cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL MIPA UNSRAT ONLINE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
JMUO mempublikasikan artikel-artikel hasil penelitian atau review di bidang MIPA (matematika, biologi, kimia, dan fisika)
Arjuna Subject : -
Articles 238 Documents
KAPASITAS OVARIUM AYAM PETELUR AKTIF Salang, Frisandra
Jurnal MIPA Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.4.1.2015.6913

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kapasitas ovarium ayam petelur dengan menggunakan kontrol ayam petelur (Layer). Penelitian ini menggunakan15 ekor ayam petelur afkir yang berumur ± 1,5 tahun dan 2 ekor ayam aktif dilakukan sampling secara random dan dilakukan pembedahan pada bagian rongga perut (Abdominal.) Pengamatan dilihat dari keberdaan ovarium yang ditinjau dari berat dan jumlah ovarium, folikel, dan oosit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan ovarium ayam afkir dengan ayam aktif tdak berbeda jauh. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ayam afkir (culling) menunjukkan keberadaan ovarium yaitu berat ovarium, folikel, dan oosit tidak jauh berbeda dengan ayam aktif (Layer)  dalam masa produksi.The aim of this research was to obtain knowledge about the ovary capacity at layer using layer as the control. This research used 15 ± 1,5 years old culled layers. Random sampling and abdominal surgery were  done on 2 active layers.The observation was done on the exsistence of ovary based on its weight and amount, follicle and oocyte. The result show?s that the existence ovary of culled and active layers didn?t have too many differences. It is conclude that ovary of culled layer, such as weight, follicle, oocyte, were simllar to the ovary of active layer in production period.
KINETIKA FOTODEGRADASI REMAZOL YELLOW MENGGUNAKAN ZEOLIT A TERIMPREGNASI TIO2 Titdoy, Suhardi; Wuntu, Audy D.; Kamu, Vanda S.
Jurnal MIPA Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.5.1.2016.11192

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang kinetika fotodegradasi remazol yellow dengan menggunakan zeolit A terimpregnasi TiO2. Jumlah TiO2 divariasikan dalam perbandingan berat zeolit A : TiO2 sebesar 1:0.4, 1:0.6, 1:0.8, 1:1, 1:1.2, dan 1:1,4 g/g. Eksperimen kinetika dilakukan melalui penentuan konsentrasi remazol yellow yang tersisa setelah interaksi zeolit A : TiO2 dengan larutan remazol yellow yang disinari UV pada waktu 10, 20, 30, 40, 50, 60, dan 90 menit. Selanjutnya data dianalisis mengikuti model kinetika reaksi orde-1. Hasil penelitian menunjukan bahwa semakin tinggi jumlah TiO2 dalam material  zeolit A : TiO2 maka semakin kecil laju fotodegradasi. Perbandingan berat 1:0,4 menghasilkan laju fotodegradasi paling besar dengan konstanta laju sebesar 0,0184 menit-1.A research on photodegradation kinetics of remazol yellow using TiO2-impregnated A-type zeolite has been done. The amount of TiO2 was varied in weight ratio of zeolite A : TiO2 which were 1:0.4, 1:0.6, 1:0.8, 1:1, 1:1.2, and 1:1.4 g/g. Kinetics experiment was performed by determining the concentration of remazol yellow remained after the interaction of zeolite A : TiO2 with remazol yellow solution that is illuminated by UV-light at 10, 20, 30, 40, 50, 60 and 90 minutes. Data obtained was analyzed using first-order reaction kinetics model. The results showed that the higher the amount of TiO2 in the mixture of zeolite A : TiO2 material, the smaller the rate of photodegradation. The weight ratio of 1:0.4 produced the greatest rate of photodegradation with rate constant of 0.0184 min­­­­-1.
DESKRIPSI JENIS-JENIS KONTAMINAN DARI KULTUR KALUS CATHARANTHUS ROSEUS (L.) G. DONNAMAN Oratmangun, Kristina M.; Pandiangan, Dingse; Kandou, Febby E.
Jurnal MIPA Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.6.1.2017.16154

Abstract

Penelitian deskripsi jenis-jenis kontaminan dari kultur kalus Catharanthus roseus telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis kontaminan yang terdapat pada kultur kalus C.roseus. Penelitian ini dilaksanakan dua tahap. Tahap pertama dilakukan kultur kalus C. roseus. Kultur kalus menggunakan media MS (Murashige dan Skoog) dengan zpt 2,4 D 2 mg/L dan kinetin 0,2 mg/L. Tahap kedua dilakukan pengamatan kultur kalus yang mengalami kontaminasi. Kontaminan-kontaminan yang sama secara kasat mata dikelompokan menjadi satu kelompok. Setiap kelompok yang sama diamati lebih lanjut dibawah mikroskop. Penentuan jenis kontaminan dibandingkan dengan morfologi dari Pustaka (rujukan). Pengamatan kontaminan dilakukan mulai dari pembuatan media, inokulasi, subkultur kalus C.roseus. Pengamatan dilakukan dengan 3 botol kontaminan dari setiap kelompok. Hasil yang diperoleh adalah kontaminan kultur kalus C. roseus sekitar 40 %. Jenis kontaminan yang diamati umumnya golongan jamur. Jenis-jenis kontaminan kultur kalus C. roseus adalah Rhizopus, Mucor, Aspergillus, dan Sacharomyces.Research description of the types of contaminant for cultured callus Catharanthus roseus  has been done. This research aimed describe the types of contaminant found in the cultured kalus C. roseus. This research is carried out in two stages. The first stage in callus culture C. roseus using media MS (Murashige and Skoog) with zpt 2,4 D mg/L and kinetin 0,2 mg/L. The second stage in the observation of contaminated callus culture. The same of contaminants are visible into one group. Each of the same group was observed further under a microscope. Determining the types of contaminant in comparison with reference from the literature. Observation are starting from media or inoculation, subcallus culture C. roseus. Observation  done by taking 3 bottles of contaminat from each group then observed for 7 days. The result  obtained are culture contaminants C. roseus about 40 %. The types of contaminant observed are generally of fungi. The types of contaminant callus culture C. roseus are Rhizopus, Mucor, Aspergillus, and Sacharomyces.
PENGARUH PENAMBAHAN EMULSIFIER DAN STABILIZER TERHADAP KUALITAS SANTAN KELAPA Sidik, Suci L.; Fatimah, Feti; Sangi, Meiske S.
Jurnal MIPA Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.2.2.2013.1991

Abstract

Santan merupakan emulsi minyak dalam air yang diperoleh dengan cara memeras daging buah kelapa segar yang telah dihaluskan. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk meningkatkan waktu penyimpanan santan. Beberapa teknik yang digunakan adalah asteurisasi, variasi kecepatan putar maupun pengaruh suhu dingin untuk menambah waktu simpan santan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh penambahan emulsifier dan stabilizer terhadap kualitas santan kelapa. Kualitas yang diukur yaitu stabilitas emulsi pada berbagai perbandingan kelapa parut:air, jenis emulsifier serta konsentrasi stabilizer. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa krim santan yang diperoleh dari ekstraksi kelapa parut:air dengan perbandingan 4:1 memiliki stabilitas emulsi terbaik hingga jam ke-10. Pemakaian emulsifier sintetik polyoxyethylene (20) sorbitan monostearat dengan konsentrasi 1.00% dan stabilizer guar gum dengan konsentrasi 0.75% dapat meningkatkan stabilitas emulsi hingga mencapai 100% pada pengamatan sampai hari ke-13.Coconut milk is an oil-in-water emulsion obtained by squeezing fresh coconut meat. Several studies have been done to improve coconut milk storage time. Several techniques used to increase  storage time of coconut milk are pasteurization, rotational speed variation and the use of low temperature. This study was aimed to determine the effect of emulsifier and stabilizer to the quality of coconut milk. Quality measured was the stability of emulsion at several ratio of cocout to water, type of emuslifier, and stabilizer concentration. The result revealed that  coconut milk cream obtained from the extraction of coconut:water ratio of 4:1 has the best emulsion stability up to 10 hours. The use of 1.00% synthetic emulsifier polyoxyethylene (20) sorbitan monostearate and 0.75% stabilizer guar gum increased the stability of the emulsion up to 100% at day 13.
RENDEMEN DAN TOTAL FENOLIK SANTAN KELAPA DALAM PADA BERBAGAI TINGKAT KEMATANGAN Lerebulan, Chivon; Fatimah, Fety; Pontoh, Julius
Jurnal MIPA Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.7.1.2018.19283

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk menentukan rendemen santan dan total fenolik santan kelapa dalam pada berbagai tingkat kematangan. Santan kelapa dibuat dengan cara kelapa dikupas, dibuang kulit coklat yang menempel pada daging kelapa, selanjutnya daging kelapa diparut, ditimbang, diperas, dan disaring. Penentuan kandungan total fenol menggunakan metode Folin-Ciocalteu. Dari hasil pengujian menunjukkan rendemen santan kelapa dalam tua merupakan nilai yang paling tertinggi sebesar 28.57 g/mL dan total nilai fenolik yang tertinggi terdapat pada santan kelapa dalam tua sebesar 143.9 mg/kg.Research has been conducted to determine coconut content and total phenolic from coconut milk in various level of maturity. Coconut milk made by coconut peeled, discarded brown skin attached to coconut meat, then coconut meat grated, weighed, squeezed, and filtered. Determination of total phenol content using Folin-Ciocalteu method. The results showed that coconut milk content in the oldest was the highest value of 28.57 g / mL and the highest total phenolic value was found in coconut milk in old age of 143.9 mg / kg.
KANDUNGAN KLOROFIL TOTAL DAUN PADA PADI LOKAL SULAWESI UTARA YANG MENGALAMI CEKAMAN BANJIR Tjolleng, Fitria; Siahaan, Parluhutan; Ai, Nio Song
Jurnal MIPA Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.8.2.2019.23516

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji respon fisiologi tanaman padi lokal Sulawesi Utara (varietas Ombong, Temo, TB, dan Sultan) terhadap cekaman banjir pada fase vegetatif berdasarkan kandungan klorofil total pada daun. Pot dan tanaman padi dimasukkan ke dalam ember sehingga terendam setinggi 27 cm di atas permukaan media. Perlakuan cekaman kebanjiran berlangsung selama 20 hari. Pengambilan data dilakukan pada hari ke-0 (sebelum perlakuan), 10, 15 dan 20 setelah perlakuan. Daun diambil sebanyak 1 g kemudian dihaluskan dan diekstraksi menggunakan alkohol 95% dan kandungan klorofil diukur dengan spektrofotometer. Data kandungan klorofil total dalam percobaan faktorial dianalisis dengan analisis sidik ragam dalam rancangan acak lengkap pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor varietas, faktor waktu dan interaksi antara keduanya tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada kandungan klorofil total pada daun tanaman padi (varietas Ombong, Temo, TB, dan Sultan) selama 20 hari perlakuan cekaman banjirThis study examined the physiological responses of North Sulawesi local rice plants in (Ombong, Temo, TB, and Sultan varieties) to partial submergence at the vegetative phase based on the content of total chlorophyll in the rice leaves. The pot and plants were submerged under water in a bucket about 27 cm above the surface of the media. The submergence treatment was lasted for 20 days. Data collection was carried out at day 0 (before treatment), 10, 15 and 20 after treatment. The leaves (about 1 g for ach sample) were collected, then refined and extracted using 95% ethanol. The total chlorophyll content was measured using spectrophotometer. Data of total chlorophyll content in the factorial experiment were analyzed using analysis of variance under completely randomized design at a 95% confidence level. The results of this study indicated that variety and time factors as well as their interactions showed no significant differences in the content of total chlorophyll in the leaves of rice plant varieties (Ombong, Temo, TB, and Sultan) during 20 days of partial submergence
KARAKTERISTIK FISIKO KIMIA DAN POLISIKLIK AROMATIK HIDROKARBON IKAN JULUNG (HEMIRHAMPUS MARGINATUS) ASAP CAIR CANGKANG PALA Salindeho, Netty; Pandey, Engel
Jurnal MIPA Vol 8, No 3 (2019)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jmuo.8.3.2019.26194

Abstract

Tujuan penelitian yaitu: menentukan konsentrasi dan lama perendaman dalam larutan asap cair yang optimum melalui percobaan untuk mengaplikasikan asap cair hasil pirolisis cangkang pala pada pengawetan ikan julung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Aw tertinggi pada  perendaman 90 menit dengan konsentrasi larutan asap cair 10 %. Kadar air tertinggi pada lama perendaman  90 menit dengan konsentrasi larutan asap cair  15 % yaitu 26,34 %. dan kadar protein tertinggi yaitu 54,23 % pada lama perendaman 30 menit pada konsentrasi larutan asap cair 10 % kadar lemak terendah 1,21 % pada lama perendaman 90 menit pada konsentrasi asap cair 5 % dan kadar abu terendah pada lama perendaman 60  menit dengan konsentrasi asap cair 10 % yaitu 1,12 %. Hasil penelitian julung asap cair pada lama perendaman 30 dengan konsentrasi 5 %, 10 % dan 15 % menunjukkan bahwa kandungan total PAH paling rendah dihasilkan pada konsentrasi larutan asap cair 5 % di ikuti oleh pengasapan cair dengan konsentrasi larutan asap cair 10 %, dan 15 %The purpose of this research is to determine the optimum concentration and soaking time in a liquid smoke solution through an experiment to apply liquid smoke from the pyrolysis of nutmeg shells to the preservation of julung fish. The results showed that the highest Aw value at 90 minutes immersion with a liquid smoke concentration of 10%. The highest water content in the 90 minute immersion with a liquid smoke concentration of 15% is 26.34%. and the highest protein content is 54.23% at 30 minutes soaking time at the concentration of liquid smoke solution 10% the lowest fat content is 1.21% at 90 minutes soaking time at 5% liquid smoke concentration and the lowest ash content at 60 minutes soaking time with concentration liquid smoke 10% which is 1.12%. The results of the liquid smoke rolls in the immersion period 30 with concentrations of 5%, 10% and 15% showed that the lowest total PAH content was produced at a concentration of 5% liquid smoke solution followed by liquid fuming with a concentration of liquid smoke solution of 10%, and 15%
PEMBUATAN SABUN MANDI PADAT DARI VCO YANG MENGANDUNG KAROTENOID WORTEL Langingi, Raymon; Momuat, Lidya I.; Kumaunang, Maureen G.
Jurnal MIPA Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.1.1.2012.426

Abstract

Penelitian ini bertujuan menentukan konsentrasi NaOH yang optimum untuk direaksikan dengan VCO mengandung karotenoid wortel guna menghasilkan sabun mandi padat yang memenuhi kualitas Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 06-3532-1994. Pembuatan sabun mandi diawali dengan penentuan bilangan penyabunan, yang digunakan pada perhitungan konsentrasi NaOH, yakni 25%, 30% dan 35%. Sabun mandi padat yang dihasilkan diuji kualitasnya menurut SNI No. 06-3532-1994. Bilangan penyabunan dari VCO mengandung karotenoid wortel diperoleh sebesar 173,18 mg. Sabun mandi pada semua konsentrasi NaOH memenuhi SNI untuk uji jumlah asam lemak, alkali bebas dan asam lemak bebas. Untuk kadar air, sabun yang memenuhi SNI ada pada konsentrasi NaOH 35%, dan minyak mineral pada konsentrasi NaOH 30%. Sabun pada semua konsentrasi NaOH tidak memenuhi SNI untuk uji lemak netral. Penelitian ini menyimpulkan bahwa belum diperoleh konsentrasi NaOH yang optimum untuk pembuatan sabun mandi padat dari VCO mengandung karotenoid wortel yang memenuhi kualitas SNI No. 06-3532-1994. Sabun mandi yang mendekati kualitas SNI ada pada konsetrasi NaOH 30% dan 35%.
PEMBUATAN ALGORITMA IDENTIFIKASI OBJEK MENGGUNAKAN INDIKATOR KUANTATIF DENGAN MEMANFAATKAN PENERAPAN ANALOGI TITIK DALAM RUANG BERDIMENSI-N Rongre, Eliezer Mangoting
Jurnal MIPA Vol 8, No 3 (2019)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jmuo.8.3.2019.25359

Abstract

Suatu algoritma telah dibuat untuk mengidentifikasi objek berdasarkan nilai indikator kuantitatif .  Sekumpulan nama objek yang terkait dengan nilai indikator tertentu disimpan sebagai acuan untuk mengidentifikasi objek yang indikatornya diinput ke komputer  Algoritma akan  memproses data indikator  untuk menghasilkan keluaran objek terindidentifikasi. Nama nama objek disimpan berurut dan terkait dengan   nilai indikatornya.   Suatu analogi dengan  tiktik dalam ruang berdimensi n dimanfaatkan dan ditempatkan  dalam suatu system koordinat berdimensi n.Titik dianggap mewakili objek, dan komponennya pada sumbu koordinat mewakili  inidkator. Setiap sumbu koordinat mewakili suatu jenis indikator. Titik dalam ruang dan komponen pada sumbu koordinat yang tersebar secara kontinyu ditransformasi menjadi  menjadi bentuk dengan  sumbu koordinat berbasis  indeks array nilai indikator. Selanjutnya objek dianggap sebagai elemen dari suatu array berdimensi n,  dan terkait dengan indek indeks array indikator. Objek akan diakses menggunakan indeks array  yang  merupakan bilangan penghitung siklus pembandingan indikator yang diinput dengan indikator acuan. Pengujian algoritma memberikan hasil sukses.  Disimpulkan bahwa algoritma yang berlandaskan analogi titik dalam ruang berdimensi n dapat digunakan untuk merngidentifikasi objek , dan diakses melalui indeks array.An algorithm has been built for identifying object based on its quantitative indicators. A set of object?s name related to certain incators value si stored as standard for identifyaing objects that its indicators is entered to the computer. Algorithm will do processing of the indicator data aims to result an output of indetified object.Objects?s name  are stored orderly and related to its indicators. An analogy to points in n-dimensional is utilized and placed in a n-dimensional coordinate system. The points are assumed to represent objects, and its components represents indicators. Each coornate axe represent one kind of indicator. The points in space  and components  those are distributed continuously, are transformed to form of array indeks based. Then objects are assumed as elements of n-dimensional array  and related to array indeks of indicators. Objects are accessed using array index that stand as counter of  comparation siklus of entered indicator to standard indicator. Terting of algorithm yield success result. It is cocluded that algorithm based on analogy to points in n- dimensional space ca be used for identifying object, and be accessed using array index 
PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI TONGKOL JAGUNG (ZEA MAYS L.) SEGAR DAN KERING DENGAN METODE REFLUKS Saryana, Ryan Vanly; Suryanto, Edi; Sangi, Meiske S.
Jurnal MIPA Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.3.2.2014.5858

Abstract

Tujuan pada penelitian ini adalah menentukan potensi antioksidan ekstrak air dari tongkol jagung. Tongkol jagung yang sudah dikering anginkan digiling sedangkan yang segar hanya dicincincang hingga halus kemudian diekstraksi menggunakan metode refluks selama 0, 1, 2, 3 dan 4 jam menggunakan pelarut akuades. Analisis kandungan total fenolik, flavonoid dan tanin terkondensasi menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Untuk penentuan penangkal radikal bebas menggunakan metode 1.1-diphenyl-2.-picrylhydrazyl (DPPH). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tongkol jagung kering memiliki kandungan total senyawa fenolik, flavonoid dan DPPH  terbaik dengan pemanasan selama 4 jam. Akan tetapi total tanin terkondensasi terbaik terdapat pada tongkol jagung segar dengan pemanasan selama 4 jam.The purpose of this study was to determine the antioxidant potential of water extract of corn cobs. Corn cobs wind dried milled while fresh only chopped until smooth then extracted using the reflux method for 0, 1, 2, 3 and 4 hours using distilled water solvent. Analysis of total phenolic content, flavonoids and condensed tannins using UV-Vis spectrophotometer. For the determination of free-radical scavengers using the method of 1.1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH). The results of this study indicate that the dried corn cobs have the best content of total phenolic compounds, flavonoids and DPPH by heating for 4 hours. But, the total condensed tannins are best fresh on corn cob with heating for 4 hours.

Page 1 of 24 | Total Record : 238