cover
Contact Name
Arif Abadi, S.Kom.
Contact Email
penerbitan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Panggung
ISSN : -     EISSN : 25023640     DOI : -
Core Subject : Education,
Panggung is online peer-review journal focusing on studies and researches in the areas related to performing arts and culture studies with various perspectives. The journal invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in those areas mentioned above related to arts and culture in Indonesia and Southeast Asia in different perspectives.
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue " Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni" : 18 Documents clear
Konsep “Nyari” dalam Ranah Estetika Pertunjukan Wayang Golek Cahya, Cahya; Haryono, Timbul; Soetarno, Soetarno
PANGGUNG Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v22i4.67

Abstract

ABSTRACTThis paper is a part (portion) of one topic of dissertation research by the author as a preparation for the final exams of doctoral program. The focus of the study in this paper is directed to study aspects of the aesthetic values of the elements contained in the puppet show as a puppeteer working area in performing his style. The aesthetic analytical theory which is used in this study is the concept of "Nyari" that may indicate the value or aesthetic qualities of an art work. The aesthetic reality that can be found in the form of a working of a puppet show as the result of the puppeteer creative manner, indicates the wealth of traditional values as a priceless source of artistic inspiration for the artists-creators.Keywords: Wayang Golek, concept of “Nyari”, performance working ABSTRAKTulisan ini merupakan sempalan (bagian) dari salah satu topik bahasan hasil penelitian disertasi yang penulis lakukan sebagai bahan persiapan menempuh ujian akhir program doktor. Fokus pengkajian pada tulisan ini diarahkan kepada aspek penelaahan nilai-nilai estetik yang terdapat pada unsur-unsur pertunjukan wayang golek sebagai aspek wilayah garap dalang dalam menyajikan gaya pertunjukannya. Pisau bedah analisis estetik yang dijadikan pemberangkatan pada pengkajian ini adalah konsep “nyari” yang dapat menunjukkan nilai atau kualitas estetik dari sebuah karya seni. Realitas estetik yang dapat dijumpai pada bentuk garap pertunjukan wayang hasil dari olah kreatif seorang dalang tersebut, mengindikasikan kekayaan nilai-nilai tradisi sebagai sumber inspirasi berkesenian bagi para seniman-kreator yang tak ternilaikan keberadaannya.Kata kunci: wayang golek, konsep “nyari”, dan garap pertunjukan
Campursari Karya Manthous: Kreativitas Industri Musik Jawa dalam Ruang Budaya Massa -, Wadiyo; Haryono, Timbul; -, R.M. Soedarsono; Ganap, Victor
PANGGUNG Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v22i4.72

Abstract

ABSTRACT  Manthous’s Campursari is a blend of Javanese gamelan pentatonic music with popular music in Indonesia which is based on Western diatonic music. The tones of gamelan and  the  frequencies of  the  tune  are  all  transformed into  diatonic  tone frequency. However, the  harmonization which is  used is  pentatonic harmony of Javanese gamelan. Manthous’s Campursari has succesfully become one of the major music industries since it is supported by three components, namely the organizers of the music productions, the current distribution of music productions, and the needs of the community. The role of mass media is also very helpful toward the existence of this work. News about Manthous’s and his Campursari spread out widely to the public  through  the  mass  media.  In  a  relatively  short  time  of  its  emergence, Manthous’s Campursari has become a mass cultural Javanese music.  Keywords: Campursari, mass culture, music industry  ABSTRAKCampursari karya Manthous adalah sebuah campuran dari musik pentatonik gamelan  Jawa  dengan  musik  populer  di  Indonesia  yang  mengacu  pada       musik   diatonis   Barat.   Nada   gamelan   dan   frekuensi   lagu   semuanyaditransformasikan menjadi nada frekuensi diatonis. Namun, harmonisasi yang digunakan adalah harmoni pentatonis gamelan Jawa. Campursari karya Manthous telah  berhasil  menjadi salah  satu  industri  musik  besar  karena didukung oleh tiga komponen, yaitu penyelenggara produksi musik, distribusi produksi musik, dan kebutuhan masyarakat. Peran media massa juga sangat membantu terhadap keberadaan karya ini. Berita tentang Manthous dan Campursarinya menyebar secara luas di masyarakat melalui media massa. Dalam waktu kemunculannya yang relatif singkat, Campursari karya Manthous telah menjadi musik Jawa dalam ruang budaya massa.  Kata kunci: Campursari, budaya massa, industri musik 
Makna Mendidik pada Kriya Songket Silungkang Sumatera Barat Budiwirman, Budiwirman
PANGGUNG Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v22i4.68

Abstract

ABSTRACTOne of the handicraft products related to Silungkang ceremony in West Sumatra is woven songket. This study is aimed at documenting the indigenous culture of Minangkabau which is closely linked to the existence of weaving/songket Silungkang, and reviewing the various motives of songket in the same way as the language which is used as a tool of communication. This type of research is closely linked with the methods of ethnography, then it is processed through a qualitative description. The result of the research shows that songket attire is a symbol of the livelihood of indigenous people in the value of educating people and is used for all forms of ceremonial pomp (ceremonial). Therefore, the motives of songket have a strong position as a means of communication, for a variety of motives with their meanings are part of the indigenous institutions that must be obeyed.Keywords: Symbol, Songket, CultureABSTRAKSalah satu produk kerajinan yang terkait dengan upacara Silungkang di Sumatera Barat adalah tenunan songket. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan budaya asli Minangkabau yang terkait erat dengan keberadaan tenun/songket Silungkang, dan mengkaji berbagai motif songket dengan cara yang sama sebagaimana bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi. Jenis penelitian ini berhubungan erat dengan metode etnografi, maka penelitiannya diproses melalui deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakaian songket merupakan simbol dari kehidupan masyarakat adat dalam hal mendidik masyarakat dan digunakan untuk semua bentuk kemegahan upacara (seremonial). Oleh karena itu, motif songket memiliki posisi yang sangat kuat sebagai sarana komunikasi karena berbagai motif dengan maknanya masing-masing merupakan bagian dari adat istiadat yang harus dipatuhi.Kata kunci: simbol, songket, budaya
Rekonstruksi Sejarah Seni Dalam Konstruk Sejarah Visual Dienaputra, Reiza D
PANGGUNG Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v22i4.64

Abstract

ABSTRACTArt History is a category of history writing that is rich with research object. This is along withthe width of art definition scope. In the most current development, the work of art history iseasier to find in the form of scientific work at university, either essay of undergraduate (skripsi),thesis, or dissertation. Observing the encouraging development, some efforts to make the arthistory work either more qualified or more interesting to be enjoyed are needed. One of theefforts can be taken is by reconstructing art history in the visual history construct.Reconstruction of art history in visual art construct requires the using of visual source as themain source of writing and visual history research method as the chosen method. By using themethod, the produced art history will be rich with visual fact, either moving pictures or staticones.Keywords: art history, visual history, visual sourceABSTRAKSejarah seni adalah sebuah kategori penulisan sejarah yang kaya dengan obyekpenelitian. Hal ini seiring dengan luasnya ruang lingkup definisi seni. Dalamperkembangan terbaru, karya sejarah seni lebih mudah ditemukan dalam bentukkarya ilmiah di universitas, baik tulisan para sarjana (skripsi), tesis, ataupun disertasi. Dalam mencermati perkembangan yang menggembirakan tersebut, diperlukan upaya- upaya untuk membuat karya sejarah seni yang lebih berkualitas dan lebih menarikuntuk dinikmati. Salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah denganmerekonstruksi sejarah seni dalam konstruk sejarah visual. Rekonstruksi sejarah senidalam konstruk sejarah visual memerlukan penggunaan sumber visual sebagai sumberutama penulisan sejarah dan metode penelitian visual sebagai metode yang dipilih. Dengan menggunakan metode ini, sejarah seni yang dihasilkan menjadi kaya akanfakta visual, baik gambar-gambar bergerak maupun gambar-gambar statis. Kata kunci: sejarah seni, sejarah visual, sumber visual
Perubahan Bentuk dan Fungsi Pertunjukan Ronggeng Gunung Suhaeti, Etty
PANGGUNG Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v22i4.69

Abstract

ABSTRACTThe art of Ronggeng Gunung that grows and develops in the southern part of the district Ciamis is still continuously preserved until now. One effort to preserve its existence is through various changes, both in terms of its function in the community and in the form of its show. However, the changes have not been able to raise this folk art as in its previous victory, in which Ronggeng Gunung is greatly adored by its lover community. The research used qualitative method in order to reveal the process of the changes. The result of the research shows that the changes of the form of performance are mainly influenced by two factors, namely the internal and external factors. The two effects of changes are caused by the consciousness of the individual of community on his own weaknesses, and the external influences of the social culture which are felt more profitable.Keywords: Ronggeng Gunung, internal factor, external factorABSTRAKKesenian Ronggeng Gunung yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Ciamis bagian selatan masih terus dilestarikan hingga saat ini. Salah satu upaya untuk mempertahankan keberadaannya yaitu dengan adanya berbagai perubahan, baik dari segi fungsinya di masyarakat maupun pada bentuk pertunjukannya. Akan tetapi, perubahan tersebut belum mampu mengangkatnya seperti pada masa kejayaannya dahulu, di mana Ronggeng Gunung sebagai sebuah kesenian rakyat sangat digandrungi oleh masyarakat pecintanya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk mengungkap proses perubahan yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan bentuk pertunjukan secara inti dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.Kedua pengaruh perubahan tersebut diakibatkan oleh adanya kesadaranindividu masyarakat akan kekurangan dirinya, dan adanya pengaruh- pengaruh dari luar budaya masyarakat yang dirasakan lebih menguntungkan.Kata Kunci : Ronggeng Gunung, faktor internal, faktor eksternal
Peran Pesantren dalam Penyebarluasan Seni Kaligrafi Islam di Jawa Barat Kusdiana, Ading
PANGGUNG Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v22i4.65

Abstract

ABSTRACTThis paper discusses a description of the role of pesantren in West Java in the dissemination of the art of Islamic calligraphy. The purpose of the research is to find out the development history of the art of Islamic calligraphy and the role of pesantren located in West Java in disseminating it. The method which is used in the research is historical research method. The result of the research shows that the art of Islamic calligraphy not only appeared in the Arabian Peninsula but also expanded to West Java. Pesantren, as one of Islamic activity centres, has a big role in disseminating the art of Islamic calligraphy. Pesantren is associated with the amount of interest, attention, and support provided by Kyai, head of pesantren, to develop the art of calligraphy through educational activities, ranging from reading and writing Quran, teaching activities, including preserving the art of Islamic calligraphy. Keywords: calligraphy, pesantren, dissemination, West Java ABSTRAKTulisan ini membahas deskripsi tentang peran pesantren di Jawa Barat dalam penyebaran seni kaligrafi Islam. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui tentang sejarah perkembangan seni kaligrafi Islam dan peran pesantren yang ada di Jawa Barat dalam penyebarannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seni kaligrafi Islam tidak hanya muncul di Semenanjung Arab, tetapi juga meluas hingga ke Jawa Barat. Pesantren, sebagai salah satu pusat kegiatan agama Islam, memiliki peran besar dalam menyebarkan seni kaligrafi Islam tersebut. Pesantren berkaitan dengan sejumlah kepentingan, perhatian, dan dukungan yang diberikan oleh Kyai, kepala pesantren, untuk mengembangkan seni kaligrafi melalui kegiatan-kegiatan pendidikan, mulai dari membaca dan menulis Quran, kegiatan pengajaran, termasuk pelestarian seni kaligrafi Islam.  Kata kunci: kaligrafi, pesantren, penyebaran, Jawa Barat
Transformasi Tradisi Dalam Teater Piktografik Putu Wijaya Yohanes, Benny
PANGGUNG Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v22i4.70

Abstract

ABSTRACTThis article considers the fundamental premise of realism methodology that theory has a ground in social basic structures. Factual reality, including the artistic form creation, can be seen as referential background for theory formation. Theory draws its coherence from its referent. By using the epistemic mode of realism methodology, which combines religion and myth theory, this article illustrates Putu Wijaya’s theatrical creations through a causal and deep interpretation. The aim of analysis is to know and to reveal what is underneath that exist behind Putu Wijaya’s theatre performance. The result of the research shows that Putu Wijaya’s aesthetic choice that manifested as mental terror theatre is understood as the process of replication. This replication process aims at inventing pictographic representation as a way to transform tradition.Key words : deep interpretation, transformation, pictographic theatre ABSTRAKArtikel ini membahas premis dasar metodologi realisme bahwa teori memiliki dasar dalam struktur dasar sosial. Realitas faktual, termasuk penciptaan bentuk artistik, dapat dilihat sebagai latar belakang referensial untuk pembentukan teori. Teori menarik koherensinya dari rujukan. Dengan menggunakan modus epistemis metodologi realisme, yang menggabungkan agama dengan teori mitos, artikel ini menggambarkan kreasi teater Putu Wijaya melalui interpretasi kausal dan mendalam. Tujuan dari analisis adalah untuk mengetahui dan mengungkapkan apa yang ada di balik pertunjukan teater Putu Wijaya. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pilihan estetika Putu Wijaya yang dinyatakan sebagai teater teror mental dipahami sebagai proses replikasi. Proses replikasi bertujuan untuk menciptakan representasi piktografik sebagai sebuah cara untuk mengubah tradisi.Kata kunci: interpretasi mendalam, transformasi, teater piktografik
Metode Diplomatik dalam Mengidentifikasi Kandungan Isi Naskah Gulungan Berbahan Daluang Koleksi Candi Cangkuang Permadi, Tedi
PANGGUNG Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v22i4.66

Abstract

ABSTRACTThis paper presents the results of the identification of rolled manuscripts made of daluang using diplomatic method. This method aims at getting the authenticity of the script based on the information that accompanies the text with the internal evidence contained in the manuscript. In terms of script identification techniques, diplomatic method utilizes direct observation techniques, assisted by other descriptions of contemporary manuscript as an evidence and support of the relevant literature. The use of diplomatic method in identifying rolled manuscripts produces the characteristics of the material, the literacy/language used in the text, and the editorial lapses contained in the text, but the identity of the author or the copyist and the time of the writing or copying manuscripts could not be found.Keywords: Manuscript identification, daluang, diplomatic method ABSTRAKTulisan ini menyajikan hasil identifikasi naskah gulungan berbahan daluang dengan menggunakan metode diplomatik. Metode diplomatik bertujuan untuk mendapatkan keaslian naskah berdasarkan informasi yang ada di dalam teks dengan bukti internal yang terkandung dalam naskah tersebut. Dalam hal teknik identifikasi naskah, metode diplomatik memanfaatkan teknik observasi langsung, dibantu dengan deskripsi dari naskah kontemporer lain sebagai bukti dan pendukung literatur yang relevan. Penggunaan metode diplomatik dalam mengidentifikasi naskah gulungan menghasilkan karakteristik material, huruf/bahasa yang digunakan dalam teks, dan penyimpangan editorial yang terkandung dalam teks, tetapi tidak bisa menemukan identitas penulis atau penyalin dan waktu penulisan atau penyalinan naskah.Kata kunci: Identifikasi naskah, daluang, metode diplomatik
Menggali Makna Upacara Maulid Nabi di Padang Pariaman Sumatera Barat Suryanti, Suryanti
PANGGUNG Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v22i4.71

Abstract

ABSTRACTThe celebration of Maulid Nabi, known as “Dikie Maulid”, is a tradition of Padang Pariaman society to celebrate the birth of prophet Muhammad (peace be upon him). The celebration is a routine activity which is believed having ethics and aesthetics values, so that it becomes a religious ritual of the society. This research used qualitative method in order to reveal the meaning of the people’s behavior in various social situations. The result of the research shows that the celebration of Dikie Maulid is an Islamic religious expression with various activities such as malamang, mahanta kue, and bajamba, and it constitutes the identity of local culture of Padang Pariaman society. There are various art forms and elements in the ceremony of Maulid Nabi, among others are: literature, music, dance, and fine arts. The ceremony related to some events that are considered significant to the community.Keywords: dikie maulid, malamang, mahanta kue, bajambaABSTRAKPerayaan Maulid Nabi, yang dikenal dengan “Dikie Maulid”, adalah sebuah tradisi masyarakat Padang Pariaman untuk merayakan kelahiran nabi Muhammad (SAW). Perayaan ini merupakan kegiatan rutin yang dipercaya memiliki nilai-nilai etis dan estetis, sehingga menjadi sebuah ritual keagamaan masyarakat tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk mengungkap makna dari perilaku masyarakat dalam berbagai situasi sosial. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa perayaan Dikie Maulid merupakan sebuah ekspresi agama Islam dengan berbagai aktifitas, seperti: malamang, mahanta kue, and bajamba, serta menjadi identitas budaya lokal masyarakat Padang Pariaman. Terdapat berbagai bentuk dan unsur seni dalam upacara Maulid Nabi ini, di antaranya: sastra, musik, tari, dan seni rupa. Upacara ini berkaitan dengan berbagai peristiwa yang dipandang penting bagi komunitasnya.Kata Kunci: dikie maulid, malamang, mahanta kue, bajamba
Rekonstruksi Sejarah Seni Dalam Konstruk Sejarah Visual Dienaputra, Reiza D
PANGGUNG Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v22i4.64

Abstract

ABSTRACTArt History is a category of history writing that is rich with research object. This is along withthe width of art definition scope. In the most current development, the work of art history iseasier to find in the form of scientific work at university, either essay of undergraduate (skripsi),thesis, or dissertation. Observing the encouraging development, some efforts to make the arthistory work either more qualified or more interesting to be enjoyed are needed. One of theefforts can be taken is by reconstructing art history in the visual history construct.Reconstruction of art history in visual art construct requires the using of visual source as themain source of writing and visual history research method as the chosen method. By using themethod, the produced art history will be rich with visual fact, either moving pictures or staticones.Keywords: art history, visual history, visual sourceABSTRAKSejarah seni adalah sebuah kategori penulisan sejarah yang kaya dengan obyekpenelitian. Hal ini seiring dengan luasnya ruang lingkup definisi seni. Dalamperkembangan terbaru, karya sejarah seni lebih mudah ditemukan dalam bentukkarya ilmiah di universitas, baik tulisan para sarjana (skripsi), tesis, ataupun disertasi. Dalam mencermati perkembangan yang menggembirakan tersebut, diperlukan upaya- upaya untuk membuat karya sejarah seni yang lebih berkualitas dan lebih menarikuntuk dinikmati. Salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah denganmerekonstruksi sejarah seni dalam konstruk sejarah visual. Rekonstruksi sejarah senidalam konstruk sejarah visual memerlukan penggunaan sumber visual sebagai sumberutama penulisan sejarah dan metode penelitian visual sebagai metode yang dipilih. Dengan menggunakan metode ini, sejarah seni yang dihasilkan menjadi kaya akanfakta visual, baik gambar-gambar bergerak maupun gambar-gambar statis. Kata kunci: sejarah seni, sejarah visual, sumber visual

Page 1 of 2 | Total Record : 18


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Vol 29, No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29, No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29, No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in C Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Estet Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Este Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelajar Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelaja Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 1 (2011): Seni, Lokalitas, Vitalitas, dan Pemaknaan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 15, No 36 (2005): JURNAL PANGGUNG: JURNAL SENI STSI BANDUNG Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradision More Issue