Skripsi ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi bagi rakyat Indonesia khususnya Sulawesi Utara untuk kemudian dilakukan usaha peningkatan dan pengembangan unit penangkapan kapal pole and line.  Metode yang digunakan dalam Skripsi ini adalah metode deskriptif yaitu aspek teknis seperti ukuran kapal, jumlah trip, jumlah pemancing, jumlah hasil tangkapan dan ketersediaan umpan. Data dianalisis secara deskriptif yaitu dengan membandingkan variabel-variabel teknis yang mempengaruhi hasil tangkapan, selanjutnya hasil analisis disajikan dalam bentuk grafik. Pada umumnya penelitian ini merupakan penelitian non hipotesis sehingga dalam langkah penelitiannya tidak perlu merumuskan hipotesis. Dari data hasil penelitian mengenai alat tangkap kapal pole and line yang berpangkalang di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung, dimana ukuran utama kapal bervariasi dengan ukuran panjang (L) berkisar antara 25,37 ? 28,75 m, Lebar (B) berkisar antara 4,50 ? 5,17 m, Dalam (D) berkisar antara 2,20 ? 2,65 m, dan panjang keseluruhan (Loa) berkisar antara 30,55 ? 33,15 m, dan ukuran alat tangkap dengan panjang joran yang digunakan bervariasi juga antara 2,15-3,15 m, terbuat seluruhnya dari bahan bambu dengan diameter pangkal 3 cm. Panjang tali yang digunakan bervariasi dari 2,50-3,10 m, terbuat dari bahan nilon, mata pancing yang digunakan berukuran nomor 4-6, terbuat dari besi yang dilapisi timah, jumlah alat tangkap yang dibawa setiap kapal bervariasi antara  50-100 buah. Jumlah hasil tangkapan dari bulan Januari s/d November 2016 adalah: ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) sebanyak 7.922.288 kg dengan jumlah trip 218 trip, yang dilaksanakan oleh 8 buah kapal dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 20 - 25 orang.Kata Kunci : Ukuran Kapal, Jumlah Trip, Jumlah Umpan, Jumlah Pemancing dan Hasil Tangkapan.
KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN LOBSTER DENGAN ALAT TANGKAP JERAT DI PERAIRAN KAMPUNG AMDUI, DISTRIK BATANTA SELATAN, KABUPATEN RAJA AMPAT Womsiwor, Thimotius M.; Sompie, Meta S.; Pamikiran, Revols D.Ch.
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol 2, No 1: Juni 2015
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.2.1.2015.8335

Abstract

Perairan Kabupaten Raja Ampat dikenal memiliki hamparan terumbu karang yang cukup luas dan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Salah satu sumberdaya perikanan yang dihasilkan dari perairan tersebut adalah udang barong (Panulirus sp.). Alat tangkap tradisional yang umum digunakan nelayan menangkap udang di perairan Kampung Amdui, Distrik Batanta Selatan, Kabupaten Raja Ampat adalah jerat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis lobster yang tertangkap dan komposisi ukurannya. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei yang didasarkan pada studi kasus. Hasil tangkapan jerat selama penelitian adalah empat jenis lobster; yaitu lobster batik (Panulirus homorus), lobster batu (Panulirus spenicillatus), lobster bambu (Panulirus versicolor), dan lobster mutiara (Panulirus ornatus); dengan kisaran panjang karapaks adalah 11,3?18,0 cm. Analisis hubungan panjang berat menunjukkan bahwa lobster mutiara, lobster bambu dan lobster batu memiliki nilai b lebih besar 3, sedangkan lobster batik memiliki nilai b lebih kecil dari 3. Kata-kata kunci: lobster, alat tangkap jerat, komposisi ukuran, Raja Ampat
ASOSIASI IKAN PADA DUA BENTUK TERUMBU BUATAN DI PERAIRAN PANTAI MALALAYANG, KOTA MANADO, SULAWESI UTARA Anggaseng, Yulita; Patty, Wilhelmina; Reppie, Emil
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol 1, No 6: Desember 2014
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.6.2014.6933

Abstract

Wilayah pesisir Kota Manado terus mengalami perubahan karena adanya reklamasi pantai; dan pembangunan yang sedang dilakukan telah memberi dampak negatif terhadap keberadaan dan kualitas terumbu karang di area tersebut. Terumbu buatan dapat digunakan untuk rehabilitasi ekosistem perairan yang telah rusak. Penelitian ini bertujuan mempelajari struktur asosiasi ikan dan mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan di sekitar terumbu buatan tersebut. Penelitian dilakukan di perairan pantai Malalayang, yang didasarkan pada metode deskriptif. Empat unit terumbu buatan blok beton ditempatkan di dasar perairan (2 unit berbentuk balok kubus dan 2 unit berbentuk balok trapesium). Kehadiran jenis ikan di terumbu buatan diamati dengan teknik underwater visual census (UVC) oleh dua orang penyelan  SCUBA setiap minggu selama sebulan. Jumlah total ikan yang berasosiasi di terumbu buatan ada 225 individu; terdiri dari 12 famili, 18 genus, dan 29 spesies. Indeks keragaman relatif sama di antara kedua bentuk terumbu buatan (masing-masing 2,55 dan 2,49); indeks kekayaan masing-masing 4,93 dan 4,35. Hal ini menunjukkan bahwa kelimpahan ikan di terumbu buatan blok beton di perairan pantai Malalayang diklasifikasikan sedang.
DESAIN DAN PARAMETER HIDROSTATIS KASKO KAPAL FIBERGLASS TIPE PUKAT CINCIN 30 GT DI GALANGAN KAPAL CV CIPTA BAHARI NUSANTARA MINAHASA SULAWESI UTARA Kantu, Linda; Kalangi, Patrice N.I.; Polii, Janny F.
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol 1, No 3: Juni 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.1.3.2013.1397

Abstract

Kapal pukat cincin yang terbuat dari fiberglass semakin banyak digunakan. Akan tetapi informasi karakteristik kapal demikian yang dioperasikan di perairan Sulawesi Utara belum banyak tersedia. Penelitian ini dilakukan di galangan kapal CV Cipta Bahari Nusantara Minahasa untuk menggambarkan kembali bentuk kasko kapal pukat cincin 30 GT dan untuk mendapatkan karakteristik hidrostatis kapal tersebut dengan menggunakan program aplikasi Free!Ship. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapal ini cenderung memiliki bentuk lebih tinggi dan panjang dibanding kapal pukat cincin kayu, dan parameter hidrostatis berubah seiring bertambah draft kapal. Displacement, Aw, LCF dan koefisien bentuk akan semakin besar dengan bertambah draft, sedangkan LCB, KMl dan KMt akan menurun seiring bertambah draft kapal.
EFISIENSI TEKNIS DAN EKONOMIS USAHA PENANGKAPAN PUKAT CINCIN MENURUT GROSS TONNAGE KAPAL DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI TUMUMPA MANADO, SULAWESI UTARA (TECHNICAL AND ECONOMICAL EFFICIENCY OF PURSE SEINE FISHER BASED ON TONNAGE SHIP IN TUMUMPA FISHING PORT OF MANADO, NORTH SULAWESI) Mananggel, Helwik; Masengi, Kawilarang W.A.; Kayadoe, Mariana
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol 3, No 2 (2018): Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.3.2.2018.20662

Abstract

Purse seine is well are better known in North Sulawesi as "soma pajeko". Soma pajeko is an effective fishing gear to catch schooling pelagic fishes. The purpose of this study is to analyze the technical efficiency and economical efficiency of purse seine 15-30 GT, 31-45 GT, and 46-60 GT, and to know which ship size is good to develop. Data collection was done by observation directly in the field, interview with fisherman and business owner, visited PPP Tumumpa office. The data samples are of production, cost and income data for 5 years (2013-2017). The number of ship samples for each group size was five ships. The results of the three groups showed that the average production per trip per vessel per year is 5,546 kg, the average production per GT per vessel per year is 11,323 kg, the average production per worker per vessel per year is 13,444 kg, and the average production per width of net per ship per year is 28 kg. Catch to break event shows the smallest percentage of profit on KM. Galilea-02 is 1.55% and the highest in KM. Betlehem-02 is 16.44%. From the three groups that the average revenue per trip per vessel per year is Rp. 105,802,947, the average profit per trip per vessel per year is Rp. 41,990,226, the largest average RC-Ratio these three groups for 5 years is 6.25%, the average variable cost per production per vessel per year is the largest Rp. 8,380 average fixed costs per production per vessel per year is Rp. 2,188, and the largest average total cost per vessel per vessel per year is Rp. 10,568. A technical efficiency analysis result, from 2013-2017 GT 15-30 groups has the largest production per trip per ship per year with 5,546 kg. In group GT 15-30 KM. Bethlehem-02 has an average production value of 1,032,479 Kg with a value of 62,787 CTBE. Economic efficiency analysis results, from 2013-2017 GT group 15-30 has the average value per trip per vessel per year is the largest of Rp. 41,990,226. KM. Betlehem-02 with a payback of 6.41% per annum.Keywords: technical efficiency, economical efficiencyABSTRAKPukat cincin yang lebih dikenal di Sulawesi Utara dengan nama ?soma pajeko?. Soma pajeko adalah alat tangkap yang efektif untuk menangkap ikan-ikan pelagis yang sifatnya bergerombol  (schooling) dan hidup di permukaan laut. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis efisiensi teknis dan efsiensi ekonomis  pada kapal pukat cincin berukuran 15-30 GT, 31-45 GT, dan 46-60 GT dan untuk mengetahui ukuran kapal manakah yang baik untuk dikembangkan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan secara langsung di lapangan, wawancara dengan nelayan dan pemilik usaha, mengunjungi kantor PPP Tumumpa. Data yang di perlukan yaitu data produksi, biaya dan pendapatan selama kurun waktu 5 tahun (2013-2017). Jumlah kapal yang akan dijadikan sampel menurut ukuran yaitu ukuran 15-30 GT sebanyak 5 unit, ukuran 31-45 GT sebanyak 5 unit, dan ukuran kapal 46-60 sebanyak 5 unit. Hasil penelitian dari ketiga kelompok bahwa rata-rata produksi per trip per kapal per tahun terbesar yaitu 5.546 kg, rata-rata produksi per GT per kapal per tahun terbesar yaitu 11.323 kg, rata-rata produksi per tenaga kerja per kapal per tahun terbesar yaitu 13.444 kg, rata-rata produksi per luas jaring per kapal per tahun terbesar yaitu 28 kg. Cath to break even menunjukan presentase keuntungan terkecil pada KM. Galilea-02 yaitu 1,55% dan paling tinggi pada KM. Betlehem-02 sebesar 16,44%. Dari ketiga kelompok bahwa rata-rata pendapatan per trip per kapal per tahun terbesar yaitu Rp. 105.802.947, rata-rata keuntungan per trip per kapal per tahun terbesar yaitu Rp. 41.990.226, hasil analisa rata-rata RC-Ratio terbesar dari ketiga kelompok ini selama 5 tahun yaitu 6,25%, rata-rata biaya variable per produksi per kapal per tahun terbesar yaitu Rp. 8.380 rata-rata biaya tetap per produksi per kapal per tahun terbesar yaitu Rp. 2.188 dan rata-rata biaya total per produksi per kapal per tahun terbesar yaitu Rp. 10.568. Hasil analisis efisiensi teknis, dari Tahun 2013-2017 kelompok GT 15-30 memiliki jumlah produksi per trip per kapal per tahun  paling besar dengan jumlah 5.546 kg. Pada kelompok GT 15-30 KM. Betlehem-02 memiliki nilai rata-rata produksi sebesar 1.032.479 Kg dengan nilai CTBE 62.787. Hasil analisis efisiensi ekonomis, dari Tahun 2013-2017 kelompok GT 15-30 memiliki nilai rata-rata keuntungan per trip per kapal per tahun yang terbesar  yaitu Rp. 41.990.226. KM. Betlehem-02 dengan pengembalian modal sebesar 6,41 % per tahun.Kata-kata kunci : efisiensi teknis, efisiensi ekonomis

Page 1 of 12 | Total Record : 115