cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL ILMIAH PLATAX
ISSN : 23023589     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Mencakup Penulisan yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian yang dilakukan secara mandiri, atau kelompok, dan berdasarkan Ruang Lingkup Pengelolaan Wilayah Pesisir, Konservasi, Ekowisata, dan Keanekaragaman Hayati Perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 184 Documents
CORAL REEF CONDITIONS OF HOGOW AND DAKOKAYU ISLANDS SOUTHEAST MINAHASA REGENCY Ompi, Billy N.; Rembet, Unstain N.W.J.; Rondonuwu, Ari B.
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol 7, No 1 (2019): EDISI JANUARI-JUNI 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.1.2019.22743

Abstract

This research objective was to determine the condition of Coral Reef ecosystems in Dakokayu and Hogow Islands, Southeast Minahasa Regency. The method that has been used in this studies that is Line Intercept Transect (LIT) by diving activities at 5 meter and 10 meters depth with 50 meters transect length. Each biota passed by the line transect recorded according based on shape of growth.Coral Reefs conditon in Hogow Island in 5 meters and 10 meters depth were categorized as a ?Good? where the percentage of live coral cover in 5 meters depth is 70.12% and in 10 meters depth  is 55.78%. The condition of Coral Reefs on Dokokayu Island at a depth of 5 meters is categorized ?Good? with the percentage of live coral cover is 56.32% while in the 10 meters depth it is categorized as ?Medium? with the percentage of live coral cover is 48.10%. Water quality parameters such as temperature, salinity, brightness, pH, and dissolved oxygen (DO) are within the range of tolerance for Coral Reefs to survive.Keywords: Condition, Coral Reef, Hogow, DokokayuABSTRAKTujuan penelitian untuk mengetahui kondisi ekosistem terumbu karang di Pulau Dakokayu dan Pulau Hogow, Kabupaten Minahasa Tenggara.  Metode yang telah digunakan dalam penelitian ini yaitu Line Intercept Transek (LIT) dengan melakukan penyelaman pada kedalaman 5 dan 10 meter dengan panjang transek 50 meter.  Setiap biota yang dilewati transek akan dicatat menurut bentuk pertumbuhannya. Secara umum, kondisi terumbu karang di Pulau Hogow pada kedalaman 5 meter dan 10 meter, dikategorikan Baik dimana persentasi tutupan karang hidup pada kedalaman 5 meter sebesar 70,12% dan pada kedalaman 10 meter sebesar 55,78%.  Kondisi terumbu karang di Pulau Dokokayu pada kedalaman 5 meter dikategorikan Baik  dengan persentase tutupan karang hidup 56,32% sedangkan di kedalaman 10 meter dikategorikan  Sedang  dengan persentase tutupan karang hidup 48,10 %. Parameter kualitas perairan seperti suhu, salinitas, kecerahan, pH, dan oksigen terlarut (DO) berada dalam kisaran toleransi bagi terumbu karang untuk dapat bertahan hidup.Kata Kunci : Kondisi, Terumbu Karang, Hogow, Dokokayu
MORFOMETRIK KIJING TAIWAN (ANODONTA WOODIANA) DI BEBERAPA LOKASI DI KABUPATEN MINAHASA DAN MINAHASA UTARA Tampa, Ahazia I.; Lumenta, Cyska; Kalesaran, Ockstan J.
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol 2, No 2 (2014): EDISI MEI - AGUSTUS 2014
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.2.2.2014.7148

Abstract

This study was conducted to determine morphometric kijing taiwan at several locations in Minahasa District and North Minahasa regency and its association with the abundance of plankton and water quality. Sampling gravestone taiwan and water quality obtained from the four (4 ) locations: Rap Rap Village, BBAT Tatelu North Minahasa Regency, Paleloan and Tataaran II Village, Minahasa regency. Morphometric measurements kijingg taiwan include dimensional measurements and weighing of the shell. Measurement of shell dimensions include length , width , and thickness. Include the weighing of the weighing of the total, shell weight and wet weight of meat. Water quality measurements carried out directly at the sites include measurement of temperature, pH, dissolved oxygen and water base texture, while the identification of plankton carried in Pathology and Clinical Laboratory of Fish Diseases, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, University of Sam Ratulangi. Morphometric measurements will be taken in any of 50 individual kijing taiwan each location. The results of morphometric measurements in multiple locations showed uniform size Tataaran II contained in the Village, the Village and Village Paleloan Rap Rap while in BBAT Tatelu uniformity of size only in size from 7-18 to 9-74 cm was caused by Taiwan in the pool because kijing BBAT Tatelu regarded as pest extermination so regularly done. Relationships shell length and total weight kijing taiwan to change at any time is influenced by several factors such as the condition of gonadal maturation , water quality and availability of food in the waters.
THE ECOLOGICAL ADAPTIVE SIGNIFICANCE OF LITTORARIA SCABRA FOR THEIR SURVIVORSHIP IN EXTREME MANGROVE ENVIRONMENT OF TOMBARIRI Lalita, Jans D; Rangan, Jety K
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol 6, No 2 (2018): EDISI JULI-DESEMBER 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.6.2.2018.20576

Abstract

This research was found the ecological adaptive significance for their survivorship in mangrove microhabitat was as follow resting place, avoiding high tide, finding food, lying larvae, avoid sunshine, and hiding from predators. Significance of clumped distribution was taken to reduce drying stress, temperature, fallen from substrate against wave strikes, feeding and reproduction activity, suitable habitat. Significance of population abundance to balance strong predation and response to pressure of nature selection for their survivorship. Key Words : Littoraria scabra,  significance, ecology, survival, and mangrove ABSTRAKPenelitian ini menemukan bahwa signifikansi ekologi Littoraria scabra untuk survival di mikrohabitat mangrove Tombariri yang ekstrim adalah sebagai berikut berfungsi sebagai tempat istirahat, menghindari perendaman air, mencari makanan, meletakkan larva, menghindar cahaya dan bersembunyi dari predator-predator. Signifikansi L. scabra  distribusi spasial mengelompok untuk mereduksi stres kekeringan, suhu, terlepas di substrat akibat gelombang, aktivitas makan, reproduksi, kecocokan habitat. Signifikansi distibusi mengelompok dengan populasi tinggi untuk mengimbangi kuatnya predasi serta merespons tekanan seleksi alam yang kuat demi kelangsungan hidupnya. Kata Kunci : Littoraria scabra, signifikansi, ekologi, survival dan mangrove
COMMUNITY STRUCTURE OF SEA CUCUMBER (HOLOTHUROIDEA) IN THE COASTAL AREA OF THE ISLAND OF JAILOLO SUBDISTRICT NYAREGILAGURAMANGOFA SOUTH HALMAHERA REGENCY WEST OF NORTH MALUKU Husain, Gajali; Tamanampo, Jan W. S. F.; Manu, Gaspar D.
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol 5, No 2 (2017): EDISI JULI - DESEMBER 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.2.2017.15910

Abstract

Sea cucumbers (Holothuroidea) are a group of marine invertebrate animals of the class Holothuroidea (phylum Echinodermata). At present, hunting of sea cucumbers is not only targeted at species of high economic value, but also of low economic value. The pressure of exploitation has led to a decline in the population that can cause changes in the structure of the community. The purpose of this research is to understand the type of sea cucumber, analyze the structure of sea cucumber which includes individual density, diversity index, domination index, inter species association and dispersion pattern. Sampling was conducted at night during the lowest tide in April 2016. Based on the results of research conducted in the coastal area of Nyaregilaguramangofa Island, South Jailolo district, West Halmahera Regency, North Maluku. Species of sea cucumbers found in the study sites were 6 species of sea cucumber: Holothuria atra, Holothuria hilla, Holothuria scabra, Bohadschia marmorata, Bohadschia vitiensis and Ophedesoma grisea, each with an average individual density of 0.029 ind/m2, the diversity index (H '= 1,495), the fairness index (e = 0.834), the dominance index (C = 0.260), the association between the six species forming 4 pairs of positive associations and 11 pairs of negative associations and the entire population has a randomly distributed pattern.Keywords: Structure communities, Holothuroidea, Nyaregilaguramangofa, Nort Maluku  ABSTRAKTeripang (Holothuroidea) adalah kelompok hewan avertebrata laut dari kelas Holothuroidea (filum Echinodermata). Pada saat ini, perburuan teripang tidak hanya ditargetkan pada spesies yang bernilai ekonomis tinggi, tetapi juga yang bernilai ekonomis rendah. Tekanan eksploitasi telah menyebabkan penurunan populasi yang dapat menyebabkan perubahan pada struktur komunitasnya. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memahami jenis teripang, menganalisis struktur teripang yang meliputi kepadatan individu, indeks keanekaragaman, indeks dominasi, asosiasi antar spesies dan pola penyebaran. Pengambilan sampel dilakukan pada malam hari saat surut terendah pada bulan April 2016. Berdasarkan hasil penelitian dilakukan di kawasan pantai Pulau Nyaregilaguramangofa, kec. Jailolo Selatan Kab. Halmahera Barat, Maluku Utara. Spesies teripang yang ditemukan di lokasi penelitian berjumlah 6 spesies teripang: Holothuria atra, Holothuria hilla, Holothuria scabra, Bohadschia marmorata, Bohadschia vitiensis dan Ophedesoma grisea, masing-masing dengan kepadatan individu rata-rata 0.029 ind/m, indeks keanekaragaman (H' = 1.495), indeks kemerataan atau keserasian (e = 0.834), indeks dominansi (C = 0.260), asosiasi antar 6 spesies membentuk 4 pasang asosiasi positif dan 11 pasang asosiasi negatif dan keseluruhan populasi memiliki pola  penyebaran secara  acak.Kata kunci : Struktur komunitas, teripang, Nyaregilaguramangofa, Maluku Utara 
INVENTORY OF FISH SPECIES AND LOCAL FISHERMEN PROFILE IN TAGULANDANG ISLAND, SITARO DISTRICT OF NORTH SULAWESI PROVINCE Marthin, Meikel A; Mantiri, Rose O. S. E.; Tamanampo, Jan F. W. S.
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol 4, No 2 (2016): EDISI JULI-DESEMBER 2016
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.4.2.2016.14076

Abstract

This research was carried out on July-August 2016 in the villages of Apengsala, Mohongsawang and Balehumara in SITARO District of North Sulawesi Province. It aims to make inventory of fish species, record the number of the fish caught, and get the local fishermen profile. Samples were bought from local fishermen who just returned from fishing areas in the traditional fish market ?Burias?. The data of fishermen profile and fishing gears were retrieved from 30 respondents of Apengsala, Mohongsawang and Balehumara fishermen. Based on the results of the identification, interviewing and questionnaire filling, the conclusions are as follows: 1) there are 23 species of fish usually captured by local fishermen. 2.) there are 5 types of fishing gears often used by fishermen :  Spear gun (Jubi),  ? Darape? net (soma darape), traps (bubu), ?Rawai? Rod (pancing rawai) and ?Cang? net (soma cang). 3.) The average age and the length of fishing profession from 30 respondents data, ranges from 27-60 years old and 4-41 years of profession (Apengsala) ; 32-50 years old and 9-31 years of  profession (Mohongsawang) ; and 20-65 years old and 1-41 years of profession (Balehumara). Only 1 respondens who is not married yet, mostly finished their study until elementary school, and only 9 respondents have odd jobs. Local fishermen can still meet the needs of the family life with a dependent varied with 3-7 person/family.   Key Words: Fish, Fishermen In Profile, Tagulandang.   Abstrak Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus 2016 di Desa Apengsala, Desa Mohongsawang dan Desa Balehumara Pulau Tagulandang Kabupaten SITARO Provinsi Sulawesi Utara.   Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi jenis ikan hasil tangkapan,  mendata jumlah ikan hasil tangkapan dan alat penangkapan ikan, dan mendapatkan profil nelayan Pulau Tagulandang. Pengambilan sampel dilakukan di tempat pendaratan ikan pasar tradisional Burias. Sampel yang diambil merupakan ikan hasil tangkapan nelayan yang baru saja kembali dari melakukan kegiatan penangkapan.  Pengambilan data profil nelayan dan jenis alat tangkap diambil dari 30 responden dari ketiga desa. Bedasarkan hasil identifikasi, wawancara dan pengisian kuisioner pada nelayan Pulau Tagulandang, kesimpulan yang dapat ditarik adalah sebagai berikut : 1). Ada 23 Jenis ikan yang sering ditangkap oleh nelayan Pulau Tagulandang. 2). Terdapat 5 jenis alat tangkap yang sering digunakan oleh nelayan Pulau  Tagulandang, yakni Spear gun (jubi), soma darape, bubu, pancing rawai dan soma cang. 3). Berdasarkan data dari 30 responden,  rata-rata usia dan lamanya berprofesi sebagai nelayan : usia 27-60 tahun dan 4-41 tahun profesi (Desa Apengsala) ; 32-50 tahun, 9-31 tahun (Desa Mohongsawang) ;  20-65 tahun, 1-41 tahun (Desa Balehumara). Hanya 1 responden yang belum kawin, mayoritas hanya mampu tamat sekolah dasar,  dan hanya 9 responden yang memiliki pekerjaan sambilan. Adapun dari penghasilan dan pengeluaran, nelayan masih dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga dengan tanggungan yang berkisar 3-7 orang/keluarga. Kata Kunci : Ikan, Profil Nelayan, Tagulandang. 1Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK UNSRAT 2Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi.
PREDATION INTENSITY IN MANGROVE ECOSYSTEM IN MARINE PROTECTED AREA, NORTH SULAWESI Suyoto, Tabita S.H.; Boneka, Farnis B.; Bataragoa, Nego E.; Ferse, Sebastian C. A.; Lumingas, Lawrence J. L.; Lasut, Markus T.; Sumila, Deiske A.; Ngangi, Edwin L. A.
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol 7, No 2 (2019): EDISI JULI - DESEMBER 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.7.2.2019.24415

Abstract

This study aims to get an overview of the intensity of predation on mangrove ecosystem in five marine protected areas (MPA), namely Tumbak, Basaan, Blongko, Bahoi and Tambun. The research method was carried out by installing Squidpops bait within one hour and calculating the number of lost bait during the exposure of baits in high tide. Fish species that migrate in the mangrove area are obtained through visual census; Mega Bentos is recorded.  The result of this study indicates the intensity of predation in the mangrove ecosystem in the five North Sulawesi DPLs are varied in each location, which has the possibility of being influenced by local condition, predatory fish population, the level of disturbance at observation, method and level of preference for the bait provided.Keywords: Predation, Predator, Mangrove, Fish Community, Squidpops ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran intensitas predasi pada ekosistem mangrove di lima daerah perlindungan laut (DPL), yaitu Tumbak, Basaan, Blongko, Bahoi dan Tambun. Metode penelitian dilakukan dengan pemasangan umpan Squidpops dalam waktu 1 jam dan menghitung jumlah umpan yang hilang selama umpan terpapar pada saat air pasang. Jenis ikan yang bermigrasi di daerah mangrove diperoleh melalui sensus visual; mega bentos dicatat. Hasil dari penelitian ini menunjukkan intensitas predasi di ekosistem mangrove pada 5 DPL Sulawesi Utara bervariasi pada tiap lokasi yang memiliki kemungkinan dipengaruhi oleh kondisi lokal, populasi ikan predator, tingkat gangguan saat pengamatan, metode dan tingkat kesukaan pada umpan yang disediakan.Kata Kunci: Predasi, Predator-Mangsa, Mangrove, Komunitas Ikan, Squidpops
EKOPREFERENSI DUA JENIS AVICENNIA TERHADAP PARAMETER LINGKUNGAN DI TEGAKAN BAKAU MUARA SUNGAI WULAN DEMAK Sangari, Joudy R.R.
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol 2, No 3 (2014): EDISI SEPTEMBER-DESEMBER 2014
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.2.3.2014.9126

Abstract

Studi mengenai ekopreferensi dan dua jenis mangrove (Avicennia marina dan A. alba) dilakukan di tegakan mangrove muara sungai Wulan, Demak. Tujuan penelitian ini diarahkan untuk melihat kemampuan ekopreferensi A. marina dan A. alba terhadap salinitas, jenis sedimen dan kandungan air. Data vegetasi diperoleh dengan menggunakan transek garis yang dikombinasikan dengan cara kuadrat yang dimodifikasi dari Cox (1967) dan Mueller-Dumbois & Ellenberg (1977). Dua stasiun pengumpulan data vegetasi ditentukan secara horisontal dari garis pasang terendah sampai garis pasang tertinggi. Pengukuran parameter lingkungan dilakukan pada transek yang ada dan tanah sampel dianalisis untuk melihat fraksi tekstur. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam hal keragaman vegetasi, tegakan mangrove yang ada di muara Sungai Wulan miskin dalam hal komposisi jenis dibandingkan dengan tegakan mangove yang ada di sepanjang pantai utara Jawa Tengah. Studi ini juga menunjukkan bahwa kehadiran A. marina cenderung menjadi species pelopor dibandingkan dengan A. alba. Diduga hal ini disebabkan oleh kemampuan A marina untuk beradaptasi pada kondisi salinitas dan tipe tanah yang marginal. Kata kunci: Bakau, ekopreferensi, A. marina, A. alba, Muara Sungai Wulan A b s t r a c t Study on ecological preferences of two Avicennia species was carried out in Wulan River, Demak, Central Java. The sudy was aimed at revealing the eco-preference toward salinity, sediment types and water content. Vegetation data were collected by implementing line transect approach combined with quadrate methods modified according to Cox (1967) and Mueller-Dumbois & Ellenberg (1977). Two sites for vegetation data collection were set horizontally from High Tide Mark toward Low Tide Mark. All ecological parameters were measured in situ on the established transects.  The results showed that in term of mangrove species diversity this area is low or marginally poor compared to other mangrove belts along the northern coast of Central Java. The study also showed that the two Avicennia species  are the pioneer species. These two species of Avicennia are adaptable to the salinity and soil types that are poor in term of nutrients content. Key word: mangrove, ecological-preference, A. alba, A. marina, Wulan River estuary 1Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNSRAT Manado
SHELL COLOR CLASSIFICATION AND CAROTENOID PIGMENTS ON LITTORARIA PALLESCENS (PHILIPPI, 1846) FROM MANGROVE ECOSYSTEM AREA ON MOKUPA VILLAGE, TOMBARIRI SUB DISTRICT AND BASAAN VILLAGE, RATATOTOK SUB DISTRICT) Sumampouw, Susan M.; Mantiri, Desy M. H.; Boneka, Farnis B.; Ompi, Medy; Paulus, James J. H.; Wantasen, Adnan S.
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol 6, No 2 (2018): EDISI JULI-DESEMBER 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.6.2.2018.20650

Abstract

The purpose of this study was to classify the color of the shell and to know the carotenoid pigment content in Littoraria pallescens based on color classification and population distribution in the mangrove ecosystem area of Mokupa Village, Tombariri Sub district and Basaan Village, Ratatotok Sub district. Sampling directly on mangrove trees as water begins to recede. Identification of L. pallescens species is done by looking at the shape of the shell, the color of the shell, the color of the operculum and the shape of the genital organ. Shell color classification by inserting into the Color Explorer application. Analysis of carotenoid pigments by extraction process with acetone and petroleum ether, further separation of pigment by thin layer chromatography. The results obtained show that L. pallescence dominates life on mangrove trees. Sex was inversely proportional to the two research sites, 53.8% of the male L. pallescens species and 46.2% female in Mokupa waters while from Basaan waters there were 47.1% males and 52.9% females. Color classification based on the percentage of occurrences of constant color that is black (18.5), black orange (16.3) brown black spots (16,3), gray (10.7), angry (6,3), yellow pale (17.8), brown yellow spots (14,1). The detected pigment based on the color classification of the shell is located on the identical and identifiable Rf for all colors is the ?-carotene pigment.Keyword : Littoraria pallescence, Carotenoid pigments Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengklasifikasikan warna cangkang dan mengetahui kandungan pigmen karotenoid pada Littoraria pallescens berdasarkan klasifikasi warna dan sebaran populasinya di wilayah ekosistem mangrove Desa Mokupa kecamatan Tombariri dan Desa Basaan Kecamatan Ratatotok. Pengambilan sampel secara langsung pada pohon mangrove saat air mulai surut. Identifikasi spesies L. pallescens dilakukan dengan melihat bentuk cangkang, warna cangkang, warna operculum dan bentuk organ genital.  Pendataan untuk klasifikasi warna cangkang dengan memasukkan ke dalam aplikasi Color Explorer. Analisis pigmen karotenoid melalui proses ekstraksi dengan aseton dan petroleum eter, selanjutnya pemisahan awal pigmen dengan kromatografi lapis tipis. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa L. pallescence mendominasi hidup pada pohon mangrove. Jenis kelamin berbanding terbalik pada dua lokasi penelitian, spesies L. pallescens jantan 53.8% dan betina 46.2% di perairan Mokupa sedangkan dari perairan Basaan terdapat 47.1% jantan dan 52.9% betina. Klasifikasi warna berdasarkan persentase kemunculan warna yang konstan yaitu warna hitam (18,5), hitam oranye (16,3) coklat bercak hitam (16,3), abu-abu (10,7), Marah (6,3), kuning pucat (17,8), kuning bercak coklat (14,1). Pigmen yang terdeteksi berdasarkan klasifikasi warna pada cangkang adalah berada pada Rf yang sama dan yang dapat diidentifikasi untuk semua warna adalah pigmen ß-karoten.Kata kunci : Littoraria pallescence, Pigmen Karotenoid
THE EXISTENCE OF INTERTIDAL GASTROPODS IN MALALAYANG BEACH, NORTH SULAWESI Roring, Irawati RJC; Manginsela, Fransine B.; Toloh, Boyke H
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol 1, No 3 (2013): EDISI MEY - AGUSTUS 2013
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.1.3.2013.2571

Abstract

ABSTRACT This study aims to determine the density, relative density and patterns of distribution of  gastropods and diversity index gastropod community in the intertidal Malalayang Beach (behind Minanga Hotel), North Sulawesi. Gastropods sampling using quadratic size 0.5x0.5 m2 placed systematically and proportionally on dead coral sandy substrate mix mud, rocks slightly sandy substrate and substrate-sized stones. The results found have been changes in the number of species of the 30 species of gastropods (Manginsela, 1998) now to only 15 species. While the density of intertidal Malalayang gastropods contained 0,13 and  the current range of 0.06 - 0.13  individu/m2 and relative density ranged from 2%-38.5%. Diversity index contained in the intertidal gastropod dead coral layered thin smear highest H' = 2.412 following the rocky region is H' = 2.232, and the lowest in the region b is H' = 2.059. Dispersal patterns in the intertidal gastropod are all randomized except Cypraea felina the distribution pattern of the group. Keywords : gastropod, distribution   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengetahui kepadatan, kepadatan relatif  dan pola penyebaran dari masing-masing jenis gastropoda serta indeks keanekaragam komunitas gastropoda di intertidal Pantai Malalayang (di belakang Minanga Hotel), Propinsi Sulawesi Utara. Pengambilan contoh gastropoda menggunakan kuadrat ukuran 0.5x0.5 m2 yang ditempatkan secara sistimatis dan proporsional   pada substrat karang mati berpasir campur lumpur,  substrat bebatuan  sedikit berpasir substrat batu-berukuran. Hasil penelitian menemukan telah terjadi perubahan jumlah spesies gastropoda dari 30 spesies (Manginsela, 1998) menjadi hanya 15 spesies. Sedangkan kepadatan gastropoda yang terdapat di intertidal pantai Malalayang dari berkisar 0,13 individu/m2 saat ini 0,06-0,13 individu/m2 dan kepadatan relatif berkisar 2% - 38,5%. Indeks keanekaragaman gastropoda yang terdapat di intertidal karang mati berlapis lumpur tipis tertinggi adalah H? = 2,412 menyusul kawasan berbatu adalah H? = 2,232 serta terendah kawasan pada kawasan b adalah H? = 2,059. Pola penyebaran gastropoda di intertidal ini semuanya acak kecuali Cypraea felina yang pola penyebarannya kelompok. Kata kunci : gastropoda, distribusi1 Bagian dari skripsi2 Mahasiswa Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK-UNSRAT 3 Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi 
SIZE AND FOOD HABIT OF TRAVELLY (CARANX SPP.) IN THE INTERTIDAL ZONE AROUND THE FIELD LABORATORY OF UNSRAT, LIKUPANG Maherung, Susi S; Bataragoa, Nego E.; Salaki, Meiske S.
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol 6, No 1 (2018): EDISI JANUARI-JUNI 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.6.1.2018.17857

Abstract

This study was conducted in October to November 2016 in the intertidal zone around the field laboratory of UNSRAT in Likupang. It was aimed at knowing the species and the size of trevally (Caranx spp.) migrating to the intertidal zone and their food habit. Fish sampling used a beach seine. The fish collected were 45 individuals consisting of 3 species, 22 individuals of Caranx melampygus, 21 individuals of C. papuensis, and 2 individuals of C. sexfaciatus. Body length varied from 6 to 19.9 cm for C. melampygus, 7 to 15.6 cm for C. papuensis, and 6.9 and 7.6 cm for C. sexfaciatus, respectively. There were 4 food types, shrimps, fish, crabs, and organic matters, such as shrimp?s eye and digested food. The Importance Relative Index of shrimp was the highest, 82%, followed by fish, 14%, and the lowest recorded in crab, 4%. Shrimp is major food sort of C. melampygus. The Importance Relative Index of C. papuensis and C. sexfaciatus could not be counted because of empty stomach and low number of samples. Feeding intensity of C. melampygus was 86% and that of C. papuensis was 10%, so that it was apparent that C. melampygus come to the intertidal for feeding, while C. papuensis come for other purpose.        Keywords: size, food habit, Caranx spp. ABSTRAKPenelitian ini dilakukan pada bulan Oktober-November 2016 di Daerah Intertidal Sekitar Laboratorium Lapangan UNSRAT Likupang penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesies dan ukuran ikan kuwe (Caranx spp) yang bermigrasi di daerah pasang-surut dan kebiasaan makanannya. Pengambilan sampel ikan menggunakan pukat pantai, ikan yang terkumpul yaitu 45 ekor yang terdiri dari 3 spesies yaitu 22 individu Caranx melampygus, 21 individu Caranx papuaensis, dan dua individu Caranx sexfaciatus. Panjang tubuh bervariasi dari 6-19,9 cm Caranx melampygus, 7-15,6 cm Caranx papuaensis untuk Caranx sexfaciatus yaitu 6,9 cm dan 7,6 cm. Terdapat empat jenis makanan yaitu udang, ikan, kepiting dan bahan organik seperti mata udang dan makanan yang sudah tercerna. Indeks Relatif Penting udang yang tertinggi yaitu 82% di ikuti oleh ikan 14% dan terendah ditemukan pada kepiting 4%. Udang merupakan makanan utama dari Caranx melampygus. Indeks Relatif Penting Caranx sexfaciatus dan Caranx papuaensis tidak dapat dihitung karena isi lambung kosong dan jumlah sampel sedikit. Intensitas makan (IM) Caranx melampygus adalah 86% dan  Caranx papuaensis 10% sehingga jelas bahwa Caranx melampygus dating ke daerah Intertidal untuk mencari makanan sedangkan Caranx papuaensis datang ke daerah Intertidal untuk tujuan lain.Kata Kunci: Ukuran, Kebiasaan Makanan, Caranx spp,

Page 1 of 19 | Total Record : 184