cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL BIOMEDIK
ISSN : 20859481     EISSN : 2597999X     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
JURNAL BIOMEDIK adalah JURNAL ILMIAH KEDOKTERAN yang diterbitkan tiga kali setahun pada bulan Maret, Juli, November. Tulisan yang dimuat dapat berupa artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran..
Arjuna Subject : -
Articles 340 Documents
KORELASI POSISI TIP CATHETER DOUBLE LUMEN DENGAN NILAI QUICK OF BLOOD PADA PEMASANGAN CDL TUNNELING VENA JUGULARIS INTERNA KANAN DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU Tubagus, Angga P.; Tjandra, Djony E.; Sumangkut, Richard
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 11, No 2 (2019): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.11.2.2019.23322

Abstract

Abstract: Chronic kidney disease (CKD) is a global public health problem with increasing prevalence and incidence. Patients with CKD require kidney replacement therapy such as hemodialysis. The quick of blood (Qb) value is one of the most important determinants for adequate hemodialysis. Many factors can affect the Qb value, inter alia the catheter tip position. It is very complex and still controversial to determine the optimal position of the catheter itself. This study was aimed to determine the correlation between the double lumen catheter tip position and Qb value in insertion of the right internal jugular vein CDL tunneling at Prof. Dr. R. D. Kandou hospital. This was a correlation analytical study with a cross-sectional design. The position of the CDL tips were evaluated by using chest x-ray and the Qb values were determined by using hemodyalisis machine. Data were analyzed by using point-biserial correlation test. In total, 55 patients were included, mostly were males (56.4%) and late elderly (41.8%). The results showed that the average Qb value with CDL tip position in intraatrial (178.2 ml/minute) was slightly higher than the average Qb value with CDL tip position in CAJ (171.6 ml/minute). The bivariate analysis showed that the position of the double-lumen catheter tip had a weak positive correlation but not significant with the Qb value. Conclusion: There was a correlation but not statistically significant between the position of the CDL tip and the Qb value.Keywords: CKD, catheter tip position, catheter double-lumen, Quick of bloodAbstrak: Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan masalah kesehatan masyarakat global dengan prevalensi dan insidens yang terus meningkat. Pasien gagal ginjal memerlukan terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis. Nilai quick of blood (Qb) merupakan salah satu penentu yang sangat penting bagi hemodialisis yang adekuat. Banyak faktor yang dapat memengaruhi nilai Qb, salah satunya ialah posisi tip kateter. Hal yang menentukan posisi optimal dari kateter sendiri sangat kompleks dan masih kontroversial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara posisi tip kateter double lumen dengan nilai quick of blood pada pemasangan CDL vena jugularis interna kanan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah analitik korelasi dengan desain potong lintang. Alat ukur yang digunakan ialah foto toraks untuk menentukan posisi tip CDL dan mesin hemodialisa untuk melihat nilai Qb. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji korelasi point-biserial. Subyek penelitian ini sebanyak 55 pasien, lebih banyak yang berjenis kelamin laki-laki (56,4%) dan berada dalam kategori usia lansia akhir (41,8%). Hasil penelitian menunjukkan nilai rerata Qb posisi tip CDL di intraatrial (178,2 ml/menit) sedikit lebih tinggi daripada rerata nilai Qb posisi tip CDL di CAJ (171,6 ml/menit). Hasil analisis data mendapatkan korelasi positif lemah dan tidak bermakna (antara posisi tip catheter double-lumen dengan nilai Qb. Simpulan: Terdapat korelasi yang tidak bermakna secara statistik antara posisi tip CDL dengan nilai Qb.Kata kunci: PGK, posisi tip kateter, double-lumen catheter, quick of blood
LESI PRAKANKER DAN KANKER RONGGA MULUT Lintong, Poppy M.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 5, No 3 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.3.2013.4350

Abstract

Skrining  terhadap  perkembangan  lesi prakanker dan kanker rongga mulut telah meningkat secara pesat dalam beberapa dekade terakhir. Bermacam macam lesi mukosa mulut seperti lesi kemerahan (erythroplasias) dan lesi putih (leukoplakias) berpotensi menjadi kanker, Keadaan ini harus dibedakan dari lesi hiperplastik kronik seperti kandidosis yang sangat kurang berpotensi menjadi kanker. Lesi-lesi erythroplasia dan leukoplakia mempunyai risiko untuk berubah menjadi ganas, sehingga dibutuhkan perhatian untuk mengenal lesi-lesi ini. Akurasi prediksi rendah terhadap lesi-lesi ini, namun lesi-lesi yang berisiko ini dapat menjadi dasar untuk diagnosis dan rencana pengobatan. Faktor-faktor yang menyokong terjadinya lesi-lesi ini antara lain merokok tembakau, alkohol, dan gangguan genetik. Tingkat prediktor terbaik terhadap lesi yang berpotensi menjadi ganas secara histologik dapat dilihat dari derajat displasia. Displasia merupakan pertumbuhan tidak normal secara sitologik, dan dapat dijumpai pada sel-sel prakanker maupun kanker. Lesi prakanker dibedakan dari kanker berdasarkan  pada invasi sel-sel tumor ke dalam stroma dan metastase atau penyebaran. Kanker pada rongga mulut diatas 90% adalah jenis karsinoma sel skuamous, berasal dari sel-sel epitel mukosa. Patogenesis dari karsinoma sel skuamous  multifaktorial. Di Amerika Utara dan Eropah  kanker rongga mulut umumnya terjadi pada pria usia pertengahan dengan riwayat perokok tembakau kronis dan peminum alkohol. Faktor-faktor lain yang  menyokong terjadinya karsinoma sel skuamous yaitu infeksi dengan virus HPV, dan lebih jarang virus HIV. Studi mengenai ekspresi gen telah mengidentifikasi tanda-tanda transkripsi gen pada karsinoma sel skuamous rongga mulut. Evaluasi dan deteksi lesi prakanker dan kanker rongga mulut dapat dilakukan melalui pemeriksaan sitologi, biopsi, dan potong beku. Pengambilan sampel yang baik melalui biopsi jaringan dapat menegakkan diagnosis berdasarkan pemeriksaan histopatologik. Pemeriksaan sitologi melalui skreping pada lesi erythroplasia atau leukoplakia dapat mendeteksi adanya lesi prakanker atau karsinoma in situ lebih awal. Biopsi aspirasi jarum halus pada kelenjar getah bening di daerah leher dapat mengkonfirmasi adanya penyebaran atau metastase. Pemeriksaan potong beku berperan untuk mendeteksi batas-batas dari tumor. Pengenalan dan diagnosis dini lesi-lesi prakanker sangat bermanfaat dalam prognosis dan penyembuhan yang optimal.
PEMBERIAN TEMPOYAK PER ORAL DAPAT MENGHAMBAT PENINGKATAN EKSPRESI MATRIKS METALOPROTEINASE-1 PADA TIKUS (RATTUS NORVEGICUS) BETINA DEWASA GALUR WISTAR YANG DIPAJAN SINAR UVB Fiter, Joni; Wiraguna, AAG Putra; Pangkahila, Wimpie
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 9, No 2 (2017): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.9.2.2017.16357

Abstract

Abstract: Ultraviolet B (UVB) is a source of free radicals that accelerate aging process, especially in the skin by increasing the expression of MMP-1. Tempoyak is rich in nutraceuticals and probiotics that may provide a protective effect against skin exposure to ultraviolet rays. This study was aimed to prove that oral tempoyak could inhibit the increase of matrix metalloproteinase-1 (MMP-1) in UVB-induced rats (Rattus norvegicus). This was a true experimental study with the posttest only control group design. Subjects were 36 female Wistar rats (Rattus norvegicus), aged 2.5-3 months, weighing180-200 g, divided into 2 groups. The control group (P0) exposed to UVB was given oral aquadest as placebo, while the treatment group (P1) exposed to UVB was given 1 g/200 g body weight of oral tempoyak. After 15 days of treatment, all rats were anesthetized and their skin tissues were taken for examination of MMP-1 expression. The analysis showed that the average of MMP-1 expression in the control group (P0) was 25.26±11.19% meanwhile the average of MMP-1 expression in the treatment group (P1) was 8.67±2.51%. There was a significant difference between the MMP-1 expression of the two groups (P = 0.000). Conclusion: Oral tempoyak could inhibit the increase of matrix metalloproteinase-1 (MMP-1) in UVB-induced rats (Rattus norvegicus).Keywords: tempoyak, MMP-1, UVBAbstrak: Ultraviolet B (UVB) merupakan salah satu sumber radikal bebas yang dapat mempercepat proses penuaan, khususnya penuaan kulit melalui peningkatan ekspresi MMP-1. Tempoyak yang kaya akan kandungan nutraseutikal dan probiotik dapat memberikan efek perlindungan kulit terhadap pajanan sinar ultraviolet. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa pemberian tempoyak per oral dapat menghambat peningkatan ekspresi MMP-1 tikus yang dipajan sinar ultraviolet-B (UVB). Jenis penelitian ialah eksperimental murni dengan menggunakan post test only control group design. Subjek penelitian ialah 36 ekor tikus putih (Rattus norvegicus), betina, galur Wistar, berumur 2,5-3 bulan, dengan berat badan 180-200 gr yang dibagi menjadi 2 (dua) kelompok masing-masing berjumlah 18 ekor tikus. Kelompok kontrol (P0) diberikan pajanan UVB dan akuades per oral sebagai plasebo sedangkan kelompok perlakuan (P1) diberikan pajanan UVB dan tempoyak dengan dosis 1 gr/ 200 gr BB. Setelah 15 hari perlakuan, seluruh tikus dianestesi kemudian diambil jaringan kulitnya untuk pemeriksaan ekspresi MMP-1 dermis. Hasil analisis menunjukkan bahwa rerata ekspresi MMP-1 pada kelompok kontrol (P0) ialah 25,26±11,19% sedangkan rerata ekspresi MMP-1 pada kelompok perlakuan (P1) ialah 8,67±2,51%. Terdapat perbedaan bermakna antara rerata ekspresi MMP-1 antara kedua kelompok (P = 0,000). Simpulan: Pemberian tempoyak per oral dapat menghambat peningkatan ekspresi MMP-1 tikus (Rattus norvegicus) yang dipajan sinar ultraviolet-B (UVB).Kata kunci: tempoyak, MMP-1, UVB
AMENOREA SEKUNDER: TINJAUAN DAN DIAGNOSIS Suparman, Erna; Suparman, Eddy
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 9, No 3 (2017): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.9.3.2017.17335

Abstract

Abstract: Secondary amenorrhea occurs when a woman in reproductive age who has experienced menstruation, at a sudden stops menstruating for at least three consecutive months. The basic principle underlying the physiology of menstrual function is composed of multiple organ systems with their appropriate compartments in which the menstrual cycle depends on, as follows: compartment I, disorders of the uterus; compartment II, disorders of the ovary; compartment III, disorders of the anterior pituitary; and compartment IV, disorders of the central nervous system (hypothalamus). Finding the cause of secondary amenorrhoea can be done by doing some tests or trials. Determination of the location of the specific anatomical defect is useful to obtain appropriate treatment according to the cause of amenorrhea.Keywords: secondary amenorrhoeaAbstrak: Dikatakan amenorea sekunder bila seorang wanita usia reproduktif yang pernah mengalami haid, tiba-tiba haidnya berhenti untuk sedikitnya 3 bulan berturut-turut. Prinsip dasar yang mendasari fisiologi dari fungsi menstruasi memungkinkan penyusunan beberapa sistem kompartemen yang tepat di mana siklus menstruasi bergantung, yaitu: kompartemen I gangguan pada uterus, kompartemen II gangguan pada ovarium, kompartemen III gangguan pada hipofisis anterior, dan kompartemen IV gangguan pada sistem saraf pusat (hipotalamus). Gangguan ini sering berhubungan dengan keadaan stres (wanita pengungsi, dipenjara, hidup dalam ketakutan), atlit wanita, atau anoreksia nervosa dan bulimia. Mencari penyebab amenorea dapat diperoleh dengan melakukan beberapa uji atau percobaan. Penentuan lokasi defek anatomis spesifik sangat bermanfaat untuk mendapatkan penanganan yang sesuai dengan penyebab amenore.Kata kunci: amenorea sekunder
THE MANAGEMENT OF VENOUS THROMBOEMBOLIC DISORDERS Purwanto, Diana S.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 3, No 3 (2011): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.3.3.2011.871

Abstract

Abstrak: Tromboemboli vena (VTE) mengacu pada semua bentuk trombosis patologis yang terjadi di sirkulasi vena, yang paling umum adalah trombosis vena dalam (DVT) pada ekstremitas bawah, namun manifestasi VTE yang paling mengancam nyawa adalah embolisasi trombi vena dalam ke sirkulasi paru, yang disebut emboli paru (PE). Banyak faktor baik yang diturunkan atau didapat, bisa menyebabkan VTE karena faktor-faktor tersebut mempengaruhi stasis vena, kerusakan pembuluh dan hiperkoagulabilitas, sebagai pemicu peristiwa trombotik. Sebuah kombinasi dari tes D-dimer dan probabilitas klinis diperkenalkan oleh Wells sebagai langkah pertama dalam diagnosis. Agen antikoagulan biasanya UFH atau LMWH, harus diberikan untuk menghindari pembentukan bekuan lebih lanjut ketika gangguan VTE dikonfirmasi. Pada saat efek antitrombotik yang memadai dicapai dengan heparin, antikoagulan oral seperti warfarin digunakan untuk mengurangi kemungkinan VTE berulang. Kata kunci: Tromboemboli vena, DVT, PE, D-dimer, antikoagulan.     Abstract: Venous thromboembolism (VTE) refers to all forms of pathologic thrombosis occurring on the venous side of the circulation, the most common of which is deep venous thrombosis (DVT) of the lower extremities. The most life-threatening manifestation of VTE is embolization of venous thrombi to the pulmonary circulation, called pulmonary embolism (PE). Many factors, either inherited or acquired, can cause VTE, since these factors influence the venous stasis, vessel damage and hypercoagulability, as the trigger of thrombotic event.   A combination of a D-dimer assay and clinical probability as a first step in diagnostic work-up was introduced by Wells et al. An initial management of anticoagulant agents usually UFH or LMWH, should be administered to avoid further clot formation when VTE disorder is confirmed. At some point an adequate antithrombotic effect is achieved with heparin, oral anticoagulant such as warfarin is started to reduce the probability of recurrent VTE. Keywords: Venous thromboembolism, DVT, PE, D-dimer, anticoagulant.
HUBUNGAN ANTARA FRAKTUR MAKSILOFASIAL DENGAN TERJADINYA LESI INTRAKRANIAL Tanuhendrata, Anton; Hatibie, Mendy; Oley, Maximillian Ch.; Prasetyo, Eko
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 8, No 3 (2016): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.8.3.2016.14151

Abstract

Abstract: Maxillofacial structure is an unprotected part of the head and is easily exposed to blunt trauma. This structure functions as a safety cushion for the brain when a trauma occures. This study was conducted at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado and aimed to obtain the relationship between maxillofacial fracture and intracranial lesion. Subjects were patients at the emergency unit with traffic accident associated with maxillofacial fracture with or without intracranial lelsion. GCS examination and CT scan of the head were performed to evaluate the intracranial lesion and the maxillofacial fracture (mild, moderate, or severe depended on the type of fracture). Data were tabulated and analyzed with Spearman correlation test using SPSS 2.2 program. The results showed that there were 50 patients with maxilllofacial injury, consisted of: 19 patients with mild injury, 25 patients with moderate injury, and 6 patients with severe injury. There were 13 patients with intracranial lesion and 37 patients without intracranial lesion. The Spearman correlation test showed an X2 = 32,60 and a P < 0.0001. Conclusion: There was a significant correlation between maxillofacial fracture and intracranial lesion.Keywords: maxillofacial fracture, intracranial lesionAbstrak: Struktur maksilofasial merupakan bagian dari tubuh yang tidak terlindungi, mudah terpapar oleh trauma tumpul, dan merupakan bantal pengaman untuk otak saat trauma terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hubungan antara fraktur maksilofasial dengan lesi intracranial dan dilakukan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Subyek penelitian ialah pasien yang datang ke unit gawat darurat yang mengalami kecelakaan lalu lintas dengan fraktur maksilofasial serta ada atau tidaknya lesi intrakranial. Pemeriksaan GCS serta CT scan kepala dilakukan untuk menilai lesi intrakranial sekaligus menilai fraktur maksilofasial (ringan, sedang, atau berat, tergantung dari jenis fraktur). Data ditabulasi dan diuji kemaknaannya dengan korelasi Spearman menggunakan program SPSS 2.2. Hasil penelitian memperlihatkan dari 50 pasien dengan cedera maksilofasial didapatkan: 19 pasien cedera ringan, 25 pasien cedera sedang, dan 6 pasien cedera berat. Terdapat 13 pasien yang disertai lesi intrakranial, sedangkan yang tanpa lesi intrakranial sebanyak 37 pasien. Uji statistik mendapatkan nilai X2 = 32,60 dengan P <0,0001 yang menunjukkan hubungan bermakna antara fraktur maksilofasial dan lesi intrakranial. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara fraktur maksilofasial dan lesi intrakranial.Kata kunci: Fraktur maksilofasial, lesi intrakranial
PERBANDINGAN HASIL DETEKSI PLASMODIUM SPP ANTARA CARA PEMERIKSAAN MIKROSKOPIK TETESAN DARAH TEBAL DAN TEKNIK POLYMERASE CHAIN REACTION Sandra, Cindy; Tuda, Josef S. B.; Pijoh, Victor D.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 6, No 1 (2014): JURNAL BIOMEDIK : JBM Maret 2014
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.6.1.2014.4161

Abstract

Abstract: Malaria is still a health problem in the world, especially in undeveloped countries. This disease is caused by protozoa of the genus Plasmodium and has two ways of transmission, naturally (Anopheles spp.) and unnaturally. WHO mentioned that in 2006 there were as many as 200-300 million cases of clinical malaria with 880,000 deaths. In 2012, it was recorded that there were a total of 8,691 malaria cases in North Sulawesi, Indonesia. Therefore, an early diagnostic tool with high sensitivity and specificity is needed. This study aimed to compare the sensitivity and specificity in detection of Plasmodium spp by using thick blood smear method to Polymerase Chain Reaction (PCR). This was a diagnostic test using blood samples of 30 malaria patients at Budi Mulia Hospital and Manembo-nembo Hospital Bitung from September 2013 - January 2014. Thick blood smears were prepared and microcopically tested, then the specimens were scrapped and be further tested by using the PCR. The microscopic test showed 20 positive samples meanwhile the PCR showed 24 positive samples. A diagnostic test using predictive table 2x2 indicated that the PCR had 100% sensitivity in general, 60% specifity, 83.3% positive predictive value, and 100% negative predictive value. Conclusion: Compared to the thick blood smear, the PCR was more accurate in detecting plasmodia in malaria cases with a moderate specificity value and a high sensitivity value.Keywords: thick blood smear, Polymerase Chain Reaction (PCR), sensitivity, specificity  Abstrak: Malaria merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan di dunia terutama di negara-negara yang belum berkembang. Malaria disebabkan oleh protozoa dari genus Plasmodium dan ditularkan melalui dua cara yaitu alamiah melalui nyamuk Anopheles spp. dan tidak alamiah. WHO melaporkan bahwa pada 2006 terdapat 200-300 juta kasus malaria dengan 880.000 kematian. Di Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia, dilaporkan total kasus malaria tahun 2012 sebesar 8.691. Oleh karena itu diperlukan suatu alat diagnostik dini dengan sensitivitas dan spesifisitas yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tingkat sensitivitas dan spesifisitas hasil deteksi Plasmodium spp antara cara pemeriksaan mikroskopik tetesan darah tebal dan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR). Penelitian ini merupakan uji diagnostik dengan sampel darah dari 30 pasien malaria di RS Budi Mulia dan RS Manembo-nembo Bitung sejak September 2013 - Januari 2014. Setelah disiapkan tetesan darah tebal, dilakukan pemeriksaan mikroskopik. Selanjutnya, spesimen darah dikerok dan diperiksa dengan PCR. Hasil pemeriksaan mikroskopik menunjukkan 20 sampel positif malaria sedangkan pemeriksaan PCR 24 sampel positif malaria. Tes uji diagnostik dengan tabel prediktif 2x2 mendapatkan tingkat sensitivitas PCR secara umum sebesar 100%, spesifisitas 60%, nilai duga positif 83,33%, dan nilai duga negatif 100%. Simpulan: Dibandingkan tetesan darah tebal, pemeriksaan PCR dapat mendeteksi secara lebih akurat adanya plasmodia pada kasus malaria, dengan nilai spesifitas sedang dan nilai sensitivitas tinggi.Kata kunci: tetesan darah tebal, Polymerase Chain Reaction (PCR), sensitivitas, spesifisitas
PSORIASIS RUPIOID PADA PASIEN PENGIDAP HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS: LAPORAN KASUS Mellyanawati, .; Palimbong, Florencia; Kapantouw, Grace M.; Niode, Nurdjannah J.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 11, No 3 (2019): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.11.3.2019.26333

Abstract

Abstract: Psoriasis can occur in patients with human immunodeficiency virus (HIV), but the clinical features are very unusual and difficult to establish as a diagnosis. One of the rare types of psoriasis is rupioid psoriasis that often occurs in immunocompromised patients marked with the presence of thick crusts in cone and limpet-like shapes. Definite diagnosis is usually made by performing a histo-pathological skin biopsy, and other supporting investigations to rule out differential diagnoses. The main therapy for psoriasis in HIV patients is phototherapy and antiretroviral drugs, besides that topical therapy and immunosuppressants should be considered according to the patients? condition. We reported a male, aged 38 years, with complaints of thick crusts on the skin almost the entire body since 2 months ago, accompanied by a slight itchy feeling. On clinical examination, erythematous plaques were found accompanied by thick crusting with cone and limpet-like shapes. Anti-HIV was reactive, CD4 <200 cells/?L, and histopathology examination of skin biopsy led to the diagnosis of psoriasis. Based on these clinical findings and investigations, diagnosis of rupioid psoriasis was established. The patient showed significant improvement after being treated with symptomatic systemic drugs and topical steroids for 3 weeks.Keywords: rupioid psoriasis, human immunodeficiensy virus, topical steroid Abstrak: Psoriasis dapat terjadi pada pasien dengan human immunodeficiency virus (HIV), namun gambaran klinisnya sangat tidak khas dan sulit untuk didiagnosis. Salah satu tipe yang jarang dari psoriasis tersebut ialah psoriasis rupioid yang sering muncul pada pasien dengan imunokompromais, dengan gambaran klinis adanya krusta tebal berbentuk kerucut dan limpet. Diagnosis pasti biasanya ditegakkan dengan melakukan biopsi kulit histopatologik, dan pemeriksaan penunjang lainnya untuk menyingkirkan diagnosis banding. Terapi utama untuk psoriasis pada pengidap HIV yaitu fototerapi dan ARV. Pemberian terapi topikal dan imunosupresan perlu dipertimbangkan sesuai dengan kondisi pasien. Kami melaporkan kasus seorang laki-laki, berusia 38 tahun, dengan keluhan timbul keropeng tebal pada kulit hampir seluruh tubuh, sejak 2 bulan lalu disertai rasa sedikit gatal. Pada pemeriksaan klinis didapatkan adanya plak eritematosa yang disertai krusta tebal dengan bentuk kerucut dan limpet. Pemeriksaan anti HIV reaktif, CD4 <200 sel/?L, dan pemeriksaan biopsi kulit histopatologik mengarah ke diagnosis psoriasis. Berdasarkan temuan klinis dan pemeriksaan penunjang tersebut, diagnosis psoriasis rupioid ditegakkan. Pasien menunjukkan perbaikan nyata setelah diterapi dengan obat sistemik simptomatik dan topikal steroid selama 3 minggu.Kata kunci: psoriasis rupioid, HIV, topikal steroid
KANDUNGAN KALSIUM PADA AIR SUMUR YANG DIKONSUMSI PARA PENDERITA PENYAKIT BATU GINJAL DI KECAMATAN RATATOTOK KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Sumampouw, Oksfriani J.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 2, No 1 (2010): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.2.1.2010.839

Abstract

Abstract: Kidney stones affect 12% of the American population. Fifty percent (50%) of people treated for kidney stones will have recurrences within 10 years. Calcium oxalate accounts for 90% of the kidney stone incidences. The soil structure of the Ratatotok area contains a lot of lime stone; therefore, the calcium content of well water there is estimated to be high. In fact many people in the South-East Minahasa region, particularly the Ratatotok District, use well water as a drinking water supply; therefore, they have a tendency to get kidney stones. This is an analytical explorative research using 25 respondents and the well water in Ratatotok. We used a descriptive exploratory method. In this research there were primary and secondary data. The primary data, the calcium content, were taken with a purposive method from the 25 wells used by the 25 kidney stone patients. The secondary data were taken from the 25 patients? questionnaires. The calcium content was analyzed in a laboratory by using a spectrophotometer. Respondents? characteristics were analyzed descriptively by using the SPSS version 16.0 for data counting. This research reported that 1) the majority of kidney stone patients in Ratatotok, South East Minahasa were male of 45-54 years old with an average age of 49.64 years, 2) all of the calcium contents of the well water consumed by the kidney stone patients at Ratatotok, South East Minahasa were higher than the maximum standard (10 ppm). The conclusion of this research was that the well water consumed by the kidney stone patients in the Ratatotok District, South East Minahasa had a higher level of calcium than the maximum standard for it. Key words: Ratatotok, calcium content, well water, kidney stone. Abstrak: Batu ginjal terjadi pada 12% masyarakat Amerika. Lima puluh persen (50%) dari penderita batu ginjal yang telah memperoleh pengobatan akan kembali mengalaminya dalam 10 tahun. Kalsium oksalat merupakan 90% penyebab insiden batu ginjal. Struktur tanah daerah Ratatotok banyak mengandung batu gamping atau kapur sehingga diperkirakan kandungan kapur dalam air sumur cukup tinggi. Masyarakat di Kecamatan Ratatotok Kabupaten Minahasa Tenggara banyak menggunakan air sumur sebagai sumber air minum sehingga berpeluang menderita batu ginjal. Metodologi yang digunakan ialah deskriptif eksploratif. Data yang diperoleh merupakan data primer dan sekunder. Data primer yaitu kadar kalsium diambil secara purposive pada 25 sumur yang digunakan oleh penderita batu ginjal dan data sekunder diperoleh dari 25 penderita batu ginjal yang telah didiagnosis menggunakan kuesioner. Kadar kalsium diukur menggunakan spektro-fotometer. Karakteristik responden diolah menggunakan SPSS versi 16.0. Dari penelitian ini diperoleh bahwa: 1) penderita batu ginjal di Ratatotok Minahasa Tenggara paling banyak berjenis kelamin laki-laki berumur 45-54 tahun dengan rata-rata umur 49,64 tahun, 2) Kandungan kalsium air sumur yang dikonsumsi oleh para penderita batu ginjal sudah berada di atas standar kualitas air minum. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu air sumur yang dikonsumsi para penderita batu ginjal di Kecamatan Ratatotok Kabupaten Minahasa Tenggara mempunyai kadar kalsium di atas standar kualitas air minum. Kata Kunci: Ratatotok, kandungan kalsium, air sumur, batu ginjal.
DISFUNGSI EREKSI PADA PENYAKIT KARDIOVASKULAR Sasube, Nancy; Rampengan, Starry H.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 8, No 1 (2016): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.8.1.2016.12330

Abstract

Abstract: Erectile dysfunction (ED) is common among cardiovascular disease (CVD) patients. It is an important component of the quality of life. Moreover, it also confers an independent risk for future CV events. There is usual a 3-year time frame between the onset of ED symptoms and a CV event which offers an opportunity for risk mitigation. Thus, sexual function should be incorporated into CVD risk assessment for all males. Algorithms for the management of patient with ED have been proposed according to the risk for sexual activity and future (comprising of both lifestyle changes and pharmacological treatment) improve overall vascular health, including sexual function. Proper sexual counselling improves the quality of life and increase adherence to medication. Testosterone assessment may be useful for both diagnosis of ED, risk stratification, and further management. There are issues to be addressed, such as whether PDE5 inhibitors reduce CV risk. Management of ED requires a collaborative approach and the role of the cardiologist is pivotal.Keywords: cardiovascular disease, erectile dysfunction, sexual functionAbstrak: Disfungsi ereksi (DE) umumnya ditemukan pada pasien dengan penyakit kardiovaskular. DE merupakan komponen penting terhadap penurunan kualitas hidup pada laki-laki dan merupakan indikator terhadap risiko kejadian penyakit kardiovaskular di masa depan. Terdapat jangka waktu sekitar 3 tahun antara munculnya DE dan kejadian penyakit kardiovaskular, sehingga masih ada kesempatan untuk mencegah risiko yang akan terjadi. Dengan demikian fungsi seksual harus dimasukkan dalam penilaian risiko penyakit kardiovaskular pada semua laki-laki. Algoritma untuk penanganan pasien DE telah dirumuskan sesuai dengan risiko aktivitas seksual dan kejadian penyakit kardiovaskular di masa depan. Beberapa pendekatan untuk mengurangi resiko penyakit kardiovaskular terdiri dari perubahan gaya hidup dan pengobatan farmakologi dapat meningkatkan kesehatan termasuk fungsi seksual. Konseling seksual yang tepat dapat meningkatkan kualitas hidup dan meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan. Penggunaan testosteron dan inhibitor PDE5 dapat bermanfaat dalam pengobatan DE. Penanganan DE memerlukan kerjasama dari berbagai bidang spesialistik termasuk peran dari kardiologis.Kata kunci: disfungsi ereksi, fungsi seksual, penyakit kardiovaskular

Page 1 of 34 | Total Record : 340


Filter by Year

2009 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 12, No 1 (2020): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 11, No 3 (2019): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 11, No 2 (2019): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 11, No 1 (2019): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 10, No 3 (2018): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 10, No 2 (2018): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 10, No 1 (2018): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 9, No 3 (2017): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 9, No 2 (2017): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 9, No 1 (2017): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen Vol 9, No 1 (2017): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 8, No 3 (2016): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 8, No 2 (2016): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen Vol 8, No 2 (2016): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 8, No 1 (2016): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 7, No 3 (2015): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen Vol 7, No 3 (2015): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 7, No 2 (2015): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 7, No 1 (2015): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 6, No 3 (2014): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen Vol 6, No 3 (2014): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 6, No 2 (2014): JURNAL BIOMEDIK : JBM Juli 2014 Vol 6, No 1 (2014): JURNAL BIOMEDIK : JBM Maret 2014 Vol 5, No 3 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen Vol 5, No 3 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 5, No 2 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 5, No 1 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen Vol 5, No 1 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 4, No 3 (2012): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen Vol 4, No 3 (2012): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 4, No 2 (2012): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 4, No 1 (2012): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 3, No 3 (2011): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 3, No 2 (2011): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 3, No 1 (2011): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 2, No 3 (2010): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 2, No 2 (2010): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 2, No 1 (2010): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 1, No 3 (2009): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 1, No 2 (2009): JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 1, No 1 (2009): JURNAL BIOMEDIK : JBM More Issue