cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
ISSN : 14116618     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Arsitektur KOMPOSISI adalah wadah menghimpun dan mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian dan konsep-konsep ilmiah serta pengetahuan dalam bidang arsitektur dan lingkungan buatan berwujud artikel yang ditulis berdasarkan penelitian: artikel hasil penelitian, artikel tentang ide-ide (gagasan konseptual), tinjauan tentang proses penelitian, tinjauan buku-buku baru, paparan tokoh arsitek dan pemikirannya, serta karya ilmiah lain yang berhubungan dengan fenomena arsitektur.
Arjuna Subject : -
Articles 99 Documents
PENGARUH KONDISI LANSKAP PERTANIAN TERHADAP ASPEK MIKRO RUMAH DAN ASPEK MAKRO PADA PERMUKIMAN SUKU JAWA DI DESA PUHTI, NGAWI, JAWA TIMUR Santoso, Dian Kartika
Jurnal Arsitektur Komposisi Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jars.v13i1.2776

Abstract

Abstrak: Indonesia merupakan negara agraris yang hidup dari sektor pertanian terutama komoditi padi. Salah satu daerah penghasil padi adalah Ngawi. Kabupaten ini sebagai salah satu penghasil padi terbesar dan mendapat predikat lumbung padi di Provinsi Jawa Timur. Dengan kondisi yang demikian, sedikit banyak mempengaruhi pola pemukiman secara makro maupun mikro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lahan pertanian terhadap permukiman di Desa Puhti, Ngawi Jawa Timur serta hubungannya dengan nilai-nilai lokalitas masyarakat setempat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Hasil kajian menunjukkan kondisi lahan pertanian secara makro saling berhubungan dengan pola permukimannya, akibat kondisi sosial dan kekerabatannya. Sementara itu, hubungan antara lahan pertanian dengan pemukiman secara mikro dapat diketahui dari pembagian ruang pada hunian dengan adanya ruang penjemuran dan penyimpanan hasil panen, penggunaan material bangunan yang didapatkan dari hasil pertanian yang ditanam pada lahan pertanian masyarakat setempat, serta penggunaan ornamen pada hunian masyarakat.Kata kunci: lansekap pertanian; aspek mikro rumah; aspek makro; pola permukiman. Title: The Influence of Agricultural Landscape Condition on House Micro Aspects and Macro Aspects on The Settlement of Javanese Villages in Puhti Village, Ngawi, East JavaAbstract. Indonesia is an agricultural country that lives in the agricultural sector, especially rice commodities. One of the rice-producing areas is Ngawi. This regency is one of the largest rice producers and has the title of rice barn in East Java Province. With these conditions, it affects the settlement patterns in a macro and micro manner. This study aims to determine the effect of agricultural land on settlements in Puhti Village, Ngawi East Java as well as its relationship with local community values. The method used in this research is descriptive qualitative. The results of the study show that the condition of agricultural land in a macro interrelated with the pattern of settlement, due to social conditions and kinship. Meanwhile, the relationship between agricultural land and micro-settlements can be seen from the division of space in the dwelling with the existence of drying and storing crops, the use of building materials obtained from agricultural products planted on the local community's agricultural land, and the use of ornaments in community dwellings.Keywords: agricultural landscape; house micro aspects; macro aspect; settlement pattern.
TEMPLATE ARTIKEL Purbadi, Yohanes Djarot
Jurnal Arsitektur Komposisi Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jars.v13i1.2784

Abstract

GENERASI LANJUT USIA MANDIRI DAN FENOMENA PERGESERAN ASPEK EKO-MORFOLOGI KAWASAN HUNIAN Rudwiarti, Lucia Asdra
Jurnal Arsitektur Komposisi Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jars.v13i1.2781

Abstract

Abstraksi: Gaya hidup fase penuaan didominasi oleh nilai-nilai kenyamanan sosial dan simbol, etika budaya, identitas, dan sumber daya budaya lainnya. Masalah budaya pada tahapan lansia menampilkan kontennya dalam batas perspektif kehidupan. Dengan demikian, ruang hidup dan lingkungan hidup untuk lansia yang mandiri harus memperhatikan transformasi nilai-nilai sosial-budaya untuk memenuhi kebutuhan dan preferensi lansia dari keseluruhan sistem lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan preferensi lansia dalam proses modifikasi elemen desain lingkungan menjadi lingkungan hidup yang ramah lansia. Investigasi menggunakan metode observasi dan wawancara untuk lebih dalam mendapatkan preferensi lansia. Studi ini juga menggunakan prediksi lingkungan untuk meninjau fenomena eko-morfologi. Hasilnya menunjukkan bahwa kebutuhan hidup sehari-hari lansia berubah karena proses penuaan. Sementara itu, paradigma menyesuaikan tuntutan kehidupan secara signifikan mempengaruhi perubahan eko-morfologis spasial lingkungan mereka.Katakunci: manula mandiri; lingkungan untuk kaum manula; perubahan eko-morfologis.Title: Independent Elderly Generations and Aspects of Eco-Morphological Changes of Residential AreasAbstract: The life style of ageing phase is dominated by the values of social comfort and symbols, cultural ethics, identity, and other cultural resources. Cultural issues of the elderly?s stage perform their content within the perspective boundary of life. Accordingly, living space and eco-environment for the independent elderly should regard the transformation of socio-cultural values in order to meet the elderly?s need and preferences of the whole environmental system. This study aims to obtain elderly?s preferences in the modification process of environmental design elements to become elderly-friendly living environment. The investigation used observation and interviews methods to deeper gain the elderly?s preferences. The study also utilised environmental prediction to review the phenomenon of its eco-morphology. The results show that the needs of elderly daily lives changed due to the ageing process. Whilst, the paradigm of adjusting demands of life significantly affected the eco-morphological changes of their spatial environment.Keywords: independent elderly; environment for the elderly; eco-morphological changes.
DINAMIKA PERUBAHAN ARSITEKTUR RUMAH SABU (AMMU HAWU) DAN PROSPEKNYA DALAM RANCANG BANGUN KIWARI Jeraman, Pilipus
Jurnal Arsitektur Komposisi Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jars.v13i1.2782

Abstract

Abstrak: Arsitektur rumah Sabu (Ammu Hawu) merupakan salah arsitektur vernakular yang masih hidup dan berkembang di Nusa Tenggara Timur. Dalam pengamatan terhadap arsitektur rumah Sabu (Ammu Hawu) menujukkan bahwa rumah Sabu perlahan namun pasti memperlihatkan adanya dinamika perubahan, baik bentuk, teknologi konstruksi maupun material bangunannya. Di sisi lain, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni arsitektur rumah Sabu (Ammu Hawu) telah pula ditransformasikan pada perancangan arsitektur masa kini. Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana perubahan dan transformasi arsitektur rumah Sabu (Ammu Hawu) dalam desain arsitektur masa kini. Guna menjawab permasalahan tersebut, maka survey dan pengamatan lapangan serta studi pustaka merupakan suatu keharusan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arsitektur rumah Sabu (Ammu Hawu) telah mengalami perubahan, terutama bentuk, teknologi konstruksi bangunan dan material bangunannya. Arsitektur rumah Sabu (Ammu Hawu) sudah ditransformasikan pada desain arsitektur gedung perkantoran di Sabu Raijua, namun sifatnya pragmatis dan belum didukung pengetahuan transformasi yang memadai.Kata kunci: dinamika perubahan; arsitektur vernakular; rumah Sabu (Ammu Hawu); transformasi arsitekturTitle: Dynamic Changes of Sabu House Architecture (Ammu Hawu) and Its Prospect in The PresentAbstract: The architecture of the house of Sabu (Ammu Hawu) is a vernacular architecture that is still alive and developing in East Nusa Tenggara. In observing the architecture of the house of Sabu (Ammu Hawu) shows that the house of Sabu slowly but surely shows the dynamics of change, both the shape, construction technology, and building materials. On the other hand, in line with the development of science, technology, and architecture of the house of Sabu (Ammu Hawu) it has also been transformed into the architectural design of today. The problem of this research is how to change and transform the architecture of the house of Sabu (Ammu Hawu) in contemporary architectural design. To answer these problems, the survey and field observations and literature study are a must in this research. The results showed that the architecture of the house of Sabu (Ammu Hawu) has changed, especially the shape, building construction technology, and building materials. The architecture of the Sabu house (Ammu Hawu) has been transformed into the architectural design of an office building in Sabu Raijua, but it is pragmatic and has not been supported by adequate transformation knowledge.Keywords: the dynamics of change; vernacular architecture; house of Sabu (Ammu Hawu); architectural transformation
"SENSE OF PLACE" PUSAT KULINER DI TEPIAN SUNGAI ELO KOTA MAGELANG DENGAN PENDEKATAN SIMBIOSIS ARSITEKTUR Nurseto, Adha Bangkit; Mulyandari, Hestin
Jurnal Arsitektur Komposisi Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jars.v13i1.2777

Abstract

Abstract: Kota Magelang memiliki beragam destinasi wisata yang tersebar dengan berbagai daya tarik wisatanya yang cukup tinggi, namun perlu adanya destinasi wisata baru yang atraktif dan secara umum potensi dan peluang pengembangan wisata di Kota Magelang sangat besar guna mendorong Pendapatan Asli Daerah (PAD). Inventarisasi dan penggalian berbagai potensi, dengan memiliki berbagai keunikan dan daya tarik, meningkatnya promosi, informasi dan pemasaran pariwisata, menyelenggarakan berbagai event yang dapat menarik wisatawan serta mengembangkan berbagai fasilitas kepariwisataan menjadi daya tarik obyek. Perancangan wisata kuliner yang berlokasi di kawasan Soekarno Hatta Kota Magelang dipadukan oleh berbagai fungsi kegiatan rekreasi lain saling memberikan kontribusi positif bagi aktivitas didalamnya. Tahap perancangan melalui tahapan survey lapangan untuk mengetahui kondisi, potensi, dan lingkungan sekitarnya untuk mendapatkan bahan acuan dalam proses merancang, serta melalui komparasi studi pustaka dan studi banding guna memberikan rancangan yang optimal. Perancangan wisata kuliner di kawasan Soekarno Hatta Kota Magelang ini menggunakan pendekatan simbiosis arsitektur, simbiosis dalam arsitektur sebagai tema perancangan digunakan untuk menggabungkan dua tempat yang berbeda fungsi dan kegiatan yang berbeda menjadi sesuatu yang baru dan memiliki dampak simbiosis positif bagi kedua belah pihak dan mencapai prospek dan fisibilitas yang diharapkan.Kata kunci: daya tarik obyek; simbiosis arsitektur; tepian air; wisata kuliner. Title: Sense of Place in The Culinary Center of River Elo Riverfront Magelang City With The Architecture Symbiosis Approach.Abstract: The City of Magelang has a variety of tourist destinations, spread with a variety of quite-high tourist attractions. However, a new attractive tourist destination and common potential and opportunities for tourism development in this very large city of Magelang, to encourage the Regional Original Income (PAD) in the tourism sector. Inventory and development of various potentials, that have uniqueness and sense of place, improving promotion, tourism information and marketing, organizing various events that can attract tourists to come, and by developing various supporting facilities for tourism, it is expected to be an attraction for tourists to visit Magelang. Therefore, the culinary tourism design located in the Soekarno Hatta Area of Magelang City, combined with various other recreational activities that contribute positively to the activities inside. The design was used through the stages of a field survey that was useful for knowing the conditions, potential, and the surrounding environment, which later served to obtain analysis and reference materials in the design process, as well as through comparative literature studies and comparative studies to provide optimal and appropriate designs later. The design of the culinary tour planned in the Soekarno Hatta Area of Magelang City used the architectural symbiosis approach, that is the symbiosis in architecture as a design theme used to combine two different places of different functions and activities into something new, and have the impact of a positive symbiosis that is good for both parties, and can reach the prospect and expected feasibility later. Keywords: sense of place; architectural symbiosis; waterfront; culinary tourism. 
PENGARUH PERUBAHAN FUNGSI LINGKUNGAN BINAAN TERHADAP CITRA KAWASAN WISATA TEKSTIL CIGONDEWAH KOTA BANDUNG Wijaya, Karto; Setioko, Bambang; Murtini, Titin Woro
Jurnal Arsitektur KOMPOSISI Vol 11, No 2 (2015): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.867 KB) | DOI: 10.24002/jars.v11i2.1107

Abstract

Abstract: The Cigondewah is a region that become the tourist area of cloth shopping, majority of the Cigondewah region user are salesman and businessman that mostly are the main economic agents. The marketing activity that growth and develop can affect the building in corridor around the market. The presence of the textile industry region in those area gives its own color to the changes in the built environment functuin in the road corriodor of Cigondewah. This study aims to determine the effect of the changes in the built environment function against the image of the textile tourism region in Cigondewah in Bandung. The quantitative rationalistic are used with gathering data through literature study, questionaires, and fi eld observation. The statistic data analyzing with regression test use SPSS 19.0 software for Windows. The result of this study show that there are signifi cant changes of built environment function against the image of textile tourism region in Cigondewah in Bandung at 41,0%, while the rest at 59.0% that form the region image, are affected by other model outside this study.Keywords: The changes of Built Environment Function, Region image, Textile tourismAbstrak: Kawasan Cigondewah merupakan kawasan yang menjadi area wisata belanja kain, mayoritas pengguna kawasan Cigondewah ini di antaranya pedagang dan pengusaha yang sebagian besar merupakan penghuni sebagai pelaku ekonomi utama. Kegiatan aktivitas perdagangan yang tumbuh dan berkembang dapat mempengaruhi bangunan pada koridor di sekitar perdagangan tersebut. Adanya kawasan industri tekstil di kawasan tersebut memberikan warna tersendiri terhadap perubahan fungsi lingkungan pada koridor jalan Cigondewah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perubahan fungsi lingkungan binaan terhadap citra kawasan wisata tekstil di Cigondewah Kota Bandung. Metode kuantitatif rasionalistik digunakan dengan pengumpulan data melalui studi literatur, kuesioner dan observasi lapangan. Analisis data Statistik dengan uji regresi menggunakan software SPSS 19.0 for Windows. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh perubahan fungsi lingkungan binaan terhadap citra kawasan wisata tekstil di Cigondewah Kota Bandung sebesar 41,0 %, sedangkan sisanya sebesar 59.0 % yang membentuk citra kawasan dipengaruhi oleh model yang lain di luar dari penelitian ini.Kata kunci: Perubahan Fungsi Lingkungan Binaan, Citra kawasan, Wisata Textile
POLA AKTIVITAS RUANG TERBUKA PUBLIK PADA KAWASAN TAMAN FATAHILLAH JAKARTA Hantono, Dedi
Jurnal Arsitektur KOMPOSISI Vol 11, No 6 (2017): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (854.617 KB) | DOI: 10.24002/jars.v11i6.1360

Abstract

Abstract: Fatahillah Park in front of Fatahillah Museum is part of Jakarta Kota area (called Kota Tua, Old Town) which is a conservation area. Fatahillah Park currently serves as a public open space surrounded by historic buildings on four sides. As a public open space, Taman Fatahillah is visited by people from various regions in Indonesia and foreign tourists, so there are various activities in it. This paper describes the results of research on the pattern of human activity (visitors) in Taman Fatahillah. The research used qualitative approach and descriptive analysis method. As a result, as a public open space, Taman Fatahillah is accessed by anyone and within the timeframe from morning to evening. Activities that take place in Taman Fatahillah are dominated by secondary actors (visitors) while the primary actors (traders) are limited by a certain place and time. The activity on the path space forms a linear pattern and on an open field forming a random pattern.Keywords: public open space, activities, area, conservation, urban designAbstrak: Taman Fatahillah di depan Museum Fatahillah adalah bagian dari kawasan Jakarta Kota (disebut Kota Tua) yang merupakan kawasan konservasi. Taman Fatahillah saat ini berfungsi sebagai ruang terbuka publik yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan bersejarah pada empat sisi. Sebagai ruang terbuka publik, Taman Fatahillah didatangi orang-orang dari berbagai daerah di Indonesia dan wisatawan manca negara, sehingga muncul beragam aktifitas di dalamnya. Tulisan ini memaparkan hasil penelitian tentang pola aktivitas manusia (pengunjung) di Taman Fatahillah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis deskriptif. Hasilnya, sebagai ruang terbuka publik, Taman Fatahillah diakses oleh siapa saja dan dalam rentang waktu dari pagi hari hingga malam hari. Aktivitas yang berlangsung di Taman Fatahillah didominasi oleh pelaku sekunder (pengunjung) sedangkan pelaku primer (pedagang) dibatasi oleh tempat dan waktu tertentu. Aktivitas pada ruang jalan membentuk pola linier dan pada lapangan terbuka membentuk pola acak.Kata Kunci: ruang terbuka publik, aktivitas, kawasan, konservasi, rancang kota
EVALUASI PENATAAN PERABOTAN SECARA ERGONOMI BERDASARKAN POLA AKTIVITAS PENGGUNA RUANG, Studi Kasus: Ruang Baca Perpustakaan Daerah Kalimantan Tengah Ricardo, David
Jurnal Arsitektur KOMPOSISI Vol 11, No 3 (2016): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1433.552 KB) | DOI: 10.24002/jars.v11i3.1187

Abstract

Abstract: Library is the place and the source of knowledge. To facilitate employees as well as visitors, a comfortable space is an important criteria to be fulfilled in designing library building. In regional library of Central Borneo, reading rooms were most frequently used. According to library concept, the level of comfort depended on some important factors, especially interior design. The arrangement of the furniture is the focus of this study related do the comfortable criteria to be analyzed in library design. The techniques in this study were observation, interviews, and literature study. The data were analyzed then compared to the standards of furniture arrangement based on ergonomics and anthropometry approach. This study found that the library level of comfort was still below the standards. The suggestions were: (1) rearrange the furniture in the reading room to meet the standard; (2) rearrange a clear division of the reading zones, and put the proper distance among bookshelf; and (3) change the circulation paths into one-way paths.Keywords: library reading rooms, ergonomics, visitor activities, furnitureAbstrak: Perpustakaan adalah tempat dan sumber pengetahuan. Kenyamanan ruang merupakan salah satu syarat penting yang harus dipenuhi dalam perancangan bangunan perpustakaan agar dapat memfasilitasi pegawai maupun pengunjung perpustakaan. Ruang baca merupakan ruangan yang paling banyak digunakan pada Perpustakaan Daerah Kalimantan Tengah. Menurut konsep perpustakaan, tingkat kenyamanan ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain perancangan interior. Fokus penelitian ini pada penataan perabot guna memenuhi kriteria kenyamanan sebuah perpustakaan yang dikaji dengan menggunakan pendekatan ergonomis. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode observasi dan wawancara serta studi literatur. Data kemudian dianalisa dan dibandingkan dengan standar penataan perabot berdasarkan pendekatan ergonomis dan antropometris. Penelitian menghasilkan kesimpulan bahwa kenyamanan ergonomis dan antropometris pada ruang baca Perpustakaan Daerah Kalimantan Tengah belum sesuai standar. Rekomendasi untuk penataan perabotan ruang baca perpustakaan yaitu: penataan dan ketegasan zona baca dan pendukungnya, penataan jarak antar rak buku, dan perubahan jalur sirkulasi menjadi searah.Kata kunci: ruang baca perpustakaan, ergonomi, aktivitas pengguna, perabotan
ANALISIS PENGARUH PEMBANGUNAN JALAN LAYANG JANTI TERHADAP PERKEMBANGAN TATA RUANG KAWASAN JANTI STUDI KASUS : KAWASAN JANTI, DESA CATURTUNGGAL, KABUPATEN SLEMAN, D. I. YOGYAKARTA El Boru, Jeky
Jurnal Arsitektur KOMPOSISI Vol 10, No 4 (2013): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1036.513 KB) | DOI: 10.24002/jars.v10i4.1089

Abstract

Abstract: This research aims to analyze the impact of Janti Flyover Construction toward the growth of layout at Janti Urban Area, including structured space, open space, and linkage. Method used for data collecting are observation, air photograph monitoring, and interview, whereas the analysis method is qualitative description, which is the superimposed method of two layers, that are the layout condition before and after flyover construction. The result shows that the impact of Janti Flyover construction can be seen on building mass (solid), the increasing number of open spaces, including the road network, parking place, and park, whereas the relation between spaces, visually and structurally, can be seen on the growth of buildings which have new shapes and styles, therefore the performance of the overall building does not have a proportional shape. Considering Janti Street at the collective relation, its role is getting stronger as the main frame road network.Keywords: Flyover construction, layout changing, Janti AreaAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pembangunan Jalan Layang Janti terhadap perkembangan tata ruang Kawasan Janti, meliputi ruang terbangun, ruang terbuka, serta hubungan antar ruang (“linkage”). Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi, pengamatan foto udara, dan wawancara; sedangkan metode analisis melalui deskripsi secara kualitatif yang berupa “superimposed method” dari dua lapisan kondisi lahan, yakni kondisi tata ruang sebelum dan sesudah pembangunan jalan layang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh pembangunan Jalan Layang Janti terdapat pada massa bangunan (“solid”), pertambahan ruang terbuka yang berupa jaringan jalan, parkir, dan taman; sedangkan pada hubungan antar ruang ̶ secara visual dan struktural ̶ yakni tumbuhnya bangunan dengan bentuk dan gaya baru, sehingga bentuk tampilan bangunan secara keseluruhan tidak proporsional. Pada hubungan kolektif, Jalan Janti semakin kuat perannya sebagai kerangka utama jaringan jalan.Kata kunci : Pembangunan jalan layang, tata ruang, Kawasan Janti
SIMULASI PENCAHAYAAN ALAMI DAN BUATAN DENGAN ECOTECT RADIANCE PADA STUDIO GAMBAR; KASUS STUDI: STUDIO GAMBAR SEKOLAH TINGGI TEKNIK MUSI PALEMBANG Chandra, Tiffany; Amin, Abd. Rachmad Zahrial
Jurnal Arsitektur KOMPOSISI Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.786 KB) | DOI: 10.24002/jars.v10i3.1112

Abstract

Abstract: Natural lighting comes from the sun, while the artificial lighting comes from artificial light (lamp). Lighting is needed to do the activities in a room, whether it is natural or artificial lighting. The amount of natural lighting depends on the location and the dimension of windows as well as the direction of the trajectory of the sun. Window, which has a larger opening, will allow much sun light. Artificial lighting depends on the types of lamp and the power of light transmission (watts). If the power of light transmission is greater, the light will be brighter. Certain activities will need different illumination level. The standard of illumination level for the studio of drawing is 750 lux because the activities require high precision. In the initial study to determine whether the lighting conditions in the studio has already met the requirement of illumination level, luxmeter is used to measure the illumination level for three days. The result of the measurement indicates that the natural lighting, which is available today, has not reached 750 lux. This study uses Ecotect Radiance Simulation Program to improve natural and artificial lighting in the studio of drawing. To achieve the actual results of the simulation of artificial lighting, the simulation uses Erco lights series LED White 72689.000 Opton which is placed 2.5 meters from the floor. The simulation shows that the average value of random samples is 1749, 7 lux. Simulation of the natural lighting uses the climate of Palembang city. Therefore, it is advisable to replace the existing artificial lighting with the lights.Keywords: natural lighting, artificial lighting, architectural drawing studioAbstrak: Pencahayaan alami adalah pencahayaan yang bersumber dari sinar matahari, sedangkan sumber pencahayaan buatan berasal dari sinar buatan (lampu). Sebuah ruang dengan segala aktivitas didalamnya membutuhkan pencahayaan, baik itu alami maupun buatan. Pencahayaan alami yang masuk ke dalam ruangan dipengaruhi oleh letak dan ukuran jendela, serta arah lintasan matahari. Semakin besar bukaan pada jendela, maka cahaya yang masuk akan semakin besar pula. Pencahayaan buatan yang maksimal dipengaruhi oleh jenis lampu dan kekuatan daya pancar (watt). Semakin besar daya yang digunakan, maka lampu tersebut akan semakin terang. Fungsi ruang yang berbeda akan membutuhkan tingkat iluminasi yang berbeda. Tingkat iluminasi standar untuk ruang studio gambar adalah 750 lux karena termasuk aktivitas yang membutuhkan ketelitian tinggi. Pada penelitian awal, yang dilakukan untuk mengetahui apakah kondisi pencahayaan pada ruang studio gambar telah memenuhi standar, dilakukan pengukuran dengan menggunakan luxmeter selama tiga hari. Hasil dari pengukuran tersebut menunjukkan bahwa pencahayaan alami yang ada saat ini belum mencapai 750 lux. Pada penelitian ini dilakukan simulasi dengan program Ecotect Radiance untuk memperbaiki pencahayaan alami dan buatan pada ruang studio gambar. Untuk mendekati hasil sebenarnya dalam simulasi pencahayaan buatan, digunakan lampu Erco seri Opton LED White 72689.000 yang diletakkan setinggi 2,5 meter dari lantai. Dari simulasi ini, diperoleh nilai rata-rata dari sampel acak sebesar 1749,7 lux. Simulasi pencahayaan alami menggunakan iklim kota Palembang. Oleh karena itu, disarankan untuk mengganti pencahayaan buatan yang ada saat ini dengan lampu tersebut.Kata kunci: pencahayaan alami, pencahayaan buatan, studio gambar

Page 1 of 10 | Total Record : 99